MISSING YOU - 27
"Kita sudah sering membicarakan ini, dad" Ujar Bianca terus memijit pelipisnya yang terasa sakit.
"Tidakkah kau melihat mereka berdua? Ivy membutuhkanmu." Entah sudah berapa kali Immanuel Roseen mengatakan kalimat yang sama, membutuhkan.
Tidakkah ada yang bisa menyadarinya? Dia juga membutuhkan putrinya, menyentuhnya, menemaninya kala tidur tapi tidak ada yang bisa diperbuatnya dan jalan satu- satunya adalah dengan menyibukkan dirinya dalam rutinitas di rumah sakit. Karena setiap kali dia tidak melakukan sesuatu maka otaknya akan langsung membayangkan wajah mungil itu lagi.
"Memang apa lagi yang harus kulakukan?! Aku tidak tahu. Aku bingung! Aku marah! Seluruh emosi ini sudah bercampur jadi satu dan aku tidak tahu yang mana lebih menyakitiku!" Teriak Bianca tidak tahan. Selama ini Bianca lebih sering menghabiskan waktunya di atap rumah sakit yang sepi, memperhatikan orang atau mobil- mobil dibawahnya. "Dadda tidak mungkin mengharapkanku mengetuk pintu rumah mereka dan mengatakan 'hai Sean, ini aku. Bianca, istri dan ibu kandung Ivy. Maaf karena ibuku berbohong dan menyuruh seorang dokter yang kebetulan temannya dulu untuk mengatakan kalau aku sudah meninggal. Apakah tidak apa- apa?' Apa begitu yang dad inginkan?"
Diseberang Immanuel meringgis. Dia bisa merasakan kemarahan yang berusaha ditahan oleh putrinya selama ini tapi sepertinya Bianca sudah mencapai batas maksimal dan ia mengerti akan hal itu.
"Pumpkin, sayang."
"Tidak dad" Elak Bianca. "Sudah cukup yang kurasakan selama ini. Sudah cukup yang bisa kutahan. Aku sudah tidak tahan lagi dad"
Akhirnya... Akhirnya seluruh pertahanan Bianca runtuh setelah sekian lama. "Kenapa... kenapa kalian menyelamatkanku waktu itu? Kenapa kalian bertekad membuatku sadar dari koma jika kalian bertekad untuk membohongiku? Menyembunyikan segalanya dariku, kenapa dad? Kenapa kalian tega melakukan ini padaku? Apa salahku? Apa salah Sean? Apa salah anakku? Apa dad?" Isak Bianca luruh.
"Maaf. Maafkan daddamu ini sayang"
Seandainya saja ia bisa maka ia ingin segera terbang ke London dan memeluk putrinya tapi saat ini ia berada di New zealand, mengurus perceraiannya. Semakin membuat Bianca merasa terpuruk. "Ingin rasanya dadda berada disana dan menghiburmu, pumpkin."
"Tidak. Aku tidak Ingin mengatakan ini tapi jangan kemari. Kumohon. Aku bahkan tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana dihadapan kalian. Ini semua membuat kepalaku terasa sakit."
"Sayang."
"Aku serius, dad. Aku benar- benar ingin pergi dari kehidupan ini. Aku akan lebih senang jika dadda dan mamma tidak berpisah." Ujar Bianca yang mendapat desahan diseberang.
"Kau sudah tahu alasannya, Bianca. Tidak mungkin lagi kami bersama mengingat apa yang sudah ia lakukan selama ini. Padamu."
"Aku sudah memaafkan mamma, dad. Aku mungkin akan lebih memilih untuk menyalahkan takdir."
Lagi- lagi terdengar suara desahan putus asa. "Beberapa orang memang ada yang mudah memaafkan dan beberapa orang memang ada yang tidak. Dadda memaafkan kesalahan yang diperbuat mammamu tapi itu tidak membuat dadda melupakan apa yang telah diperbuatnya. Lagipula pernikahan tanpa dilandasi cinta yang kuat bukanlah pernikahan tapi sebuah hubungan dan dadda tidak ingin hanya memiliki sebuah hubungan. Hubungan karena suatu alasan."
"Dad..."
"Dadda minta maaf karena telah membuatmu melihat keadaan ini tapi mungkin inilah yang terbaik. Untuk dadda, untuk mamma dan untuk kita semua."
"Dad, kumohon." Isak Bianca semakin keras.
"Maafkan dadda, pumpkin."
"BAIKLAH. TERSERAH. TERSERAH LAKUKAN APA YANG INGIN KALIAN LAKUKAN. AKU TIDAK PEDULI. AKU TIDAK AKAN PEDULI LAGI DAN AKU MUAK!"
Klik.
Pranggg.
Bianca melempar ponselnya keseberang hingga menabrak dinding dan hancur berkeping- keping. Bianca tidak tahu lagi apa yang lebih menyakitinya. Apakah hatinya atau kepalanya yang saat ini terasa ingin meledak. Air matanya sudah nyaris habis karena seringnya menangis. Menangis karena akhirnya daddanya memutuskan untuk berpisah. Menangis karena tidak bisa menemui putrinya lagi dan menangis karena pada akhirnya hubungannya dengan Sean benar- benar berakhir.
Dua jam sudah ia berada diatap rumah sakit. Menenangkan dirinya sekaligus kepalanya yang masih terasa berdenyut menyakitkan tapi tidak mungkin baginya untuk pulang. Keheningan di apartemennya membuat perasaannya semakin labil dan dia tidak mungkin lagi menghancurkan barang- barangnya seperti ketika ia pertama kali melakukannya.
Dan tertawa ketika menyadari kalau dia sudah berubah menjadi sosok yang kasar. Lagipula sejak kapan ia berubah menjadi manusia barbar yang senang menghancurkan barang? Ternyata selama beberapa hari ini membawa perubahan yang besar dalam hidupnya.
.
.
.
Bianca baru saja kembali dari kantin sambil membawa yogurt strawberry kesukaannya ketika berpapasan dengan Roxyan. Satu lagi orang yang berusaha dihindarinya di rumah sakit ini.
"Hai Bi, aku seperti jarang melihatmu. Apa kabar?" Tanya Roxyan ramah.
"Hai Roxyan, baik. Mau membeli sesuatu?"
Sejenak Roxyan memperhatikan yogurt ditangan Bianca kemudian ke wajah wanita dihadapannya. "Kau seperti orang yang kukenal. Dia juga menyukai yogurt seperti dirimu" Komentarnya.
"Oh ya? Kurasa kami bisa jadi rekan yang baik." Balas Bianca tersenyum. "Baiklah. Sampai nanti, Roxyan." Lanjut Bianca tidak nyaman dengan tatapan Roxyan padanya.
Tanpa diduga, Roxyan menahan lengannya dan menyeretnya ke tempat Bianca tadi membeli yogurt.
"Kau bisa membelinya sendiri tanpa bantuanku, dokter Grawthorn" ucapnya tidak suka karena kembali berada dalam situasi yang membuatnya ingin menghilang saat itu juga.
"Aku membelinya untukmu"
Bianca mengernyit. "Eh kurasa aku cukup dengan yogurt ditanganku." Ucapnya seraya memperlihatkan yogurt yang sudah setengah dari tangannya. Roxyan hanya tersenyum menimpali seraya membayar lebih lima botol yogurt.
"Kau tidak bermaksud menyuruhku menghabiskan semua itu kan?" Bianca ragu menunjuk kantongan yang saat ini berada di tangan Roxyan dan sekali lagi pria itu tersenyum. "Memang kau mau mengajakku kemana sih?" Tanya Bianca jengkel karena Roxyan masih terus memegang tangannya dan menyeretnya keluar.
"Taman. Aku ingin kau menemaniku ke taman." Jawab Roxyan.
"Hm, sejujurnya aku mau saja tapi aku punya banyak pekerjaan yang harus kukerjakan"
"Kalau Sean yang kau takutkan, aku bisa memberitahunya." Ucapnya seraya mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Eh tidak perlu. Aku bisa sendiri"
Sejenak Roxyan terdiam, menatap Bianca kemudian mengendikkan bahunya kembali menyeret Bianca ke tempat tujuannya. Selang beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mereka hanya duduk di bangku taman hingga Yogurt yang tadi diberikan oleh Roxyan habis.
"Ini" Roxyan kembali menawarkan botol yogurt kedua.
"Eh kurasa sudah cukup" Tolak Bianca tapi Roxyan memperlihatkan wajah tidak suka ditolak jadi setelah menghembuskan napas jengkel yang anehnya malah disambut kekeh kecil dari pria itu. "Ada yang lucu?" Tanya Bianca semakin membuat Roxyan terkekeh. Apa ada dengannya?
"Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis" Ucap Roxyan membuka suara, tanpa sama sekali menatapnya.
Eh?
"Aku melihat matamu yang bengkak. Sebenarnya aku penasaran apa yang kau pikirkan?" Kali ini Roxyan menoleh kearahnya dan tiba- tiba saja Bianca merasa perasaannya tidak enak.
"A-apa yang ku- kupikirkan? Haha kau ini bicara apa sih?"
Roxyan menghela napas. "Apa kau mau mendengarkan ceritaku?"
Hah?
"Dulu aku mengenal seorang wanita" Bianca mulai merasakan perasaan tidak nyaman disekitarnya dan sudah terlambat untuk menghindar. "Dia mahasiswi di tempatku dan Sean bekerja. Waktu itu kami masih dokter junior tapi biar begitu kami sudah digilai hampir seluruh wanita baik itu dokter maupun pasien." Ungkap Roxyan tersenyum yang dibalas Bianca dengan anggukan.
"Kau tahu, entah bagaimana caranya dia mengenal Sean tapi tiba- tiba dia datang dan menyatakan cinta pada pria sok keren itu"
Eh?
Bianca terpaku di tempatnya. Apa maksud Roxyan menceritakan kejadian dulu padanya?
"Dia wanita paling ceria yang pernah kutemui. Dia selalu tersenyum dan tertawa seakan hari ini adalah hari terakhirnya dan kemudian, aku tidak tahu ada apa dengannya tapi mendadak dia meninggalkan temanku yang sok keren itu. Membuat teman yang sudah kuanggap saudara itu tidak bisa dianggap manusia selama mungkin hampir enam bulan hmm sulit memperhatikan waktu ketika itu."
Bianca mulai merasakan tenggorokannya perih. Dia ingin bertanya tapi dia menahan dirinya agar tidak bersuara atau pertahanannya akan sia- sia. Sial. Kenapa sulit sekali lepas dari ini semua?
"Menurutmu kenapa dia melakukan itu?" Kali ini Roxyan menatap tepat di kedua mata Bianca.
"A-aku tidak ta- tahu."
"Dia jahat, bukan?"
Bianca mengangguk, berusaha menahan agar air matanya tidak tumpah.
"Setidaknya dia meninggalkan seorang putri yang sangat cantik dan menggemaskan. Kurasa dia tidak sejahat itu" Roxyan menambahi dengan tersenyum.
"Eh i- iya."
"Kalau kau jadi pria itu, apa yang akan kau lakukan?"
"Eh a- aku rasa ak- aku akan ma- marah. Hmm mung- mungkin membencinya? Ya. Membencinya"
"Membencinya ya?"
Bianca mengangguk pasti, membenarkan ucapannya barusan. Ya. Sean harus membencinya dan siapapun yang mengenalnya di masa lalu, harus ikut membencinya termasuk pria disampingnya ini.
Hening.
"Well, kurasa aku harus pergi. Terima kasih atas yogurtnya. Sampai nanti, dokter Grawthorn." Ucap Bianca seraya bangkit dari duduknya.
"Jadi kita kembali ke dokter Grawthorn dan dokter Roseen, huh?" Goda Roxyan membuat Bianca tertawa.
"Baiklah Roxyan. Thanks atas yogurtnya." Jawabnya sambil tersenyum.
"Sama- sama Bianca. Oh iya, apa kau tahu siapa lagi orang yang kukenal menyukai yogurt strawberry?'
Eh?
"Dia Ivy."
Bianca mengerjap. "Oh, eh baiklah. Sampaikan salamku pada anak itu." Ujarnya setelah sadar Roxyan masih menatapnya. "Sampai nanti."
Baru saja Bianca melangkah ketika mendengar Roxyan memanggilnya dan setiap kali ia berbalik, Roxyan hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya begitu seterusnya hingga panggilan kelima, membuat Bianca yang memakai heels hampir saja tersandung batu didepannya, membuat emosinya yang memang akhir- akhir ini naik turun tersulut karena sikap dokter reseh barusan.
"Berhenti memanggil namaku, Roxy atau aku akan melempar salah satu dari heelsku ini ke kepalamu!" Teriaknya benar- benar jengkel.
Baru tiga langkah ia berjalan dengan susah payah ketika merasakan sebuah tangan menahan lengannya. Kedua keningnya saling bertaut bingung ketika mendapati Roxyan sedang menyunggingkan senyum padanya. Hal berikutnya yang terjadi adalah membuat kedua mata Bianca membelalak kaget.
"Senang bertemu denganmu lagi, Bianca Evelyona atau haruskah kusebut Dokter Bianca Evelyona Roseen. Apa kabar?"
***
Comments
Post a Comment