SHADOW - DUA ENAM

Ethan masih merasa tidak percaya dengan gambar yang diperlihatkan oleh Ian dua minggu yang lalu. Gambar itu persis dengan tatto yang ada di bagian bawah belakang leher Ara dan walaupun hanya sekali tapi Ethan yakin dengan apa yang dulu dilihatnya.

"Ethan, bisakah kau... ?" Kedua kening Ara saling bertaut ketika mendapati Ethan hanya menatapnya dengan ekspresi aneh. "Ethan, ada apa?" Tanyanya.

Saat ini dirinya, Ethan dan juga Emma sedang berkumpul di halaman rumah Nick dan Ana untuk pesta berbeque. Tentu saja kejadian dimana Ara pernah tertembak tidak membuat si empunya rumah merasa khawatir. Bagi mereka, memiliki kehidupan seperti di film- film action akan menambah jumlah euphoria mereka. Yang langsung mendapatkan tanggapan sebagai pasangan aneh dari Ian.

"Ethan?"

"Eh ya?" Ethan merasa seakan ditarik paksa dari dalam pikirannya dan melihat Ara juga melihatnya dengan wajah bingung. "Ada apa?"

Untuk sesaat Ara menelengkan kepalanya ke samping. "Aku tidak tahu tapi beberapa hari ini aku sering mendapatimu sedang melihatku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?"

Ethan tersenyum mencoba menyembunyikan kecurigaannya. Dia tidak mau kalau dia harus mendebatkan sesuatu yang belum jelas. Dia perlu mengonfirmasi gambar itu lebih lanjut, lagipula sudah lama ia tidak bertemu gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini.

Ara jarang mengenakan rok atau dress. Dia lebih suka memakai kaos lengan panjang atau kemeja longgar yang dipadu padankan dengan shortpants atau jeans. Dengan rambut yang di gerai tapi di waktu yang hampir menjelang malam ini, Ara menggulung rambutnya hingga memperlihatkan leher jenjang yang sangat menggoda bagi Ethan sejak tadi tapi juga di sisi lain benaknya mengatakan kalau inilah saatnya bagi dia untuk mengonfirmasi kecurigaannya.

"Eh tidak. Apa yang tadi ingin kau katakan?" Ethan menggelengkan kepala, mengenyahkan perasaannya yang campur aduk.

"Kau yakin?"

Ethan mengangguk dan tersenyum. "Ya. Apa ada yang bisa kubantu?"

Ara berdecak kesal. Entah mengapa ia merasa kalau Ethan sedang menyembunyikan sesuatu darinya tapi juga tidak begitu yakin, Ethan sudah begitu baik padanya dan jika ada hal- hal yang membuatnya curiga, maka sudah pasti ia akan merasakannya.

Mungkin saja memang tidak ada apa- apa. Hati kecil Ara menekankan kalimat itu.

"Aku membutuhkan piring untuk menaruh daging- daging ini." Jawabnya ikut tersenyum.

"Oh, akan kuambilkan di dalam." Balasnya berbalik untuk masuk kedalam rumah Nick.

Ethan bermaksud akan kembali ke halaman tempat Ara menunggunya ketika Nick mendadak muncul dari luar dapur dan berbicara padanya.

"Ada yang perlu kubicarakan padamu.

Kedua kening Ethan terangkat. "Sambil jalan? Ara memintaku untuk membawa piring ini padanya." Katanya seraya memperlihatkan benda yang berada di tangannya.

Nick mengangguk pelan lalu berjalan bersamaan dengan Ethan. Bahkan setelah Ethan menyerahkan piring itu dan membantu Ara menata daging- daging itu, tidak sekalipun Nick bersuara. Yang ada pria itu hanya diam dan mengamati apa yang dilakukan olehnya.

"Bukankah tadi kau ingin berbicara? Bicaralah." Ethan yang pertama kali membuka suara.

"Lupakan saja." Balasnya sembari tersenyum dan mengendikkan bahunya.

Ethan mengernyit. "Dasar aneh." Celutuknya yang justru membuat pria tiga anak itu tertawa.

"Jangan dipikirkan." Jawabnya seraya memegang sebelah pundak Ethan. "Tadinya aku berpikir kau sedang perang dingin dengan Ara."

"Perang dingin?"

Nick mengangguk. "Aku sering mendapatimu melihat Ara dengan tatapan seperti berharap Ara memunculkan sesuatu dari dalam kepalanya."

Seperti biasa, Nick langsung bisa mengutarakan pendapatnya. Tidak heran dia di rekrut menjadi agent organisasi besar sekaliber FBI. Dia mempunyai mata yang jeli dalam hal mengamati.

