MISSING YOU - 34
Ting tong...
Ceklek...
"Apa yang kau lakukan disini?" Ketus suara itu setelah menyadari siapa yang baru saja memencet bel rumahnya, sedikit terperanggah tapi berhasil diubahnya.
"Apa kabar, bibi Ellie?"
Setelah nyaris seharian berputar- putar New Zealand, akhirnya Sean berhasil menemukan rumah yang ditujunya dan tersenyum lega ketika mendapati Ellie Roseen yang membukanya.
"Aku tidak ingin berbasa- basi denganmu, Sean. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ellie. Kali ini ia mengatakannya dengan nada tajam.
Sean tersenyum, "kami hanya ingin mengunjungi bibi sekaligus memperkenalkan Ivy dengan neneknya." Jawab Sean masih dengan senyum yang sama.
Ellie yang tadinya hanya memperhatikan Sean segera menurunkan pandangannya dan langsung berhadapan dengan gadis berusia enam tahun yang saat ini juga menyunggingkan senyum padanya meskipun masih tetap tidak melepaskan genggaman tangan Sean darinya.
Sejenak Ellie terdiam memperhatikan gadis kecil bernama Ivy itu dan tertegun ketika tanpa diduga Ivy memegang tangannya.
"Grandma" Kata Ivy lirih tapi masih bisa terdengar.
Baik Ellie maupun Sean tidak ada yang bicara. Sean membiarkan Ellie sibuk dengan pikirannya. Selama perjalanan menuju New Zealand, dia memang sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk termasuk diusir oleh wanita itu tapi dia perlu mencoba dan kedatangannya bersama Ivy sama sekali tidak diketahui oleh Bianca.
"Grandma?" Ulang Ivy lagi dan membuat Ellie mengerjap.
"Masuklah dulu." Ujar Ellie setelah sadar dari lamunannya dan membuka pintu lebih lebar agar kedua pendatang baru itu bisa masuk. "Dan namamu adalah...?" Ellie tidak tahu harus berkata apa melihat Ivy sudah menempati sebuah sofa bersama dengan Sean disampingnya.
"Salam kenal, grandma. Namaku Ivy." Ucap Ivy memperkenalkan dirinya.
"Ivy?"
"Nama panjangnya Ivy Aleandra Carter, bibi Ellie." Ucap Sean meneruskan.
"Cih" decih Ellie tidak suka tapi membuat Sean tersenyum. Setidaknya tidak langsung diusir dari rumahnya lebih bagus. "Kuharap kau kesini bukan bermaksud untuk menyogokku, Sean." Ujar Ellie sinis.
"Tentu saja tidak, bibi Ellie." Sahut Sean tersenyum. "Sudah saatnya bagi Ivy untuk mengenal kakek- neneknya."
Kembali pandangan Ellie tertuju pada Ivy. Dalam hatinya ia merasa takjub dengan gadis yang telah menjadi cucunya itu dan tertegun ketika menyadari kalau Ivy memiliki wajah yang nyaris mirip dengan Bianca ketika kecil.
"Aku baru saja memanggang kue. Apa kau mau makan kue yang baru saja grandma buat, princess?" Tanya Ellie lembut. Sekilas Ivy bertatapan dengan Sean meminta persetujuan dan mengangguk.
"Apa Ivy juga boleh mendapatkan yogurt strawberry?" Tanya Ivy polos.
"Yogurt strawberry?"
"Ivy menyukai Yogurt strawberry. Aku melupakan yogurt strawberrynya di rumah kami." Jelas Sean.
"Tapi itu...?"
"Ya. Sama dengan Bianca. Ivy juga menyukai yogurt strawberry."
Ellie kembali tertegun lalu kembali menampilkan wajah tidak sukanya. "Kau ini. Seharusnya kau menyiapkan dengan baik segala perlengkapan Ivy." Ellie mengomeli sikap Sean yang tidak memperhatikan segala keperluan cucunya dan beranjak menuju dapur dan keluar beberapa menit kemudian dengan membawa yogurt strawberry beserta beberapa kue kecil.
Sejujurnya ini lebih dari yang diharapkan oleh Sean. Dia tidak pernah mengira kalau ia akan melihat sisi Ellie yang satu ini dan mau tidak mau ia tersenyum.
Dulu, sebelum orang tuanya meninggal. Selena sering menceritakan tentang persahabatannya dengan Ellie. Bagaimana Selena sangat menyayangi sahabat satu- satunya itu dan tiba- tiba berpisah ketika Selena akan menikah. Belakangan Selena tahu bahwa sahabatnya itu menaruh hati pada Shane, pria yang telah dinikahinya dan sudah terlambat untuk menyesalinya karena saat itu Selena sedang mengandung. Beberapa tahun kemudian Selena mendengar kalau Ellie sudah menikah dan berpindah mengikuti suaminya dan dari situlah Selena kembali ingin menjalin pertemanan tapi takdir berkata lain. Kecelakaan merenggut semuanya dan Sean yang kala itu masih berada di Junior School hanya bisa pasrah ketika mengetahui kalau orang tuanya tidak lagi bersamanya. Mengenai bagaimana dia bisa mengenal Ellie adalah karena wanita itu sempat menemuinya dua kali sebelum menitipkannya di panti asuhan karena tidak adanya keluarga yang bisa merawat Sean kala itu.
"Bagaimana keadaan Bianca?" Pertanyaan Ellie tadi seketika menyadarkan kembali Sean dari lamunannya.
"Eh?"
"Apa dia masih marah?" Ada nada getir yang berusaha disembunyikan oleh Ellie dalam suaranya dan Sean tahu apa penyebabnya. Sama seperti pada dirinya, Bianca juga menutup akses baik itu pada Immanuel maupun Ellie.
Sean sudah mendengar semuanya dari Immanuel termasuk perceraian yang pada akhirnya menjadi pilihan kedua orang tua Bianca dan Immanuel hanya berharap kalau Bianca tidak akan mengalami hal yang serupa yang tentu saja langsung ditentang oleh Sean karena biar bagaimanapun dan sampai kapanpun Sean tidak akan melepaskan Bianca.
"Pasti anak itu sangat terluka." Gumam Ellie sendu.
"Tidak apa- apa, bibi Ellie. Kurasa Bianca hanya butuh waktu." Ujar Sean menenangkan.
Ellie mengendikkan bahunya lalu kembali menolehkan tatapan pada Ivy yang saat ini sudah terlelap dalam pelukan Sean.
"Sepertinya kau merawat putrimu dengan baik." Kali ini Sean bisa merasakan nada tulus dalam suara Ellie dan itu sudah cukup membuatnya lega. Setidaknya membawa Ivy ikut bersamanya adalah keputusan yang tepat.
"Pada awalnya tidak mudah tapi banyak orang yang membantuku." Balas Sean dengan ketulusan yang sama.
Sejenak Ellie menatap Sean lalu kembali mendecih, "ya. Setidaknya aku tahu alasan kau membawanya kemari tapi jangan harap aku akan berbaik hati padamu, Sean. Aku hanya tidak suka melihat cucuku harus kelelahan karena dirimu membawanya bepergian sejauh ini."
"Aku tahu, bibi Ellie. Aku dan Ivy berterima kasih karena bibi tidak langsung mengusir kami tadi."
"Tadinya aku ingin melakukannya."
"Ya. Dan kami berterima kasih lagi karena bibi tidak melakukannya." Ujar Sean tapi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Terserahlah." Balas Ellie kemudian. "Apa kalian buru- buru kembali?"
"Eh?"
"Tinggallah selama beberapa hari disini. Akan ada festival kebun didaerah sini. Setidaknya ajarkan Ivy sesuatu yang tidak hanya sekedar obat dan alat medis lainnya."
"Baik, bibi Ellie."
Ini keberuntungan yang sangat hebat yang diterimanya tahun ini. Seperti santa claus yang tiba lebih dulu. Batin Sean menimpali sepeninggalnya Ellie masuk kedalam dapurnya lagi. Dilihatnya wajah putrinya yang sedang terlelap karena kelelahan menempuh perjalanan jauh tadi dan Sean tidak tahan untuk tidak mengecup puncak kepala Ivy lembut.
"Thanks my baby princess. Karena dengan kehadiranmu daddy bisa melalui semuanya dan usahakan kau juga menarik mommy kembali seperti yang kau lakukan pada grandma tadi, okey baby princess? Sleep well baby. We love you." Guman Sean kembali mengecup putrinya lalu berjalan menuju kamar yang telah ditunjukkan oleh Ellie sebelum wanita itu masuk ke dapur.
***
"Tidak dadda, aku tidak akan melakukannya." Seru Bianca nyaring. Untung saja saat ini dia sedang tidak berada di rumah sakit jadi dia tidak perlu mendapatkan tatapan penuh rasa ingin tahu yang diberikan dokter- dokter lain terhadapnya.
"Pumpkin." Terdengar nada putus asa Immanuel.
"Tidak lagi, Dad. Aku sudah cukup mengerti dengan apa yang kualami."
"Pikirkan tentang putrimu, Ivy."
Bianca tertegun sejenak lalu kembali sadar. "Kata siapa aku tidak memikirkan putriku? Aku memikirkannya kok."
"Tapi putrimu masih kecil. Ivy masih belum bisa memahami keadaan yang terjadi. Apa kau tega melihat Ivy tumbuh dengan melihat kedua orang tuanya tidak tinggal bersama padahal kalian masih dalam status pernikahan?"
"Tidak seperti itu, dad."
"Lalu apa? Karena Vivian?"
"Eh? Bagaimana dadda...?"
Terdengar suara helaan napas lelah diseberang. "Sudah kuduga kau memikirkan hal itu."
"Apa Sean yang mengatakannya?"
"Kurang lebih seperti itu."
Dasar Sean brengsek! Apa maksudnya mengatakan hal itu pada ayahnya? Apa dia berniat menikahi Vivian dan meminta izin ayahku? Grrrr. Awas saja dia!
"Bianca? Pumpkin?" Panggil Immanuel karena tidak ada suara dari Bianca selama beberapa menit.
"Eh iya, dad?"
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?"
"Oh eh ti-tidak apa- apa, dad?"
"Kau yakin?"
"Ya. Oh kalau aku boleh tahu, Sean mengatakan apa?"
"Apa yang kau katakan?"
"Apa yang sudah dikatakan Sean pada dadda hingga mengungkit nama Vivian?"
"Oh hanya membicarakan ini dan itu."
Sekuat tenaga Bianca menahan rasa geram sekaligus gemasnya mendengar jawaban ayahnya. Apa susahnya sih mengatakan hal yang tidak menyebabkan tekanan darahnya naik? Meskipun dalam catatan kesehatannya, dia sama sekali tidak mengidap penyakit hipertensi begitupun dengan orang tuanya tapi entah kenapa itu membuat darahnya naik hingga ke ubun- ubun.
"Baiklah pumpkin, nanti dadda akan menghubungimu lagi. Oh, dan sayang, jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi pada kami. Ini semua tidak ada kaitannya dengan dirimu. Kau adalah putriku yang berpendirian teguh dan apapun yang telah kau putuskan dimasa lalu, pastinya tidak pernah kau sesali di masa kini. Ini hidupmu sayang dan kau berhak melakukannya."
Lama Bianca terdiam ditempatnya, berusaha mencerna kalimat yang diutarakan oleh ayahnya tadi. Bianca memang tidak pernah berpikir untuk menyesali apa yang telah terjadi dan menikah hingga memiliki putri yang baru diingatnya adalah satu dari sekian banyak hal yang terbaik yang pernah dimilikinya.
Lamunannya kembali tersentak ketika mendengar suara bel apartemennya yang berdering nyaring.
Setelah meletakkan ponselnya di atas meja kecil, Bianca beranjak membuka pintu dan tertegun mendapati orang yang selama ini berusaha untuk tidak ditemuinya. Bianca baru saja akan meredakan atmosfer yang tiba- tiba kaku disekitarnya ketika sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipinya, membuatnya meringgis.
"Dasar kau wanita brengsek!" Sergah orang yang baru saja menamparnya itu marah.
"Vivian?"
***
Comments
Post a Comment