SHADOW - DUA DUA
"Ouch, pelan- pelan, S."
"Aku sudah berusaha menahan diri untuk tidak menambahnya." Balas Ara yang disambut dengan tatapan mendelik dari Alex. "Dan jangan memanggilku dengan codename kalau tidak mau melihatku kehilangan kontrol." Lanjutnya seraya kembali mengobati luka di wajah Alex dengan kapas dan obat merah.
Wajah Alex berubah, menunjukkan kepura- puraan yang nyata. "Apa aku baru saja mendengar sebuah ancaman dari S yang sadis?"
"Ya. Kau baru saja mendengarnya."
Ara bahkan tidak tahu kenapa dia mau saja pergi dengan Alex. Terlihat jelas di wajah pria itu kalau dia tidak menginginkan Ara pergi tapi saat itu Ara berpikir ada banyak orang yang berada disekitar Ethan sementara Alex, dia tahu Alex tidak memiliki siapa- siapa selain dirinya.
Ini pertama kalinya Ara menginjakkan kakinya di apartemen Alex yang berada di ketinggian lima puluh kaki. Ara tahu kalau sejak dulu Alex sangat menyukai tempat tinggi dan jujur saja menikmati pemandangan yang berada dibawah sangat membuat tenang dan juga membuat adrenalin terpacu.
"Aku tidak tahu kalau menjadi pelayan di kafe akan memiliki apartemen seluas dan sebagus ini." Ara tidak tahan untuk tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan sejujurnya itulah yang disukai Alex darinya. Ara tidak pernah takut menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya dan lebih cenderung mengikuti instingnya. Itu juga yang menjadi penyebab kenapa ketua melabeli dirinya dan Ara sebagai pemberontak yang sadis, karena selain membunuh. Mereka juga bisa sangat menghancurkan tapi meskipun begitu, mereka berdua tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan organisasi jika mereka keluar batas. Dan satu- satunya hal diluar batas yang pernah Ara lakukan adalah dengan kabur dari organisasi dengan memalsukan kematiannya tapi ada harga yang harus dibayar karena itu.
"Butuh lebih dari sekedar uang untuk mendapatkan tempat ini." Jawab Alex seraya melangkahkan kakinya menuju balkon, Ara mengikuti dari belakang dan ikut berdiri disamping Alex, menatap pemandangan danau tidak jauh dari mereka.
"Ini indah." Guman Ara.
Alex tersenyum seraya berbalik melihat Ara yang sedang menghirup udara malam dalam- dalam kemudian berbalik.
"Apa maksud perkataanmu tadi? Yang mengatakan kalau lebih dari sekedar uang..."
"Oh itu," kembali Alex menatap di depannya. "Apa kau masih ingat Kenny?"
"Partner di kafemu?" Alex mengangguk. "Ya."
"Dia adalah pemilik yang sebenarnya."
"Wow."
Alex tersenyum. "Aku juga mengatakan hal itu ketika mengetahuinya."
"Dan kau sekedar tinggal disini?"
"Tidak juga," Alex mengangkat bahunya. "Aku harus selalu berada di kafe dan tidak meninggalkannya."
Ara mengangguk. "Dia orang yang baik."
"Aku setuju. Untuk itulah aku juga harus berhati- hati dalam setiap langkah yang kuambil. Kau tahu bagaimana organisasi jika menyangkut orang terdekat kita."
Ara tersentak. Mengingat alasan kenapa dia harus kembali ke tempat dimana ia dulu berasal dan melakukan misinya lagi.
"Dan karena kita sudah menyentuh masalah ini jadi aku ingin bertanya tentang tadi."
"Kurasa semua luka yang kau terima ini sudah menjelaskan semuanya."
"Aku tidak melihat sejelas itu. Yang aku lihat adalah dia... dia menciummu di tempat umum."
"Tidak ada salahnya dengan ciuman."
"Oh tentu saj.... tunggu, apa kalian memiliki hubungan yang khusus?"
Alex sangat berharap Ara akan mengatakan tidak ketika menyadari ada perubahan yang terjadi di wajah Ara dan hal itu cukup menjelaskan pertanyaannya.
"Dasar bodoh!" Tiba- tiba saja Alex membentaknya. "Apa kau tidak tahu resiko apa yang akan terjadi karena kecerobohanmu itu?"
"Dan apa maksudnya itu?" Ara ikut tersulut.
"Maksudnya adalah... Okey, aku tahu kalau kau orang yang sangat bodoh tapi dia? Yang benar saja. Apa kau tahu dia itu siapa? Dia salah satu agent di FBI." Lalu terdiam ketika melihat wajah Ara yang tampak tenang. "Kau sudah tahu siapa dia?" Tanyanya lambat dan pelan.
Tidak ada jawaban.
"Damn it, Ara! Dimana sifat kehati- hatianmu selama ini?"
"Apa itu penting?"
"Jelas saja itu penting. Apa yang akan kau lakukan jika dia tahu siapa kau yang sebenarnya? Kita ini pembunuh."
"Aku tahu siapa aku, Lex." Balas Ara kesal.
Seharusnya dia tidak kesini. Tidak membantu Alex mengobati lukanya. Ara mungkin sudah bisa memperkirakan kalimatvm bernada jengkel yang dilontarkan oleh Alex tapi entah kenapa hal itu tetap saja membuatnya merasa marah.
Apa yang dikatakan oleh Alex juga benatr. Mereka... Tidak. Dia adalah pembunuh. Bagaimana kalau Ethan mengetahui jati dirinya? Akankah Ethan bisa menerimanya seperti sekarang ini? Bagaimana kalau setelah Ethan tahu, dia malah mendapatkan kebencian dari pria itu? Memikirkan semua itu membuat perasaannya terasa sakit.
"Jangan pernah menemui dia lagi." Ujar Alex.
Lama Ara terdiam ketika kembali bersuara. "Aku tidak bisa."
"Aku tidak memintamu untuk memilih, S."
Seketika Ara bangkit dari tempatnya duduk dan menatap tajam Alex yang balas menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kau tidak berhak mengatur dengan siapa aku menjalin hubungan."
"Jelas aku berhak. Kita sudah menjadi partner selama ini dan aku juga mencintaimu. Kau tahu itu."
"Hubungan kita hanya sebatas sahabat dan keluarga, Lex. Tidak lebih."
"Aku tidak menganggapnya seperti itu dañ sudah jelas aku juga tidak akan melepaskanmu begitu saja dengan dia."
"Kau kejam."
"Kita berdua sama- sama kejam di sini dan sekedar mengingatkan kita sudah melakukan kekejaman lebih dari 12 tahun jadi..."
"Aku tahu apa yang sudah ku lakukan. Terima kasih karena telah mengingatkan."
"Sama- sama tapi itu tidak akan mengubah kenyataan."
Ara menutup matanya selama beberapa menit ketika merasakan Alex berdiri di hadapan dan mengelus pipinya lembut.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Ucap Ara lirih
"Aku juga."
"Apa tidak ada pilihan lain?"
"Ada. Tapi itu mungkin akan berat."
"Apa?"
"Entah kau yang mati atau aku yang mati. Yang jelas salah satu dari kita harus ada yang menghilang dari dunia ini atau... Mungkin dia."
Ara terlonjak hingga tanpa sadar dia mundur, menjauh dari Alex yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau tidak akan bisa."
Alex tertawa mengejek. "Kita berdua tahu apa maksud dari perkataanmu tadi tapi kalau kau butuh bukti, aku dengan senang hati akan menunjukkannya."
"Aku tidak akan membiarkanmu."
"Seperti aku tidak mengenalmu saja. Pilih S, dia atau aku?"
"Aku tidak akan memilih salah satu dari kalian." Teriak Ara frustrasi.
Lama Alex terdiam hingga dia menghela napas kemudian tertawa. "Kurasa aku sudah tahu kau memilih siapa."
"Apa yang ... Apa kau... Apa kau baru saja membuangku?"
"Tidak. Jika kau bisa memilih."
Ara menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Baik." Ucapnya sambil menahan perasaan yang saat ini bergolak dalam hatinya.
"Kurasà ini pertemuan terakhir kita."
"Ya."
Entah berapa lama Alex terdiam di tempatnya. Ara sudah keluar dari tempatnya beberapa jam yang lalu. Pandangannya menerawang melihat langit malam. Sejak melihat adegan sore tadi antara Ara dan Agen FBI itu, Alex sudah dapat mengetahui apa pilihan apa yang akan dipilih oleh gadis itu.
Alex bisa melihat bagaimana pandangan mata Ara yang diperlihatkan pada Ethan tadi meskipun Ethan bisa saja salah paham tapi Alex mengenal Ara lebih jelas dari siapapun dan dia tahu kalau gadis itu sudah jatuh cinta tapi bukan pada dirinya. Lamunannya terhenti ketika telinganya menangkap suara khusus dari ponselnya.
"Sebuah misi."
Hanya dua kata ketika sambungan diputus lalu disusul sebuah pesan teks yang menuliskan tempat dimana target selanjutnya berada.
***
Comments
Post a Comment