SHADOW - DELAPAN
"Apa pada akhirnya kau mendapatkan apa yang selama ini kau impikan?"
Ara terpaksa mendongak dari gambar sketsanya ketika mendapati seorang pria brewok dan terlihat sangat menakutkan tiga kursi dari depannya, sedang menyunggingkan senyum.
Shit.
Ara merutuk seraya bangkit dari kursinya, bersiaga.
"Wow. Gerakanmu masih sangat cepatnya dari tiga tahun yang lalu," Pujinya santai, masih dengan senyumnya. "Apa kabar Aurora ataukah harus kusebut S, mengingat kau berhasil mengelabui organisasi mengenai kematianmu."
"Apa yang kau inginkan?" Sergah Ara tajam, siap dengan apa yang akan dilakukan oleh orang dihadapannya ini.
"Ada tugas untukmu."
"Apa kau sudah lupa kalau aku sudah tidak berada dalam organisasi lagi." Ungkap Ara sedingin es.
Pria itu balas menatap Ara dengan ekspresi prihatin yang dibuat- buat. " kurasa kau salah memahami tentang organisasi selama ini, S," pria itu mengatakannya dengan nada dalam tapi perlahan. "Tidak ada seorangpun yang boleh keluar dari organisasi kecuali... kematian."
"Aku sudah mati."
"Tapi faktanya kau tidak."
Tidak ada yang bersuara diantara mereka. Mereka berdua seakan saling menunggu. Menunggu siapa yang akan lebih dulu melepaskan pelatuknya- mengundang malaikat maut untuk datang.
"Kalau sampai ketua dari organisasi itu sendiri yang datang menemuiku. Itu artinya kampus ini sudah di penuhi para pembunuh yang siap melaksanakan perintah beberapa detik lagi." Kembali Ara berujar dengan sinis.
Seketika Pria yang dipanggil ketua itu tertawa, tawa yang menyiratkan bahwa apa yang dikatakan oleh Ara barusan adalah benar.
"Tidak semuanya sayang. Hanya tiga orang termasuk A, partnermu itu." Katanya
A?
Ketua itu memandang Ara seakan sudah tahu apa yang di pikirkan Ara.
"Jangan khawatir. A tidak tahu kalau kau masih hidup. Aku mengatakan padanya kalau aku sedang menemui seseorang yang penting jadi dia menunggu di dalam mobil."
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Ara seraya mengenggam ujung penanya yang tajam.
Ketua mengarahkan pandangannya pada pena yang dipegang oleh gadis itu dan semakin membuatnya tertawa. "Jangan bertindak bodoh, S. Kalau aku tidak keluar dari tempat ini dalam waktu kurang lebih lima belas menit. Para pembunuh yang juga sniper handal itu pasti akan curiga dan sudah jelas, kau sudah akan bersimbah darah sebelum keluar dari ruangan yang hangat serta nyaman ini."
"Apa. Yang. Kau. Inginkan?" Ara menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
"Tugas baru diberikan untukmu."
"Aku sudah tidak menerima tugas lagi termasuk membunuh."
Lagi- lagi ketua itu tertawa, lebih tepat terbahak- bahak. "Hahaha membunuh sudah menjadi takdirmu sayang." Ujarnya semanis madu, membuat Ara muak.
"Aku tidak akan melakukannya."
"Kalau begitu, sayang sekali". Kemudian Ketua menekan sebuah tombol handsfree yang berada pada telinganya, "lakukan. Sekarang." Perintahnya kemudian.
"A-apa yang kau lakukan?" Ara mulai tampak gugup. Dia tidak suka ketika ada orang lain yang ikut terlibat dan instingnya mengatakan kalau tidak lama lagi dia akan mendengar kematian dari orang- orang dekatnya. Organisasi tidak pernah setengah- setengah dalam menjalankan perintah langsung.
"Sebaiknya kau ke rumah sakit, ujarnya dan Ara merasa jantungnya seketika jatuh ke lantai. "Dimana orang yang menyembunyikanmu selama ini bekerja atau haruskah ku katakan kalau aku mengenal ayahmu alias dokter Hunt?" Dia tersenyum penuh arti lalu mengubahnya dengan prihatin, seakan- akan dia baru saja mendapatkan penghianat. "Tidak dapat dipercaya, bisa- bisanya seorang dokter hebat seperti dirinya memalsukan kematian pasiennya."
Ara tidak tahu harus berkata apa ketika Ketua memperlihatkan sebuah video yang menampilkan sebuah tabrakan besar yang terjadi akibat seorang pengendara yang mabuk. Dalam video, pengendara mabuk itu meninggal di tempat tapi apa yang dilihat Ara jauh lebih mengerikan, banyak orang yang meninggal di tempat karena adanya setelah pengendara mabuk itu menabrak truk, truk itu seketika meledak hingga menyebabkan banyak mobil yang kebetulan lewat ikut juga terkena lemparan api.
Lalu kemudian video itu bergeser dan menampilkan plat mobil yang dikenalnya, membuat matanya sontak terbelalak.
Tidak. Tidak mungkin!
"Sekarang keadaan diluar sana sedang kacau dan tentunya kau tahu dengan jelas apa yang akan dan bisa dilakukan selanjutnya."
"Menyusup." Jawab Ara lirih.
Ketua tertawa. "Benar sekali. Jadi sampai ketemu lagi, S dan pastikan kau sudah menyelamatkan orang tua itu. Malang sekali kalau dia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa karena kecelakaan itu."
Sialan!
"Atau aku bisa menunggu beberapa saat lagi dan melihat bagaimana kau berhasil menyelamatkannya, setidaknya tiga puluh menit dari sekarang."
Ara syok. Dia tidak tahu harus mengatakan apa ketika dia mendengar suara pintu ruang kelasnya ditutup dan menyadari tinggal dirinya seorang diri.
Telinganya rasanya mendadak tuli ketika melewati koridor kampusnya dan berlari menuju mobilnya yang di parkir. Selama dalam perjalanan, tidak henti- hentinya ia menekan dan menghubungi nomor ayahnya yang selalu dialihkan ke panggilan sibuk.
Ara mengerang jengkel ketika ia hampir saja menabrak mobil lain yang sekarang sedang meneriakinya. Ara tidak bisa lagi berpikir ketika dengan tiba- tiba ia menginjak rem mobilnya di depan parkiran rumah sakit dan langsung beranjak turun tanpa memperdulikan lagi mobilnya.
Sudah banyak orang dan juga wartawan yang berkerumun membuatnya kesulitan untuk melihat apa yang terjadi. Kebanyakan dari mereka adalah korban kecelakaan dan juga para keluarga korban.
"Miss. Hunt. Anda seharusnya tidak berada di sini." Seru salah seorang petugas yang mengenal Ara.
"Dimana... dimana ayahku? Dimana dokter Hunt? Dimana ayahku?" Ara hampir saja berteriak ketika mengatakannya. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika petugas itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dan hanya memberinya tatapan bingung.
"Miss. Hunt? Apa yang...?"
Sialan!
Ara berlari meninggalkan petugas tadi yang ingin menghentikannya dan ia bersyukur ketika disaat yang bersamaan para wartawan yang berusaha mendapatkan berita menghampiri dirinya dan juga petugas tadi yang memang ditugaskan untuk tidak membiarkan satu wartawan pun menganggu, membuatnya mengambil keputusan untuk menerobos barikade yang telah dibuat oleh pihak rumah sakit.
Tidak. Tidak mungkin. Kumohon Tuhan, jangan Dad.
***
Comments
Post a Comment