"Apakah kau ingin menceritakannya?" Nick kembali menanyainya seakan tahu apa yang baru saja terlintas dalam benak rekan sekaligus orang yang sudah dianggapnya sahabat itu.

Tidak ada balasan.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kalian dan kurasa hal itu wajar jika menyangkut dengan masalah pernikahan kalian tapi ayolah, Ara adalah seorang wanita. Dia pasti memiliki banyak pertimbangan dan kurasa sudah nasib kita untuk mengerti jalan pikiran mereka."

Tawa Ethan hampir saja meledak karena sangkaan Nick terhadapnya ketika didapatinya suara tawa lain yang berasal dari tempat yang lain. Dilihatnya Ara sedang menertawakan sesuatu bersama Ana dan Emma, menurut asumsi Ethan, semua ini bermula dari Ian yang sepertinya melakukan sesuatu yang lucu hingga dilihatnya Emma tertawa terpingkal- pingkal di tempatnya.

Matahari sudah sejak tadi hilang dari cakrawala dan digantikan dengan kehadiran bulan. Meskipun malam tapi cuaca yang ditimbulkan sangat hangat. Julie, putri ketiga Nick sudah tertidur dan sekarang berada didalam rumah sementara mereka berkumpul di halaman, menyantap daging, salad dan beberapa makanan lainnya ketika Ara menyadari kalau mereka sudah kehabisan wine.

"Aku akan mengambil wine lagi." Seru Ara seraya mendorong kursinya kebelakang.

"Ayo bersama." Ucap Nick.

Mereka berdua bersama- sama masuk kedalam rumah Nick untuk mengambil wine yang berada didapur dan baru akan kembali ketika mendengar suara Nick yang berbicara padanya.

"Apa kau bahagia?"

"Eh?" Gerakan Ara terhenti ketika dilihatnya Nick justru bersandar di sudut kulkas rumahnya. "Tentu saja. Ini luar biasa. Terima kasih Nick."

Nick ikut tersenyum melihat kegembiraan yang ditunjukkan oleh Ara. Menurutnya selain cantik, Ara juga punya tatapan yang bisa membuat orang tidak dapat berpaling tapi bukan berarti dia tertarik pada tunangan sahabatnya itu. Hanya saja ada sesuatu didalam diri Ara yang mengingatkan Ara pada sosok Ana dulunya.

Misterius tapi juga elegan.

"Kau seharusnya berterima kasih pada Ethan. Dialah yang merencanakan ini semua."

Meskipun agak bingung dengan pernyataan Nick barusan tapi Ara tetap menyunggingkan senyumnya. Dia bersyukur dia memiliki Ethan dan juga orang- orang disekitarnya saat ini meskipun dia juga harus selalu berhati- hati dalam melangkah.

Mereka lalu sama- sama melangkah keluar dari dalam dapur untuk kembali ke halaman ketika Nick yang berada didepannya tiba- tiba berhenti, membuatnya terantuk punggung kokoh pria itu.

Meskipun masih merasa sakit dibagian keningnya tapi dia juga perlu menekankan pada pria itu agar tidak lantas berhenti ketika pandangannya mengikuti arah pandangan Nick saat ini.

Tidak jauh darinya, tepatnya di tempat dia meninggalkan Ethan dan lainnya telah berkumpul enam orang tak dikenalnya. Masing- masing dari mereka sedang menyodorkan pistol ke masing- masing kepala Ethan, Ian, Emma. Ana meringkuk mencoba menenangkan Charlie dan Chloe agar tidak menangis dengan memeluk mereka.

"Sialan." Sergah Ethan marah tanpa memperdulikan botol wine yang tadi dipegangnya. Ia begitu khawatir dengan keselamatan keluarganya hingga tidak menyadari ada sosok lain yang langsung menendangnya hingga Nick tersungkur ke tanah.

Nick dipaksa untuk bangun oleh orang yang baru saja menjatuhkannya ketika kedua matanya bertatapan dengan pemilik mata itu dan terbelalak.

"Kau?!"

Nick nyaris tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Meskipun baru sekali bertemu tanpa pernah bicara atau saling mengenal tapi Nick tidak akan lupa dengan wajah itu. Wajah yang bersama...

"Alex?"

Pria yang dipanggil Alex itu seketika berbalik dan jelas kalau dia juga terkejut dengan kehadiran gadis yang masih diam dan memberinya tatapan bingung di wajahnya saat ini.

"Apa... yang kau lakulan disini, S?"

Detik selanjutnya yang terjadi adalah semua orang berpaling untuk melihat orang yang baru saja dipanggil dengan codename dan sama- sama membelalakkan matanya tidak percaya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS