MISSING YOU - 3

Vivian baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin pada pasiennya ketika melihat seseorang yang dikenalnya. Orang itu tersenyum seraya melambaikan tangannya kearah Vivian membuatnya terbelalak lalu berteriak.

"Bianca!!!" Serunya berlari kearah orang yang tadi melambai kearahnya. Meskipun suasana koridor itu tidak ramai dan hanya dua atau tiga orang yang berada di situ tapi tetap saja orang yang di panggil Bianca itu merasa risih dengan sikap sahabatnya barusan.

"Astaga. Apa kau tidak khawatir dengan pasienmu?" Tanya Bianca ketika Vivian sudah memeluknya dengan erat.

"Kenapa aku harus khawatir?" Tanya Vivian balik setelah melepaskan pelukannya pada wanita itu.

"Kali aja mereka salah masuk rumah sakit. Alih- alih mereka sembuh, yang ada mereka malah tambah sakit."

Vivian memutar kedua bola matanya. "Tapi aku kaget melihatmu di sini. Kapan kau tiba dari New Zealand?"

"Dua hari yang lalu."

Vivian yang baru saja mempersilahkan Bianca masuk ketika langsung terhenti. "Bagus. Dan kau baru menemuiku sekarang? Di mana ucapan yang mengatakan bestfriend first itu berada?" Sinisnya.

Bianca mengerjap dan sedetik kemudian dia tertawa. "Astaga. Aku tidak sedang mimpi kan? Kau marah?"

"Apa perlu penjelasan lain?"

Bianca malah semakin tertawa. "Aku perlu membereskan barang- barangku terlebih dahulu di apartemen, Vivian sayang. Lagipula sebentar lagi kita akan sering bertemu kok."

"Barang- barang? Apartemen? Apa yang kau bicarakan?" Tanya Vivian bingung.

Bianca tersenyum sumringah. "Sebentar lagi aku juga akan bekerja di sini dan kabar baiknya itu besok."

"Oh my... Oh my God. Serius? Ini bukan mimpi kan?"

Bianca mengangguk. "Absolutely not."

"Oh my God!" Lalu kembali memeluk Bianca. "Kau tidak tahu betapa senangnya aku melihatmu di sini dan bonusnya kita satu rumah sakit? lagi?"

Bianca mengangguk dan tersenyum yang semakin membuat Vivian tersenyum semakin lebar.

Dulu, tepatnya tiga tahun yang lalu Bianca dan Vivian pernah sama- sama bekerja di rumah sakit New Zealand hingga kemudian Vivian dipindahkan ke London. Selama setahun perkenalan mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk bersahabat. Di samping karena Bianca sering bertemu di koridor rumah sakit, mereka juga tinggal di apartemen yang sama. Vivian juga tahu kalau orang tua Bianca juga tinggal di negara yang sama dan hanya sesekali melihat Bianca menginap di apartemen.

"Apa paman dan bibi juga ikut?" Vivian ngeri membayangkan kalau Mr dan Mrs. Roseen juga ikut. Bukan apanya tapi Mrs. Roseen sepertinya terlalu pemilih dengan kenalan putrinya.

"Tidak. Mereka tetap tinggal di New Zealand." Jawab Bianca yang mau tidak mau membuat Vivian menghela napas lega. Bianca yang sejak tadi memperhatikan raut wajah sahabatnya itu hanya bisa tertawa maklum. Ibunya memang kadang bertindak tidak masuk akal.

"Jadi kau dengan Andrew?"

Bianca menggeleng. "Juga, tidak."

Butuh waktu lama bagi Vivian untuk mencerna ini semua ketika matanya membulat. "Jadi kau sendiri di tempat ini?" Tanya Vivian terkejut.

Tentu saja dia terkejut. Bagaimana tidak, Andrew yang notabene adalah tunangan sahabatnya itu juga sangat tidak masuk akal sama seperti Mrs. Roseen. Meskipun tidak setidak masuk akal Mrs. Roseen itu sendiri tapi Andrew kadang bersikap sangat possesive dan protective terhadap Bianca.

Andrew adalah seorang pelukis handal dan terkenal yang telah banyak menghasilkan karya- karya yang sangat bagus hingga bisa terjual ke pelosok negara. Vivian menghadiri pesta pertunangan Bianca dan Andrew setahun yang lalu tapi heran karena sampai sekarang sahabatnya itu belum mengirimkan undangan pernikahan.

"Yup. Ku mohon bimbingannya selama aku berada di sini." Gurau Bianca membuatnya mendapatkan decakan halus dari Vivian.

"Tapi aku heran bagaimana bisa mereka membiarkanmu pergi seorang diri? Jangan tersinggung okey, tapi aneh saja."

Bianca langsung menyunggingkan senyumnya. "Oh jangan tanya. Aku harus melewati beberapa rintangan dan halangan." Vivian langsung memutar matanya jengah atas pernyataan sahabatnya itu. "Aku serius tapi setelah melakukan pembicaraan yang sangat menguras tenaga juga suara akhirnya disinilah aku."

Vivian tahu pasti tenaga dan suara yang dimaksudkan oleh Bianca itu adalah merengek dengan sekuat tenaga dan karena Mr. Roseen bersikap tidak terlalu keras pada Bianca jadi Vivian bisa menarik kesimpulan kalau Mr. Roseen ikut juga membantu dalam tenaga dan suara ini.

"Andrew?"

"Dia mudah. Aku hanya perlu memastikan dirinya kalau inilah yang ku mau. Kau tahu kan dokter adalah profesi yang sangat ku sukai jadi ya...begitulah."

Setelah mendengarkan penjelasan Bianca. Vivian memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu lagi. Dia sudah merasa sangat senang mendapatkan sahabatnya dan mungkin saja bersenang- senang ketika off kerja nanti.

Karena Vivian sama sekali belum makan siang jadi dia memutuskan untuk sekalian mengajak Bianca ke kantin. Vivian baru saja mengambil makanan dan akan menuju meja ketika mendengar nada dering ponsel Bianca.

Vivian hanya mengangguk mengiyakan ketika melihat Bianca mohon diri untuk mengangkat telponnya. Vivian tahu siapa yang menelpon sahabatnya itu jadi dia hanya mengisyaratkan agar bertemu kembali di sini.

Sepeninggal Bianca, Vivian mengedarkan pandangannya mencari meja kosong ketika tatapannya menemukan dua sosok yang dikenalnya di tengah kantin ini.

Bagus. Ini juga akan memudahkan Bianca menemukan dirinya. Pikir Vivian dalam hati.

"Hai Sean, Roxyan. Boleh duduk di sini?"

Kedua pria yang sama- sama mengenakan pakaian berwarna putih itu mendongak. Khusus untuk Sean, dia hanya mendongak lalu kembali melanjutkan meminum americanonya.

"Hai Vivian, silahkan." Balas Roxyan mempersilahkan. Vivian memang selalu memanggil nama kedua pria itu dengan nama depannya jika hanya di antara mereka dan sepertinya kedua pria itu tidak keberatan.

"Tumben kalian berada di kantin jam segini." Ucap Vivian seraya menyantap makanannya dan melihat kedua pria itu secara bergantian.

"Hanya mengisi waktu luang. Sean baru saja selesai melakukan operasi jadi dia sedikit agak lelah." Jelas Roxyan dan mendapatkan anggukan dari wanita itu. "Bagaimana denganmu? Tidak ku sangka menjadi dokter anestesi sangat berat."

"Apa yang kau bicarakan?"

Roxyan memberikan tatapan penuh arti pada dua buah minuman juga satu buah kotak besar berisi kentang di piring Vivian.

"Wow. Kau salah paham. Ini milik temanku."

"Aku tidak melihat temanmu di sampingmu."

"Dia sedang menerima telpon dari tunangannya. Oh iya, Sean." Panggil Vivian membuat Sean kembali melihatnya dan seketika tubuh Vivian mendadak panas dingin hanya karena Sean menatapnya.

"Ya?" Bahkan suaranya pun mampu membuat dia merasa kenyang. "Vivian?" Kali ini Sean mulai melambaikan tangannya di hadapan gadis itu. Sean sempat menatap Roxyan di sampingnya tapi pria itu sepertinya malah sibuk dengan pikirannya sendiri dan menertawakan entah apa itu.

"Vivian?"

Vivian tersentak ketika merasakan tangannya di pegang seseorang dan setelah melihatnya itu adalah....

Tangan Sean! Oh My God!

"Eh ya?"

Sean mengernyitkan dahinya. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku?"

Vivian mengerjap kemudian dia ingat. "Oh maaf. Aku hanya ingin bertanya, apa di divisi bedah menerima orang baru?" Tanya Vivian.

"Eh,dari mana kau tahu?" Kali ini Roxyan yang bertanya. Sebenarnya Sean juga ingin menanyakan hal itu. Bagaimana bisa bagian anestesi tahu mengenai kedatangan dokter baru itu?

Vivian mendengus. "Itu karena dia temanku ketika di rumah sakit New Zealand dulu."

"Oh ya? Apa dokter Roseen itu tampan?"

"Tampan?"

"Iya. Dia pria kan?"

"Pria?"

Vivian terdiam sejenak lalu mendadak tertawa. Dia baru akan menjawab ketika telinganya mendengar suara lembut yang menyebut namanya, tepat di belakang kedua pria itu.

"Sori Vi. Tadi Andrew yang menelpon jadi..." Ucapan Bianca terhenti ketika mendapati kedua pria yang tadi duduk membelakanginya langsung berdiri. Salah seorang di antaranya bahkan melihatnya dengan ekpresi yang sulit di gambarkan.

"Bi- Bianca?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS