MISSING YOU - 2
Sean baru saja selesai memarkir mobilnya di pelataran parkir rumah sakit ketika disaat yang bersamaan dia melihat Roxyan, sahabatnya yang juga baru saja memarkir mobilnya.
Roxyan juga adalah salah satu dokter di rumah sakit yang sama dengan Sean dan juga orang yang tahu tentang kehidupan Sean di masa lalu tapi bedanya adalah jika Sean adalah dokter bedah maka Roxyan adalah dokter bagian syaraf.
"Hai sobat." Sapa Roxyan setelah berada cukup dekat dengan Sean. "Apa kau baru saja mengantar Ivy?"
"Ya. Tumben kau telat seperti ini." Ucap Sean yang langsung mendapat cengiran dari pria itu.
"Aku sedikit mabuk semalam jadi agak telat ketika bangun."
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. "Kalau pasienmu tahu tentang kelakuanmu seperti ini, aku ragu mereka akan mengijinkanmu memeriksa mereka."
"Sudahlah. Oh iya, apa kau sudah tahu?" Saat ini mereka telah berada di koridor yang akan membawa mereka ke ruangan mereka masing- masing setelah sebelumnya beberapa perawat datang dan memberi salam pada mereka berdua.
Jika Roxyan terkenal dengan sifat ramahnya pada semua perawat dan juga dokter- dokter lainnya terutama pada perempuan maka Sean adalah kebalikannya. Sean di kenal karena pria itu tidak banyak bicara juga dingin pada orang lain. Hanya pada Roxyan atau Vivian, dokter bagian anestesi yang biasa terlihat berbincang- bincang dengannya dan beberapa professor dari rumah sakit ini tapi biarpun begitu, Sean jarang membuka percakapan terlebih dahulu.
Kadang Roxyan heran dengan sikap para perawat yang lebih menyukai Sean di bandingkan dirinya. Bahkan Vivian juga secara gamblang memperlihatkan ketertarikannya pada pria itu meskipun tidak terlalu mendapat respon sama seperti pada perawat lainnya.
Roxyan juga tidak pernah melihat senyum atau tawa dari pria itu sejak 5 tahun yang lalu. Roxyan bukannya tidak peduli dengan keadaan sahabatnya itu tapi bukankah manusia yang masih hidup perlu melanjutkan hidupnya meskipun salah satu pasangannya sudah meninggalkan dunia ini?
"Tahu apa?" Tanya Sean kemudian.
"Akan ada dokter baru di rumah sakit ini. Sepertinya dia akan masuk di divisimu." Jawab Roxyan setelah menekan tombol lift yang akan membawanya ke masing- masing divisi mereka.
Rumah sakit ini memiliki lantai hingga 15 dan paling terkenal di London. Untuk divisi bedah sendiri terletak di lantai 10, divisi syaraf dan otak lantai 12, divisi anestesi lantai 9, Jantung dan lain- lain berada di lantai 11. Ruang perawatan lantai 8 ke bawah, kantin lantai 13 dan Konferensi atau pertemuan para dokter dan direktur rumah sakit di lantai 14.
"Divisi bedah?" Sean agar terperanjat mengetahui ini. Faktanya dia sama sekali tidak tahu kalau akan ada dokter baru yang masuk divisinya.
"Ya. Apa George tidak memberitahumu? Oh, aku lupa kau pulang cepat waktu itu dan cuti karena Ivy sakit."
Oh. Sean ingat. Waktu itu George menyuruhnya datang ke ruangannya yang berada di lantai 14. George LooneyWhite adalah pria paruh baya yang nyaris mendekati usia 70 tahun. Beliau adalah direktur rumah sakit ini dan menolak di panggil dengan nama belakangnya.
Sean tidak bergeming. Sebagai ketua, divisinya memang membutuhkan tambahan dokter bedah. Bukan karena dirinya tidak mempercayai bawahannya tapi dia perlu dokter bedah yang handal yang bisa menggantikan dirinya sewaktu- waktu. Anak perempuan satu- satunya dan hartanya yang paling berharga membutuhkan figur ayah sekaligus ibu dan jalan satu- satunya adalah dengan memberikan waktu yang lebih lama pada putrinya.
.
.
.
Seorang wanita baru saja memasuki daerah rumah sakit dengan percaya diri. Beberapa orang yang melihatnya tidak berhenti memandangnya dengan decak kagum. Tubuhnya yang terbalut blus putih sebahu memperlihatkan lengannya yang mulus seputih susu dan celana panjang denim hitam semakin menyempurnakan kakinya yang jenjang walaupun tertutupi. Belum lagi rambutnya yang brunette nyaris hitam semakin memperindah ciptaanNya.
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju bagian informasi yang kebetulan dijaga oleh seorang pria. Pria yang name tagnya tertulis nama Raphael seketika merasa gugup ketika melihat wanita yang nyaris mendapatkan seluruh perhatian pengunjung rumah sakit mendatanginya.
"Maaf." Ujar wanita itu ramah. "Apa aku bisa tahu di lantai mana divisi anestesi berada?" Tanya wanita itu.
"Eh, di-divisi anestesi berada di lantai 9." Jawab Raphael tidak dapat berkedip.
"Lantai 9. Terima kasih hmm Raphael."
Raphael begitu terkesima dengan makhluk dihadapannya dan tidak menyadari kalau salah seorang perawat yang kebetulan ingin mengecek sesuatu menepuk pundaknya.
"Lho? Bukannya itu dokter baru itu?"
Raphael yang mendengar ucapan Cindy, perawat yang baru saja menepuk pundaknya seketika berpaling.
"Eh, kau kenapa?" Tanya Cindy kaget dengan ekpresi yang baru saja ditunjukkan perawat pria itu.
Raphael sebenarnya bukan bertugas di bagian informasi. Dia juga perawat sama seperti Cindy di divisi bedah dan hari ini dia cuma menggantikan sementara orang di bagian informasi karena orang di bagian informasi itu mendadak mendapatkan telpon penting dan meninggalkannya seorang diri.
"Apa kau serius? Dia dokter baru itu?" Tanya Raphael tidak percaya sekaligus kaget.
"Ya. Aku tidak sengaja melihat profilenya di ruangan direktur." Cindy memperhatikan raut wajah Raphael yang mendadak pucat kemudian ia memikirkan sesuatu dan langsung membuatnya tertawa terbahak- bahak. "Jangan bilang kau baru saja menggoda dokter Roseen."
"Dokter Roseen? Namanya dokter Roseen?"
"Ya. Astaga kau memang payah Raph."
"Tapi kenapa tadi dia menanyakan letak divisi anestesi padaku?"
"Mana aku tahu. Mungkin karena dia menyadari kau menggodanya jadi dia tidak jadi menanyakan letak divisi bedah."
Raphael tidak tahu harus membalas apa karena Cindy terus saja tertawa setiap kali melihatnya dan itu semakin membuatnya merasa jengkel dengan keberadaan perawat satu itu.
***
Comments
Post a Comment