SHADOW - DUA PULUH

"Ara?

"Aku disini, Dad." Sahut Ara seraya mengeluarkan pie apelnya yang baru saja matang dari dalam oven.

Semalam ada kecelakaan besar yang terjadi di rumah sakit, menjadikan ayahnya harus bekerja lembur untuk melakukan penyelamatan dan operasi dadakan. Selang beberapa menit, Roy Hunt muncul dengan wajah kelelahan di dalam dapur dan seketika menyunggingkan senyum pada Ara yang juga ikut tersenyum.

"Baunya enak." Komentarnya, membuat Ara semakin tersenyum lebar. Dia memang sengaja membuat Pie apel, tahu kalau itu adalah kesukaaan ayahnya.

"Aku memang sengaja membuatkannya untukmu, dad." Ujarnya ketika pandangannya beralih pada sosok yang baru saja muncul dan mengernyit bingung ketika Ethan justru memberinya kecupan ringan di dahi.

"Ethan?"

"Hai sugar." Sapa Ethan.

"Apa yang..."

"Apa kalian sama sekali tidak melihat orang tua ini di sini?" Sela Roy Hunt memotong ucapan putrinya dan memberi mereka pandangan mencela "Dan khusus untukmu Ethan, bagaimana bisa kau langsung mencium putriku tepat di depan mataku seperti tadi?"

Ethan terkekeh. "Maaf dokter," ujarnya tersenyum. "Tapi aku kesulitan melihat sekitarku jika putrimu berada hanya beberapa langkah dariku."

"Oh kid, pertahankan itu." Tambah Roy Hunt dan tersenyum.

"Dad!" Ara memekik karena malu sementara kedua tangannya diletakkan pada kedua wajahnya.

"Oh lihat! Ini kali pertama aku melihat ekspresinya seperti itu. Kurasa dia menyukaimu, nak."

"Oh aku juga menyukainya, dokter Hunt. Sangat."

Tidak ada yang lebih diinginkan oleh Ara selain pergi dari tempatnya sekarang berpijak dan lari entah kemana. Baik ayahnya maupun pacarnya sama- sama berkeinginan untuk menggodanya kali ini dan semakin merasa malu ketika mendadak Roy Hunt memberinya pelukan.

"Oh, apa jadinya aku jika tidak ada dirimu, princess."

"Dad," Ara merasa dirinya seperti akan menangis.

"Dan Ethan, pastikan kau selalu menjaganya."

"Tentu saja, dokter Hunt. Tanpa kau meminta pun, aku akan menjaganya."

Roy Hunt mengangguk pelan. "Dan panggil saja namaku, Ethan. Dokter Hunt agak terlalu berlebihan buatku."

Ethan tersenyum. "Ya."

"Apa kau mau mencicipi pie apel buatan Ara denganmu? Aku sebenarnya tidak suka berbagi jika itu dari putriku tapi sudahlah, kupikir aku sudah menganggapmu sebagai keluarga."

"Terima kasih, Roy."

Ara masih tidak mengerti tujuan Ethan ke rumahnya. Pria itu tidak mengatakan apa- apa dan hanya asyik berbincang- bincang dengan Roy Hunt. Ara baru saja membereskan keseluruhan dapurnya ketika mendadak ia merasakan kedua tangan melingkar di pinggangnya.

"Ini pertama kalinya aku melihat penampilanmu yang seperti ini," ujarnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Ara. "Dan pie buatanmu luar biasa enak. Aku sampai merasa iri karena hanya Roy yang kau buatkan." Lanjutnya merajuk.

"Jangan konyol, Ethan." Balas Ara seraya membilas piringnya yang terakhir. "Aku tidak tahu kalau kau akan datang."

Mendengar itu, seketika Ethan mengangkat wajahnya dan mau tidak mau Ara ikut berpaling dan menatap wajah itu.

"Kau tidak ingat?" Tanyanya seraya menatap tepat di kedua mata Ara.

"Apa aku melupakan sesua... oh astaga!" Ara mengerjap. "Maafkan aku, Ethan. Aku benar- benar lupa tentang bungee jumping itu."

Sekejab Ethan tertawa. "Aku bisa melihatnya," katanya seraya mengecup hidung Ara dan menggigitnya gemas. "Kau sangat menggemaskan dengan ekspresi tadi."

"Oh, berhenti menggodaku, Ethan." Balasnya setelah memukul lengan Ethan pelan.

"Aku tidak menggodamu." Ujarnya, kembali menarik tubuh Ara dan menahannya dengan kedua tangannya yang saling bertaut di belakang Ara. "Itulah yang kurasakan."

Ara tersenyum menimpali, ikut menaruh kedua lengannya di sekeliling leher Ethan.

"Kau tahu?" Ethan berkata lambat. "Kita akan mendapatkan masalah jika Roy mendadak muncul dan mendapati kita dengan posisi seperti ini didapurnya." Ucapnya membuat Ara terkekeh. "Dan Ana mungkin akan lebih marah lagi jika dia tidak melihat kita dalam waktu tiga puluh menit. Dia terus saja mengirimiku pesan dan menanyakan keberadaanmu."

"Hm, benarkah?"

Alih- alih menjawab, Ethan justru tersenyum. "Tapi apa yang bisa kulakukan jika gadisku justru menggodaku saat ini?"

"Baiklah, sebaiknya kita pergi." Ucap Ara seraya melepaskan diri tapi langsung di tahan oleh Ethan dan mereka berciuman.

"Tidak sebelum aku memberi izin." Katanya disela ia memperdalam ciumannya, yang dibalas oleh Ara dengan hal yang serupa.

.
.

Ketika mereka tiba empat puluh menit kemudian, Ana sedang menunggu dan berdecak kesal.

"Kau lama sekali menjemputnya." Omelnya langsung tapi memberikan Ara pelukan hangat sembari seperti meneliti seluruh tubuh Ara.

"Percuma kau memeriksanya, Ann. Tidak ada yang terjadi sebelum kami kesini tapi jika kau mau, kau bisa memeriksa bibirnya. Kami berciuman dengan sangat intens dan rumit tadi." Kata Ethan mengindahkan tatapan geli dari Emma dan pukulan yang baru saja diberikan Ara padanya.

"Kau sama buruknya dengan Nick."

"Kenapa harus aku yang dilibatkan?" Mendadak Nick muncul dengan tatapan sakit hati. "Tidak ada yang salah dengan sebuah ciuman atau... dua." Lanjutnya setelah menerima tatapan mengerling dari Ethan.

"Tiga, sebenarnya." Timpal Ethan dan langsung mendapatkan pukulan lebih keras dari Ara di bahu Ethan, membuat pria itu meringgis.

Ara tidak pernah berhenti menyunggingkan senyumnya ketika bersama orang- orang disekelilingnya terutama dengan Ana. Untuk satu hal yang diketahui oleh Ara kalau dia menyukai cara Ana yang bergaul dengannya. Ana tipe wanita yang sangat tegas tapi juga penuh kelembutan yang sangat mencintai kelurganya. Nick juga terlihat sangat mencintai Ana, seperti satu paket. Jika Nick membutuhkan sesuatu, dengan sigap Ana menyesuaikan dengan kebutuhan Nick. Tidak urung juga Ara sering mendapati Nick yang diam- diam selalu melayangkan ciumannya di bibir Ana tiap kali ada kesempatan.

Tidak ada yang tahu alasan kenapa Nick memajukan jadwal kegiatan mereka lebih awal kecuali Ethan dan itu semua agar bisa membuktikan teori Nick kalau ada sesuatu yang terasa janggal dalam diri Ara. Dia seperti merasa melihat diri Ana saat dulu dalam diri Ara tapi sikap Ara biasa- biasa saja bahkan Ara cenderung lebih banyak tertawa dan bersenang- senang. Setidaknya kali ini Nick merasa tidak ada yang aneh selain kejadian malam itu.

Mungkin saja kala itu dia benar- benar lelah dan ketika Ara membantingnya ke tanah, dia justru kehilangan keseimbangan. Nick berupaya menanamkan hal itu dalam benaknya.

Ara memang mirip Ana dan itu dengan cara yang sama dengan yang diberikan Ana padanya atau ia pada Ana. Untuk satu hal yang diketahui oleh Nick adalah baik Ara maupun Ethan sama- sama saling mencintai.

"Sejak tadi kuperhatikan kau terus saja mengawasi Ara. Apa terjadi sesuatu?"

Ya. Satu orang yang tidak mungkin bisa dibohongi adalah Ian. Ian tentu saja bisa langsung menerka apa yang sebenarnya dilakukan oleh sahabatnya itu melalui gerak- gerik yang dilakukan oleh Nick tapi tidak bisa menangkap tujuan dari kegiatannya dengan pasti.

"Tidak apa- apa." Balas Nick seraya kembali membereskan barang- barangnya.

"Apa kau senang?" Ara mendongak dari tempatnya memperbaiki tali sepatunya dan tersenyum ketika melihat Ethan berdiri di depannya, menghalangi sinar matahari menerpa wajah gadisnya.

"Ya. Ini luar biasa menyenangkan, Ethan." Jawabnya seraya berdiri agar bisa berhadapan dengan Ethan. "Terima kasih karena telah membawaku kesini."

Tapi Ethan justru hanya terdiam seraya kedua matanya menatap Ara.

"Ethan? Ada ap..." belum sempat Ara menyelesaikan kalimatnya, bibir Ethan sudah berada di bibirnya dan memagutnya.

"Kau selàlu saja membuatku kehilangan kontrol atas diriku sendiri." Ucapnya setelah bibir mereka terlepas, meninggalkan Ara yang megap- megap kehabisan napas tapi kemudian disusul tawa dari gadis itu.

"Kalau begitu sebaiknya aku berusaha lebih keras lagi untuk menghindarimu." Candanya tapi justru semakin menguatkan pegangan Ethan di pinggangnya.

"Oh, jangan harap kau bisa lepas dengan mudah, Sugar."

"Uh huh? Pasti akan..."

"Aurora?"

Ara belum sempat mencerna semuanya ketika ia merasakan tarikan keras di lengannya, membuatnya terlepas dari rangkulan Ethan dan mendarat di tubuh kokoh lainnya, yang saat ini sedang memegang sebelah pinggangnya dengan posesif.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS