MISSING YOU - 5

"Konyol." Itulah kata pertama yang di ucapkan Bianca di ruangan Sean.

Setelah berhasil melakukan operasi yang cukup menguras tenaga. Bukan karena operasinya tapi tiba- tiba Sean datang tepat sebelum Bianca menggoreskan pisau bedahnya pada anak itu.

Kedatangan Sean yang tiba- tiba dengan wajah merah padam menahan amarah plus Bianca yang melotot marah akan sikap dokter pria itu yang tidak mempercayainya semakin membuat ruang operasi sarat dengan udara panas.

Mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan suara tapi bisa di pastikan baik perawat juga dokter yang tadinya akan membantu Bianca merasakan hawa panas yang berembus.

Semuanya mulai bisa bernapas kembali seakan tadi tidak ada seorangpun yang berani untuk bernapas ketika Bianca akhirnya menyerah dan membiarkan Sean mengambil alih.

Dan di sinilah dia, berhadapan dengan Sean di ruangannya. Sebenarnya Bianca tidak ingin menambah masalah tapi hati kecilnya mengatakan hal ini perlu diluruskan mengingat mereka berada di divisi yang sama tapi baru saja ia ingin mengutarakan maksudnya, Sean lantas memotong dan menyalahkannya.

"Konyol?" Sean mengulang ucapan Bianca tadi. Wajahnya terlihat datar tapi di saat yang bersamaan juga menampilkan aura dingin. "Anda mengatakan peraturan rumah sakit ini konyol?" Tanya Sean pada Bianca yang berdiri di hadapannya.

"Ya dan tidak. Ya karena di sini yang bersikap hanya anda, dokter Carter dan tidak karena saya sama sekali tidak merasa melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit ini." Jelas Bianca.

"Biar saya ingatkan dokter Roseen, anda melakukan operasi tanpa izin."

"Saya sudah minta izin."

"Benarkah? Pada siapa kalau saya boleh tahu?"

"Saya menghubungi anda, dokter Carter."

"Dan seingat saya, saya mengatakan untuk menunggu dan bukannya membolehkan anda melakukan operasi."

Bianca nyaris meledak di hadapan pria ini jika tidak mengingat siapa dia. "Jadi anda memutuskan untuk membunuh anak itu?" Tanya Bianca tanpa berniat menyembunyikan nada dingin dalam suaranya.

Sejenak Sean menatap Bianca kemudian berkata. "Apa yang membuat anda berpikir saya ingin membunuh anak itu?"

"Tidakkah kau lihat anak itu sekarat?" Tidak ada lagi nada sopan yang keluar dari bibir Bianca. Seumur- umur dia tidak pernah bertemu dengan orang keras kepala nan dingin seperti pria yang saat ini di hadapannya dan sialnya lagi, dia masih terlihat tenang di kursi kebesarannya sama sekali tidak terpengaruh dengan emosi Bianca yang sudah berada di ubun- ubun.

"Sekarat bukanlah kata yang tepat untuk diucapkan seorang dokter."

Bianca melonggo, rasanya dia ingin berbalik dari doktet bedah menjadi dokter anestesi saja dan menyuntik mati pria di depannya.

"Oh maaf saja dokter Carter, saya hanya belajar bagaimana mengutak- atik organ tubuh manusia dan bukannya belajar tata bahasa." Ujar Bianca dengan sarkasmenya.

Sean mengangkat sebelah alisnya memandang Bianca. Rasanya dia tidak percaya wanita yang terlihat sangat lembut ini ternyata sangat keras kepala dan juga tidak tahu aturan.

"Anda boleh keluar, dokter Roseen."

"Apa?"

"Anda tidak mengalami gangguan pendengaran, bukan? Kalau iya, saya akan menyarankan anda untuk mela-"

"Damn it Sean!" Sentak Bianca tidak sadar membuat Sean tertegun. "Aku belum selesai berbicara dan kau sudah menyuruhku untuk keluar?"

"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, dokter Roseen." Ucap Sean setelah pulih dari keterkejutannya akibat bentakan Bianca tadi dan kembali menampilkan wajah tanpa ekpresinya.

"Apa- apa yang membuat anda tidak mempercayaiku?" Akhirnya Bianca menyuarakan apa yang ada di pikirannya selama ini kembali dengan sikap sopannya.

"Mempercayaimu?"

"Ya. Anda tahu bahwa saya mampu melakukan operasi ini tapi kenapa anda seperti tidak mengijinkan saya untuk tidak melakukannya?"

"Tidakkah itu sudah jelas? Karena saya adalah kepala dari divisi ini dan otomatis anda sebagai bawahan saya adalah tanggung jawab saja."

Kali ini Bianca sukses melonggo. Lidah dan otaknya mendadak beku mendengar jawaban tidak masuk akal yang diucapkan Sean.

"Sean, aku perlu... eh maaf." Roxyan kaget mendapati Bianca yang seperti memberikan tatapan berdarah pada sahabatnya.

"Tidak apa- apa. Masuklah Roxyan. Dokter Roseen juga sudah selesai." Jawab Sean tenang.

Butuh usaha yang keras bagi Bianca untuk tidak langsung berlari dan menonjok wajah tenang Sean. Bianca baru saja akan membuka pintu ruangan Sean ketika ia berbalik. Tanpa memperdulikan raut wajah kebingungan Roxyan, Bianca mulai berujar. "Saya selalu melakukan apa yang menurut saya baik, dokter Carter dan mengenai tanggung jawab yang tadi anda katakan, saya tidak membutuhkannya." Lalu Bianca keluar setelah menyentakkan gagang pintu itu dengan kasar.

"Astaga.. apa yang terjadi?" Tanya Roxyan kaget.

"Bukan apa- apa. Apa yang kau perlukan?"

***

Vivian sudah mendengar apa yang terjadi antara Bianca dan Sean di ruang operasi 56 menit yang lalu dan tidak heran mendapati sahabatnya itu sedang memakan coklat toblerone dengan kekuatan yang nyaris seperti akan mencabik- cabik.

"Tanggung jawab, huh? Apa menjadi kepala divisi sehebat itu?" Ujar Bianca marah.

Saat ini mereka berdua berada di lantai paling atas rumah sakit. Lantai atas hanya menggunakan langit sebagai atap dan beberapa bunga- bunga cantik yang di biarkan tumbuh. Ini terlihat seperti taman dengan beberapa kursi juga sekat- sekat diantara bunga- bunga.

"Faktanya sih seperti itu." Balas Vivian membuat Bianca menolehkan kepalanya seperti dalam film horor. Vivian ingin tertawa tapi melihat sorot mata Bianca yang menampilkan tatapan membunuh maka di urungkanlah niatnya. "Maaf bukan maksud tapi harus kau akui begitulah adanya."

"Tapi tidak seharusnya dia meremehkanku seperti ini." Balas Bianca frustrasi.

"Menurutku dia tidak bermaksud meremehkanmu. Coba kita liat situasinya." Ujar Vivian cepat karena melihat Bianca akan meledak lagi. "Kau membutuhkan dokter yang bertanggung jawab akan operasi yang kau lakukan dan saat ini berkas- berkas dari rumah sakit di New Zealand belum sampai di rumah sakit ini jadi secara bahasa, kau belum sepenuhnya bisa melakukan seperti apa yang kau lakukan dulu."

Ugh. "Sekarang aku benar- benar menyesal karena tidak mengurusnya sebelum ke sini."

Vivian terkekeh. "Ku harap kau tidak menyesal karena satu rumah sakit denganku."

"Itu salah satunya."

"Wow. Setelah apa yang kulakukan selama ini... kau..."

"Kau tidak membelaku, justru membela pria itu."

"Aku tidak membela siapapun."

"Ya. Kau membelanya karena dia pacarmu."

Vivian terdiam sejenak. "Kurasa kau ada benarnya." Lalu dia tersenyum, membuat Bianca langsung memutar matanya jengah.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS