MISSING YOU - 4

Kantin Rumah Sakit Universitas St. Catherine Bay yang tadinya ramai mendadak menjadi hening hanya karena kedatangan dua orang mahasiswa yang sangat tampan. Sebenarnya bukan hanya tampannya saja yang membuat mereka di idolakan oleh para dokter maupun suster di rumah sakit yang masih tergolong menengah itu tapi karena keduanya terkenal sebagai dokter yang mumpuni. Salah seorang dari mereka bahkan sudah menjadi asisten dokter senior.

"Hai Sean, apa kau tahu?"

"Tahu apa?" Sean balik bertanya seraya mengambil nampan untuk makan siangnya. Dia baru saja selesai melakukan bedah pada seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan. Tidak terlalu parah sih tapi cukup membuatnya lelah.

Roxyan yang berada di sampingnya juga ikut- ikutan mengambil nampan tapi bedanya dia hanya mengambil salad untuk makan siangnya. Dia sedang tidak mood memakan makanan berat yang sama dengan Sean, sahabat waktu di kuliah dulu.

"Kudengar seorang akan menyatakan cinta di sini. Di kantin ini. Hmmm kira- kira siapa dia?"

Sean yang mendengar pertanyaan Roxyan seketika berhenti mengambil apelnya dan melihat pria itu. Sebelah alisnya terangkat.

"Seriously? Ini kau yang bertanya?" Meskipun Sean menampilkan wajah kaget tapi tak urung juga dia menampilkan wajah geli.

"Memang kenapa?" Tanya Roxyan tidak terima.

"Kau terlihat seperti ibu- ibu yang senang bergosip." Jawab Sean dan mengambil apel yang tadi sempat di raihnya lalu meninggalkan Roxyan yang tidak terima dikatakan seperti ibu- ibu.

Sean baru saja mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk ketika Roxyan datang setelah mengejarnya.

"Kau akan terkejut jika aku..." Roxyan tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika melihat seorang gadis sudah berada di depannya juga Sean.

Sean juga mengetahui hal itu karena gadis itu tepat berada di hadapannya. Gadis itu mempunyai rambut berwarna pink yang sangat kontras dengan warna matanya yang memiliki pendar abu- abu juga coklat. Gadis itu terlihat sangat berani dan percaya diri.

"Wow." Guman Roxyan di samping Sean.

"Maaf. Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Sean sekedar sopan santun mengacuhkan ucapan tidak jelas Roxyan di sampingnya. Sean seperti pernah melihat gadis didepannya tapi tidak begitu yakin juga dengan apa yang dilihatnya. Dia lalu melayangkan pandangannya pada pin yang tersemat di dada gadis itu dan tahu kalau gadis itu adalah mahasiswi kedokteran di Universitas St. Catherine Bay.

Tanpa di duga gadis itu tersenyum dan entah kenapa Sean merasakan perasaan aneh yang tiba- tiba menyelusup ke dalam hatinya tapi langsung mengubahnya dengan mengangkat sebelah alisnya.

"Mulai saat ini kau adalah pacarku Sean Alvarion Carter."

Eh?

"Jadi jangan melirik gadis lain ya." Lalu tanpa di duga gadis itu memajukan wajahnya dan mengecup pipi Sean dengan lembut setelah itu mengedipkan sebelah matanya. Tidak genit tapi cukup membuat penghuni kantin riuh dengan apa yang baru saja dilakukan gadis itu lalu pergi beranjak dari tempat itu dengan riang.

"Oh iya." Gadis itu berhenti membuka pintu kantin, membuat Sean yang tadinya kaget kembali melihat gadis yang menurutnya sangat aneh. "Besok aku resmi menjadi dokter magang di rumah sakit ini dan namaku Bianca. Bianca Evelyona. Sampai jumpa sayang." Lalu gadis itu keluar, kali ini benar- benar keluar dan semakin membuat para penghuni kantin bersorak tidak jelas.

"Wow, sobat. Kurasa inilah akhir dari kejombloanmu." Ujar Roxyan seraya menepuk pundak sahabatnya itu prihatin. "Setidaknya dia cantik. Sangat cantik menurutku." Lanjutnya.

***

"Bi- Bianca?"

"Nah guys, perkenalkan dia adalah dokter Roseen. Lengkapnya sih Bianca Roseen dan dia di bagian bedah sama dengan Sean." Ucap Vivian.

"Halo." Sapa Bianca ramah seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Meskipun juga heran kenapa kedua pria itu memberinya tatapan seintens itu. Salah seorang diantaranya bahkan terlihat kaget ketika melihatnya.

"Jadi namamu Bianca Roseen?" Tanya pria yang melihatnya dengan tatapan kaget.

"Ya. Seingatku itu namaku." Bianca mencoba bercanda dengan situasi ini. Entah kenapa pria membuatnya kikuk.

"Oh namaku Roxyan. Roxyan Grawthorn. Ahli syaraf." Roxyan membalas uluran tangan Bianca.

"Oh dokter Grawthorn. Senang bertemu dengan anda."

"Tidak perlu seformal itu." Ucap Roxyan yang hanya di balas senyuman oleh Bianca.

"Nah Bi, kalau pria yang satu ini." Vivian menunjuk kearah Sean. "Namanya Sean. Sean Alvarion Carter dan dia juga satu divisi denganmu." Ucap Vivian memperkenalkan mereka. Bianca baru akan mengulurkan tangannya seperti yang ia lakukan pada Roxyan ketika mendengar ucapan pria itu.

"Ya. Selamat datang. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Ayo Roxyan. Aku masih perlu memeriksa sesuatu." Dan tanpa persetujuan siapa- siapa, Sean langsung pergi meninggalkan kantin itu dan di susul dengan Roxyan setelah menepuk pundak Bianca pelan.

"Apa aku melakukan sesuatu yang buruk?" Tanya Bianca bingung pada Vivian.

"Sean memang orangnya seperti itu. Dia dingin tapi sebenarnya dia baik." Jawab Vivian berusaha membesarkan hati sahabatnya itu.

Bianca mengangguk kemudian dia teringat sesuatu. "Tunggu dulu, kenapa kau memanggil dokter Carter dengan namanya?"

Vivian yang tadinya menyunggingkan senyum lebarnya seketika redup. "Oh my god. Kalian...."

.

.

.

Meskipun mereka bekerja di divisi yang sama tapi Bianca jarang bertemu dengan Sean. Semua operasi yang sulit selalu dilakukan oleh Sean sendiri dan ketika ia ingin membantu, Sean lantas menolaknya.

Bianca tahu kalau Sean adalah dokter bedah ahli di St. Jacqualine Hospital tapi dia juga kan dokter bedah terbaik yang di miliki rumah sakit ketika ia masih di New Zealand. Dia pindah karena ingin mencari suasana baru dan Vivian pernah mengatakan dalam emailnya kalau dia bekerja di sebuah rumah sakit terkemuka di London jadi dia memutuskan untuk pindah sekaligus bertemu dengan sahabatnya itu. Rasanya tidak adil kalau dia hanya di tugaskan untuk memeriksa pasien saja.

Dia baru saja selesai memeriksa pasien usus buntu ketika ia mendengar suara ribut di susul beberapa suster yang berlarian.

"Eh ada apa?" Tanya Bianca menghentikan seorang suster yang lewat.

"Ada kecelakaan besar yang terjadi di jalan tol dokter. Beberapa di antaranya kritis dan membutuhkan operasi secepatnya."

Mengikuti insting dokternya, Bianca berlari menuju UGD. Setibanya di sana, dia meringgis dengan banyaknya orang yang terluka. Luke, salah seorang yang satu divisi dengannya berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi di bagian paha. Luka itu mengangga tampak mengerikan.

Bianca yang melihat Luke yang kelelahan segera beranjak untuk membantu Luke.

"Thanks dokter Roseen." Ucap Luke lega ketika melihat tangan tambahan milik Bianca. Bianca tersenyum seraya menjahit luka- luka itu.

"Bagaimana ini? Dokter Carter masih berada di ruang operasi." Terdengar suara panik seorang suster.

"Ada apa?" Tanya Bianca setelah selesai membantu Luke.

"Ah dokter Roseen. Ada seorang anak umur 9 tahun yang membutuhkan operasi segera. Dadanya tertusuk serpihan kaca 10 cm."

Bianca ngeri membayangkan anak seusia itu harus mengalami kesakitan yang luar biasa seperti tertembus kaca.

"Kalau begitu, segera lakukan operasi." Ucap Bianca.

Kedua perawat itu memperlihatkan wajah gugup.

"Ada apa?"

"Tidak ada yang bisa melakukan operasi itu, dokter."

"Apa?"

Dari sekian banyak dokter bedah di sini, tidak ada satupun yang mampu? Apa dia tidak salah dengar.

"Dokter Carter sedang melakukan operasi."

"Kalau begitu cari dokter lain." Bianca mulai frustrasi. Apa tidak ada yang bisa merasakan sakit tertembus kaca? Apalagi ini dirasakan oleh anak usia 9 tahun.

"Dokter lain tidak berani mengambil resiko di tambah lagi jika tidak ada ijin dari dokter Carter."

Bianca sukses melonggo. Konyol! Itulah yang ada di pikiran Bianca saat ini. Tidak adakah yang mengerti kalau ini adalah situasi darurat?

"Siapkan ruang operasi. Aku yang akan melakukannya."

"Tapi dokter..."

"Apa kau lebih senang jika anak itu mati. Lakukan sekarang!" Kata Bianca tegas dan berjalan meninggalkan kedua perawat yang saling berpandangan.

Bianca berusaha menghubungi ruang operasi tempat Sean melakukan operasi tapi perawat yang berada disana mengatakan kalau Sean sedang sibuk dan menyuruhnya untuk menunggu.

Persetan dengan menunggu itu! Rutuk Bianca marah.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS