MISSING YOU - 32

"Sean?"

"Hm?"

"Hei Sean, lihat kemari."

"Astaga Bianca, berhenti merekam semuanya. Kau bisa jatuh."

"Cih."

"Cih?"

"Iya cih."

"Baiklah. Kau yang memaksaku ya sayang."

"Woah. Woah. Woah. Apa yang kau lakukan? Hahahaha jangan menggelitik dibagian situ."

"Kenapa? Sudah menyerah?"

"Hahaha tidak. Aduh."

"Eh ada apa? Apa anak kita kesakitan?"

"Hahaha tentu saja tidak. Dia anak yang kuat."

Sean termanggu melihat Ivy meringkuk diatas sofa sambil menonton video dokumenter dirinya dan Bianca dulu, disitu Bianca memegang camera video sambil berjalan- jalan mengambil gambar dirinya.

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu dan Bianca sama sekali semakin menjauh dari orang- orang terdekatnya. Bianca memang tetap datang ke rumah sakit untuk memeriksa pasien- pasiennya tapi setelah itu dia akan menghilang entah kemana, seakan keberadaannya tidak ingin diketahui.

"Daddy?"

Kedua mata Sean mengerjap ketika mendapati kedua mata coklat putrinya sedang menatap dirinya masih dalam posisi meringkuk. Meskipun cahaya diruang tengah itu sedikit redup tapi Sean melihat ada kesedihan disan.

Dilangkahkannya kakinya menuju sofa yang langsung membuat Ivy mengubah posisinya.

"Kok princess Ivy belum tidur?" Tanya Sean setelah Ivy telah berada dalam pelukannya dan secara otomatis pula ia membelai lembut pemilik rambut tersebut.

"Ivy tidak bisa tidur" jawab Ivy semakin meringkuk kedalam pelukan Sean.

"Maafkan Daddy ya? Tadi daddy ada operasi." Jelas Sean mengecup sayang rambut coklat Ivy.

Ivy menggeleng, "tidak apa- apa."

Sean terdiam mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Ternyata tanpa disadarinya putrinya bukan lagi putri kecilnya yang manja. Entah sejak kapan Ivy berubah menjadi sangat dewasa seperti ini dan seakan ada palu yang menghantam kepalanya, dia menyadari kalau Ivy lah yang selama ini menjaga dirinya dan bukan dirinya yang menjaga Ivy.

"Seharusnya Ivy tetap bersikap seperti layaknya anak usia enam tahun saja." Sean menghembuskan napasnya, lelah.

"Daddy kan pekerjaannya banyak. Ivy cuma sedikit membantu." Balas Ivy tapi diselingi dengan kekehan kecil darinya.

Sean pura- pura melotot yang semakin membuat putrinya terkekeh. "Pekerjaan daddy tidak ada apa- apanya dibandingkan harta daddy yang satu ini." Ucapnya seraya menjawil hidung mungil putrinya.

"Ivy tahu." Balas Ivy yang kembali membuat Sean terdiam. Ivy sangat mirip dengan Bianca jika mengatakan hal itu.

"Hm daddy?" Ivy membuyarkan lamunan Sean beberapa saat kemudian.

"Ya?"

"Apa mommy masih marah?"

"Marah?"

"Mommy marah sama Ivy?"

Sean semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh mungil itu. "Tentu saja tidak. Kenapa Ivy bisa berpikir seperti itu?"

Hening.

"Ivy?"

"Ya?"

"Darimana Ivy tahu kalau bibi Bi adalah mommynya Ivy?" Akhirnya Sean menanyakan pertanyaan yang selama ini ada dalam pikirannya.

Ivy menutup kedua mulutnya, ragu.

"Daddy tidak akan marah kok. Daddy hanya ingin tahu."

"Foto."

"Foto?"

"Ivy tidak sengaja menemukan foto di kamar daddy." Sean terdiam. Satu- satunya foto yang ada dikamarnya adalah ketika Bianca masih mengandung Ivy selama enam bulan. Itukah?. "Kata daddy, mommy sangat cantik kayak boneka."

"Eh? Karena itu?"

"Daddy bilang kalau Ivy yakin, Ivy pasti akan menemukan mommy Ivy."

Sean mengerjap, "semudah itu?"

Ivy terkekeh. "Tentu saja tidak, daddy."

"Terus?" Sean masih dibuat penasaran.

Perlahan- lahan Ivy meraba sesuatu dalam kantong piyamanya dan mengeluarkan sesuatu seperti... foto? Sean terbelalak. Dalam foto itu, Ivy telah mengganti warna rambut Bianca yang tadinya pirang menjadi coklat dengan menggunakan krayon pensil.

Astaga!

Kedua mata Sean membulat, tidak pernah menyangka kalau putrinya akan melakukan hal seperti ini.

"Maaf" Ujar Ivy menunduk.

"Kenapa minta maaf sayang?" Tanya Sean heran.

"Karena Ivy merusak foto daddy satu- satunya." Jawab Ivy masih menolak untuk melihat Sean.

"Jangan khawatir sayang. Kita bisa membuat yang baru lagi. Sekarang angkat kepalamu. Tidak apa- apa." Balasnya seraya kembali mengelus rambut putrinya. "Oh. Dan darimana kau mendapatkan video ini?" Tanya Sean sambil menunjuk video yang masih terputar, memperlihatkan Bianca yang masih tertawa sementara dirinya dalam video masih tetap menggelitiknya.

"Gudang." Jawab Ivy singkat.

"Gudang?"

Ivy mengangguk. "Waktu itu Ivy sedang mencari kain untuk Mrs. Bear ketika melihat kaset didalam dos jadi Ivy putar saja isinya."

"Semuanya?" Sean memang menyimpan barang- barang yang dulu dimilikinya di dalam gudang dan itu sudah lama sekali, sejak Roxyan akhirnya dengan paksa menyeretnya kembali ke kehidupan nyata, melupakan masa lalunya.

Ivy menggeleng. "Hanya ini." Ivy menunjuk video yang masih terputar. "Ivy selalu memutarnya sambil menunggu daddy pulang."

Astaga!

Sean semakin dibuat tidak percaya dengan sikap putrinya yang kelewat.... entahlah. Sean tidak tahu harus menjabarkannya bagaimana. Apa yang sudah dilakukannya dulu hingga Ivy tidak lagi seperti anak- anak seusianya?

"Sean? Berjanjilah satu hal."

Bianca didalam video sudah berhenti tertawa dan Sean yang baru saja kembali dari dapur keluar sambil membawa makanan untuk mereka.

"Janji?" Disodorkannya segelas susu untuk ibu hamil pada Bianca. "Janji apa?"

"Kalau aku berubah. Jangan berhenti untuk mempertahankanku."

"Hah? Memang kau mau berubah seperti apa?" Tanya Sean tidak mengerti yang langsung disambut pukulan ringan dari Bianca.

"Kau ini. Siapa tahu saja kau sudah tidak mencintaiku kalau aku sudah melahirkan nanti. Kau lihat? Aku sudah seperti paus betina yang terdampar di laut lepas." Rajuknya.

Sean tertawa. "Kau paus betina yang terdampar di laut lepas dan sangat cantik."

"Gombal."

"Hahaha aku serius My Bee. Aku akan selalu mencintaimu dan selamanya akan begitu. Tidak peduli berapa kali aku harus menghamilimu nanti."

"Hahaha sepertinya kau sudah merencanakan berapa banyak yang kau inginkan?"

"Tentu saja. Pasti Ivy tidak akan masalah kan?"

"Ivy?"

"Kurasa itu nama yang cantik untuk anak perempuan kita."

"Ivy? Hm aku menyukainya. Hai Ivy, salam kenal. Aku dan daddy baru saja memutuskan memberimu nama, apa kau suka? Wah, dia menendang Sean." Binar mata Bianca bahagia.

Sean tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke perut Bianca yang sudah berusia delapan bulan. "Halo Ivy, aku sudah tidak sabar melihatmu."

Cup.

"Aku mencintaimu, Sean."

***

Sean berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Dia tahu kalau jam segini adalah waktu dimana Bianca akan pulang dan dia bertekad tidak akan melepaskannya lagi. Dilihatnya Bianca sedang berbicara dengan Athar, Nora dan para dokter muda lainnya di depan lift ketika tiba- tiba ia meraih tangan Bianca.

"Eh, dokter Carter?" Ucap Nora kaget begitupun dengan para dokter lainnya.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Bisik Bianca berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Sean.

"Tidak akan. Kita akan pulang."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Kita akan pulang ke rumah kita. Sekarang!"

"Kau gila ya?"

Sean menggeleng. Dia tidak lagi memperdulikan tatapan kebingungan bercampur penasaran di wajah dokter- dokter lain. Satu- satunya fokus dirinya adalah wanita keras kepala di depannya.

"Sudah cukup aku melihatmu main- main, Bianca. Sudah saatnya kau pulang."

"Main- main?" Bianca mengulang ucapan Sean tidak percaya. "Sepertinya kau lupa kalau..."

"Hanya kau yang berpikiran seperti itu karena faktanya aku tidak pernah melupakannya." Jeda sesaat. "Kau sudah membuatku berjanji, ingat?"

"Janji? Janji apa?"

"Aku akan tetap mempertahankanmu."

Hening.

Semua orang disekitar mereka juga tidak ada yang berani membuka suara.

"Kau gila ya? Lepaskan!" Perintah Bianca keras kepala seraya kembali mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Sean yang bahkan semakin erat.

"Tidakkah kau sadar kalau kau masih berstatus istriku?" Tanya Sean tanpa menghiraukan hembusan napas tertahan orang- orang disekelilingnya. "Ivy. Anak kita merindukanmu." Lanjutnya semakin membuat Bianca membelalak.

"Lepaskan!" Desis Bianca geram.

Dan tiba- tiba saja Sean menarik tubuh Bianca kedalam pelukannya dan mengarahkan bibirnya ke bibir Bianca, melumatnya tanpa ampun.

Entah berapa lama baru Sean melepaskan bibirnya dari bibir Bianca hingga akhirnya Sean memutuskan ketika Bianca mulai mengap-mengap kehabisan napas tapi tidak melepaskan pelukannya di tubuh Bianca dengan kening yang saling menyentuh.

"Dan aku juga merindukanmu, my Bee."

Semua pernyataan Sean barusan seketika membuat kedua mata Bianca terbelalak.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS