MISSING YOU - 33

Brakkk....

Sean dan Roxyan yang tadinya sedang berdiskusi di ruangan divisi bedah seketika mendongak.

"Apa yang sudah kau lakukan?" Bianca langsung melayangkan pertanyaannya pada Sean.

"Ada apa?" Sean berdiri hendak meraih Bianca ketika wanita langsung menghentakkan tangannya.

"Ada apa?! Kau bertanya ada apa?" Teriak Bianca tidak tahan. "Apa maksudmu mengirim seluruh bunga dan coklat lengkap dengan kartu ucapan ke ruanganku?" Tanyanya geram.

Roxyan yang tadinya masih kaget dengan kemarahan Bianca seketika melonggo.

"Inikah penyebab Bianca marah seperti beruang yang baru keluar dari hibernasi? Hanya karena bunga dan coklat?" Batinnya bertanya

"Bagaimana? Kau suka?" Tanya Sean yang sepertinya tidak tertarik melihat kemarahan yang saat ini ingin meluap dalam diri Bianca. Sebaliknya Sean malah tersenyum senang ketika Bianca akhirnya datang kepadanya. Well, meskipun dengan kemarahan tapi itu cukup menggemaskan buat dirinya. Bianca tidak pernah memperlihatkan wajah seperti ini ketika bersamanya dulu dan alasannya cuma satu karena bukan dirinyalah yang lebih sering menunjukkan minat akan tetapi Bianca sendiri.

Ya. Harus diakui sejak insiden dimana Sean yang mencium Bianca tempo hari memberikan kegemparan yang sangat besar ditambah lagi dengan pernyataan Sean yang bisa didengar semua orang mengenai hubungan mereka semakin menjadikan mereka topic of the day baik itu dikalangan dokter, suster maupun pasien rumah sakit ini. Siapa yang menyangka kalau tidak hanya dokter wanita yang menyukai Sean seketika patah hati tapi juga dokter pria termasuk Athar yang juga diam- diam menaruh hati pada Bianca dan masih banyak dokter- dokter pria dari divisi lain. Menyadari hal itu, membuat Sean merasa bahwa apapun yang dilakukannya adalah benar.

"Suka? Suka katamu?! Apa kau sudah gila?!" Kembali Bianca menjerit histeris. "Bagaimana caranya aku bisa bekerja jika seluruh bunga yang kau berikan itu berada diruanganku? Aku kesini untuk bekerja, Sean dan bukannya ingin membuka toko bunga" Erang Bianca frustasi tapi membuat baik Sean maupun Roxyan tergelak. "Hentikan kekonyolan ini sekarang atau aku bisa gila." Lanjut Bianca tanpa memperdulikan gelak tawa mereka.

"Kalau begitu lakukan yang ku mau." Kata Sean setelah berhasil meredakan tawanya tapi masih ada sisa- sisa senyum yang tersungging dibibirnya. Sulit untuk tidak tertawa jika melihat ekspresi yang saat ini ditampilkan oleh wanita yang masih berstatus istrinya itu.

"Oh tidak lagi." Erang Bianca. "Kita sudah membicarakan ini, Sean."

"Dan aku tidak bosan- bosannya mengatakan hal ini lagi padamu."

"Memang apa lagi yang kau mau? Aku sudah menemui Ivy seperti yang kau inginkan. Aku juga selalu menyempatkan waktu untuk menemuinya..."

"Tapi itu semua tidak berarti jika kau tidak tinggal bersama kami."

Bianca menghembuskan napasnya kesal. "Kau tahu itu tidak akan terjadi."

"Kenapa tidak akan terjadi?" Tantang Sean tidak terima. Kemana Bianca yang dulu? Kenapa wanita dihadapannya ini sangat keras kepala?

"Sebaiknya kita hentikan pembicaraan yang menguras tenaga ini, okey? Oh. Dan juga hentikan aksi konyolmu mengirim bun..."

"Hanya kaulah yang mengatakan kalau itu konyol karena faktanya itu... hm romantis?" Goda Sean membuat kedua mata Bianca membelalak.

"Terserahlah" Ujar Bianca setelah berhasil meredakan diri juga jantungnya yang seketika berdetak keras karena melihat senyum menggoda pria itu. "Aku bisa mencari tempat lain untuk menyelesaikan pekerjaanku."

"Kau bisa mengerjakan disini bersamaku. Aku bahkan tidak keberatan harus berbagi tempat lagi denganmu." Goda Sean lagi yang langsung membuat Bianca memutar matanya tapi Sean bisa melihat kalau Bianca sedang menahan senyumnya.

"Terima kasih atas tawarannya, dokter Carter" Ucap Bianca seraya berjalan hendak keluar dari ruangan itu ketika kembali Sean membalasnya.

"Selalu untukmu juga, Mrs. Carter."

"Wow, apa tadi itu?" Kelakar Roxyan setelah Bianca keluar dari ruangan Sean sambil menghentakkan kakinya kesal.

Sean terkekeh, "well, kau tahulah. Hanya pembicaraan sepasang suami-istri yang sedang kasmaran"

"Oh so touching."

"Yes. It is."

Roxyan mengangguk- anggukkan kepalanya, khitmad "Tapi apa kau yakin dia Bianca yang kita kenal dulu?" Tanya Roxyan kemudian.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, apa kau tidak salah mengenali Bianca dengan wanita lain?"

Sean tertawa. "Dia istriku, ingat?"

"Ya. Aku tahu."

"Dan aku tahu setiap inci tubuhnya."

"Itu yang aku tidak tahu." Balas Roxyan kesal tapi sedetik kemudian mereka berdua sama- sama tertawa. "Aku tidak tahu kalau dia punya sisi seperti itu dalam dirinya." Komentar Roxyan merujuk pada emosi Bianca yang mudah meledak.

"Ya. Aku juga tidak tahu."

"Tidakkah menurutmu itu terlihat menggemaskan?"

Sean menoleh, "aku sedikit tidak suka mendengar kau memuji istriku didepanku sendiri."

Roxyan tergelak. "Kenapa? Cemburu?"

"Memang ada jawaban lain?"

"Oh. Sangat menyenangkan melihatmu cemburu."

"Kalau begitu jangan biasakan. Aku mungkin bisa melepaskanmu hari ini tapi tidak di lain hari" Ancamnya tapi semakin membuat Roxyan tergelak.

"Jangan khawatir. Aku cuma mengatakan kalau Bianca menggemaskan dan bukannya ingin merebutnya darimu."

"Jangan khawatir. Aku yakin Bianca tidak akan pernah tergoda sekalipun kau menggodanya sekuat tenaga."

"Wow Sean, kau semakin pintar menyindir."

"Aku hanya mengatakan apa yang kuyakini."

"Huff, kau benar."

"Rox?" Panggil Sean setelah lama tidak ada yang bersuara.

"Hmm?"

"Apa aku bisa?" Akhirnya Sean tidak tahan untuk tidak mengatakan apa yang selama ini dia pikirkan.

Sejenak tidak ada yang bicara. Roxyan sebenarnya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya. Meskipun Sean tidak pernah memperlihatkan secara langsung tapi Roxyan bisa merasakan kalau sahabatnya itu khawatir. Sangat khawatir jika Bianca pergi lagi.

Ditepuknya pundak Sean pelan, berusaha menguatkannya. "Jangan khawatir. Bukankah kau bilang, kau hanya bisa bersabar? Pasti Bianca sudah memikirkan semuanya dan kejadian kemarin pastilah membuat dia merasa ragu. Bukankah kau juga meminta bantuan Ivy? Pasti anak itu bisa, melihat mereka sama keras kepalanya."

Keduanya sama- sama tertawa. Ya. Anaknya itu pasti bisa mengembalikan ibunya. Kalau Bianca masih menolak maka tidak ada cara lain selain melakukan caranya meskipun itu dengan pemaksaan atau... kekerasan.

Sementara itu dari luar pintu ruangan seseorang mendengar semua pembicaraan itu sambil mengertakkan giginya marah.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS