SHADOW - DUA BELAS
Hari berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa sudah sebulan ini Ara melakukan misi dari organisasi. Tentu saja tanpa seorang pun yang tahu.
Akhir- akhir ini organisasi sering memberinya misi ke luar negeri, yang tentu saja setelah misi selesai dia harus segera ke bandara. Sudah ada pesawat yang menunggu setiap kali dia menyelesaikan misi. Selain karena dia tidak ingin berlama- lama, dia juga ingin menghindari kecurigaan ayahnya atau Ethan.
Ara baru saja melangkahkan kakinya menjauh dari apartemen yang sudah menjadi misi dalam eksekusinya ketika matanya dua sosok yang dikenalnya. Keduanya menghampiri Ara yang masih tidak percaya dengan keberadaan mereka.
"Ara?" Nick yang pertama kali menyapanya. Jelas kalau pria itu juga terkejut melihat keberadaan Ara di tempat yang penuh keramaian seperti saat ini meskipun sebenarnya tidak ada hal yang aneh dengan hal itu tapi sepanjang yang Nick perhatikan,sangat terlihat jelas kalau gadis yang berdiri dihadapannya saat ini bukan sekedar ingin berlibur di negara Paman Sam itu dan semakin menguatkan dirinya dari penampilan Ara yang hanya berpakaian celana jeans hitam dengan kaos lengan panjang yang juga berwarna hitam lalu ditambah topi serta kacamata yang hampir seluruhnya menutupi wajahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya.
Ara menyembunyikan kegugupannya dengan tertawa. Satu hal yang paling dia hindari ketika sedang menjalani misinya adalah bertemu dengan orang yang dikenalnya karena itu berarti dia harus melepaskan diri lagi dari masalah lain. Dan baik Nick maupun Ian adalah agen yang bisa saja mencurigainya.
"Hai Nick, Ian." Pertama- tama Ara memikirkan cara untuk mengulur waktu. Organisasi sudah menjadwalkan kepulangannya kembali dan bertemu dengan Nick dan Ian menggagalkan rencana yang sudah disusunnya. Ia bisa saja menghubungi pilotnya tapi sekali lagi, itu tidak mungkin dengan kehadiran kedua pria dihadapannya ini. Ara bersyukur setidaknya ia bertemu dengan mereka berdua ketika ia sudah menyelesaikan misinya dan memilih cara tradisional tanpa adanya suara tembakan yang bisa saja terdengar dan membuat orang- orang panik. Kemungkinan kematian korbannya itu baru bisa diketahui setelah beberapa jam kemudian.
"Aku tidak tahu kalau kau akan ke Amerika." Ucapan Nick kembali mengalihkan pandangan Ara dari sesuatu tidak jauh dari belakang kedua pria itu.
"Ya. Aku cuma sebentar berada disini."
"Sebentar?" Kali ini Ian ikut serta. "Maksudmu kau sudah beberapa hari disini?"
"Hah?"
"Jam berapa kau harus ke bandara? Akan kami antar."
"Eh tidak usah. Aku tidak ingin mengganggu kerja kalian."
"Jangan khawatir," sahut Nick. "Kami hanya melakukan tugas protokol biasa. Apa kau akan segera berangkat?"
"Tidak." Ara menjawab cepat, membuat kening Nick dan Ian saling bertaut ketika Ara menyadari sikapnya lalu tertawa. "Maksudku aku tidak keberatan kalian mengantarku ke bandara. Mungkin saja aku bisa langsung lolos dari pemeriksaan."
Nick dan Ian tertawa. Tentu saja Ara akan lolos dari pemeriksaan karena ia tidak membawa satupun barang yang bisa memancing kecurigaan orang lain. Satu- satunya senjata mematikan yang selalu dibawanya kemanapun terselip di balik jam tangannya.
"Apa kau masih punya waktu? Sebenarnya kami bermaksud untuk singgah di kafe sana," Nick mengarahkan telunjuknya pada kafe di sisi jalan seberang. "- sebelum melihatmu tadi."
Ara tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh Nick kemudian. Tatapannya tertuju pada sosok yang ia yakini sedang membuntutinya sejak tadi.
"Ara?"
"Eh ya?" Kembali Ara mengarahkan pandangannya pada Ian.
"Apa kau sudah harus pergi?"
"Eh? Tidak. Ayo. Aku rasa aku masih punya waktu." Balasnya tersenyum.
Mereka memilih tempat duduk di sudut kafe, selain karena tempatnya terlihat nyaman. Hanya tempat itu yang masih terlihat kosong. Setelah masing- masing dari mereka memesan makanan, dengan sopan Ara meminta izin untuk ke toilet kafe yang letaknya berada jauh dari tempat mereka duduk. Setelah Ara menganggap kalau tak seorangpun yang memperhatikannya, diam- diam Ara berbalik arah melewati pintu belakang dan segera menekan tubuh si penguntit yang sejak tadi mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan disini?!" Serunya seraya menikung sebelah tangan si penguntit itu sehingga wajahnya menyandar di tembok sementara Ara semakin mengeratkan pegangannya yang berusaha di lawan oleh si penguntit.
"Maaf. Maafkan aku, S." Ucap si penguntit lirih.
Ara tidak terlalu terkejut mendengar orang itu mengetahui code namenya. Siapa lagi yang berani melakukan semua ini jika bukan berasal dari organisasi.
"Wrong answer. Apa yang kau lakukan disini?" Ulang Ara dingin.
"A- aku diperintahkan oleh organisasi untuk mengikutimu." Ucapnya terbata- bata.
Ara memperkirakan usia penguntit itu sekitar sembilan belas tahun. Usia yang sangat belia dan masih belum memahami situasi. Jika orang lain selain Ara mengetahui kalau seseorang membuntutinya, sudah jelas orang itu akan langsung dibunuh. Tidak perduli apakah ia orang suruhan organisasi atau bukan. Dan sejak kapan organisasi memikirkan nyawa orang lain? Jawabannya. Tidak ada dan tidak akan pernah ada.
"Aku tahu. Apa yang diinginkannya?" Tanya Ara sekali lagi.
"H-hanya ingin mengetahui kalai kau melaksanakan tugasmu dengan baik." Jawabnya sementara dalam hatinya berdoa untuk tidak langsung dibunuh. Biar bagaimana pun orang yang diikutinya saat ini dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Salah sedikit saja, akan langsung menghadap malaikat kematian.
"Dan namamu adalah?"
"Rye."
Tanpa Rye duga, Ara melepaskan genggamannya. Membuat Rye menoleh. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang di depannya karena tertutup oleh topi dan masker tapi Rye bisa menduga kalau orang yang dikenal dengan code name S ini tidaklah seperti yang orang- orang di organisasi katakan tapi sekali lagi Rye tersentak. Dia tidak boleh berpikir tentang hal itu pada orang yang baru saja di temuinya. Terkadang wajah bisa menipu. Itulah yang ditanamkan oleh organisasi padanya dan seluruh anggota.
"Rye?"
"Y-ya."
"Aku mau kau mengingat hal ini dan juga katakan pada organisasi, jangan pernah melakukan hal ini lagi. Itu sia- sia karena aku melakukan tugasku dengan baik dan jangan sampai aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan misiku," untuk sesaat Rye bergidik mendengar kalimat terakhir Ara. "Aku bertemu teman disini jadi katakan pada pilot untuk menunggu selama satu jam. Kalau aku tidak kembali selama satu jam, maka dia boleh pergi. Kau juga boleh pergi."
"Eh teman?" Kata teman adalah sesuatu yang tabu dalam organisasi. Tidak seorangpun yang boleh menjalin sebuah ikatan dalam hal apapun karena jika itu terjadi maka organisasi akan melakukan sesuatu yang buruk pada orang yang memiliki ikatan tersebut dan tentu saja Ara mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadis di depannya ini. Dia dan A adalah satu- satunya yang melanggar segala aturan dari organisasi. Itulah sebabnya saat ini organisasi berusaha mencari cara agar mereka saling membunuh tanpa diketahui.
"Pergilah."
Seperti baru terbebas dari kematian, cepat- cepat Rye berjalan menjauhi kafe itu. Ara memperhatikan hingga Rye tidak terlihat lagi lalu kembali berjalan menuju pintu belakang kafe dan tembus ke toilet.
"Maaf, tadi toiletnya penuh." Ujar Ara sekembalinya ia di tempat dudukya.
"Tidak masalah." Nick membalas tersenyum maklum. "Apa Ethan tahu kau berada di sini?"
"Eh kurasa tidak." Ara tidak menyangka dengan pertanyaan dadakan yang baru saja dilontarkan oleh Nick padanya.
"Oh." Nick menganggukkan kepalanya pelan sembari menyeruput American Lattenya.
Entah apa maksud Nick menanyakan itu tapi Ara yakin kalau sebentar lagi Ethan akan tahu dan jika beruntung, ayahnya juga akan segera tahu.
"Kau sudah lama mengenal Ethan?"
Seketika Ara mengernyit bingung. Merasa aneh dengan sikap yang akhir- akhir di tunjukkan oleh Ian terutama jika ia bersama Ethan.
"Ian." Nick menegur pria itu pelan tapi cukup bisa didengar oleh Ara.
"Apa? Aku hanya bertanya." Ian mengelak tanpa melepaskan pandangannya dari Ara yang menampilkan wajah bingung. "Bagaimana pendapatmu, Ara?" Tanya Ian lagi.
"Tidak masalah." Ara mengendikkan bahunya, tidak mempermasalahkan pertanyaan Ian padanya. "Ethan adalah kakak Emma," untuk sesaat Ara melihat Ian mengangguk. "Sebelumnya aku tidak mengenal Ethan. Adiknya, maksudku Emma selalu datang ke rumahku. Kami bertetangga. Kami bertemu, Emma menjodohkanku dan aku dan Ethan menjalin hubungan." Entah Ara melewatkan sesuatu atau ini hanyalah perasaannya yang belaka tapi ia bisa menduga kalau Nick berusaha untuk tidak tertawa sementara Ian hanya memberinya tatapan tak percaya di wajahnya lalu tersenyum.
"Kau yakin tidak mengalami geger otak ketika menjadikan Ethan sebagai pacarmu?"
Ara melihat kalau mendadak Nick menyikut Ian, membuat pria itu tergelak.
Ara mencoba meredakan ketegangan yang mendadak ada pada dirinya pada Cappucinonya dan tersedak.
"Apa kau mencintainya?"
Hah?
Kali ini Ara sukses melonggo. Cinta? Jelas itu bukan kata yang akan dipilih oleh Ara untuk mendefinisikan perasaannya pada Ethan. Yang dia tahu adalah dia selalu merasa terhipnotis dan seakan melupakan segalanya jika berada di dekat pria itu.
Ara membersihkan tenggorokannya yang tidak gatal sambil menatap Ian dan Nick bergantian. "Aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan yang baru saja kau lontarkan, Ian." Ucap Ara tersinggung. "Tapi yang aku tahu adalah kami sudah berpacaran."
"Apa kau marah? Maaf. Bukan maksudku seperti itu."
"Baiklah." Ujar Ara seraya bangkit dari duduknya.
"Eh kau sudah mau pergi?" Tanya Nick kaget.
"Ya Nick. Aku masih ada urusan. Sampai nanti Nick, Ian " Lalu Ara pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Tidak bisakah kau merelakannya?" Tanya Nick seraya menggelengkan kepalanya kearah sahabat disampingnya saat ini.
"Aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun padanya." Balasnya sementara otaknya terus berpikir. Setelah ia perhatikan lebih seksama, ia seperti pernah melihat Ara jauh sebelumnya tapi kapan dan dimana, dia tidak bisa mengingat dengan jelas.
Dan tadi, ia dan Nick seperti merasa ada yang mengawasi mereka. Itulah sebabnya mereka memilih untuk singgah beberapa menit didalam kafe sekaligus menunggu informasi dari agen lain yang sengaja di suruhnya ketika Ara pamit ke toilet tadi.
Ara baru saja akan memberhentikan taksi ketika mendengar suara tidak asing yang memanggil dirinya, membuatnya menoleh.
" S?"
***
Comments
Post a Comment