SHADOW - DUA EMPAT

Segalanya menjadi tidak terduga bagi Ethan. Dia hampir tidak bisa mempercayai apa yang saat ini sedang terjadi. Ara berlari seperti orang yang kesurupan, seakan gadis itu tahu apa yang sedang terjadi dan benar saja. Ketika mereka sampai, orang- orang dan beberapa polisi yang Ethan kenal sudah berkumpul di tempat kejadian sementara Ara, gadis itu hanya mematung di tempatnya berdiri dan hanya menatap kosong ketika tubuh Roy diangkat dari kolam renang tempat tinggalnya.

Dugaan sementara yang polisi katakan padanya adalah Roy mengalami kram ketika sedang berenang dan tidak sempat menyelamatkan diri.

Ara tidak mengatakan apa- apa bahkan Ethan pun merasa kalau tinggal menunggu waktu saja hingga Ara histeris atau menangis dan dugaan Ethan benar, Ara menangis hingga harus membuat Ethan kerepotan karena Ara menolak agar tubuh kaku ayahnya dibawa ke rumah sakit.

Nick, Ana dan juga Ian juga tiba beberapa menit setelah tubuh Roy dibawa dengan ambulans dan tidak tahu harus melakukan apa. Ara menolak untuk bicara dan hanya menatap kosong kolam tempat Roy ditemukan. Emma yang sangat akrab dengan Ara pun tidak bisa mendekatinya seakan nalurinya melarangnya untuk melakukan hal itu. Bagi Emma dan juga Ana, yang entah bagaimana bisa merasakan aura gelap yang sedang terpancar disekitar tubuh Ara dan jika mereka tetap mencoba melawannya maka bukan tidak mungkin akan ada korban lagi.

Para pria sama sekali tidak ikut merasakan dan hanya sibuk mengurusi hal yang menyangkut pemakaman Roy Hunt nantinya sebelum mereka menyadari keberadaan Ara.

"Sugar?" Sengaja Ethan mengatakannya dengan pelan. Dia masih tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sikap yang ditunjukkan Ara saat ini sangat jauh dari yang bisa ia gambarkan. "Aku akan membawamu pulang. Kau butuh istirahat, sayang." Ucapnya seraya mengecup puncak kepala Ara lembut, dia berharap dengan dirinya saat ini, bisa membantu gadisnya menjadi lebih kuat.

"Aku sudah pulang." Balasnya masih memandang lurus kedepan.

Sejenak Ethan menghembuskan napasnya pelan lalu berkata. "Kau akan menginap dirumahku hari ini."

Ara menggeleng. "Aku ingin tinggal disini."

"Tapi kau..."

"Aku mohon..."

"Kau lelah, sayang."

"Aku tahu tapi aku ingin berada disini. Tidur disini. Tidak bisakah aku?" Kedua mata Ara berkaca- kaca dan secara naluri Ethan membawa Ara kedalam pelukannya, membuat gadis itu mulai terisak pelan. "Aku mohon, Ethan."

Sekali lagi Ethan menghembuskan napasnya. "Baiklah. Tapi aku akan menemanimu."

Ara tidak menolak tapi tidak juga menerimanya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah betapa dia telah kehilangan satu- satunya orang yang menyayanginya.

Ya. Roy Hunt adalah orang yang berhasil membantunya keluar dari lubang kematian. Memberinya kehidupan baru dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah didapatkannya dari seseorang yang memanggil dirinya sebagai anak.

Roy Hunt memang berhasil memanipulasi mengenai kematiannya pada organisasi atas keinginan Ara sendiri. Entah sadar atau tidak sadar, Ara memohon sebelum ia jatuh pingsan untuk menyelamatkannya dari orang- orang itu. Dan ketika dipikirnya segalanya sudah membaik tanpa disangka Roy Hunt justru memberinya nama dan mengambilnya sebagai anak lalu membawanya pergi meninggalkan negara yang sebelumnya.

Tapi...

Tapi segalanya telah berubah. Tidak ada lagi yang akan menyayangi seperti Roy Hunt yang menyayanginya dan itu membuat Ara semakin merasa bersalah. Betapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh Roy Hunt untuk dirinya yang masih belum bisa ia balaskan.

"Shhh... tidak apa- apa. Jangan menangis lagi." Ara semakin terisak dalam dekapan Ethan.

"D-dia pergi, E- Ethan..." isaknya

"Aku tahu, sayang. Aku tahu... jangan menangis lagi."

"Dia per- pergi t-tanpa sempat m-mendengarkan ka-kalimat per-pisahan untuknya."

"Tidak apa- apa," kecupnya. "Kau bisa mengatakan itu besok padanya."

"Ta-tapi dia tidak akan bisa mendengarnya."

"Dia akan mendengarnya, sayang. Dia akan selalu mendengarmu."

"Juga tidak bisa membalasku."

"Tanpa perlu mengatakannya, aku tahu Roy sangat menyayangimu. Kaulah malaikat yang paling disayanginya."

"B-benarkah?"

Ethan mengangguk setelah sebelumnya melepaskan dekapan Ara darinya. Ditatapnya pemilik wajah itu, masih tersisa bulir- bulir air mata seperti layaknya mutiara didalam matanya.

"Percayalah padaku, Sugar. Roy selalu mengatakan padaku kalau dia bangga padamu."

"Benarkah?"

Ethan mengangguk lagi. "Ya."

Sebuah kenangan masa lalu seketika terlintas dalam benak Ethan. Jika Ara yang sudah sebesar ini begitu rapuh dengan kehilangan orang tuanya, bagaimana dulu Emma melalui semua masa- masa sulitnya?

Maukah kau menggantikanku menjaga putriku jika sesuatu terjadi padaku, Ethan?

Untuk sesaat Ethan terdiam. Inikah pertanda untuknya?

Apakah Roy telah mempercayakan Ara padanya?

"Aku sendiri. Lagi."

Ethan tersentak. Sendiri? Aku tidak boleh membiarkannya sendiri. Tidak akan pernah!

Lindungi dia.

"Tidak," Ethan lantas memegang kedua lengan Ara dan menatap Ara tepat dimatanya. "Kau tidak akan sendiri dan aku juga tidak akan membiarkannya."

"Ethan?"

"Aku tahu ini terlalu cepat untuk hubungan kita tapi entah mengapa aku justru merasa yakin denganmu."

"Apa yang..."

"Jauh sebelum hari ini, aku dan Roy pernah berbicara empat mata. Inti dari pembicaraan kami adalah agar tidak membuatmu sedih dan juga harus melindungimu."

"Ethan?"

"Sejujurnya itu bisa dianggap jika aku sudah mendapatkan izij darinya."

"Ethan, apa yang...?"

"Menikahlah denganku, Aurora Angela Hunt."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS