MISSING YOU - 8
"Sean?"
"Hmm."
"Kita menikah ya?"
Sean menoleh melihat gadis yang pernah menyatakan cinta padanya sepuluh bulan yang lalu di kantin dan membuat satu rumah sakit heboh bahkan sampai sekarang. Ditatapnya gadis itu dalam- dalam guna mencari gurat gurau di wajah cantiknya yang sama sekali tidak ada. "Apa?"
"Iya. Kita menikah. Kau dan aku."
Sean tersenyum menyembunyikan nada gelinya. "Darimana pikiran ini berasal?"
"Ih aku serius Sean." Ucapnya seraya menepuk paha Sean kesal.
"Lho kenapa? Aku kan cuma bertanya." Balasnya seraya menghentikan aksi gadisnya sebelum dia menjadi brutal dan harus dilarikan ke ruang UGD karena kasus penganiyaan.
"Kau tidak menyukaiku." Tuduhnya cepat.
Sean langsung menampilkan wajah pura- pura terluka. "Kau menghinaku, Bianca?"
"Itu karena kau tidak pernah mengatakannya."
Sean mengangkat sebelah alisnya. Memang dia tidak pernah mengatakannya secara langsung tapi dia selalu menunjukkan perhatiannya pada gadis itu. Entah kapan perasaannya pada gadis itu muncul. Di awal kemunculannya dan menyatakan dirinya sebagai pacar seorang Sean. Sean harus berusaha mati- matian menahan rasa malu karena ulah gadis ini tapi di bulan kedua, ketika ia mendengar bahwa beberapa pria berusaha mendekati gadisnya, membuat perasaan posesifnya tiba- tiba muncul dan tidak ingin melepasnya.
"Aku mencintaimu, Bianca."
Mata Bianca yang memang sudah besar semakin besar tatkala mendengar pengakuan prianya. Dia tidak hanya mengatakan kalau dia menyukainya tapi mengatakan secara langsung mencintainya. Mana yang lebih bahagia dibandingkan mendengar pengakuan itu?
"Aku juga mencintaimu, Sean."
"Aku tahu." Balas Sean yang langsung membuat mulut Bianca mengkerut tidak suka.
Dasar Sean! Selalu menghancurkan suasana. Rutuk Bianca dalam hati.
Sean lantas tertawa melihat raut wajah jengkel Bianca. "Ku pikir kau sudah baikan ketika mendengar pengakuan cinta dariku?"
"Aku memang bahagia." Jawab Bianca. "Tapi kau menolak untuk menikah denganku."
Pria itu terdiam. Dia heran mengapa mendadak gadisnya mengatakan pernikahan di hubungan yang menurutnta masih baru.
"Aku ingin menikah denganmu, Sean." Ujarnya.
Ditatapnya wajah gadisnya. "Kau yakin?"
"Sangat yakin." Jawabnya tegas.
Kemudian sudut bibir Sean kembali melengkung. "Bukankah seharusnya pria yang pertama kali mengucapkan kalimat lamaran pada kekasihnya?"
"Apa kau tidak pernah mendengar istilah emansipasi wanita?" Sahutnya tidak mau kalah.
"Oh dan kau memutuskan menjadi salah satunya?"
"Tentu saja."
Sean tidak tahan lagi. Di jitaknya kepala gadis itu dengan gemas. "Akan lebih baik kalau aku bisa membedah kepalamu. Aku penasaran dengan isinya. Kau selalu membuatku terkejut dengan tindakanmu."
"Oh aku tahu." Jawab Bianca enteng. "Isinya Sean, Sean dan Sean." Lanjutnya membuat Sean melonggo. Lalu ia bangkit setelah mencium bibir Sean dengan lembut dan berjalan dengan cuek. Setelah lima langkah ia berbalik dan melihat Sean yang masih menatapnya tapi tidak mengucapkan apa- apa.
"Oh iya, aku ingin kita menikah minggu ini dan aku akan berpura- pura tidak tahu. Anggap saja kau memberiku kejutan. Sampai nanti sayang. I love you." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit. saat itulah Sean sadar dan berlari mengejar Bianca yang sudah tertawa di depannya.
***
"Bianca!!! Berhenti menghindari dan mendiamiku." Teriak Vivian di sepanjang koridor rumah sakit. Cepat- cepat Bianca memencet tombol lift tepat ketika wajah Vivian beberapa langkah lagi mencapainya.
Fiuh. Bianca seperti selesai melakukan maraton kilat dengan Vivian. Vivian yang mempunyai sifat pantang menyerah membuatnya benar- benar kesulitan.
"Kalian bertengkar ya?"
Nyaris saja Bianca berteriak ketika mendengar suara seseorang. Dia pikir dia hanya sendirian di dalam lift ini.
"Astaga dokter Grawthorn!" Pekik Bianca tertahan seraya mengusap dadanya. " kupikir aku akan mati."
Roxyan terkekeh mendengar nada hiperbola dokter bedah baru tapi cantik dihadapannya ini. "Aku yakin pihak rumah sakit akan mencarikan pemakaman yang layak untukmu jika kau mati."
Bianca memutar bola matanya membuat Roxyan semakin terkekeh. "Sejak kapan dokter di sini?" Tanya Bianca seraya bersandar di sisi lain lift dan menghadap Roxyan.
Roxyan mengangkat bahunya. "Sebenarnya sudah daritadi sebelum aku mendengar suara orang berteriak agar menunggunya."
"Oh." Bianca membulatkan mulutnya, agak malu juga sebenarnya. "Terima kasih."
"Sama- sama." Balas Roxyan. Dia lucu sekali. "Jadi apa yang menjadi topik kali ini?"
"Maksudnya?" Kening Bianca mengkerut, bingung.
"Oh ayolah, Bi." Sebenarnya Bianca tidak suka jika ada dokter lain yang memanggilnya dengan namanya. Ia merasa itu tidak sopan apalagi dia tidak tahu Roxyan itu orang seperti apa tapi percuma juga, jawaban pria itu sangat membuatnya keki. Karena aku mau. Itulah jawabannya. "Beberapa suster dan pengawai rumah sakit yang melihat kelakuan kalian yang saling menghindar, menimbulkan beberapa macam spekulasi." Lanjutnya.
"Spekulasi?"
"Apa kalian lesbi?" Tanpa sadar Bianca tersedak ludahnya sendiri. "Well, kurasa bukan." Lanjut Roxyan meskipun dia tertawa geli ketika melihat ekpresi wajah wanita di depannya. "Kalau begitu kau menyukai pria yang sama."
Grrr. Ingin rasanya Bianca menginjak kaki pria ini, membuatnya mengaduh kesakitan dan tidak bisa berjalan selama beberapa hari. Tiba- tiba Roxyan berjalan kearahnya dan hanya menyisakan sedikit jarak.
"Kau ingin mati ya?" Ancam Bianca ketika Roxyan telah berada di depannya. Meskipun bingung dengan ucapan Bianca tadi tapi diulurkannya tangannya bersamaan dengan suara pintu lift yang terbuka.
Tingg.
Bianca menggeserkan kepalanya sedikit begitupun dengan Roxyan yang berbalik. Di hadapan mereka berdiri Sean yang sedang melihat mereka tanpa ekpresi.
"Nah sekarang kau tidak bisa lari, Bian... eh?" Dengan napas yang terengah- engah sehabis berlari, Vivian baru sadar dengan situasi sekelilingnya dan tiba- tiba sudut bibirnya melengkung aneh ketika melihat posisi dua orang beda jenis di dalam lift.
***
Comments
Post a Comment