MISSING YOU - EXTRA
9 tahun yang lalu....
"Kudengar kau berhasil melakukan operasi pertamamu. Bagaimana rasanya?" Sean yang tadinya sedang melihat- lihat kue di etalase segera berbalik dan mendapati sahabat seumur hidupnya berada di dekatnya, menyunggingkan senyum.
"Aku bahkan masih merasa ini mimpi."
Roxyan tersenyum tulus. Tahu kalau sahabatnya itu sangat senang. "Aku juga pasti akan merasa ini mimpi jika bisa melakukan operasi pertamaku di saat kita masih menjadi dokter muda."
"Ya. Dan ini semua karena George. Karena dialah hingga aku bisa mengikuti operasi bersamanya."
"Itu karena George mempercayaimu dan kurasa dia tidak salah memberikan kepercayaan itu padamu."
"Kau benar. jadi kau benar- benar memilih menjadi dokter syaraf, eh?"
"Ya. Kurasa itu akan membuat kita berpisah dalam waktu yang cukup lama. Apa kau bisa melakukannya?" Candanya.
"Bodoh. Orang- orang bisa menganggap kita lain kalau melihat kita seperti ini."
"Aku tidak masalah. Aku bahkan bersedia menikahimu jika tidak ada wanita yang menyukaimu."
"Aku tidak heran kenapa kau bisa dianggap sebagai playboy. Kau benar- benar pintar dalam kata- kata."
"Aku juga pintar dalam urusan ranjang. Kau mau mencobanya?"
"Tidak. Terima kasih."
"Ku jamin kau tidak akan menyesal."
Sean menggeleng. "Mau dengar saranku? Bagaimana kalau sebelum kau memeriksa pasien, ada baiknya kalau kau memeriksakan syarafmu. Sepertinya ada beberapa syaraf yang putus di sebelah sini." Ujarnya seraya menunjuk sisi kepala Roxyan tapi justru membuat pria itu tertawa.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Kau bahkan sudah mengatakan lebih dari sesuatu sejak tadi. Apa?"
"Hm jangan tersinggung, okey?"
"Aku justru sudah tidak sabar untuk meninjumu sekarang. Jadi cepat katakan?"
"Kau... tidak well..."
Diperhatikannya wajah Roxyan lebih seksama hingga otaknya mulai mencerna ekspresi yang ditampakkan di wajah Roxyan hingga masuk pada satu kesimpulan.
"Kau menuduhku..."
"Well, kau selalu menolak jika kuperkenalkan dengan seorang wanita."
"Karena seingatku 'wanita'," Sean sengaja mengangkat kedua jarinya ke udara dan membentuk tanda kutip di tiap sisi khusus pada kata wanita. "Yang pertama kali kau kenalkan padaku bukanlah wanita dengan konteks seperti yang kita berdua ketahui."
Alih- alih merasa bersalah, yang ada Roxyan malah tertawa. "Maaf. Waktu itu aku benar- benar tidak tahu kalau dia adalah pria."
"Dan kau mengharapkanku untuk mempercayai kelangsungan hidupku beserta masa depanku di tanganmu lagi? Kurasa aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko itu."
"Oh ayolah, Sean. Kali ini aku pasti benar lagipula aku yakin banyak wanita yang diam- diam menaruh hati padamu."
Sean menggeleng. "Aku tidak bisa mengambil resiko jika spermaku disebar kemana- mana."
"Kau tidak berniat menikahi wanita yang pertama kali kau kencani, iyakan? Katakan kalau aku salah."
"Kurasa itu yang akan kulakukan." Balas Sean mengendikkan bahunya.
"Aku tidak percaya. Dimana letak kesenangannya."
Sean mengendikkan bahunya acuh lalu kembali menekuni cake yang ada dietalase.
"Terserahlah. Aku pergi ke toilet dulu. Pesankan aku yang coklat" Ucap Roxyan yang dibalas hanya anggukan dari Sean.
"Tiramisu dan coklat, please." Ujar Sean seraya menunjuk cake coklat yang sisa satu pada pelayan ketika mendadak ia mendengar suara lembut tapi terburu- buru disampingnya.
"Yang coklat, please." Ucapnya. Sejenak Sean memperhatikan gadis itu. Wajahnya putih merona serta memiliki hidung mungil dan bibir yang merah alami. Rambut brunettenya beraroma perpaduan antara bunga- bunga dan coklat.
"Maaf nona, kue ini sudah ada yang pesan." Sahut si pelayan. Lalu tanpa diduga oleh Sean, gadis itu berbalik dari pelayan di etalase kearah Sean.
"Maafkan aku tapi bisakah kau memberikan yang coklat untukku?" Tanyanya.
Eh?
"Aku bersedia menggantinya dua kali eh tidak, empat kali lipat." Lanjutnya seraya memperlihatkan angka empat di jari- jarinya. "Kumohon." Kali ini wanita itu menangkupkan kedua tangannya memohon, membuat Sean yang masih kaget dengan sikap tiba- tiba wanita itu tanpa sadar mengangkat sebelah alisnya. "Aku kalah taruhan hari ini dan dia menginginkan cake coklat hanya dari toko ini. Please. Aku akan menggantinya dengan apapun."
"Aku tidak..."
"Aku tidak tahu apakah ini sesuai dengan seleramu atau tidak tapi aku pernah merasakan cake yang rasa stroberi dan hasilnya tidak mengecewakan." Potongnya tanpa memberi jeda pada Sean untuk bicara.
"Eh?"
"Aku yakin kau akan menyukainya." Bujuknya penuh semangat dan ketika Sean mengangguk, gadis itu berteriak kegirangan dan berbalik menghadap pelayan lagi. "Yang coklat ini dimasukkan saja ke dalam kotak terus berikan pada pria ini yang rasa stroberi hmm dengan cream yang diatasnya. Oh iya, waffle juga sepertinya enak. Okey, aku pesan yang itu." Celotehnya.
"Bi, ayo cepat." Mendadak seorang gadis dengan rambut blonde muncul diantara dirinya dan si gadis brunette. "Kita bisa mendapatkan hukuman lagi kalau terlalu lama."
"Gezzz, aku benci Uno. Gara- gara itu aku harus rela keluar hujan- hujan begini." Keluhnya.
"Makanya lain kali jangan buat kita kalah lagi. Kau menghancurkan semuanya."
"Mana aku tahu kalau cara kerjanya seperti itu."
"Sudahlah. Sudah kau dapatkan cake coklatnya?"
Dia mengangguk. "Tapi hanya satu."
"Yang penting ada. Aku sudah membeli nacho dan pizza."
"Aku benci taruhan. Apa disini tidak mengenal delivery ?"
"Waktu kita akan segera habis jika kau terus mengeluh. Ayo."
"Berapa lama lagi?"
"7 menit."
"Oh shit!"
"Itulah sebabnya aku mendatangimu. Aku takut kau melupakannya dan ternyata benar."
"Aku tidak melupakannya. Aku hanya...sedikit tidak sadar?"
"Tidak ada bedanya. Ayo."
Gadis yang dipanggil Bi itu baru akan beranjak pergi ketika ia berseru. "Hei, thanks atas cakenya." Lalu pergi tanpa mendengar balasan dari Sean.
"Bi?" Guman Sean tanpa sadar.
"Bi? Apa itu?" Mendadak Roxyan muncul disampingnya.
"Apa?"
"Tadi kau menyebutkan sesuatu. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?"
"Tidak ada. Ayo pergi." Ucap Sean setelah pesanannya sudah berada dalam kotak dan membayar. Dia tidak tahu kenapa dia menolak menceritakan kejadian barusan pada Roxyan.
"Stroberi?" Roxyan bertanya heran ketika ia mengintip isi kotaknya.
"Yang coklat sudah habis."
"Oh padahal aku ingin mencobanya. Sudahlah. Sepertinya yang stroberi ini juga lezat."
.
.
.
Setahun kemudian...
Sean agak kaget ketika melihat gadis didepannya. Gadis itu memiliki rambut yang berwarna pink tapi bukan itu yang sebenarnya menjadi alasan kekagetannya. Mata itu, mata dengan pendar abu- abu juga coklat itu yang tidak pernah bisa dilupakannya tapi di sisi lain tidak yakin kalau mereka adalah orang yang sama.
"Mulai saat ini kau adalah pacarku Sean Alvarion Carter jadi jangan melirik gadis lain ya." Sean masih terhipnotis oleh mata itu ketika tiba- tiba sebuah ciuman mendarat di pipinya, membuatnya kaget. "Oh iya. Besok aku resmi menjadi dokter magang di rumah sakit ini dan namaku Bianca. Bianca Evelyona. Sampai jumpa sayang."
Bianca Evelyona?
Bi?
***
Comments
Post a Comment