MISSING YOU - 29

"Amnesia?"

"Ya." Jawab Bianca jengah.

Entah sudah berapa kali Roxyan menanyakan kata yang sama. Membuatnya berkeinginan untuk membuatkan surat rekomendasi agar telinga Roxyan di periksa. Sepertinya ada yang salah dengan pendengaran pria itu.

"Tapi bagaimana mungkin?"

Kali ini Bianca benar- benar mengerang atas pertanyaan yang itu- itu saja dari Roxyan, membuatnya ingin melempar pria itu dengan kumpulan pizza yang sudah setengah di depannya.

"Kecelakaan yang kualami dulu membuat kepalaku terbentur dan duarrrr ketika aku bangun dari 'tidur panjangku'," Bianca sengaja membuat tanda koma dengan kedua tangannya di udara. "Aku tidak ingat apa- apa."

Roxyan terdiam menyimak semua informasi ini ketika kembali matanya membelalak. "Kau sempat koma?"

Bianca mengangguk. "Ya. Dan itu tiga bulan."

"Dan kenapa dokter yang merawatmu mengatakan kalau kau sudah meninggal?"

Bianca kembali menghela napasnya, merasakan perasaan sakit hati karena fakta yang disembunyikan Ellie selama ini. "Kebetulan dokter yang merawatku adalah teman ibuku jadi well, kau bisa menduganya kan?"

"Sial." Roxyan langsung mengebrak meja dihadapannya, membuat pizzanya juga ikut berhamburan.

"Hei." Tegur Bianca tidak rela melihat pizza- pizza itu jatuh ke lantai dan memungutnya.

"Kau masih memperhatikan pizza itu? Sulit dipercaya."

"Berhenti bersikap sinis padaku, Roxy. Lagipula apa yang kau harapkan? Menangis? Meraung? Sekedar info saja, aku sudah melakukannya."

Inilah sebabnya kenapa Bianca mengatakan ini akan menjadi malam yang panjang. Perasaannya bahkan tidak lebih baik bahkan setelah menceritakan hal yang sebenarnya pada Roxyan. Seseorang yang sudah dianggapnya sebagai sahabat juga kakak.

"Jadi apa ini alasannya kenapa kau dulu sempat raib selama berhari- hari dan ketika muncul kembali, kau seperti menghindar?"

Bianca mengangkat bahunya, "entahlah. Mungkin aku cuma merasa bersalah."

"Pada Sean?"

"Itu salah satunya."

"Salah satunya?"

"Ivy juga. Aku bahkan tidak tahu kalau aku mempunyai seorang putri yang sangat menakjubkan hingga pada hari itu." Bianca berkata lirih. Ada airmata di sudut matanya yang langsung segera dihapus.

"Jangan khawatir. Ivy pasti akan menyukaimu." Roxyan berusaha menenangkannya. "Kau lihat sendirikan bagaimana dia selalu senang setiap kali melihatmu."

"Aku hanya merasa bersalah, Roxy. Ibu macam apa yang melupakan anaknya sendiri." Kali ini Bianca tidak bisa menahan isak tangisnya dan itu membuat Roxyan memeluknya.

"Shhh... Tidak apa- apa. Semuanya akan baik- baik saja. Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama Sean."

Bianca tersentak, melepaskan pelukannya. "Jangan. Kau tidak boleh memberitahunya. Berjanjilah padaku." Pinta Bianca
"Apa?"

"Berjanjilah padaku, Roxy. Kumohon."

"Apa kepalamu kembali terbentur? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?"

"Ya. Dan aku minta jangan memberitahu siapapun. Hanya kau yang boleh tahu."

"Kau gila!"

"Terserah kau mau menganggapnya apa tapi... tapi aku punya alasan."

Sejenak Roxyan terdiam memperhatikan mata Bianca yang masih sembab. "Kuharap itu tidak berkaitan dengan tunanganmu itu." Ucapnya sinis.

A-apa?

"Tapi maaf Bianca, aku tidak akan melakukan apa yang kau minta. Aku bahkan tidak peduli dengan tunanganmu yang tidak berharga itu. Sudah cukup aku melihat sahabatku yang terpuruk karenamu jadi kalau kau mengharapkanku menyembunyikannya, jangan harap."

Hening.

"Pilih. Kau yang mengatakannya atau aku yang mengatakannya?"

"Tidak. Aku tidak akan memilih."

"Baiklah." Ujarnya bangkit.

"Apa yang kau lakukan?" Bianca ikut bangkit dari duduknya.

"Kupikir kita berdua sudah selesai dalam pembicaraan ini."

"Apa? Tidak. Kita belum selesai."

Tanpa diduga Roxyan tertawa. Bukan tawa senang tapi dengan tawa sinis. "Bukankah ini lucu, Bi? Beberapa jam yang lalu kau yang berusaha mendepakku keluar dan sekarang, coba kita lihat, Kau yang menahanku berada lama disini?"

"Jangan main- main, okey?"

"Siapa bilang aku main- main? Hahaha lucu sekali bukan? Seharusnya Sean lah yang berada disini. Harusnya tadi aku ikut menariknya supaya kita bisa melihat apa yang akan dilakukannya jika dia tahu kau masih hidup."

Bianca terperangah. Dia tidak pernah menduga kalau Roxyan akan bersikap seperti ini. Beberapa saat yang lalu dia masih bersikap seperti layaknya sahabat dan juga kakak bagi dirinya tapi sekarang...

"Kau kejam." Ujar Bianca membuat Roxyan semakin tertawa.

"Lucu sekali jadi sekarang aku yang jadi orang jahatnya disini dan bukannya keluargamu? What a life, isnt it?!." Sinisnya. "Masih ingat dengan pembicaraan kita di taman tadi kan? Kau mungkin bisa berpura- pura tapi takkan kubiarkan kau melakukannya. Aku mau lihat sampai sejauh mana kau bertekad menyembunyikannya... dan alasan yang tadi kau katakan? Sejujurnya aku tidak peduli karena kau tidak melihat bagaimana terpuruknya Sean dulu jadi persiapkan dirimu besok. Selamat malam."

Dan Roxyan pergi meninggalkan Bianca yang masih mematung di tempatnya berdiri.

Tidak dapat dipercaya!

***

Roxyan benar- benar membuktikan ucapannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Bianca melihat sisi jahat dari seorang Roxyan Grawthorn. Dia memang tidak mengatakan apa- apa pada Sean tapi dia selalu berada diseluruh tempat dimana baik Bianca maupun Sean berada.

Seperti hari ini, Bianca baru saja saja memeriksa pasien dan baru akan membuat laporan pada Sean ketika mendapati Roxyan juga berada diruangan Sean.

"Hai dokter Roseen, apa kabar?" Ini mungkin terdengar seperti sapaan biasa yang diucapkan oleh Roxyan tapi setelah melihat senyum kecil yang tertera disudut bibir itu apalagi ditambah kerlingan yang diam- diam ditujukan kearah Sean, membuat siapapun yang melihatnya tahu kalau sesuatu terjadi.

"Baik, dokter Grawthorn. Anda sendiri?"

"Justru sangat baik."

Bianca berusaha untuk tidak mengertakkan giginya melihat sikap kekanakan Roxyan dan lebih memilih memperlihatkan laporannya pada Sean, mengindahkan pandangan menyebalkan didepannya.

"Oh iya, Bianca. Vivian menanyakan kalau bagaimana kalau acara besok diundur hingga minggu depan? Sepertinya ada sesuatu yang perlu dia urus terlebih dahulu." Tanya Sean setelah selesai melihat hasil laporan Bianca.

"Oh. Baiklah."

"Aku sudah berada disini selama kurang lebih tiga puluh menit dan kau sama sekali tidak memberitahuku? Sahabat macam apa kau ini." Sahut Roxyan jengkel.

"Itu karena aku tahu kau masih lama berada disini." Balas Sean seraya menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sikap sahabatnya yang sepertinya sangat sensitif. Sebenarnya Sean ingin menanyakan perihal kejadian kemarin tapi melihat Roxyan yang seperti ini, maka dia bermaksud menundanya setidaknya hingga Roxyan tidak bersikap semenyebalkan seperti ini.

"Kalau begitu saya permisi dulu, dokter Carter. Dokter Grawthorn." Undur Bianca cepat sebelum kesabarannya habis dan memukul kepala Roxyan dengan sesuatu karena sikap menyebalkannya tadi.

Sepeninggal Bianca, Sean kembali duduk di sofa yang menghadap Roxyan dan menatapnya.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau menatap Bianca dengan ekpresi penuh amarah seperti itu?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS