MISSING YOU - 37
"Sean..."
"Hm"
"Apa kau sama sekali tidak berniat melepaskanku?"
Sean menolak untuk mengizinkan Bianca kembali ke apartementnya sejak kepulangan mereka dua minggu yang lalu dan lebih memilih atau tepatnya memaksa Bianca untuk tinggal bersamanya.
"Yep." Ucap Sean enteng semakin mengeratkan pelukannya sementara jari- jarinya mengelus punggung Bianca yang telanjang didalam selimut.
Sambil memutar matanya, Bianca bertanya kesal. "Apa kau sama sekali belum merasa puas?"
Masih dengan mata terpejam, Sean tersenyum. "Jika bersama denganmu. Kurasa aku tidak pernah merasa puas."
"Hentikan Sean!" Ledak Bianca tidak tahan. "Kita butuh makan untuk melanjutkan hidup dan bukan hanya sekedar seks."
Sean membuka matanya dan tersenyum jahil, "Seks juga dibutuhkan untuk melanjutkan kehidupan kita, sayang."
"Tidak jika ada kehidupan lain yang perlu diberi makan juga." Balas Bianca sebal.
Sean terkekeh, "jika yang kau maksudkan adalah Ivy, anak itu baru akan bangun jam 7 dan kita masih punya tiga puluh menit untuk melanjutkan aktivitas kita. Aku bisa melakukannya secepat kilat." Ujar Sean mengarahkan jari- jarinya semakin kebawah.
"Sulit dipercaya bagaimana caramu bisa menahan diri selama bertahun- tahun dan baru mengeluarkan semuanya sekarang."
"Hmm biar kupikirkan." Ujar Sean tapi memberikan sentuhan- sentuhan kecil disekeliling leher Bianca dengan lembut hingga sebuah erangan kecil keluar dari bibir Bianca, membuat Sean tersenyum senang. "Saat itu prioritasku hanya tertuju pada Ivy dan bukan pada yang lain."
"Oh ya? Dan sekarang?" Engah Bianca dengan wajah memerah karena gairah.
Sean mengangkat wajahnya dan menatap Bianca langsung ke matanya. "Kurasa dengan adanya kau disini membuat gairahku semakin memuncak bahkan mungkin lebih."
"Wow."
Sean tersenyum, "oleh karena itu jangan menggodaku di rumah sakit. Aku bahkan tidak yakin jika harus mengoperasi dan ada dirimu di situ, bisa- bisa yang ada aku malah membuatmu berada di meja operasi itu menggantikan pasien."
"Kutebak itu bukan operasi yang biasa kau lakukan, iya kan?" Tanya Bianca sambil tertawa.
Sean tersenyum menampilkan giginya. "Kurasa itu sudah memberimu peringatan."
Bianca mengangguk, "sangat. Tapi entah mengapa aku jadi penasaran bagaimana kau akan melakukannya. Maksudku dengan adanya dokter- dokter lain. Kau tidak mungkin mau memperlihatkan bentuk tubuhku pada orang lain kan?"
"Tentu saja. Bagian ini" Sean menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan mengarahkan matanya ke payudara Bianca, "dan seluruh yang ada pada dirimu adalah sah milikku."
"Ah jadi kau hanya tertarik pada tubuhku?"
"Well, tubuhmu hanya sekedar untuk mengekspresikan perasaanku padamu." Sean lantas mengarahkan tangannya untuk menyentuh kedua pipi Bianca. "Karena kau Bianca Evelyona Roseen adalah satu- satunya wanita yang kucintai dan selamanya dalam hidupku. Tubuhku hanya bereaksi hanya padamu dan itu karena aku sangat mencintaimu.
"Kurasa usahaku dulu tidak sia- sia." Ujar Bianca berusaha menetralisir degupan jantungnya yang disebabkan oleh tatapan Sean yang sanggup membuatnya meleleh dalam sekejap.
"Usaha?" Sean mengangkat sebelah keningnya, bingung.
Bianca mengangguk. "Membuatmu lebih mencintaiku dibandingkan aku yang mencintaimu." Jawab Bianca tenang.
Tanpa diduga oleh Bianca, Sean tertawa. "Oh kurasa aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita."
"Ah ketika aku menyatakan cinta di kantin dulu, iyakan?"
Sean menggeleng. "Sudah kuduga kau melupakannya."
"Eh?"
Kembali Sean tertawa. "Hanya pertemuan singkat tapi cukup berkesan untukku."
"Apa yang kau bicarakan?"
Sean tersenyum. "Akan kuberitahukan suatu hari nanti jadi sebelum Ivy bangun, mungkin ada baiknya kalau kita melanjutkan aktivitas kita yang tadi sempat tertunda."
"Ah ap..." tapi Sean segera membungkam Bianca dengan bibirnya hingga keduanya mengerang karena kegiatan mereka.
***
9 bulan kemudian...
"Lupakan saja." Renguk Bianca kesal.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti, Bi. Aku hanya memintamu untuk mengurangi jumlah pasienmu. Itu saja." Jelas Sean tapi dibalas Bianca dengan pelototan.
"Tidak jika kau hanya memberiku pekerjaan yang ringan bahkan sangat ringan setiap harinya. Aku baik- baik saja Sean."
"Tidak jika usia kandunganmu saat ini sudah hampir memasuki delapan bulan." Balas Sean tidak mau kalah. Mereka bahkan tidak memperdulikan Vivian, Roxyan dan Ivy yang memang sejak tadi memperhatikan perdebatan sengit diantara keduanya. "Kurasa aku sudah cukup menolerir jam kerjamu dan tidak langsung memberimu cuti hamil."
"Kau bahkan belum menerima surat itu di mejamu."
"Well, tanpa surat itu pun aku masih bisa melakukannya. Aku masih berstatus suamimu, ingat?"
"Sangat ingat bahkan dengan jelas tapi jika kau lupa, ini rumah sakit yang artinya hubungan kita sama sekali tidak berpengaruh di sini."
Sean mengerang frustasi. Entah mengapa setelah sekian tahun akhirnya mereka kembali bersama, Bianca menjadi sangat keras kepala dan sulit untuk ditentang. Bukan berarti dulu Bianca tidak seperti ini tapi menurut Sean sikap Bianca saat ini sangat tak terduga. Kadang lembut dan sangat penurut tapi di sisi lain, Bianca kadang sangat keras kepala yang selalu memiliki banyak jawaban atas segala pertanyaan maupun ucapan Sean, membuatnya harus menjambak rambutnya sendiri karena tidak tahu lagi bagaimana cara membuat wanitanya mengerti.
"Guys, sudahlah. Apa kau tidak melihat ada Ivy disini?" Roxyan berusaha memperbaiki suasana penuh emosi dalam ruangan Sean.
Sejenak Bianca mengalihkan pandangannya pada putrinya dan tersenyum, "hai sayang, bagaimana sekolahmu?"
"Baik mom." Ivy balas tersenyum. "Mom, kurasa apa yang dikatakan daddy benar?"
Hah?
"Ivy dan daddy hanya tidak mau terjadi sesuatu pada mommy dan adik bayi." Lanjut Ivy.
"Thanks, princess." Ujar Sean senang karena mendapatkan dukungan dari putrinya dan bertos ria dengan Ivy. Sean tahu kalau Bianca tidak mungkin membuat putrinya kecewa. Roxyan dan Vivian yang melihat kekompakkan ayah dan anak itu sama- sama tertawa geli dan semakin tertawa ketika melihat Bianca melemparkan tatapan ingin membunuh pada Sean.
"Sekali lagi kau meracuni pikiran putriku, Sean. Aku tidak akan memaafkanmu." Geram Bianca.
"Lho? Aku tidak pernah meracuni pikiran putri kita, sayang. Lagipula kita berdua ini dokter dan aku yakin, kau akan langsung tahu jika ada yang salah dengan putri kita." Canda Sean.
Sean yang melihat Bianca semakin kesal melangkah dan langsung merangkul Bianca dari belakang. "Kau tahu kalau aku paling tidak suka melihatmu merajuk seperti ini. Itu membuatku merasa bersalah." Ujar Sean di telinga Bianca.
"Aku tidak mau mati karena bosan karena tidak melakukan sesuatu." Rengek Bianca melupakan rasa kesal yang tadi dia rasakan dan semakin mengeratkan tangan Sean di perutnya yang telah membuncit.
Sean tersenyum, "siapa bilang kalau kau akan mati karena bosan? Aku bahkan berniat mengambil cuti lebih awal agar bisa menemanimu."
"Benarkah?" Wajah Bianca langsung berseri- seri karena bahagia.
Sean mengangguk. "Tentu saja. Seminggu sebelum jadwal melahirkanmu, aku akan mengambil cuti."
Tidak ada jawaban.
"Dan aku juga akan pulang cepat untuk bisa menemanimu di rumah."
Bianca makin berseri- seri mendengarnya. Jadwal operasi Sean makin hari makin banyak dan Bianca yang sejak dinyatakan hamil malah dikurangi aktivitasnya oleh Sean. Ivy tidak bisa selalu menemani Bianca karena sibuk dengan sekolahnya.
Sean tertawa. "Apa itu membuatmu senang?"
"Tidak terlalu senang tapi cukuplah buatku."
"Jadi kau setuju untuk menerima saranku?"
"Dua minggu."
"Hah?" Sean melepaskan rangkulannya dan melihat wajah Bianca. "Tidak. Besok."
"Baiklah 12 hari."
"Apa bedanya? Tidak. 7 hari."
"10 hari kalau begitu."
Tidak ada yang bersuara hingga Bianca menempatkan kedua tangannya ke pipi Sean.
"Sean dengar," kata Bianca lembut. "Aku tidak mungkin meninggalkan pasienku begitu saja. 10 hari adalah waktu yang tepat dan itu cukup membuatku mengurus segala sesuatunya."
"Tapi..."
"Sebagai bonus, kau bisa menemaniku atau aku yang menemanimu. Aku bahkan tidak akan mengeluh jika kau meminta hal aneh lainnya. Bagaimana?"
"Apa sekarang kau berusaha menggodaku?" Tanya Sean geli.
Bianca tersenyum. "Tergantung apakah kau menerimanya atau tidak." Balas Bianca sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sial. Aku hampir saja tergoda." Rutuk Sean tapi lantas membuat Bianca, Roxyan dan Vivian tertawa. "Baiklah. 10 hari dan tidak ada penambahan waktu."
"Thanks, Sean. Aku mencintaimu." Ujar Bianca segera mengecup bibir Sean.
"Guys, apa tidak berlebihan jika kalian melakukannya berdua saja? Disini ada anak kecil yang melihat aksi mesum kalian." Potong Vivian jengah seraya menunjuk Ivy yang terkikik. "Kuharap di rumah, kalian tidak sering melakukan hal itu di depannya."
"Jangan khawatir, Vi. Ivy anak yang sangat pengertian. Dia mengerti kalau terkadang mommynya ini sangat manja."
"Lucu sekali, Sean." Ujar Bianca jengah. "Ayo Ivy, kita pergi makan." Ajak Bianca mengambil Ivy dari tangan Roxyan.
"Lho? Aku tidak diajak?"
"Kau harus melakukan pengecekan pada pasien usus buntu yang kemarin kau operasi, Sean." Balas Bianca memutar matanya. "Vi, kau masih punya jadwal lain?" Tanya Bianca pada Vivian.
Vivian mengendikkan bahunya, "tidak ada. Aku memang sengaja mencarimu untuk makan siang bareng."
"Kalau begitu. Ayo. Aku sudah lapar. Sampai nanti kalau begitu, gentlemen." Seru Bianca seraya meninggalkan Sean dan Roxyan dan berjalan keluar.
Bianca yang ditemani Vivian dan juga Ivy baru saja menginjakkan kakinya di parkiran ketika sebuah tangan menangkap lengannya, membuat Bianca yang keberatan berat tubuhnya hampir saja terjatuh jika saja sebuah tangan yang lain tidak menahannya.
"Andrew?"
"Kita perlu bicara."
"Apa?"
"Ayo." Seret Andrew.
Tampang Andrew benar- benar kacau, dengan jenggot yang seperti tidak pernah dicukur. Andrew tampak seperti orang gila yang tak terurus.
"Mommy?" Suara Ivy kembali menyadarkan Bianca dari lamunannya dan berhenti.
"Tunggu sebentar. Kau mau membawaku kemana?" Tanya Bianca karena saat ini mereka sudah berjalan di sekitar jalan raya.
"Jalan saja. Aku janji tidak akan menyakitimu." Jawab Andrew semakin mengeratkan pegangannya.
"Aku bukan takut kau akan menyakitiku, Drew tapi kau perlu memberitahuku kita akan kemana?"
Andrew menghentikan langkahnya dan menatap Bianca nanar.
"Apa yang kurang dariku, Bi?"
"Eh?"
"Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?"
"Apa?"
"Jawab aku dengan jujur. Apa selama kebersamaan kita, kau sama sekali tidak pernah merasakan apapun terhadapku?"
"Drew."
"Jawab aku, Bianca." Andrew mengarahkan kedua tangannya ke pundak Bianca dan mengguncangnya.
"Drew, kau kenapa?" Tanya Bianca khawatir.
"Aku mencintaimu, Bianca. Sangat mencintaimu tapi kenapa kau malah memilihnya? Akulah yang selama ini berada di sisimu dan bukan dia jadi kenapa aku tidak bisa mendapatkan perlakuan yang sama darimu?"
"Drew, bukan begitu."
"Tatap aku seperti yang kau lakukan padanya."
"Apa?"
"Berikan aku tatapan seperti yang kau berikan pada pria itu."
"Drew?"
"Bianca, aku mencintaimu. Apa kau mencintaiku?"
"Drew, aku..."
"Lepaskan tanganmu dari istriku sekarang juga!"
Bianca berbalik dan terperangah melihat Sean yang melihat kearahnya, lebih tepatnya kearah Andrew penuh tatapan tajam. Kedua keningnya bersimbah peluh yang kemungkinan akibat berlari. Dibelakangnya muncul Roxyan yang terengah- engah diikuti Vivian dan Ivy yang memandangnya penuh rasa khawatir.
"Sean, apa yang..."
"Lepaskan tanganmu darinya, brengsek!" Kali ini Sean semakin menajamkan suaranya.
"Tidak." Andrew membalas tidak kalah tajamnya. "Seharusnya dari dulu kau sudah melepasnya. Jika aku tidak bisa mendapatkannya maka kau pun tidak boleh mendapatkannya." Ucap Andrew menggengam tangan Bianca erat.
"Drew, kau tidak bisa melakukan ini." Ucap Bianca berusaha menenangkan Andrew. Biar bagaimanapun mereka pernah bersama dan juga mereka teman sejak kecil jadi sedikit banyak, Bianca bisa memaklumi sikap Andrew. Andrew tidak bersalah, semua ini karena dirinya yang tidak tegas sejak awal dan malah menumpahkan segala kesalahan pada Andrew.
Mereke berdua telah berada disisi jalan dan Bianca terlalu sibuk menenangkan Andrew hingga tidak menyadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearah mereka.
Brukk.....
Citttt....
"Biancaaaaaaa"
***
Comments
Post a Comment