MISSING YOU - 7
"Daddy... Daddy!"
Seluruh penghuni di rumah sakit seketika menoleh mendengar suara teriakan gadis kecil yang kemudian disusul lari kecil tanpa memperdulikan sekitarnya dan kemudian melompat dalam gendongan ayahnya.
"Ivy" tegur Sean ketika Ivy sudah berada dalam dekapannya sambil tertawa.
"Dia memintaku dan aku terlalu lemah untuk menolaknya." Sahut Roxyan ketika telah berada dibelakang Ivy dan mengelus rambut gadis kecil itu.
Sean berdecak halus seraya memperhatikan Ivy yang saat ini menyentuh wajahnya."Bukankah kita sepakat untuk tidak membawamu kesini, sayang?"
"Tapi Ivy rindu daddy." Ucap Ivy lirih.
Sean menatap putri semata wayangnya itu lekat dan merasa dadanya mendadak hangat. Dia juga merindukan putrinya itu. Belakangan ini dia memang jarang menghabiskan waktu bersama putrinya. Seseorang yang berada di kamar VIP membutuhkan perhatiannya setelah melakukan operasi besar yang di pimpinnya.
"Maafkan daddy, sayang." Balas Sean seraya mengecup kening Ivy lembut, membuat beberapa perawat yang lewat berhenti dan memandang terkesima adegan yang terjadi di lobby rumah sakit, yang menurut mereka sangat amat langka ditunjukkan oleh seorang Sean.
Hanya dengan Ivy lah, mereka bisa melihat sisi lain dari dokter pria itu. Ivy dengan rambut brunettenya ditambah dress pink yang dikenakannya semakin membuat bocah perempuan itu terlihat menggemaskan. Belum lagi pandangan Sean yang selalu ditujukan pada bocah itu, membuat perawat dan juga dokter perempuan selalu merasa berubah menjadi ubur- ubur. Tidak ada lagi Sean yang dingin dan cuek, melainkan seorang pria dengan pandangan memuja pada anak perempuannya.
"Wah Ivy, kamu datang? Kangen daddy ya?" Vivian yang baru saja akan menuju ke divisinya seketika terhenti ketika melihat ayah dan anak itu.
Ivy yang memang mengenal teman ayahnya itu langsung menyunggingkan senyumnya. "Iya bibi Vee. Bibi apa kabar?" Tanya Ivy sopan.
"Baik sayang." Jawabnya seraya mengelus rambut Ivy lembut, "Ivy mau lihat daddy bekerja?"
Ivy mengangguk, kelewat antusias hingga Sean terpaksa harus menjauhkan kepalanya sedikit agar tidak bertabrakan dengan kepala Ivy dalam gendongannya.
"Hm Ivy tidak takut? Kan daddy kerjanya mengoperasi orang?"
Sejenak Ivy menoleh kearah ayahnya dan tersenyum. "Kan daddy ada. Daddy pasti akan menenangkan Ivy kalau takut, iya kan daddy?" Tanya Ivy yang langsung mendapatkan senyuman ayahnya.
"Baiklah Vivian, kurasa aku akan membawa Ivy ke ruanganku." Ucap Sean mengambil alih pembicaraan dua orang yang sama jenis kelamin ini.
"Bagaimana kalau Ivy ikut denganku. Kau masih punya pasien yang harus kau periksa kan? Bagaimana Ivy sayang, mau ikut dengan bibi Vee gak?" Tanya Vivian pada Ivy.
Sejenak Ivy menoleh kearah Sean kemudian menggeleng. "Tidak ah bibi Vee. Ivy mau sama daddy saja."
"Kamu bisa datang ke ruanganku dan menemani Ivy." Ujar Sean setelah melihat pandangan kecewa di wajah Vivian.
"Okey. Akan ku lakukan tapi sebelum itu aku harus mengecek pasienku dulu." Ujar Vivian.
"Baik."
Mereka lalu berpisah berpisah dengan Roxyan yang mengikuti Sean dan Ivy.
***
Sean sudah berjalan menuju ruang perawatan pasien VIPnya, meninggalkan Ivy dan Roxyan ketika dua puluh menit yang lalu ketika divisinya menghubunginya dan menyuruhnya untuk segera datang mengecek sesuatu. Vivian juga ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama daripada yang dia perkirakan.
Ivy yang mulai merasa bosan sejak di tinggalkan ayah dan juga pamannya, berjalan seorang diri mengitari koridor rumah sakit. Sesekali dia mengikuti orang- orang yang menggunakan lift dan keluar bersamaan dengan orang- orang.
Ivy tidak tahu dia berada dimana dan di lantai berapa ketika sekumpulan orang datang dengan tergesa- gesa dan tanpa sengaja menabrak Ivy yang memang kecil dan membuatnya harus terjatuh.
Bianca yang memang baru saja keluar dari ruang MRI CT SCAN dan membawa hasil lab. Pasiennya terhenti ketika melihat seorang anak perempuan terjatuh. Dia tidak tahu kenapa anak perempuan itu bisa berada di tempat seperti ini.
"Halo." Ucap Bianca ragu.
Dia belum pernah berhubungan dengan anak- anak sebelumnya jadi tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan mereka. Belum lagi tadi dia melihat anak itu terjatuh dan meringgis. Bagaimana kalau tiba- tiba anak itu menangis dan orang- orang menuduhnya telah menganiaya anak itu? Pikiran itu mendadak membuat Bianca bergidik.
Anak perempuan yang tidak lain Ivy mendadak memperhatikan wanita berjas putih dengan dress selutut berwarna merah itu dengan seksama. Warna rambutnya sama dengan warna yang di milikinya, matanya besar dan cantik kayak boneka barbienya di rumah, pipinya gendut kayak Mrs. Bear tapi tanpa bulu. Pokoknya dihadapan Ivy, cantik banget.
"Bibi dokter di sini?" Tanya Ivy karena melihat jas yang dikenakan dokter wanita itu sama seperti yang biasa dikenakan ayahnya. "Nama bibi siapa?"
Bianca bingung apakah harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. "Namaku Ivy. Ivy Aleandra Carter." Katanya memperkenalkan dirinya.
Carter? Rasanya nama itu tidak asing. Pikir Bianca dalam hati.
"Hm... halo Ivy. Aku Bianca."
"Bia..."
"Kamu bisa memanggil aku dengan bibi Bi." Potong Bianca ketika melihat ekpresi bocah perempuan itu tapi kemudian tersadar kalau bocah itu mampu mengatakan nama lengkapnya seperti dan selancar itu, mana mungkin mengucapkan nama Bianca saja harus membuatnya kesulitan. Dia tertawa geli mendengar pemikiran konyolnya barusan kemudian dia berhenti ketika melihat luka goresan di tangan Ivy.
"Oh my God." Bianca langsung meraih tangan Ivy yang terluka dan itu langsung membuatnya merasakan perasaan aneh. "Kita akan mengobatinya. Jangan nangis ya."
Ivy terkekeh dan entah mengapa itu membuatnya pernah melihat senyum seperti itu. "Ivy tidak nangis kok."
Bianca mengerjap dan langsung menyadari kekeliruannya. "Bibi Bi, lucu deh." Sela Ivy diantara kekehnya dan langsung membuat darah merambat di kedua pipinya yang putih mulus.
"Hmm apa Ivy keberatan kalau bibi Bi menggendong Ivy dan mengobati Ivy di ruangan bibi. Ruangan bibi ada di lantai 11. Setelah itu bibi bisa membantu Ivy mencari orang tua Ivy. Bagaimana?" Tanya Bianca dan tanpa di duga Ivy mengangguk.
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya di lantai 11. Tidak henti- hentinya Ivy mempermainkan rambutnya yang memang sengaja di jepit asal, menyisakan anak- anak rambut yang lolos. Leher dan wajah Bianca juga tidak lolos dari tangan mungil anak itu dan langsung membuatnya terkekeh karena sentuhan anak itu.
"Bibi Bi cantik kayak boneka" Sahut Ivy setelah puas menyentuh apapun yang bisa disentuhnya tapi menolak melepaskan rambut Bianca dari tangan kecilnya.
"Ivy kuat ya." Puji Bianca setelah selesai mengobati tangan anak itu. Bianca tidak mengerti kenapa melihat Ivy terluka membuatnya panik. Ivy juga menolak untuk duduk di tempat duduk dan lebih memilih berada dalam pangkuan Bianca.
"Oh my God." Seru Vivian tiba- tiba setelah membuka pintu ruangannya.
"Ada apa?" Tanya Bianca pelan karena saat ini Ivy tertidur sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Bianca dan menenggelamkan wajahnya di lekukan lehernya.
Vivian langsung merogoh Iphonenya dan menghubungi seseorang, mengindahkan pertanyaan Bianca barusan. "Sean, Ivy ada di sini. Di lantai 11 tepatnya ruangan dokter Roseen. Ya. Baiklah." Lalu Vivian memutuskan sambungan dan kembali melihat Bianca yang sedang melihatnya dengan tatapan bingung.
"Bagaimana bisa Ivy bersamamu?" Tanya Vivian seraya menghampiri Ivy dan menyadari kalau bocah itu sedang tertidur lelap.
"Aku menemukannya di ruangan MRI. Ada apa sih? Memang dia anak sia-"
Belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya, tiba- tiba pintu ruangannya di buka dengan paksa dan menampilkan wajah panik Sean dan Roxyan di belakangnya.
Sean lantas berjalan dan hendak mengambil Ivy ketika Ivy bergerak, semakin mengeratkan pelukannya di leher Bianca. Sean yang tadinya tidak menyadari saking leganya mengetahui Ivy baik- baik saja baru sadar ketika pandangan mereka bertemu tapi bedanya Bianca menatapnya bingung kemudian beberapa menit kemudian ia menyadari sesuatu dan mengalihkan tatapannya dari Sean kearah sahabat satu- satunya, Vivian.
***
Comments
Post a Comment