MISSING YOU - 9

"Jadi Roxyan, heh?"

Akhirnya setelah aksi kejar- kejarannya, Vivian berhasil mendapatkan sahabat kesayangannya itu dan tak menduga kalau dia akan mendapatkan bonus kejutan tak terduga dari Bianca di lift tadi.

"Apa kau tidak ada kerjaan lain?" Tanya Bianca mulai kesal dengan sikap Vivian yang sedang meledeknya. "Pergilah, Vi" usirnya

"Tidak akan dan tidak mau" balasnya keras kepala

"Konyol." Ujar Bianca seraya membuka file pasiennya.

"Jadi, well... pada akhirnya kau selingkuh dari Andrew."

Bianca langsung memberikan Vivian tatapan melototnya yang membuat Vivian semakin gencar menggodanya.

"Aku tidak selingkuh."

"Oh aku percaya."

"Damn it! Vi. Hubunganku dengan dokter Grawthorn tidak seperti yang kau pikirkan. Kau melihatku di tempat dan posisi yang salah."

"Hmm posisi yang benar- benar pas."

Bianca tidak tahu lagi apa yang harus dijelaskan pada makhluk cerewet tukang ambil kesimpulan ini jadi dia berusaha mengalihkan dirinya dengan kembali membaca filenya.

"Well... kurasa tidak masalah jika kalian memiliki hubungan justru menurutku akan lebih baik. Kita bisa menjadi saudara dalam artian ipar."

"Ipar?" Bianca mengernyit bingung.

"Ya. Aku dan Sean. Kau dan Roxyan."

Bianca terdiam. Alasan kenapa dia berusaha menghindari Vivian dulu adalah karena dia tidak menyakiti salah satu bagian dari tubuh sahabatnya itu dan mendengar Vivian mengungkit kembali hal itu, memunculkan keinginan yang berusaha di tahannya setelah sekian lama. Itulah sebabnya dia menghindari sahabatnya itu.

"Eh... hmm Bi, ap- apa yang kau lakukan?" Tanya Vivian kaget karena tiba- tiba Bianca berjalan kearahnya dengan raut wajah yang ingin mencincangnya. Pelan- pelan Vivian mundur dan ketika mencapai gagang pintu, ia langsung membukanya bersamaan dengan teriakan Bianca.

"Kemari kau! Bisa- bisanya kau menyukai pria yang sudah berkeluarga." Teriak Bianca nyaring mengejar Vivian.

"Bi... kau salah paham." Balas Vivian tidak kalah nyaring. Untung saja divisi lantai 11 tidak terlalu ramai tapi cukup membuat beberapa dokter kaget dengan sikap kedua sahabat aneh itu. Bagaimana tidak aneh, dua hari yang lalu Bianca yang selalu menolak untuk bertemu Vivian bahkan terjadi aksi kejar- kejaran tapi sekarang justru Bianca yang mengejar dan Vivian justru yang lari ketakutan.

"Kemari kau! Aku tidak sabar ingin membedah otakmu dan tahu apa yang kau pikirkan."

"Tidak. Tidak. Aku tidak mau."

"Kemari kau gadis bodoh!"

"Aku tidak ma... "

Bruk.

Tiba- tiba saja Vivian sudah tersungkur ke lantai, membuat Bianca tidak melewatkan kesempatan itu dan langsung menjitak kepala Vivian berkali- kali hingga Vivian mengaduh.

"Hentikan Bianca. Kau seperti nenek sihir."

"Apa kau bilang? Akan kubuka kepalamu dan mencari tahu apa yang ada didalamnya" Serunya seraya merogoh kantungnya dan menemukan pulpen dan bersikap seakan mengebor kepala Vivian.

Entah berapa lama mereka melakukan aksi itu ketika kegiatan mereka berhenti seiring gelak tawa dari seseorang didekatnya. Baik Vivian maupun Bianca sama- sama mendongak dan baru sadar kalau mereka tidak hanya berdua tapi juga ada Roxyan, Sean dan dua orang perawat yang lewat. Khusus untuk Roxyan dan dua perawat, mereka bertiga tertawa sementara Sean memberi mereka tatapan seakan mereka adalah makhluk luar angkasa yang baru tiba ke bumi.

"Great. Sekarang kau menghancurkan imageku dihadapan Sean." Bisik Vivian pada Bianca.

Bianca menampilkan wajah acuhnya dan berdiri agar bisa sejajar dengan mereka semua.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sean dingin.

"Tidak ada." Jawab Bianca menampilkan wajah polosnya.

"Hai Sean." Kata Vivian riang meskipun dia memberi Bianca tatapan mendeliknya yang di balas dengan kekehan gadis itu.

"Apa kalian tidak sadar? kalian bisa menganggu orang lain dengan sikap kekanak- kanakan kalian."

Meskipun agak kesal tapi tidak urung Bianca merasa bersalah. "Maaf." Sahut Bianca.

"Lupakan." Lalu Sean pergi berjalan menuju ruangannya tanpa mengatakan apa- apa lagi.

"Kalian berdua lucu juga ya." Ucap Roxyan lalu mengikuti langkah Sean ke ruangannya.

"Kau ini ya, benar- benar." Ucap Vivian gemas berbalik pura- pura mencekik Bianca.

"Kau yang duluan. Sudah ku suruh berhenti."

"Orang tolol mana yang akan berhenti jika tahu sebentar lagi dia akan di bunuh."

"I am not."

"Yes you are. Dan kau salah paham padaku." Ucapnya dan melepaskan tangannya dari leher Bianca.

"Jelaskan kalau begitu."

***

Sean masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Belum cukup sebulan sejak kepindahan Bianca di rumah sakit tapi ada saja yang diperbuat oleh dokter wanita itu, yang kadang harus membuatnya menggelengkan kepala sekaligus merasa geli.

Kenapa mereka harus memiliki wajah yang sama?

Sean sudah melihat biodata seorang Bianca Roseen tapi mereka adalah dua orang yang berbeda. Belum lagi dia mengatakan kalau selama ini dia menetap di New Zealand. Apa yang diinginkan Tuhan darinya? Hidupnya sudah baik- baik saja selama lima tahun belakangan ini dan dia juga sudah siap membuka hatinya untuk Vivian tapi kenapa?

Ya. Vivian Logan, seorang dokter anestesi yang sangat berbakat dan juga tidak malu- malu memperlihatkan ketertarikannya pada Sean. Belum lagi dia sepertinya menyayangi Ivy, putrinya.

Tapi dokter baru itu tiba- tiba hadir dan menghancurkan semuanya. Datang dengan keteguhan dan kekeras kepalanya yang tidak mau mengalah. Sean memang selalu menolak mengizinkan Bianca ikut dalam operasinya. Dia tidak mau di tengah- tengah operasi, dia akan kehilangan konsentrasi lalu merindukan sosok yang selalu menetap jauh di dalam hatinya. Dia tidak mau jika suatu saat hatinya akan kembali terbuka untuk seseorang yang memiliki nama yang sama dengannya apalagi dia mendengar kalau wanita itu telah memiliki tunangan. Rasanya tidak etis jika harus merebut milik orang lain.

"Mereka berdua lucu ya?" Sahut Roxyan ketika telah berada di ruangan Sean.

"Terlalu kekanakan menurutku."

"Jangan terlalu serius Sean. Divisi bedahmu ini terlalu suram seseram kepala divisinya." Komentar Roxyan.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sean mengalihkan pembicaraan yang menurutnya tidak penting.

Roxyan hanya bisa menghela napas melihat sahabatnya yang terlalu lama kaku. Satu- satunya yang bisa membuatnya tersenyum adalah ketika Ivy berada didekatnya.

"Apa kau masih ingat dengan pria paruh baya yang mengeluh sakit kepala bulan lalu?"

"Leonil Kim kan? Pria berkebangsaan Korea, iya kan?"

Roxyan mengangguk. "Ya. Aku menemukan fakta baru." Lalu Roxyan mulai menempelkan hasil tengkorak di dinding samping meja Sean. Sean ikut memperhatikan hasil tengkorak itu.

Kening Sean seketika berkerut. "Ini...?"

"Yeah, tumor otak dan kemungkinan besar menyerang saraf bicara dan mengenali wajah."

"Apa dia sudah diberitahu?"

Roxyan menggeleng. "Bagaimana menurutmu?"

"Dia membutuhkan operasi yang sangat besar."

"Yeah, apa kau bisa melakukannya?"

"Kita perlu mendiskusikan hal ini di ruang konferensi kemudian memutuskan langkah selanjutnya."

Roxyan mengangguk setuju menimpali.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS