MISSING YOU - 6

Meskipun selama beberapa hari ini sudah tidak ada pembicaran menyerupai bisik- bisik akibat di ruang operasi tempo hari tapi tetap saja para suster dan beberapa dokter masih memandang Bianca dengan ragu apalagi jika keduanya terlihat untuk memeriksa para pasien. Mereka khawatir kalau Sean dan Bianca akan melancarkan gencatan senjata lagi tapi untungnya itu tidak terjadi.

Sean dan Bianca bertekad untuk sama- sama tidak memperdulikan kejadian itu dan juga di ruangan Sean tempo hari walaupun terkadang Bianca gondok juga dengan sikap dingin Sean. Vivian senantiasa membesarkan hati dan juga mengingatkan Bianca kalau Sean memang orangnya seperti itu tapi tetap saja Bianca tidak mengerti. Begini, mereka satu rumah sakit dan juga berada pada divisi yang sama. Rasanya tidak etis jika ada sekat di antara mereka. Athar, dokter yang sama dengannya hanya bisa ikut membantu menenangkan Bianca jika wanita itu mengamuk lagi.

Hanya ditemani oleh Athar dan Nora. Mereka bertiga menikmati santap siang mereka. Vivian tidak bisa ikut serta karena harus mengurus sesuatu di divisinya ketika Athar berteriak memanggil seseorang yang serta merta membuat Bianca mendongak.

"Dokter Carter, dokter Grawthorn. Silahkan duduk di sini." Athar mempersilahkan kedua pria yang baru tiba itu untuk bergabung bersama mereka.

"Oh kebetulan. Kantin ini sudah penuh sesak. Terima kasih dokter Athar." Ucap Roxyan dan mengambil tempat duduk di samping Athar sementara Bianca yang sejajar dengan Nora harus berhadapan dengan Sean.

"Jadi bagaimana hari kalian?" Roxyan membuka pembicaraan di antara mereka.

"Anda tahulah dokter Grawthorn. Kami masih sangat sibuk. Bagaimana dengan anda?" Tanya Nora balik.

"Seperti biasa. Tidak banyak yang bisa dilakukan di divisi syaraf. Dokter Carter baru saja membantuku mendiagnosa seorang pasien yang kemungkinan menderita kanker otak."

"Apa parah?" Tanya Athar.

"Sepertinya tidak terlalu. Tidak sampai menganggu syaraf bagian otaknya." Jawab Roxyan.

Nora dan Athar kompak mengangguk. "Syukurlah kalau begitu." Ujar Nora lega.

"Jadi apakah dokter Carter yang akan membedahnya?" Tanya Athar kemudian.

"Masih belum di putuskan." Jawab Sean tenang seraya menyeruput america lattenya.

"Bagaimana denganmu, dokter Roseen? Kuharap kau betah di sini."

Bianca agak kaget ditanyai tiba- tiba oleh Roxyan tapi dengan cepat menyesuaikan diri.

"Sama seperti yang di katakan Athar. Kami semua sibuk." Jawab Bianca sopan. "Dan ya. Saya masih perlu banyak belajar." Lanjut Bianca.

Roxyan tersenyum. "Ya. Saya mengerti itu. Saya jadi bertanya- tanya, apa ini pertama kalinya anda menginjak London?"

Meskipun agak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Roxyan tapi Bianca menjawab juga. "Ya. Ini pertama kalinya saya ke sini."

"Dan anda langsung memilih rumah sakit ini?"

Kening Bianca seketika berkerut. Dia merasa ada makna ganda dalam setiap kata yang baru saja dilontarkan oleh Roxyan.

"Bukankah sudah jelas? Rumah sakit ini yang paling terkenal dengan alat kedokteran dan juga divisi bedahnya, bukan?" Bianca tidak dapat menyembunyikan perasaan tersinggung dan sakit hatinya.

"Hahaha maaf dokter Roseen. Bukan bermaksud untuk membuat anda marah tapi setelah saya pikir dokter sekaliber diri anda tidak mungkin mau repot- repot mengurus kepindahan ke rumah sakit lain sementara rumah sakit di New Zealand memberikan tempat yang jauh lebih bagus di bandingkan di sini." Ujar Roxyan.

"Tidak juga. Saya rasa semua rumah sakit sama saja." Bianca berusaha untuk terlihat cuek meskipun dalam hatinya dia merasa gondok juga dengan perkataan Roxyan barusan. Memang di pikirnya dia pindah karena apa?

"Jadi anda sahabatnya dokter Logan ketika di New Zealand?"

Apa sekarang ini dia sedang mengadakan wawancara tersirat? Kening Bianca semakin dalam kerutannya.

"Tidak bisakah kau memakan makananmu saja Roxyan? Kau tampak seperti sedang mewawancarai orang." Potong Sean yang sama sekali tidak menoleh dan kembali meneguk kopinya.

Jujur, semua orang yang berada di tempat itu kaget kecuali Roxyan yang langsung memberikan cengirannya pada Bianca kemudian mulai menyantap makan siangnya. Sesekali dia bercakap- cakap dengan Nora, Athar dan juga Bianca.

Ketika makanan di atas piring Bianca, Nora dan Athar habis. Nora dan Athar bermaksud pergi ketika Bianca kembali berucap hingga langsung kembali mendapatkan pandangan kaget ke empat orang tersebut.

"Kau bisa sakit jika hanya minum kopi saja. Sekali- kali makanlah sesuatu yang menyehatkan dokter Carter." Ucap Bianca lalu menyerahkan sebuah apel di atas nampannya kehadapan Sean lalu berjalan meninggalkan tempat itu tanpa tahu kalau beberapa pasang mata sedang menatap kepergiannya.

***

Bianca baru saja tiba di apartemennya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas California queen bednya ketika mendengar suara dering Iphonenya.

"Hai beauty."

"Hai Andrew."

"Kau kedengaran lelah. Apa rumah sakit itu menyiksamu?" Canda Andrew di seberang.

"Kau konyol, Andrew. Bagaimana keadaan mama di sana?"

"Dia masih marah padamu karena kau tetap memilih London sebagai karirmu."

"Suasana baru bagus untukmu, Drew."

Andrew terkekeh. "Ya. Aku setuju. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu, beauty."

"Kau bisa datang dan melihatnya sendiri."

"Hmm tawaran yang menarik tapi aku tidak bisa keluar sampai akhir bulan depan."

"Oh meskipun aku agak kecewa tapi biarlah. Aku bisa bersabar."

"That's my beauty."

"Tapi aku meminta imbalan."

"Ugh, meskipun aku tahu tapi tetap saja membuatku deg- degan."

"Hahaha"

"Baiklah. Istirahatlah sayang. I miss you."

"Miss you too, drew."

Klik.

Setelah membuka baju dan memutuskan berendam dia air hangat beberapa menit. Bianca langsung beranjak untuk melepaskan lelahnya dengan tidur yang cukup dan besok pagi kembali melaksanakan rutinitasnya di rumah sakit.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS