MISSING YOU - 38
Semuanya terjadi secara mendadak. Yang Bianca bisa rasakan adalah tubuhnya tiba- tiba didorong ke samping hingga hanya tergores di bagian lutut dan siku tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya saat ini.
Matanya serta merta menangkap sosok Andrew yang tergeletak bersimbah darah tidak jauh dari hadapannya akibat terlempar dan menghantam aspal yang dingin dan keras.
"Oh tidak." Cepat- cepat Bianca bangkit dari tempatnya dan setengah berlari menuju sosok Andrew yang mulai bernapas pendek- pendek dan duduk disamping kepala Andrew meskipun dengan susah payah. "Oh tidak. Drew, jangan bergerak." Ucap Bianca ketika melihat tangan Andrew yang mulai terulur untuk menyentuhnya.
"Kau... baik- baik... saja?" Tanya Andrew dengan suara putus- putus.
Bianca mengangguk dan mulai menempatkan jarinya di belakang kepala dan leher Andrew.
"Bian..."
"Jangan bicara lagi, Drew. Kau kehilangan banyak darah." Bianca berusaha untuk tidak menangis melihat Andrew yang kepalanya terus saja mengeluarkan darah.
"Sayang?" Bianca berbalik dan menemukan Sean sudah berada disampingnya, terlihat sangat khawatir.
"Aku baik- baik saja. Andrew sepertinya mengalami patah tulang leher dan kepalanya terbentur cukup parah." Bianca menjelaskan.
Awalnya Sean tidak terlalu percaya apalagi tadi Andrew mendorong Bianca dengan cukup cepat dan keras menggantikan posisi Bianca yang nyaris saja tertabrak. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Bianca dan calon anak mereka yang berada dalam kandungan Bianca saat ini.
"Sean, lakukan sesuatu!" Pekik Bianca menyadarkan Sean dari lamunannya.
Sean lalu mengalihkan pandangannya kearah Andrew dan memeriksa seperti yang tadi dilakukan oleh Bianca.
"Dia mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala dan kehilangan banyak darah." Ucap Sean seraya menatap Bianca lurus. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Bianca saat ini. "Roxyan, kau sudah menghubungi petugas medis yang lain kan? Katakan kalau kita akan mengadakan operasi dadakan."
Roxyan mengangguk. Tidak lama kemudian beberapa perawat mulai berdatangan. Untung saja kejadiannya berlangsung tidak jauh dari rumah sakit sehingga tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membawa Andrew ke ruang operasi.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa masuk ke dalam." Cegah Sean ketika melihat Bianca ingin masuk ke ruang operasi juga.
"Aku akan menyelamatkan Andrew." Balas Bianca.
"Kau tidak bisa melakukannya. Kau sudah tahu bagaimana keadaannya saat ini."
Ya. Bianca tahu. Benturan yang dialami Andrew terbilang cukup parah, belum lagi tulang leher dan punggungnya yang tidak bisa lagi digerakkan. Kemungkinan untuknya bertahan hidup hanya sekian persen dan kalaupun dia hidup maka kemungkinan Andrew hanya koma atau bisa saja dia lumpuh total dengan hanya berbaring di ranjang.
"Pikirkan sayang. Kau juga perlu diobati." Ujar Sean menasehati karena Bianca sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Sejenak Bianca melirik lutut dan sikunya.
"Aku tidak apa- apa. Aku perlu melihatnya."
"Tidak ada yang perlu kau lihat."
Rasanya Bianca ingin berteriak dan menangis saja. Sean menyadari hal itu jadi diraihnya Bianca dalam pelukannya untuk menenangkan hingga pada akhirnya Bianca luruh juga.
"Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu, Sean." Isak Bianca. "Ini semua salahku."
"Shhh... ini bukan salahmu, sayang. Tenanglah. Ingat, ada kehidupan lain yang juga ikut bersamamu. Tenanglah sayang."
"Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
"Shhh... tidak apa- apa. Aku akan berusaha menyelamatkannya. Tunggulah disini atau kalau kau tidak tahan, kau bisa melihatnya di ruang monitor."
Bianca mengangguk dan Sean yang melihat Bianca sudah agak tenang segera meninggalkan Bianca menuju ruang operasi.
Bianca memperhatikan operasi Andrew dalam ruang monitor sementara Roxyan berada disampingnya. Roxyan tidak tahu harus berbuat apalagi terhadap Bianca, wanita itu menolak untuk diobati dan lebih memilih untuk terus mengikuti jalannya operasi meskipun itu dia harus duduk lalu kembali berdiri. Roxyan bahkan harus berkali- kali mengingatkan Bianca dengan kandungannya saat ini.
Untuk sementara Ivy dititipkan pada Vivian. Anak itu sepertinya masih kaget dengan cara Andrew yang langsung menarik Bianca pergi, belum lagi ditambah ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Bianca didorong tepat di depan matanya.
***
Sudah seminggu Andrew tergeletak diatas tempat tidurnya dalam keadaan koma. Kedua orang tua Andrew telah tiba di rumah sakit sejak Andrew dinyatakan koma. Mr dan Mrs. Heighter terlihat sangat syok melihat keadaan putranya dan sudah mengikhlaskan semuanya jika terjadi sesuatu yang buruk.
Mereka juga tidak pernah menyangka kalau Bianca telah menikah dan sebentar lagi akan melahirkan anak kedua dan cukup bijaksana dengan memberikan ucapan selamat pada Bianca.
Immanuel dan Ellie juga ikut berkunjung ke rumah sakit. Meskipun mereka berdua telah bercerai tapi tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan kembali bersatu mengingat Immanuel yang sepertinya masih belum bisa melupakan Ellie terlepas dari apapun yang pernah ia lakukan kepadanya dan juga putri mereka.
Hubungan Bianca dan Ellie juga sedikit demi sedikit mulai agak mencair meskipun kadang Bianca bersikap defensif tapi baik Sean maupun Immanuel sepertinya sama- sama berkomplot untuk terus menyatukan ibu dan anak itu. Salah satunya dengan menjadikan Ivy tameng diantara mereka dan siapa yang menyangka kalau baik Ivy maupun Ellie sama-sama terlihat akrab bahkan lebih akrab dibandingkan dengan Bianca.
Tepat di hari ke-10, akhirnya Andrew menghembuskan napasnya yang terakhir kalinya setelah sebelumnya membuka matanya dan menemukan Bianca yang sedang menatapnya dengan khawatir dan tidak lama setelah itu jantungnya berhenti.
Sean yang mendengar kematian Andrew segera berlari dari ruang pertemuannya dan mendapati Bianca yang menangis dan merengkuhnya dalam dekapannya.
Mungkin di hari pertama Andrew dirawat, untuk pertama kalinya ia merasa cemburu pada seseorang secara nyata. Bianca cenderung tidak menampik perlakuan dari pria manapun. Itulah yang membuatnya merasa tenang selama ini tapi ketika Andrew dirawat, Sean harus menunjukkan sikap posesifnya pada orang yang bahkan nyaris tidak pernah membuka matanya dan itu dilihat oleh hampir seluruh perawat maupun dokter di rumah sakit ini.
Roxyan, Vivian dan seluruh penghuni rumah sakit sama- sama harus melonggo ketika melihat sikap posesif Sean yang sangat jauh berbeda dari dirinya selama ini.
Tapi setelah delapan hari Andrew dirawat, sikap Sean tidak lagi seposesif ketika pertama kali meskipun tidak urung sikap Sean seringkali membuat Bianca kewalahan. Sean kadangkala bersikap sangat berlebihan apalagi ditambah dengan perut Bianca yang semakin membesar, membuatnya harus mengikuti atau memantau segala aktivitas Bianca menjelang kelahiran.
Sebulan berlalu tanpa terasa. Sore ini baik Roxyan, Vivian, Ellie, Immanuel dan juga George si direktur rumah sakit berkunjung ke tempat tinggal Sean dan Bianca. Bianca bahkan tidak menyangka kalau George yang pernah diceritakan oleh Sean beberapa tahun yang lalu adalah George yang sama, yang saat ini menjabat sebagai direktur di St. Jacqualine Hospital. George adalah orang tua pengganti bagi Sean karena dialah hingga Sean bisa menjadi dokter seperti sekarang ini.
Matahari baru saja menghilang dari cakrawala. Mereka berencana akan berpesta barbeque ketika Ivy memekik nyaring yang membuat mata semuanya tertuju pada Ivy dan Bianca yang memang sudah setengah jalan menuju halaman.
"Mommy pipis." Serta merta Bianca mengarahkan kepalanya ke bawah dan melihat air dibawahnya mengalir.
Bianca mengangkat wajahnya dan langsung bertatapan dengan Sean yang melihatnya dengan bingung lalu beralih pada semua orang yang sama seperti Sean. Mereka semua menatap Ivy bingung lalu beralih kearah Bianca. Hanya Ellie yang sepertinya sedang berpikir tapi apapun ekspresi yang ditampakkan oleh semua orang membuat Bianca serta merta tertawa.
"Astaga... ada apa dengan wajah kalian?" Gelak Bianca dengan napas yang sedikit kesulitan.
"Kau membuatku ketakutan. Apa kau kesambet sesuatu? Ivy berhentilah bercanda." Ujar Roxyan yang dibalas Ivy dengan bibir manyunnya.
"Tapi mommy benar- benar pi.."
Bianca tersenyum menenangkan Ivy yang terlihat kecewa. "Ivy tidak salah Roxy. Sepertinya sebentar lagi aku akan melahirkan."
Sean mengangguk. "Oh. Itukah sebabnya Ivy menyangka kau pipis di celana karena kau akan... eh apa?"
"Yup. The baby is coming, guys."
***
Comments
Post a Comment