SHADOW - DELAPAN BELAS

"Bagaimana bisa kau mendapatkan luka di bibir seperti ini?" Roy Hunt menatap putrinya dengan geram sementara tangannya mulai mengolesi krim ke sudut bibir Ara.

"Ouch Dad, hati- hati. Aku masih kesakitan, okey?"

"Kau sudah tahu kalau ini sakit tapi tetap ingin melakukannya, jadi apa yang terjadi?" Tanyanya lagi. Kali ini dengan lembut.

"Aku terjatuh dengan wajah menyentuh tanah lebih dulu?" Jawab Ara kesal. "Lagipula mana aku tahu kalau ada bekas galian disana. Tidak ada papan penandanya."

"Kalau begitu seharusnya kau menggunakan matamu. Apa ada luka lainnya?"

"Oh hanya beberapa memar di lengan tapi selebihnya baik- baik saja." Jawabnya tapi sedetik kemudian menyesalinya. Roy Hunt terlalu protect padanya. "Jadi hal menarik apa yang terjadi di rumah sakit?" Ara bertanya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sejenak Roy Hunt menaruh krim penghilang sakit itu ke meja tapi entah mengapa Ara merasa kalau tadi, ia tadi diberi tatapan ganjil dan ada saat dimana Ara merasa kalau ayahnya itu tahu apa yang sedang dikerjakannya tapi mana mungkin? Ara sudah berusaha meminimalis ruang geraknya agar tidak ketahuan oleh siapapun yang mengenalnya termasuk ayahnya sendiri.

Dia juga selalu memantau kegiatan yang dilakukan Roy Hunt baik itu di dalam ruangannya di rumah sakit dan juga di seluruh sudut rumah dengan cara memasang kamera tersembunyi yang langsung tersambung ke ponselnya dan tidak satupun yang luput dari pengamatannya untuk menjauhkan organisasi dari ayahnya.

"Seperti biasa. Melakukan operasi dan mengobati orang- orang yang terluka." Ia menjawab sembari membereskan kotak obatnya.

"Oh, Kuharap dad tidak terlalu keras bekerja."

Roy Hunt tersenyum sambil mengacak rambut putrinya. "Semua ini dilakukan untukmu sayang dan perlu kau ingat kalau dad akan..."

"Ya. Ya. Ya aku tahu," Ara langsung memotongnya. "Tapi sungguh Dad! Dad sudah melakukan banyak hal untukku. Aku tidak menginginkan apa- apa lagi. Oh, dan bisakah dad mencari kalimat yang lain? Terus terang kalimat itu membuatku sedikit bosan."

Roy Hunt terkekeh kemudian menguap. "Sudahlah. Dad ingin tidur. Pastikan kau tidak terluka sebelum aku bangun."

Ara memutar kedua bola matanya. "Ya. Akan kupastikan tidak terjun bebas ke dalam mesin cuci kali ini." Jawabnya sinis tapi semakin membuat Roy Hunt tertawa.

"Aku mengharapkan itu." Goda Roy Hunt terhibur. Masih merasa jengkel karena diperlakukan seperti selayaknya anak kecil, Ara meraih ponselnya yang sejak tadi berdering tanpa sama sekali melihat nama di layarnya.

"Aurora?"

Untuk sesaat Ara diam membeku mendengar suara itu. "Ethan?"

"Oh Tuhan! Kau tidak apa- apa?"

Ara mengernyit heran. "Ya. Aku baik- baik saja. Apa ada yang terjadi?"

"Kau sama sekali tidak mengangkat telponmu sejak tadi. Kupikir sesuatu terjadi padamu."

Ara terdiam lalu tidak lama ia tertawa. "Astaga, Ethan!" Pekik Ara disela tawanya. "Kau ini ternyata suka melebih- lebihkan ya?"

"Aku serius, Aurora."

Oh! Oh! Apa sekarang dia marah?

"Maafkan aku," Ara mengulum senyum di bibirnya, menahan diri agar tidak tertawa. "Aku baik- baik saja. Ponselku kutinggalkan didalam kamar dan baru selesai bercakap- cakap dengan ayahku."

"Oh!," untuk sesaat Ara seperti mendengar suara lega Ethan diseberang. "Apa yang kalian bicarakan?"

"Hm, selain memintaku untuk tidak terjatuh ke dalam mesin cuci. Tidak ada yang menarik." Jawab Ara sekenanya.

"Jatuh kedalam mesin cuci?"

"Oh hanya lelucon bodoh yang ku lontarkan. Bagaimana denganmu? Apa semuanya baik- baik saja disana?"

"Ya. Aku merindukanmu."

Ara tersenyum. "Aku juga merindukanmu, Ethan." Balasnya dan klik.

Sekejab Ara melonggo karena tiba- tiba saja Ethan memutuskan sambungannya, masih terperanggah atas apa yang dilakukan oleh Ethan barusan. Ara tidak sadar telah kembali memencet tombol hijau pada ponselnya ketika Ethan kembali menghubunginya, kali ini melalui video call.

"Aku..." suara Ethan terhenti sejenak. "Kau terluka? Apa ini karena kau yang terjatuh ke dalam mesin cuci?"

Mendengar hal itu, seketika wajah Ara berubah jengkel. Lagi- lagi orang lain mengkhawatirkannya secara berlebihan.

"Aku terjatuh," ujar Ara jengkel. "Ke dalam galian di dekat kampus."

"Apa kau terluka parah?"

Ara mengerang dalam hati. "Aku tidak apa- apa, Ethan. Sungguh! Dad sudah mengobatinya tadi, oh! Dan tidak ada luka serius." Ucap Ara sebelum Ethan mengatakan kalimatnya lagi.

Diseberang Ethan menghela napasnya.

"Kau tampak gusar. Apa terjadi sesuatu disana?"

"Ya. Ada seorang rekan dari kami yang meninggal."

"Oh! Aku turut berduka." Ara sengaja memperlihatkan wajah penuh prihatinnya. "Apa ada orang lain lagi yang meninggal?"

"Tidak. Hanya satu orang."

"Kalian dekat?" Untuk yang satu itu, Ara tidak sungguh mengatakannya. Dia tahu siapa orang yang mereka perbincangkan, tinggal masalah waktu hingga identitas asli pengawal gadungan itu terungkap.

"Tidak. Dia pengawal baru. Kami sedang mengecek data dirinya. Tidak mudah mencari data dari pengawal baru apalagi yang sedang bertugas."

Ara mengangguk. Kalian tidak akan bisa menemukannya. Satu- satunya yang akan kalian dapatkan adalah tidak adanya nama mereka dalam data kalian. Ucap Ara dalam hatinya.

"Aku sungguh berduka, Ethan tapi hal ini jangan sampai membuatmu sedih. Selalu ada kejadian tak terduga dalam hidup ini."

"Kau benar." Ethan mengangguk menimpali. "Entah mengapa, ada saat dimana aku merasa kau lebih tahu dibandingkan aku."

Deg.

"Dasar konyol." Ara memaksakan dirinya untuk tertawa. "Aku hanya tidak mau kau terlalu larut dalam kesedihanmu."

Ethan tersenyum. "Itulah alasan mengapa aku mencintaimu. Kau selalu tahu bagaimana caranya menghiburku."

Ara tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Sisa hari itu dilanjutkan dengan Ethan yang mulai menanyakan keadaan Emma dan juga dirinya serta pemberitahuan kalau dia akan segera kembali.

"Dan ngomong- ngomong pelaku itu memiliki ciri dan tinggi yang sama denganmu."

Ara yang mendengar kalimat Ethan, merasa seperti jantungnya berdetak sangat cepat. Ethan menyadarinya!

"Tapi itu tidak mungkin. Kemungkinan besar pelaku yang berjumlah dua orang itu masih berada di negara ini. Kami sementara mengadakan penjagaan di setiap tempat."

Ara tidak tahu harus menjawab apa dan hanya bisa menyunggingkan senyumnya. "Aku yakin kau bisa melakukannya, Ethan."

"Terima kasih, Sugar."

"Baiklah. Kupikir kau harus kembali ke pekerjaanmu sekarang. Aku tidak mau Ian ataupun Nick menyalahkanku karena menahanmu terlalu lama."

"Oh mereka harus mengerti."

Ara tertawa.

"Dan maaf karena mengatakan kalau pelakunya mirip denganmu. Aku mungkin terlalu merindukanmu dan malah menganggap dirinya sebagai dirimu."

Ara tertawa. "Aku tidak akan melupakannya."

Ethan juga ikut tertawa. "Jadi apakah aku akan dihukum?" Tanyanya pura- pura.

"Akan kupikirkan." Balasnya. "Persiapkan saja dirimu."

"Oh! Aku sudah tidak sabar untuk menemuimu."

"Aku juga."

***

"Bagaimana?" Nick yang pertama mengeluarkan suara ketika melihat Ethan kembali ke kesatuannya.

"Dia ada di London, tepatnya di dalam kamarnya." Jawab Ethan seraya meletakkan ponselnya diatas meja.

"Kalian berdua bersikap konyol." Sahut Ian. "Mana mungkin gadis selugu Ara adalah orang yang sama dengan yang kau lawan kemarin."

Ethan mengangguk meskipun sedikit merasa ada keganjilan tapi apa?

"Dan ngomong- ngomong kemana Charlie? Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah kejadian kemarin?" Lanjut Ian seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berharap menemukan pria plontos itu.

"Mungkin dia masih syok. Dia orang pertama yang melihat rekannya meninggal di tempat kejadian." Jawab Nick

"Kau benar tapi pekerjaan kita memang seperti ini. Perkelahian dan kematian. Jika dia terus- menerus menghindar tiap kali melihat rekannya mati, lebih baik berada di belakang meja."

"Sudahlah. Bagaimana? Apa ada perkembangan baru?" Tanya Ethan

"Tidak. Kita masih mencoba menyelidiki hal itu." Ian menjawab

"Apa ada kemungkinan mereka telah kabur?"

Nick baru saja akan menjawab ketika mendadak pintu ruangan tempat mereka mendiskusikan masalah ini terbuka dan memunculkan wajah keras Sandra.

"Kalian harus lihat ini." Seru Sandra seraya meletakkan beberapa foto dan juga kertas diatas meja.

"Apa ini?" Ethan yang pertama bersuara, setelah melihat foto- foto itu beserta kertas.

"Tidak ada pengawal tambahan yang dikirimkan. Orang yang bernama Charlie dan juga Stefan bukanlah pengawal. Stefan, orang yang tertembak itu bahkan memiliki paspor Rusia."

"Jadi apa itu berarti mereka berdua penyusup?" Tanya Nick

Sandra mengangguk. "Untuk sementara kita bisa mengatakan hal itu. Dan coba lihat ini." Ketiga pria itu kembali melihat berkas yang ditunjukkan oleh Sandra. "Sama sekali tidak ada data atau informasi sedikitpun tentang mereka, seakan- akan mereka bergerak dalam bayangan."

Shadow.

Keempatnya kompak saling bertukar pandang dan menyadari bahwa organisasi yang sedang mereka buru itu bukanlah sekedar organisasi pembunuh biasa.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS