MISSING YOU - 36

Bianca mendengus tidak percaya akan pemandangan yang ada didepannya. Setelah nyaris seharian dia merasa gelisah memikirkan keadaan putrinya yang ternyata baik- baik saja dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan kalau rumah yang ditempati Sean dan Ivy untuk berlibur adalah tidak lain rumah dimana dia pernah menghabiskan masa kecilnya.

"Jadi?" Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi dan memang dia belum mengucapkan sepatah katapun semenjak ia menginjakkan kembali kakinya di rumah Ellie. "Adakah yang mau berbaik hati menjelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi disini?"

Satu lagi pemandangan yang harus dilihatnya adalah Immanuel beserta Roxyan dan Vivian juga berada di tempat yang sama. Terlebih pada Vivian karena seingatnya, beberapa jam sebelumnya dia sedang menghabiskan waktunya bersama Vivian jadi bagaimana mungkin wanita itu bisa tiba lebih dulu dibandingkan dirinya di tempat ini?

"Aku tahu apa yang ingin kau katakan tapi bukan salahku kalau kau terlambat memahami semuanya." Ujar Vivian sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

"Jadi kau sudah tahu dimana Sean menghabiskan masa liburnya?" Bianca tidak dapat menyembunyikan perasaan cemburunya pada Vivian dan dan semakin merasa jengkel karena Sean sama sekali tidak mengatakan apa- apa sejak kedatangannya dan hanya menatap Bianca dalam diam.

"Hm." Vivian tampak sengaja berpikir. "Ya dan tidak." Jawab Vivian.

Bianca berusaha menghirup udara segar lewat hidungnya tidak mengerti, bukankah hubungannya dengan Vivian sudah membaik tapi kenapa sekarang Vivian justru bersikap sebaliknya?

Lagi- lagi Bianca hanya bisa kembali menghirup napas dan menghembuskannya pelan. "Baiklah. Aku ingin menemui Ivy." Ucapnya.

"Dan apa yang akan kau lakukan padanya?" Untuk pertama kalinya Sean mengeluarkan suara.

"Aku ingin memastikan kalau dia baik- baik saja." Jawab Bianca ketus.

"Dia baik- baik saja."

"Aku tahu tapi aku ingin melihatnya."

"Dia sedang tidur saat ini."

Bianca memutar kedua bola matanya. "Aku tidak bilang kalau aku akan menganggu jam tidurnya. Aku hanya bilang aku ingin melihatnya." Imbuhnya semakin jengkel.

Tidak ada yang berbicara diantara mereka dan baik Bianca maupun Sean sama sekali tidak ada yang melepaskan tatapan mereka satu sama lain.

"Apa kau sedang marah?" Tanya Sean kemudian.

Bukankah sudah jelas? Kau memberitahu Vivian mengenai kepergianmu tapi kau sama sekali tidak mengatakan apapun padaku jadi apa itu sama sekali tidak membuatmu merasa bersalah padaku?. Batinnya mengerang

"Untuk apa aku marah?" Balas Bianca ketus. "Kau pergi selama berhari- hari tanpa mengatakan apapun padaku bahkan nomormu pun tidak bisa dihubungi jadi buat apa aku marah? Oh iya, kau juga punya hak untuk memberitahu siapapun termasuk Vivian jadi well, aku sama sekali tidak marah." Tukas Bianca panjang lebar.

Hening.

"Baiklah. Aku akan datang menemui Ivy nanti. Pastikan saja kau memberitahu tentang kedatanganku." Katanya seraya meraih travel bagnya.

"Lho Bi, mau kemana?" Roxyan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan bertanya ketika Bianca telah meraih tasnya.

"Hotel."

"Hotel?"

"Aku tidak bermaksud untuk tinggal ditempat ini, Roxyan." Jawabnya tapi sempat melirik Ellie yang berdiri tidak jauh darinya. "Pastikan saja kau menghubungiku kalau Ivy sudah bangun, okey?" Lanjutnya mengarahkan ucapannya pada Sean yang hanya diam memandangnya lalu berbalik meninggalkan tempat tinggal Ellie.

Ia baru akan menghentikan sebuah taksi yang lewat ketika mendadak sebuah tangan menghentikan lengannya dan berbalik ketika mendapati Sean telah berada dihadapannya.

"Aku merasa tidak pernah mengatakan akan membiarkanmu pergi lagi dariku."

Sejenak Bianca mengerutkan keningnya memandangi wajah Sean lalu ke tangan yang saat ini masih menahan lengannya kembali ke wajah Sean.

"Dan sepertinya aku juga merasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Sean."

Keduanya saling berpandangan dengan sengit hingga terlihat kerutan samar di masing- masing kening Sean. "Aku tidak pernah mengira kau akan berubah sedrastis ini." Ujarnya.

"Selain karena aku yang semakin cantik dan menawan. Aku merasa masih seperti dulu." Balasnya pedas.

"Well, kurasa aku setuju kalau kau semakin menawan dan semakin cantik setiap harinya." Ujar Sean tapi tidak urung membuat Bianca mengerjap tak percaya hingga ia merasakan kalau mendadak pipinya terasa panas bahkan setelah sekian tahun, tubuhnya masih bereaksi sama seperti dulu.

"Hmm jujur aku merindukan melihat pipimu yang bersemu merah karena aku." Ungkap Sean seraya mengelus sebelah pipi Bianca dengan lembut.

"Apa kau sedang berusaha menggodaku, Sean?"

"Tidak ada hukum yang bisa melarangku menggoda istriku sendiri kan? Apalagi kalau istriku saat ini tampak sangat menggemaskan karena... cemburu."

"Aku? Cemburu? Jangan konyol" ujarnya sambil memutar kedua matanya.

"Oh begitukah?" Sean tampak mengangkat sebelah alisnya yang sangat disukai oleh Bianca dan itu membuatnya mau tidak mau tertawa pelan. "Sebenarnya aku mengharapkan pengakuan cemburu darimu tapi melihatmu tertawa tadi membuatku berubah pikiran."

Hah?

Belum sempat Bianca mencerna semuanya, sebuah bibir hangat telah mampir dibibirnya dan semakin mendesak agar lidah Sean bertemu dengan lidah Bianca dan seperti mengikuti nalurinya, Bianca membalas ciuman dari pria yang sangat dicintainya itu meskipun telah sekian lama.

Tidak ada yang berusaha saling melepaskan. Keduanya seperti sedang merasakan kerinduan yang selama ini tertahan diantara mereka hingga sebuah suara mungil menghentikan mereka. Bianca memejamkan matanya meredakan debaran jantungnya yang semakin berdebar akibat ciuman panas yang ia lakukan dan terengah- engah hingga ia mendengar suara kekeh Sean. Masih merasakan kening keduanya yang saling menyentuh, ia merasakan Sean yang berkata lirih padanya.

"Ini ciuman kedua kita setelah sekian lama dan sepertinya aku semakin tidak suka melihatmu jauh dariku." Ucap Sean terengah. "Aku sangat mencintaimu, Bianca Evelyona"

Tidak ada yang lebih mengembirakan selain pengakuan cinta dari pria yang sangat dicintainya itu meskipun sedikit banyak ada perasaan bersalah mengetahui kalau ibunya lah penyebab hingga mereka berpisah selama beberapa tahun ini.

"Oh ayolah Sean." Telinganya menangkap suara jengah Roxyan dan berbalik hendak menghadapi si pembuat onar ketika matanya nyaris keluar ketika melihat Ivy dalam gendongan Roxyan. "kupikir kau hanya akan menahannya untuk tidak pergi dan bukannya memperlihatkan adegan mesum seperti tadi pada kami. Kau bahkan terang- terangan memperlihatkannya pada anak kalian. Cih, orang tua macam apa kalian ini?" Sungutnya pura- pura kesal.

"Kau terlalu melebih- lebihkan, Roxy." Sean berjalan hendak menghampiri Ivy dan tersenyum ketika melihat putrinya yang tampak berseri- seri dengan wajah baru bangun tidurnya. "Hai princess, bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

Ivy mengangguk lalu beralih ke pelukan Sean. "Nyenyak. Ivy rindu deh sama mommy." Ujar Ivy menatap Bianca dengan wajah paling bahaginya yang bisa diperlihatkan. "Apa mommy juga rindu sama Ivy?"

"Tentu saja. Ivy kok tidak ngomong kalau mau kesini?"

"Kata daddy biar jadi kejutan buat mommy. Apa mommy senang?"

Bianca melirik Sean kesal. "Seharusnya Ivy menghubungi mommy kalau mau berlibur." Bianca sengaja menekan kata berlibur dalam kalimatnya agar Sean tersinggung tapi pria itu malah bersikap seakan- akan apa yang keluar dari bibir Bianca hanyalah sebuah kalimat penghiburan.

"Ponselku rusak setibanya disini. Itulah sebabnya kau tidak bisa menghubungiku." Jelas Sean padanya. "Entah kenapa, aku senang melihatmu merasa kesal seperti ini. Membuatku ingin membawamu ke suatu tempat dan melakukan sesuatu padamu."

Kedua mata Bianca membelalak menyadari maksud Sean dan melihat Roxyan yang terkekeh karena mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sean.

"Kau gila ya?"

"Tidak."

"Kalau begitu berhenti bercanda, apa kau tidak sadar Ivy bisa mendengar apa yang barusan kau katakan."

"Kurasa Ivy tidak akan keberatan jika kita memberinya ad..." Bianca langsung menghentikan Sean dengan membungkam bibir pria itu dengan tangannya. Tak lupa juga memberikan tatapan melotot pada pria itu yang hanya dibalas dengan kekehan pelan darinya.

Sambil menggelengkan kepalanya, Bianca mengambil alih Ivy dan membawanya pergi sebelum Sean kembali mencecoki putrinya dengan kalimat tidak masuk akal lainnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS