MISSING YOU - 31
"Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau menatap Bianca dengan ekpresi penuh amarah seperti itu?"
"Eh, apa yang kau bicarakan?" Roxyan mengeluarkan tawa gugup karena menyadari Sean yang berada didepannya bukan lagi Sean yang dikenalnya. Ada aura tenang tapi juga mengintimidasi disana.
Lama mereka saling menatap hingga Sean yang memutuskan kontak terlebih dahulu. Dihelanya napasnya pelan seraya menyandarkan tubuhnya di sofa. Jelas sekali Sean merasa kelelahan dengan ini semua.
"Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahuku tapi setidaknya jangan membuatnya kesulitan." Ujarnya.
"Hah? Aku memberinya kesulitan? Sejak kapan?"
Sean tertawa menimpali. "Aku tidak pernah tahu kalau kau lambat memahami semuanya." Ledeknya membuat Roxyan seketika tertawa.
"Ah, kurasa kau memperhatikannya." Roxyan ikut menyandarkan tubuhnya di sofa. "Aku tidak ada maksud untuk mempersulitnya jadi aku tidak akan minta maaf padanya."
"Keras kepala." Ujar Sean menggelengkan kepalanya. "Kurasa dia tidak sengaja."
"Dan kurasa kau masih tetap akan membelanya, iyakan?"
"Kurasa itu hal yang wajar. Dia istri dan ibu dari anakku, iya kan?" Meskipun Sean mengucapkannya dengan suara tenang tapi tak urung membuat Roxyan yang tadinya meminum colanya langsung tersedak hingga wajahnya memerah.
"Kau?!" Roxyan menatap Sean tidak percaya. "Kau mengetahuinya?"
Sean menatap Roxyan sejenak hingga kemudian ia mengangguk mengerti. "Sekarang aku tahu masalahnya. Kau marah dengannya."
"Tentu saja. Apa kau tidak tahu apa yang dia katakan padaku? Dia mengatakan kalau dia tidak mau mengakui siapa dirinya." Sergah Roxyan marah. Marah karena sikap Bianca dan semakin bertambah marah pada pria yang duduk didepannya dengan tenangnya, seakan- akan mereka hanya mengobrol ringan seperti membicarakan apa yang akan dilakukannya akhir pekan nanti.
Tanpa sadar Roxyan mengerang frustrasi melihat kedua pasangan ini. Ingin rasanya ia membedah otak sepasang suami-istri ini dan meneliti apa yang mereka pikirkan.
"Oh. Jadi begitu." Sean menganggukkan kepalanya dengan khitmad tanpa sama sekali terganggu dengan amarah Roxyan. "Aku juga pasti akan marah kalau mendengarnya."
"Tapi kau tidak."
Sean mengangkat bahunya sebagai balasan. "Entahlah." Balasnya membuat Roxyan semakin meradang.
"Sejak kapan?" Tanya Roxyan setelah lama tidak ada yang saling bicara. "Sejak kapan kau menyadarinya?"
"Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya. Mungkin sejak Ivy tidak mau lepas darinya. Entahlah."
"Selama itu?"
"Tidak juga. Apa kau masih ingat ketika Ivy sakit?" Roxyan mengangguk. "Ivy bukan anak yang manja pada orang lain apalagi orang yang baru saja dikenalnya tapi ketika bersama Bianca, segalanya menjadi berbeda. Kau mungkin bisa merasakan ada yang berbeda diantara mereka dan di..."
"Taman bermain itu." Roxyan dan Sean sama- sama mengatakan hal yang sama membuat keduanya tergelak. "Kau menyadarinya disana?" Sean mengangguk, mengingat perasaan aneh plus mengkhawatirkan hingga rasanya ia nyaris meledak ketika melihat tubuh Bianca terkulai didekat Roxyan sementara dirinya tidak bisa melakukan apa- apa karena sibuk menenangkan Ivy yang tampak lebih histeris mengira Bianca mati. "Ternyata kau lebih dulu curiga padanya dari padaku."
"Tentu saja. Aku yang tahu seluruh bentuk tubuhnya dibandingkan dirimu."
"Ya. Ya terserahlah dan kutebak Ivy pasti sudah tahu."
"Anak itu cerdas. Dia sudah lebih dulu tahu kalau Bianca adalah ibunya, kurasa tanpa adanya kecurigaan."
"Wow. Darimana dia tahu?"
"Aku tidak tahu tapi aku selalu diam- diam mendengarnya berbicara pada boneka- bonekanya terutama Mr. Teddy dan Mrs. Bear tentang Bianca dan kalimat- kalimat lainnya yang aku tidak mengerti."
Kedua bibir Roxyan terbuka tidak percaya mendengar informasi ini. "Tidak mungkin. Sebenarnya apa yang kalian lakukan hingga memiliki anak secerdas Ivy?"
"Itu sama saja membuka rahasia percintaan kami kalau kuberitahu." Kekeh Sean. "Dan aku sama sekali tidak berniat membuka sesi tanya- jawab mengenai hal itu." Lanjutnya.
"Cih, yang benar saja." Balas Roxyan semakin membuat Sean tertawa. "Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Roxyan memberi Sean pandangan serius.
"Entahlah. Untuk sementara aku akan tetap memperhatikannya. Kau tahu kan aku sangat merindukannya selama ini dan Ivy juga tapi aku tidak ingin membuatnya takut dan pergi. Melihat sikapnya yang biasa tanpa sadar menunjukkan sifat aslinya, aku yakin waktunya akan tiba."
Roxyan mengangguk. "Kutebak kau sudah memperhitungkan segalanya."
"Ya. Dan pertama- tama yang harus dia lakukan adalah menyadari kalau kami merindukannya juga.... memaafkan takdir."
***
"Selamat malam, Bibi Ellie. Apa kabar?" Tanya Sean mengulurkan tangannya guna bersalaman pada wanita disamping Bianca.
"Sean." Ucap Ellie dingin. "Kita bertemu lagi setelah sekian lama."
"Ya. Bagaimana kabar bibi?"
"Tidak baik karena kau membuat keluargaku hancur, Sean."
"Aku minta maaf karena itu, bibi. Sungguh. Aku juga ingin mewakili permintaan ayah dan ibuku di surga pada bibi."
"Cih, Shane dan Selena." Decih Ellie. "Apa yang kau lakukan disini, Sean?"
"Sebenarnya tadi aku hanya mengantar Bianca pulang ketika melihat bibi. Biar bagaimana pun bibi adalah sahabat terbaik yang dimiliki oleh ibuku."
"Sahabat terbaik tidak akan mengambil pria yang disukainya setelah sekian lama. Sepertinya ibumu tidak memahami definisi sahabat itu sendiri."
Lama tidak ada yang bersuara ketika mendadak sebuah mobil datang dan berhenti dengan suara ban yang berdecit. Menampilkan sosok Immanuel Roseen.
"Ellie, apa yang kau lakukan disini? Ayo kita bicara. Tidak disini dengan banyaknya orang." Ucap Immanuel seraya hendak meraih tangan wanita yang masih dicintainya.
"Untuk apa? Urusan kita sudah selesai di pengadilan kemarin. Aku kesini bukan untuk bertemu denganmu tapi untuk menemui putriku."
Sejenak Immanuel melihat putrinya yang diam. Wajah Bianca menyiratkan rasa syok yang luar biasa kemudian pandangannya yang beralih kearah Sean.
"Bagaimana kabar bibi Ellie, paman?" Tanya Sean ketika Bianca dan Ivy minta izin ingin ke toilet di kafe tempo hari.
"Eh? Kau mengenalku?"
Sean tersenyum menimpali. "Bibi Ellie adalah sahabat ibuku sebelum orang tuaku meninggal dulu."
"Jadi kau?"
"Ya. Aku adalah anak Shane dan Selena Carter."
Wajah Immanuel tampak sangat syok. "Tapi bagaimana kau bisa...?"
"Aku pernah ke rumah anda di Itali."
"Ah itu hanya rumah sementara."
Sean mengangguk. "Aku tahu tapi hanya itu alamat yang kudapat dulu."
"Dan bertemu Ellie?"
Sean menggeleng. "Awalnya aku datang untuk meminta izin pada orang tua Bianca untuk segera menikahinya dan tidak menyangka kalau Bianca adalah anak bibi"
Dan sekali lagi Immanuel menampakkan wajah terkejutnya mendengar informasi ini.
Hening.
"Untuk menebus kesalahan orang tua yang bodoh ini, maukah kau melakukan satu hal lagi untukku nak?" Pinta Immanuel setelah ada jeda diantara mereka.
"Apa itu?"
"Jangan sampai Bianca mendengar ini. Lindungi dia."
Lindungi dia.....
Ingatan itu membuat Sean tersentak dan baru menyadari Bianca, wanitanya, istrinya dan juga ibu dari anaknya telah mendengar semuanya dan kemungkinan telah memahami semuanya. Tangisannya di atap rumah sakit yang tak sengaja di dengarnya dulu bukan apa- apa dibandingkan ekpresi wajahnya malam ini.
"Apa yang..."
"Akan kujelaskan semuanya, sayang. Ayo kita pulang." Sean baru saja menyentuh tangan Bianca yang terasa dingin ketika Bianca menghentakkan tangannya kasar.
Bianca langsung memberikan Sean tatapan menuduh. "Kau... kau sudah mengetahuinya? Kau sudah mengetahui kedua orang tuaku?" Tanya Bianca dingin.
Sean mengangguk, mencoba menetralisir keadaan. Sikap Bianca saat ini seperti Singa yang bersiap- siap menyerang sekumpulan rusa di padang rumput. Waspada dan menakutkan.
"Bianca...?" Dan sepertinya Ellie juga merasakan hal itu dan cukup terkejut ketika menyadari tatapan yang diberikan Bianca lima detik yang lalu mengandung tatapan yang sarat kemarahan dan kebencian yang menggebu- gebu dan itu pertama kali ia lihat di kedua mata putrinya.
"My Bee. Sayang." Bianca menoleh. Mengarahkan kembali pandangannya kearah Sean yang seakan masih ragu untuk menyentuhnya.
"Kau... apa kau marah?" Tanya Bianca lirih.
Sean mengerjap bingung. "A- apa? Tidak. Aku tidak marah..."
"Ya. Kau marah padaku. Kau marah karena karena aku melupakanmu, iyakan? Kau marah karena ibuku. Kau marah karena..."
"Mommy?"
Hening.
Semuanya mendadak sunyi seiring adanya pendatang yang baru muncul. Kedua mata Bianca seketika membelalak dan itu cukup membuat Bianca seperti peluru yang baru saja dilepaskan ke udara dan meledak.
"APA YANG SEBENARNYA KALIAN LAKUKAN PADAKU?"
***
Comments
Post a Comment