MISSING YOU - 35
".... Pasti Bianca sudah memikirkan semuanya dan kejadian kemarin pastilah membuat dia merasa ragu. Bukankah kau juga meminta bantuan Ivy? Pasti anak itu bisa, melihat mereka sama keras kepalanya."
Plakkk...
"Dasar kau wanita brengsek!"
"Vivian?" Seru Bianca kaget.
"Ya. Ini aku! Kenapa? Kaget?!" Balas Vivian terlihat sangat marah.
"Apa yang terjadi, Vi?"
"Apa yang terjadi, Vi?" Cibir Vivian meniru ucapan Bianca. "Berhenti berpura- pura Bianca. Seingatku kau adalah dokter dan bukannya artis."
"A- aku tidak mengerti. Apa yang..."
"Apa tamparanku sama sekali belum menyadarkanmu?"
"Eh?"
"Mau sampai kapan kau berpura- pura seperti ini, Bi? Apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan pada semua orang disekitarmu."
"Eh i-itu."
"Jawab dengan jujur. Apa artinya aku bagimu?"
"Apa?"
"Jawab saja, okey? Apa aku buatmu?"
"Kau... sahabatku?" Ujar Bianca ragu.
"Bahkan ketika kau mengatakannya pun, kau masih terdengar ragu"
"Kau sahabatku" ulang Bianca kali ini terdengar mantap.
Vivian mendengus. "Kalau begitu apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Eh?"
"Sudah kubilang berhenti berpura- pura brengsek!" Bentak Vivian kesal. "Aku tidak mengerti denganmu. Sesering apapun aku memikirkan hal ini tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya. Kau mengatakan bahwa kau sahabatku tapi kau sama sekali tidak jujur padaku. Aku seperti orang bodoh saja."
"Bukan begitu."
"Kalau begitu kenapa kau menghindariku? Menghindari Sean? Menghindari semua orang?"
"Eh itu."
"Dan kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau amnesia?"
"Itu..."
"Benarkan? Aku seperti orang bodoh saja."
"Tidak seperti itu, Vi." Bianca ingin mendekati Vivian tapi langsung ditolak oleh wanita itu.
"Jujurlah Bi. Apa karena aku?"
"Apa?"
"Kau menghindari Sean karena aku kan?"
"Eh itu..." Bianca tidak tahu harus mengatakan apa dan sebagai balasan dia cuma bisa menggigit bibirnya.
"Seharusnya aku memberimu tamparan lagi."
"Apa?"
"Seharusnya aku marah karena mengetahui kau telah membohongiku tapi kenapa aku malah merasakan yang sebaliknya? Apa kau tahu?"
"Eh itu... eh apa?" Bianca mengerjapkan kedua matanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa setelah kehilangan ingatan membuatmu tuli mendadak?"
"Maksudku... aku... aku... aku mengerti kalau kau marah padaku tapi..."
"Aku teman yang baik, huh?"
Bianca mengerjap tidak tahu harus menjawab apa.
"Sean mencintaimu." Ucap Vivian membuat Bianca harus menutup matanya. Sejujurnya jantungnya tidak pernah berhenti berdetak setiap kali berada di dekat Sean tapi dengan adanya semua masalah yang telah terjadi, dia berusaha menampik semua itu.
"Dan aku juga tahu kalau kau mencintainya bahkan ketika pertama kali datang ke rumah sakit ini pun, tatapan yang kau berikan pada Sean sangat berbeda dengan tatapan yang kau berikan pada pria lain bahkan dengan Andrew sekalipun." Jeda sesaat. "Awalnya aku heran tapi sekarang aku mengerti. Bahkan ketika kehilangan ingatan pun tubuhmu masih tetap mengingatnya."
Bianca mengernyit. Apa memang dia seperti itu?
"Aku memang menyukai Sean tapi tahukah kau apa yang membuatku menyukainya? Itu karena dia tetap setia pada satu wanita meskipun wanita itu telah dinyatakan meninggal tapi perasaannya masih tetap sama. Sean bahkan tidak pernah melirik wanita lain bahkan aku sekalipun. Bukankah suamimu itu pria terbodoh yang pernah ada di bumi ini? Akan kupastikan dia akan menyesal karena pernah tidak melihatku." Geram Vivian tapi justru membuat Bianca tertawa.
"Terima kasih, Vi dan maaf karena membuatmu kesal."
Vivian mengangkat bahunya, tidak peduli. "Tidak masalah. Rasanya menyenangkan sudah memukulmu. Kau tahu? Sudah lama aku ingin melakukannya. Sejak malam itu tapi melihatmu begitu terpuruk, aku tidak ingin menambah kesulitanmu tapi ternyata kau malah membuatnya semakin sulit dan aku mendengar well... tidak sengaja sih sebenarnya, Sean begitu khawatir tentangmu dan aku semakin tidak tahan." Vivian tersenyum kecil. "Kuharap tamparanku pada akhirnya membuatmu sadar."
Bianca terkekeh seraya memegang pipinya yang masih terasa perih. "Masih terasa perih tapi tidak apa- apa."
"Dan jangan harap aku akan minta maaf." Seru Vivian cepat.
Bianca mencibir. "Kuharap aku tidak perlu melakukan operasi untuk mengembalikannya seperti semula."
"Jangan khawatir kau hanya perlu mengompresnya dengan es batu untuk meredakan merahnya." Timpal Vivian cuek.
"Cih. Kurasa aku terlalu meremehkanmu selama ini."
"Ya. Kuharap itu membuatmu berpikir dua kali sebelum membuatku kesal lagi."
Keduanya terdiam selama beberapa saat hingga kemudian mereka berdua saling berangkulan dan tertawa.
"Maaf dan terima kasih, Vi. Aku beruntung memiliki teman sepertimu." Ujar Bianca disela pelukannya. Dia tidak bisa menampik air mata yang keluar dari matanya dan senang karena Vivian tidak seperti yang selama ini dia pikirkan.
"Bestfriend first, remember?"
"Yeah, bestfriend first. Thanks for being my friend, Vivian Logan."
Baik Vivian maupun Bianca sekali lagi saling bertukar senyum. Keduanya bahkan menghabiskan hari- harinya dengan selalu bersama.
***
Bianca tidak tahu kemana Sean dan Ivy pergi. Sean juga tidak pernah menghubunginya meskipun dalam hati dia berusaha sekuat tenaga menahan kerinduannya pada anak perempuannya tapi mengingat bagaimana dia dulu sangat marah karena Sean memenuhi ruangannya dengan bunga, membuat dia agak ragu untuk menghubungi lebih dulu.
Belakangan Bianca tahu kalau Sean mengambil cuti panjang, membuat Bianca geram luar biasa karena Sean sama sekali tidak memberitahukan hal ini padanya. Roxyan juga tidak bisa ditanyai karena pada hari dimana Vivian mendampratnya, Roxyan juga berangkat ke Itali untuk menghadiri seminar.
"Ada apa?" Pertanyaan Vivian seketika membuyarkan lamunannya. Saat ini mereka berdua menghabiskan waktu di apartemen Vivian. Sudah lama mereka berdua tidak melakukan kegiatan bersama. Vivian baru saja selesai memberi warna merah pada kuku kakinya ketika mendapati Bianca melamun dan hanya mengecet tidak lebih dari tujuh kuku tangannya dan membiarkan yang lainnya polos.
"Eh apa?"
"Kau belum tahu dimana keberadaan mereka berdua ya?"
Bianca mengangguk. "Akan kubuat Sean menyesal karena melakukan ini padaku." Geram Bianca jengkel.
Vivian tertawa. "Kuharap itu berkaitan dengan memberikanku keponakan baru lagi."
Bianca mengerjap kaget. "Dasar otak mesum" Ujar Bianca memutar matanya tapi tidak urung merasa kalau kedua pipinya mendadak menjadi panas.
"Well, kurasa wajah kepiting rebusmu itu menandakan kalau aku akan melihatnya seperti lagi."
"Berhentilah bersikap konyol, Vi. Oh tidak... kau membuat cat kukuku jadi rusak." Keluh Bianca ketika melihat cat di kuku tangannya belepotan karena memukul Vivian tadi.
"Salah sendiri kenapa memukulku."
"Kau menjengkelkan."
"Kuanggap itu pujian. Terima kasih."
"Sama- sama." Balas Bianca tapi tak urung membuat Bianca memutar kedua matanya.
Bianca baru saja memperbaiki cat kukunya ketika Vivian menyelanya. Lagi.
"Bi?"
"Hm?"
"Mau sampai kapan kau membiarkan telponmu berbunyi terus?" Keluh Vivian jengkel karena Bianca sama sekali tidak memperdulikan ponselnya yang sejak tadi berdering saking fokusnya mengecat kukunya.
"Oh maaf. Bisakah mau mengangkatnya? Loudspeaker saja. Aku agak ribet jika harus menggunakan tangan."
"Kau ini." Decih Vivian tapi tetap beranjak meraih ponsel Bianca yang diletakkan diatas meja dan mengaktifkan speakernya lalu beranjak kembali ke tempatnya semula. Dia bahkan tidak melihat nama yang tertera di layar ponsel Bianca.
Lama tidak ada sahutan hingga membuat Bianca mengira hanya telpon iseng ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya terdengar melalui ponsel yang loudspeakernya telah aktif.
"Mommy.... hatcihhh."
"Ivy?" Sontak Bianca langsung berdiri dari tempatnya duduk tanpa memperdulikan botol cat kukunya yang mengelinding ke lantai.
***
Comments
Post a Comment