SHADOW - DUA LIMA
Ara bergerak tidak nyaman dalam posisi tidurnya saat ini ketika merasakan sebuah lengan kekar memeluknya, membuatnya terpaksa harus membuka kedua matanya dan justru langsung berhadapan dengan sepasang mata yang juga balas menatapnya.
"Hai," sapanya.
"Hai." Balas Ara membuat pipinya terasa panas.
Entah bagaimana kejadiannya, ketika mendengar Ethan melamarnya kemarin membuat otaknya menjadi buntu dan hal berikutnya yang terjadi adalah mereka akhirnya melakukannya. Ara tidak menyesali keputusannya, dia tahu kalau Ethan lah yang diinginkannya begitupun dengan Ethan. Ada hal dimana dia seperti ingin terus berada disisi gadis yang saat ini berada didalam pelukannya.
"Kuharap aku tidak terlalu menyakitimu semalam."
Ara menggeleng. Selain merasakan perasaan kebas dibagian bawahnya, selebihnya dia baik- baik saja justru yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bahagia.
"Aku baik- baik saja."
Ethan tersenyum seraya membawa bibirnya agar bertemu dengan bibir Ara yang sudah siap menyambutnya. Mereka berciuman dengan pelan dan tidak terburu- buru seakan menikmati waktu mereka dan berhenti.
"Sebaiknya kita turun." Ucap Ethan pelan tanpa melepaskan keningnya yang menempel di kening Ara. "Mereka sudah menunggu kita." Lanjutnya.
Ara terdiam, mengingat kalau sudah tidak ada lagi pria yang disebut orang tua yang akan melindunginya saat ini.
"Hei, tidak apa- apa." Ethan langsung mengelus pipi Ara, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya saat ini. "Aku akan menjadi pelindungmu."
"Ethan"
"Kau sudah mengiyakan lamaranku yang berarti saat ini kaulah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Percaya padaku."
Ara mengangguk. Tidak tahu harus mengatakan apa. Untuk saat ini dia akan mencoba mempercayai pria dihadapannya terlepas apa yang akan terjadi nanti.
Ara berada didalam kamarnya selama dua jam. Dia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk kembali menata perasaannya sementara Ethan sudah turun lebih dulu untuk menemui Nick dan juga Ian.
Ara sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa diam melihat banyaknya orang yang berdatangan ke rumahnya. Hanya sedikit yang ia ketahui dan itu berasal dari rumah sakit tempat Roy Hunt bekerja. Tidak ada teman yang berasal dari kampusnya dan memang Ara sengaja tidak bergaul. Dia tidak mau dengan banyaknya hubungan yang terjalin disekitarnya malah membuat mereka dalam bahaya. Roy Hunt adalah satu- satunya orang yang berusaha ia hindarkan dari pandangan organisasi, karena jika organisasi mengetahuinya bukan tidak mungkin Roy Hunt akan menjadi target mereka agar bisa menekan Ara dan menjadikannya sebagai anjing organisasi. Tapi apa yang terjadi saat ini benar- benar tidak dapat diduganya. Roy Hunt- orang yang sudah dianggapnya sebagai ayah telah pergi jauh meninggalkannya.
.
.
Tak terasa satu bulan telah berlalu sejak kematian Roy Hunt. Ara tetap bersikeras untuk tinggal di rumahnya dan menolak untuk pergi apalagi menjualnya dan Ethan terpaksa harus menuruti keinginan gadis itu. Dia mengerti kalau gadis itu masih sangat sedih dengan kematian ayahnya tapi juga tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha menghibur Ara.
Ara juga baru akan menikah dengan Ethan di akhir bulan depan, sesuatu yang membuat Ethan harus berargumen cukup panjang dan lama. Masalahnya ia tidak mau jika Ara terlalu lama berada dalam kesendirian dan menjadikan Ara sebagai miliknya seutuhnya adalah sesuatu yang sangat Ethan inginkan.
"Bagaimana keadaan Ara?" Nick menanyai Ethan yang baru saja tiba dan mengambil tempat duduk disampingnya.
"Dia baik- baik saja. Akhir- akhir ini dia sibuk mengurus kuliahnya."
"Oh baguslah. Dan bagaimana dengan pernikahan kalian?"
Ethan menghela napasnya. "Tidak banyak yang berubah tapi akhirnya dia setuju akhir bulan depan."
"Kurasa dia banyak pertimbangan ketika akhirnya memutuskan untuk menikah denganmu."
"Dan apa maksudnya itu?" Ujar Ethan tersinggung.
Nick tertawa. "Mungkin dia belum yakin dengan perasaan...hanya bercanda." Ujar Nick ketika melihat raut wajah Ethan yang syok.
"Sialan." Rutuk Ethan tepat ketika Ian muncul dengan wajah lelahnya dan langsung mengambil tempat duduk disamping Nick.
"Berkas apa itu?" Tanya Nick ketika Ian baru saja melempar sebuah map keatas meja dihadapannya.
"Berkas tentang organisasi itu?"
"Shadow?" Tanya Ethan seraya mengambil map dan membaginya dengan Nick. Ian mengangguk.
"Disini dijelaskan alasan mereka membunuh karena suruhan orang lain atau lebih tepatnya dia melakukan atas perintah." Kata Nick setelah membalik- balik kertas ditangannya.
Ian kembali mengangguk. "Ya. Tapi coba lihat di kertas lainnya, maksudku orang- orang yang menjadi target mereka adalah orang- orang yang dicurigai sebagai koruptor dan lawan politik. Selebihnya hanya orang- orang yang menghalangi." Jelas Ian. Ethan dan Nick kompak mengangguk.
"Tapi pasti mereka bukan orang biasa jika harus menjadi target organisasi sekaliber Shadow. Coba pikir, para pembunuh itu tidak mungkin selihai itu jika targetnya hanya orang- orang kecil. Pasti ada yang mendukung mereka dari belakang." Ujar Ethan yang diamini oleh Nick.
"Kurasa Ethan ada benarnya. Bahkan tidak ada seorangpun dari agent atau mata- mata dunia yang mengetahui seperti apa organisasi itu. Oh iya, ngomong- ngomong foto apa ini?" Tanya Nick kemudian. Kompak Ethan dan Ian mendongak dan mengarahkan mata mereka pada sebuah gambar.
"Oh itu tatto." Ian menjawab seraya kembali menyandarkan kepalanya di kursi. "Dari beberapa informasi yang kudengar, itu tatto milik salah satu anggota mereka. Masing- masing dari mereka memiliki tatto yang melambangkan diri mereka sendiri. Tatto Itu dibuat di Thailand beberapa tahun yang lalu."
"Kalau begitu masih ada harapan buat kita untuk memburu pemilik tatto ini." Kata Nick.
Sebaliknya, Ian malah menggeleng. "Aku sudah kesana tapi sayangnya pembuat tatto itu sudah meninggal setahun yang lalu karena penyakit jantung yang dideritanya."
"Bagaimana dengan anaknya? Apa ayahnya tidak menceritakan apapun padanya?"
Ian menggeleng. "Tidak. dan coba lihat gambar setelahnya." Nick dan Ethan sama- sama membuka lembaran berikutnya.
Mereka berdua kompak melihat gambar sayap malaikat dengan masing- masing inisial beserta senjata bergerigi tajam dibawahnya. Yang membedakan antara gambar satu dan gambar dua adalah yang pertama mempunyai inisial yang jika dibaca akan membentuk kata A di sisi sebelah kiri dan pada gambar kedua, kata S terletak pada sisi sebelah kanan dengan tambahan bunga tulip hitam diatas senjata itu.
"Kutebak itu inisial mereka." Ujar Ian. " A dan S." Tambahnya.
"Jadi kita tinggal mencari orang yang memiliki tatto seperti ini?"
"Kita tidak mungkin kan menghentikan orang-orang di jalan dan memeriksa seluruh tubuh mereka satu persatu." Ucap Ian dengan nada geli yang ditujukan pada Nick.
Sementara itu Ethan terus saja memperhatikan gambar kedua yang sudah direbutnya dari tangan Nick.
"Gambar ini?" Ucapnya tanpa memalingkan wajahnya dari gambar tatto yang memiliki tulip hitam di dalamnya.
***
Comments
Post a Comment