MISSING YOU - 30

Akhirnya setelah satu minggu menunggu, yang kadang membuat Bianca selalu merasa jantungnya memompa lebih cepat tiba tanpa perlawanan belum lagi Vivian yang selalu berusaha membuka percakapan tiap kali mereke berpapasan di koridor bersama dengan Sean ataupun Roxyan padahal yang diinginkannya adalah menghindar dari mata orang- orang terutama pada Sean.

Pada awalnya, Bianca sempat melonggo tidak percaya ketika tiba di tempat tinggal Sean. Pasalnya rumah yang ditempati oleh Sean dan Ivy ini mirip dengan apa yang dibayangkan oleh Bianca dulu. Dengan halaman yang luas agar memudahkan mereka untuk melakukan pesta atau sekedar berkumpul bersama dengan teman- teman mereka, belum lagi ada ayunan yang sempat Bianca katakan ketika ia masih mengandung Ivy yang kala itu masih berusia lima bulan. Satu- satunya yang kurang adalah tidak banyaknya tumbuhan yang ditanami dihalaman belakang dan Bianca bisa memaklumi hal itu tapi melihat ini semua semakin membuatnya merasa tidak nyaman.

Roxyan tidak lagi berusaha mempersulit hidupnya tapi bukan berarti dia juga tidak melepaskan Bianca karena setiap kali ia berpapasan dengan Bianca maka pria itu hanya akan mendengus sambil lalu atau mungkin yang paling menjengkelkan adalah jika pria itu hanya memberinya seringai tidak jelas yang kadang membuat Bianca ingin menendang tulang kering pria itu dengan sangat keras.

"Ada apa? Kau menemukan piringnya?"

Tubuh Bianca mendadak membeku di tempatnya, menyadari kalau Sean berdiri sangat dekat dengannya dan sedang memandangnya dengan tatapan heran.

"Oh, eh tidak."

Sean tersenyum dan mengangguk seraya berjalan melewati Bianca yang menahan napas karena takut menghirup aroma pria itu. Dia takut dia akan kelepasan dan berakhir dengan menerjang pria itu, di dapur milik Sean ketika matanya menangkap Sean yang membuka lemari bagian paling atas yang bahkan untuk Bianca yang memiliki tinggi wanita pada umumnya, tidak pendek juga tidak terlalu tinggi terperanjat ketika melihat jejeran piring putih tersebut.

"Astaga Sean! memangnya kau berharap seseorang akan memanjat dapurmu setiap kali membutuhkan piring ya?" Serunya tak percaya. Pantas saja dia tidak menemukan satu pun piring di dapur jika Sean sendiri justru menaruhnya di tempat yang tertinggi diantara semuanya.

Sean terkekeh. "Aku hanya tidak ingin Ivy terluka jika tiba- tiba dia masuk kedapur dan menyenggol piring- piring ini." Jawab Sean yang kembali membuat Bianca melonggo, kaget. Dia lupa kalau ada anak kecil dirumah ini. "Lagipula sepertinya aku tidak perlu lagi melakukannya." Tambahnya.

Eh? Apa maksudnya?

Belum sempat Bianca menanyakan hal itu, tiba- tiba wajah Vivian muncul dibalik dapur.

"Sean, kami agak kesulitan memutuskan dimana kita akan meletakkan mejanya." Ucap Vivian.

"Baiklah." Balas Sean. "Kau bisa menemukan sendok dan garpu di laci sebelah sana." Lanjutnya setelah menyerahkan piring yang tadi diambilnya ke tangan Bianca dan menunjukkan letak laci di sisi sebelah kanannya. Setelah melihat Bianca mengangguk, Sean beranjak keluar dengan Vivian disisinya sambil tertawa.

Grrr...

Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang sangat lama dia merasakan perasaan itu lagi. Perasaan tidak suka karena Sean berdekatan dengan wanita lain sekalipun pada sahabatnya sendiri. Entah berapa lama ia menghembuskan napas di dapur Sean ketika kembali didengarnya suara orang yang paling dihindarinya sekalipun mereka berada di tempat yang sama.

"Sepertinya aku merasakan atmosfer kecemburuan di dapur ini. Aku bertanya- tanya asalnya darimana." Ujar Roxyan membuka pintu kulkas dan mengeluarkan sebotol yogurt dari dalam. "Sean menyuruhku mengambil ini untuk... "lalu pelan- pelan ia mendekatkan wajahnya ke telinga Bianca yang memang berdiri tidak jauh dari kulkas, "putrimu. Kalian berdua sama- sama menyukai minuman yang sama." Bisiknya lalu kembali berdiri seperti semula dan tersenyum.

"Kutebak kau tidak akan berhenti sebelum aku mengaku, bukan?" Geramnya.

Bianca bertekad akan ikut menjejalkan pria menjengkelkan ini kedalam kulkas Sean agar membeku sekalian.

Lagi- lagi Roxyan tersenyum menimpali. "Aku tahu kau selalu memikirkannya, sayang."

"Aku bahkan tidak pernah berpikir kau bisa sekejam ini."

"Hahaha kurasa karena aku menyayangi kalian berdua jadi aku tidak mau salah satu pihak berbuat bodoh bahkan memikirkannya saja tidak boleh. Aku punya keponakan yang sangat lucu, ingat?"

Dan Roxyan pergi meninggalkan Bianca yang rasanya ingin melemparkan piring yang tadi diberikan Sean ke kepala pria itu.

Bianca keluar beberapa menit kemudian dengan beberapa piring ditangannya dan karena mereka hanya berempat ditambah Ivy menjadi lima jadi tidak banyak yang bisa dipersiapkan oleh mereka.

Bianca sedang membolak- balik daging barbequenya, menggantikan Vivian ketika Ivy mendatanginya.

"Apa bibi Bi senang?"

Bianca terpaksa merunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu.

"Tentu saja. Bagaimana dengan Ivy?" Tanyanya balik seraya merapikan sweter rajutan warna pink milik Ivy yang sempat kusut. Dalam hati, Bianca bersyukur karena setidaknya Ivy tidak kekurangan sesuatu pun. Sean merawat dengan baik putri mereka.

"Tentu saja, mom."

Bianca mengernyitkan dahinya dan mengerjap ketika merasa kalau Ivy baru saja memanggilnya dengan sebutan mom.

Tidak mungkin!

Dikerjapkannya kedua matanya entah berapa kali, meyakinkan dirinya kalau tadi dia salah dengar. Dia sudah meyakinkan dirinya selama seminggu ini agar tidak terlalu terbawa suasana apalagi dihadapan Sean maupun Vivian. Dia masih belum bisa melupakan apa yang telah diperbuat oleh orang tuanya ketika dia hilang ingatan. Dia bahkan sudah memutuskan hubungan dengan Andrew meskipun pria itu masih terus berusaha menghubunginya.

Acara barbeque mereka berlangsung damai dan tentram. Setidaknya Roxyan tidak langsung menanyakan pertanyaan menjebak yang ditujukan padanya, meskipun beberapa diantaranya membuatnya harus tersedak setidaknya dia masih bisa menghirup napas hingga acara selesai.

Pertanyaan Roxyan berkisar tentang awal pertemuan Bianca dan Vivian hingga menjadi sahabat dan Vivian dengan senang hati menceritakan semuanya termasuk betapa sulitnya mendapatkan kepercayaan ketika akan mendekati Bianca bahkan untuk teman yang berkelamin yang sama dengannya.

Bianca merasa beruntung ada Ivy diantara mereka setidaknya dia punya pengalih perhatian dari pembicaraan yang kadang mendapat perhatian penuh dari dua pria dihadapannya tapi ketika melihat lagi, mereka kembali bercakap- cakap antar mereka yang kadang ditambahi dengan Vivian lalu tertawa.

Bianca akhirnya diperkenalkan dengan Mr. Teddy dan Mrs. Bear oleh Ivy. Ivy dengan sabar layaknya ibu yang menjelaskan kepada anaknya tentang apa saja yang biasa dia dan Sean lakukan di waktu senggang, tentunya kedua boneka beruang itu ikut serta membuat Bianca tanpa sadar tertawa, sama sekali tidak menyadari kalau beberapa orang melihat kearah dua orang beda usia itu berbincang dan tertawa.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Ivy dengan keras kepala menolak untuk pergi pergi tidur sebelum mengantar Bianca kembali ke apartemennya yang dengan terpaksa harus membuat Sean ikut dan karena malam ini Vivian akan menginap di rumah Bianca jadi mereka berlima berangkat bersama, meninggalkan mobil Bianca di rumah Sean. Besok sebelum ke rumah sakit, ia akan menjemput Bianca dengan menggunakan mobilnya yang pada awalnya mendapat pertentangan dari si empunya mobil itu sendiri dan karena Ivy yang merenggek jadi terpaksa Bianca mengalah. Ini sudah sangat malam dan Bianca tidak mau Ivy terlalu malam untuk tidur.

Bianca, Ivy dan Vivian duduk di kursi penumpang belakang sementara Sean duduk disamping Roxyan yang ditugaskan untuk menyetir. mereka memilih mobil Roxyan, karena setelah ia mengantar Bianca dan Vivian, ia akan kembali lagi ke rumah Sean dan Ivy. Perjalanan bolak-bolik yang menurutnya sangat menyenangkan tapi Bianca tahu kalau Roxyan mengatakan hal itu agar bisa mengulik apapun itu tentang dirinya dari Vivian. Gezz, ini seperti neraka tapi neraka yang diciptakan oleh Roxyan Grawthorn seorang.

Bianca merasakan kelegaan yang luar biasa ketika melihat apartemennya, Ivy tertidur ketika di perjalanan tadi dan Bianca mengerti akan itu. Bianca baru saja turun disusul oleh Vivian ketika mendadak matanya menangkap seorang wanita yang sangat dikenalnya dan dengan setengah berlari menghampiri.

"Mamma, apa yang mamma lakukan disini? Apa mamma lama menunggu?"

Udara malam diluar sangat tidak baik untuk kesehatan apalagi sekarang cuacanya dingin. Biar bagaimanapun sakitnya perlakuan yang sudah dilakukan oleh Ellie tapi itu tidak akan mengubah kalau dialah wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dia masih bisa merasakan bagaimana beratnya ketika mengandung Ivy dulu seakan kejadiannya baru kemarin terjadi dan bukannya enam tahun yang lalu. Mengingat hal itu membuat Bianca tanpa sadar menyentuh perutnya yang rata.

"Apa yang kau lakukan diluar larut malam seperti ini?"

"Maaf mamma, tadi aku dan Vivian mengunjungi teman satu divisi di rumah sakit. Apa mamma sudah makan?"

"Sudah tadi. Bagaimana denganmu? Kau makan dengan baik?"

Bianca tersenyum menyadari kalau Ellie masih mengkhawatirkannya terlepas dari apa yang telah terjadi.

"Ya."

"Apa kabar, bibi Ellie?" Sapa Vivian yang sudah berada disamping Bianca.

Sebenarnya Vivian sedikit ragu ketika akan mendekati Ellie Roseen, dia agak takut dengan wanita separuh baya itu yang seperti mengintimidasi.

"Baik. Bagaimana denganmu, Vivian?"

Vivian tersenyum, lega. "Baik, bibi? Bibi akan bermalam disini?"

"Ya."

"Dan paman Immanuel?"

Bianca meringgis. Dia sama sekali belum menceritakan perihal masalah keluarganya belakangan ini. Memang dia harus mengatakan apa? Orang tuanya bercerai karena dirinya, begitu? Itu sama artinya dia melakukan pengakuan ke semua orang dan jika Vivian mengetahuinya, apa dia akan...?

"Kalian pulang sendiri?" Tanya Ellie memotong apapun yang baru saja dipikirkan oleh Bianca.

"Tidak, bibi Ellie. Kami diantar?"

"Diantar? Pria?"

"Sudahlah mamma. Ayo kita masuk." Ujar Bianca merasa sangat lelah akhir- akhir ini.

Baru dua langkah ia beranjak ketika menyadari kalau tidak seorangpun beranjak dari tempatnya bahkan Vivian menatapnya heran yang dibalas hal yang sama olehnya.

Bianca kembali mengalihkan pandangannya kearah Ellie dan mengernyit ketika menyadari kalau Ellie sama sekali tidak melihat kearahnya tapi arah belakangnya dan entah mengapa melihat Roxyan yang memberinya tatapan seperti penyesalan.

Kenapa dia melihatku seperti itu?

Sean melangkah diikuti Roxyan yang seperti antara mau dan tidak mau, mengikuti Sean dibelakangnya.

"Selamat malam, Bibi Ellie. Apa kabar?" Sean mengulurkan sebelah tangannya kearah Ellie, mengindahkan raut wajah kebingungan Bianca.

"Sean"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS