MISSING YOU - 39
"Oh tidak. Sean!!!"
Sean yang tadinya sedang memperbaiki ayunan Ivy serta merta berbalik dan menemukan Bianca yang saat ini berwajah pucat sedang menggendong si kecil Matt. "Aku tidak tahu tapi dari tadi dia menangis terus." Akunya dengan mata yang berkaca- kaca.
Mungkin kalau melihat Bianca lima bulan yang lalu, akan membuat orang mengernyitkan dahi kebingungan. Bianca mudah sekali mengeluarkan air mata. Dia menangis jika tidak bisa mengganti popok si kecil Matt, dia menangis jika melihat si kecil Matt terjaga, dia menangis jika si kecil Matt tertawa dan lebih parahnya dia menangis jika si kecil Matt menangis, membuat Sean kebingungan antara ingin menenangkan Bianca atau putra mereka lebih.dulu tapi tak urung juga dia merasa terhibur melihat aksi konyol yang baru pertama kali dia lihat.
"Sean!" Kali ini Bianca terpaksa berteriak melihat Sean yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
Sambil mengulum senyum yang tercetak di bibir, dia menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati istri dan si kecil Matt. Si kecil Matt mengeliat gelisah dalam gendongan Bianca, membuat Bianca harus mempererat gendongannya yang semakin hari semakin aktif.
"Mungkin popoknya sudah mulai penuh. Kau sudah mengeceknya?" Tanya Sean mengambil alih Matt dari pelukan Bianca.
"Tidak." Bianca menggeleng seraya menghapus air di pelupuk matanya. "Dari tadi dia menangis terus membuatku tidak tahu harus berbuat apa."
"Bayi memang seperti itu, sayang. Ayo jagoan, mari kita mengganti popokmu dulu." Ujarnya membawa Matt ke dalam rumah diikuti Bianca dibelakangnya.
"Aku tidak mengerti kenapa aku masih belum bisa melakukannya." Sahut Bianca setelah Sean selesai mengganti popok Matt dan mulai menempatkan Matt di pelukannya serta menepuk- nepuk punggung mungilnya. "Kau seperti memahami semua apa yang diinginkannya sementara yang aku bisa hanyalah menangis setiap kali melihatnya tidak nyaman." Ucapnya yang membuat Sean kembali tersenyum. "Dan hormon baby blue ini semakin membuatku bertambah lemah." Lanjutnya.
"Ini bukanlah kelemahan, sayang. Kau hanya belum terbiasa melakukannya." Jawab Sean memberikan pengertian.
Sejenak Bianca menghembuskan napasnya. "Aku semakin merasa bersalah padamu juga Ivy. Aku rasa ini hukuman untukku karena pernah melupakan kalian."
"Bianca sayang, sudahlah. Itu semua masa lalu. Kau juga tidak sengaja melakukannya. Lebih baik sekarang kita fokus dalam membesarkan Ivy dan si jagoan mungil kita." Kembali Sean menenangkannya.
Ya. Bianca tidak dapat memungkiri kalau dia masih merasa bersalah terutama pada putrinya, Ivy. Begitu banyak moment yang terlewatkan dalam merawat putrinya itu dan ketika melihat betapa piawainya Sean dalam menenangkan si kecil Matt semakin membuat hatinya kecewa. Bagaimana kalau dia tidak mampu menjadi ibu yang baik bagi Ivy dan Matt? Bagaimana... bagaimana... dan bagaimana... dan semua kekhawatiran itu selama ini bertumpuk menjadi satu dalam benaknya hingga ia merasakan sebelah tangan Sean telah berada di pipinya dan mengelusnya lembut.
"Kita pasti bisa melaluinya. Tidak hanya kau tapi juga aku. Kita akan sama- sama berusaha."
Kedua mata Bianca seketika melotot kaget. "Kau bisa..."
Sean terkekeh. "Semuanya terdengar jelas dari sini." Jawabnya seraya menempatkan telunjuknya di bibir Bianca. "Mana mungkin aku tidak mendengarnya."
"Dasar curang." Rajuk Bianca semakin membuat Sean tertawa.
"Eh sepertinya jagoan kecil kita sudah tidur."
"Baiklah. Berikan padaku. Aku akan membawanya ke box bayinya." Dengan hati- hati Sean memberikan Matt pada Bianca dan beranjak pergi diikuti oleh Sean dibelakangnya.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik Bianca merasakan sebuah lengan kekar berada di pinggangnya setelah ia menaruh Matt dalam boxnya.
"Hm?"
"Sean, hentikan. Kau bisa membuat Matt terbangun." Ucapnya lagi ketika Sean mulai memberikan kecupan- kecupan kecil di belakang lehernya.
"Dia tidak akan terbangun dalam waktu dekat ini lagipula apa kau tidak merindukanku? Aku bahkan sangat merindukanmu."
"Dasar konyol." Balasnya. "Kita bahkan selalu bersama."
"Bukan itu yang ku maksudkan."
"Eh?" Dibalikkannya tubuh Bianca dan menyipit ketika melihat Sean memberinya senyum penuh arti. "Kau gi... oops, "Bianca melirik kearah Box tempat Matt tidur dan ketika melihat Matt hanya mengeliat kecil, Bianca kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda tadi. "kau gila ya? Sebentar lagi Ivy pulang sekolah."
"Aku bisa melakukannya dengan cepat bahkan sebelum Ivy pulang lagipula sudah lama aku tidak menyentuhmu dan kurasa aku juga semakin merindukanmu."
"Konyol."
"Kuanggap itu sebagai jawaban."
"Eh apa?" Sebelum Bianca mengutarakan pertanyaannya lebih lanjut. Sean sudah mengarahkan bibirnya ke bibir Bianca dan menciumnya hingga desahan kecil keluar dari bibir Bianca.
"Sudah kuduga, kau juga merindukanku." Ucap Sean geli melihat wajah Bianca yang mulai merona.
"Aku setuju." Dikalungkannya kedua lengannya ke leher Sean dan tersenyum. "Bukankah seharusnya kau membawaku ke singgasana kita? Menurutku bukan pilihan bijak jika kita melakukannya disini."
Sean balas tersenyum. "Baiklah ratuku, perkataanmu adalah perintah untukku."
***
"Mommy, kapan Matt besar?"
Kedua mata Bianca seketika mengerjap bingung dengan pertanyaan tiba- tiba putri sulungnya. Dipandanginya Ivy yang seperti asyik memperhatikan wajah Matt sembari menopang wajahnya dengan kedua tangan.
"Ivy sudah tidak sabar deh mau membawa Matt ke sekolah Ivy." Lanjutnya.
"Ivy mau bawa Matt ke sekolah? Untuk apa sayang?"
"Biar bisa dipamerin ke teman- teman Ivy."
"Di pamer?"
"Iya. Teman- teman Ivy banyak yang bawa adik mereka ke sekolah." Lalu tiba- tiba Ivy berpaling, menghadapkan wajahnya pada Bianca. "Apa Ivy boleh membawanya besok?" Tanyanya menampilkan wajah memelas.
"Eh?" Isi kepala Bianca mendadak kosong seiring tatapan Ivy padanya.
"Tunggu beberapa bulan lagi ya princess." Entah darimana, mendadak Sean muncul menyelamatkan Bianca dari kecanggungan yang terjadi. Bianca merasa masih perlu memahami pikiran putrinya itu. Ivy acap kali membuat Bianca harus berpikir dua atau tiga kali setiap Ivy memberikan pertanyaan dan apapun pertanyaan itu bukanlah seperti pertanyaan yang anak kecil seumurannya bisa katakan.
Pertama kali Ivy bertanya padanya adalah apa yang membuat bayi dan bagaimana bayi bisa berada dalam perut Bianca atau kenapa adik bayinya tidak kunjung keluar dari perut Bianca dan semua itu membuat Bianca harus mencari bantuan, salah satunya Sean. Sean menjelaskan proses kumbang dan bunga yang berkelok- kelok yang bahkan Bianca sendiri pun tidak mengerti tapi jika itu bisa membuat Ivy diam maka Bianca memilih untuk tidak terlibat lebih jauh.
"Jadi setelah beberapa bulan, Ivy bisa membawanya?"
Sean mengangguk. "Yup." Diam- diam Sean memberikan senyum samar pada Bianca dan mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi kenapa harus beberapa bulan lagi?"
Sean pura- pura berpikir. "Karena Matt masih membutuhkan Mommy."
"Benarkah?"
"Iya. Lihat saja. Dia bahkan mau terus digendong sama mommy kan?" Tanyanya mengarahkan telunjuknya pada Matt yang terus saja menggapai- gapai tangan Bianca.
Sejenak Ivy tampak berpikir lalu mengangguk. "Benar juga." Ivy lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Matt dan tersenyum. "Baiklah Matt, kali ini aku membebaskanmu untuk bersama mommy tapi setelah itu kau harus selalu bersamaku, okey?" Ucap Ivy yang dibalas Matt dengan tawa khas bayinya.
"Kau hebat." Puji Bianca diam- diam pada Sean.
"Bukankah seharusnya aku mendapatkan hadiah karena itu?"
"Hadiah?"
"Kurasa kecupan di bibir cukup."
Sekilas Bianca menggelengkan kepalanya. Terkadang dirinya sulit memahami bagaimana Sean bertahan dulu jika menilik bagaimana dia tidak pernah mau melepaskannya dari pengawasan. Bianca baru akan terbebas jika mereka berada di rumah sakit. Itupun ketika Matt menginjak usia 6 bulan dengan tambahan agar dirinya tidak terlalu fokus pada pasien ketimbang anak mereka.
Sejauh ini kehidupan mereka berjalan dengan baik meskipun kadang dibumbui dengan perbedaan pendapat khas rumah tangga. Si kecil Matt juga sudah mulai bisa merangkak dan Ivy yang mulai bertransformasi menjadi gadis yang sangat cantik dan menggemaskan tapi dibalik semua itu, Sean dan Bianca juga semakin bertambah mesra yang kadang membuat Roxyan maupun Vivian jengah dengan sikap mereka berdua jika mereka berkumpul.
"Oh come on, guys. Apa kalian tidak menyadari kalau bukan kalian saja yang tinggal di bumi? Kami bahkan bukan makhluk astral." Omel Vivian yang akhirnya tidak tahan melihat baik Sean maupun Bianca bertukar pandang penuh arti sementara Matt berada dalam pangkuan Bianca. "Jadi berhentilah seperti abg yang sedang kasmaran. Demi Tuhan, kalian bahkan sudah mempunyai dua anak."
Sore ini mereka putuskan untuk menikmati senja di pantai. Ivy juga tampak senang bertemu dengan air sambil sesekali berlari- lari kecil ketika ombak- ombak kecil datang ke sisi pantai.
"Kalau begitu cepatlah menikah dengan Jamie."
"Kau sinting ya? Aku bahkan baru mengenalnya tiga bulan yang lalu."
Jamie atau lengkapnya Jamia Gregorry adalah seorang pengusaha yang cukup dikenal dikalangan pebisnis. Vivian bertemu dengannya ketika Jamie sedang memeriksakan tangannya di St. Jacqualine Hospital karena terkilir dan siapa yang menyangka kalau dia dan Bianca saling mengenal dulu sehingga jadilah perkenalan itu. Menurut Jamie, Vivian adalah sosok wanita mandiri dengan pembawaan yang tegas juga lucu disaat bersamaan. Itulah yang membuat Jamie tertarik padanya.
"Kenapa tidak? Aku dan Bianca bahkan menikah disaat kami baru saja berkenalan."
"Itu karena hormon diantara kalian sangat besar dan setahuku Bianca lah yang lebih dulu melamarmu, iyakan?"
"Kau memberitahunya?" Sean menoleh dan memberi Bianca tatapan tidak percaya.
"Hanya sedikit." Jawab Bianca nyengir.
"Wanita ini. Kau harus dihukum." Geramnya pura- pura yang langsung mendaratkan bibirnya di bibir Bianca.
"Kubilang juga apa, hormon kalian berdua ini benar- benar tidak bisa lagi diselamatkan."
"Tidak ada yang salah dengan hormon mereka." Roxyan menyela, mencoba untuk berdiplomatis. "Mereka hanya tidak tahu malu saja." Sean yang tadinya nyengir karena mendapat dukungan dari sahabatnya tiba- tiba menjadi surut.
"Sialan." Rutuk Sean tapi membuat Vivian, Roxyan dan juga Bianca tertawa.
"Tapi bukankah menurut kalian dia suami yang sangat perhatian juga setia?" Sahut Bianca. Lagi- lagi Sean menyunggingkan senyum. "Terlepas dari betapa manjanya dia saat ini. Aku bahkan tidak yakin apakah aku hanya memiliki dua anak dan bukannya tiga."
Senyum Sean semakin mengembang, diulurkannya tangannya untuk merangkul pundak Bianca di sisinya. "Aku hanya manja padamu, sayang." Ujarnya.
Vivian memutar matanya, jengkel. "God, I cant believe this!" Serunya mengambil alih Matt dari pangkuan Bianca dan membawanya pergi mendekati Ivy yang menyambutnya dengan kegirangan.
Fin.
Comments
Post a Comment