SHADOW - DUA SATU

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara diantara mereka. Semuanya mendadak hening dan tegang ketika dengan tiba- tiba Ara sudah beralih tempat, tepatnya ke dekapan si pendatang baru.

"Alex? Apa yang...."

"Siapa kau?" Mendadak Ethan memotong sebelum Ara menyelesaikan ucapannya dan mengernyit heran ketika Alex justru tidak melihatnya dan melihat tajam sosok di depannya, Ethan.

"Tidak penting aku siapa tapi aku tahu kau siapa."

"Lucu sekali," Ethan menatap Alex sinis. "Kalau begitu singkirkan tanganmu darinya."

Alih- alih melakukan apa yang tadi dikatakan oleh Ethan, Alex justru mencibir. "Aku tidak menerima permintaan apapun dan tidak akan."

Ethan merasa sebentar lagi matanya akan mengeluarkan laser. Dia tidak tahu siapa pria brengsek yang sementara menyentuh miliknya tapi dari yang bisa ia amati, dia sudah biasa melakukannya dan Ara? Gadisnya, miliknya sama sekali tidak melakukan apa- apa.

Merasa sangat kesal sekaligus marah, Ethan menarik sebelah tangan Ara yang bebas. Menjadikan wanita itu justru berada di tengah- tengah dengan tangan yang masing- masing terulur.

"Ethan. Ara. Apa yang..." Nick muncul bersamaan dengan kehadiran Ian dan juga Ana di sekitar mereka dan masing- masing mengernyit bingung ketika melihat pemandangan ganjil di depannya. Ara berada di tengah dengan kedua tangan yang masing- masing dipegang.

"Lepaskan dia, bung."

"Kau yang seharusnya melepaskannya."

"Ugh!" Tanpa diduga, Ara justru meronta. "Kalian berdua lepaskan!" Sentak Ara pada kedua tangannya dan mengelusnya ketika pada akhirnya tangannya terlepas ketika kembali beralih menatap kedua pria itu. "Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Hardik Ara kesal.

"Aku yang seharusnya menanyakan hal itu!" Suara Alex juga tidak kalah kerasnya ketika membalas ucapan Ara. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Apa?"

"Kalau kau mengenal dia."

"Ethan?"

"Aku tahu siapa dia, Aurora." Alex semakin bertambah kesal dan semakin kesal ketika Ara seperti tidak mempersoalkannya. "Dan kau juga tahu siapa dia." Ujarnya seraya menekankan maksudnya agar lebih jelas.

"Dan?"

"Dan? Demi Tuhan! Apa kau sudah gila?"

"Apa maksudmu dengan kalimatmu ta..."

"Aku tahu apa yang kulakukan, Lex." Ujar Ara memotong ucapan Ethan barusan.

"Oh, tentu saja." Alex berkata sinis. "Kau memiliki hubungan dengannya. Kau. Sama. Sekali. Tidak. Tahu. Apa. Yang. Kau. Lakukan, Aurora." Alex menekankan setiap katanya di akhir dan semakin menekannya ketika menyebutkan nama Ara.

Hening. Baik Ara maupun Alex sama- sama saling menatap tajam.

"Apa hubungan kalian berdua?" Kali ini Ethan berhasil menyelesaikan ucapannya tanpa dipotong ketika Alex beralih dan memberinya tatapan meremehkan.

"Kau menanyakan pertanyaan yang salah, Blackstone tapi ya, jika kau ingin tahu kami sudah ditakdirkan untuk bersama."

"Apa?"

"Kau mendengarku tadi jadi tidak ada gunanya kalian..."

"Alex!" Bentak Ara memotong. "Apa sih yang kau lakukan?" Ara menatap Alex frustrasi.

"Aku menyelamatkanmu."

"Aku tidak butuh penyelamatan dan aku baik- baik saja. Terima kasih." Ara berkata kesal sembari menghentakkan kakinya, membuat Alex justru tertawa. "Apa?!" Bentak Ara tahu kalau pria itu justru menertawai apa yang dilakukannya dan bukan apa yang dikatakannya.

Disisi lain, Nick, Ian dan Ana sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi didepannya. Ara dan Alex lebih terlihat cenderung saling bercanda padahal Ethan sudah siap melayangkan pukulannya pada pria yang dipanggil Alex itu tapi sama sekali tidak diindahkan.

Ada hubungan tidak biasa diantara mereka. Pikir Ana dalam hatinya ketika ia ingat. Pria inilah orang yang dilihatnya di festival itu bersama Ara. Tanpa sadar Ana berpaling dan benar saja, dari raut wajah yang diperlihatkan oleh Nick. Ana bisa tahu kalau Nick juga sudah menyadarinya.

"Aurora." Suara Ethan terdengar dalam dan menyakitkan dan hal itu membuat Ara sadar situasi apa yang sedang ia hadapi.

"Ethan." Ara membalas lirih. Dia tidak mungkin memberitahukan hal yang sebenarnya pada Ethan.

"Apa hubungan kalian berdua?"

"Ethan..."

"Kau tidak akan sanggup menghadapinya jika mengetahuinya, Blackstone." Sahut Alex

Tidak ada suara. Ethan hanya menatap nanar gadis dihadapannya. Dia tidak menyangka kalau Ara akan menghianatinya tapi benarkah seperti itu? Mengingat selama ini hubungan mereka baik- baik saja. Kemudian ia sadar, Ara sama sekali tidak pernah mengatakan kata suka atau cinta padanya. Ara cenderung melakukan sesuatu jika diminta seperti saat dimana ia tiba- tiba mengklaim Ara sebagai miliknya. Apa kala itu dia sudah bertindak gegabah?

"Alex benar, Ethan. Maafkan aku." Ucap Ara.

"Aku mengerti." Balas Ethan tapi terdengar sangat pedih.

"Ethan?" Ara sekarang mulai kebingungan. Kenapa Ethan justru terdengar sedih karena ia tidak mau mengatakan tentang hubungannya pada Alex?

"Baguslah. Itu akan mempersingkat waktu kami. Selamat tinggal, Blackstone."

"Tunggu." Ara menyela, kembali menyentakkan tangannya yang hendak dipegang kembali oleh Alex. "Apa yang kau bicarakan? Apa yang kalian bicarakan?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, Aurora. Kita akan..."

Bukkk...

Sebelum Ara bisa menyadarinya. Alex sudah tersungkur keatas tanah dengan bibir yang telah mengeluarkan darah.

"Dasar brengsek!" Alex berdiri dan ikut meninju tubuh Ethan. Perkelahian tidak dapat terelakkan dan baik Ethan maupun Alex sama- sama terlihat unggul. Nick dan Ian sama- sama berusaha untuk memisahkan keduanya ketika Ethan tepat berada diatas Alex dan menghujaninya dengan beberapa pukulan sebelum berhenti.

"Astaga!" Ara memekik karena kaget dan berlari menghentikan keduanya. "Lex?" Panggil Ara ketika ia sudah berjongkok agar bisa lebih mudah melihat Alex yang saat ini menutup matanya. "Lex, kau bisa mendengarku?" Ara lalu mengguncang- guncang tubuh Alex ketika dilihatnya mata Alex terbuka. "Kau tidak apa- apa?"

"Apa kau serius menanyakan hal itu? Kau bisa merasakannya sendiri." Balas Alex sinis tapi membuat Ara terkikik geli.

"Kau masih terlihat tampan dengan luka- luka ini." Komentar Ara, membuat Alex memutar matanya kemudian beralih pada Ethan dan menyadari kalau seharusnya ia tidak melakukannya.

Disisi lain, Nick dan Ian sama- sama tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ethan mungkin bisa dimengerti, karena ia cemburu tapi Ara? Ara sama sekali tidak menunjukkan kalau hal itu bukanlah suatu masalah besar dan interaksi yang terjalin antara Alex dan Ara benar- benar membuat mereka kebingungan. Ara sama sekali tidak mempermasalahkan Alex yang dipukul hingga nyaris babak belur karena Ethan dan tertawa seakan hal itu hanyalah sebuah lelucon.

"Oh ayolah!" Alex mengerang jengkel dan semakin jengkel karena Ara hanya saling bertukar pandang dengan Ethan. "Tidak adakah yang mau berbaik hati menolongku dulu? Ada yang terluka disini."

Seraya menghela napas, Ara yang memutuskan kontak mata dan membantu Alex agar bisa berdiri serta mengobati lukanya ketika sebuah tangan menahannya.

"Jangan pergi."

Ara terdiam, menatap tangan Ethan yang memegangnya dan wajah Ethan secara bergantian. Dia juga tidak mau pergi meninggalkan Ethan saat ini tapi hal itu harus ia lakukan. Alex jauh lebih membutuhkannya saat ini dan juga ada hal yang harus dia bicarakan pada Alex. Sesuatu yang sangat penting dan tidak seorangpun boleh tahu termasuk Ethan.

"Aku akan kembali, Ethan."

"Tidak. Kau tidak boleh pergi."

"Maaf."

"Aku tidak butuh maaf. Jangan pergi."

Hening.

"Apa dia lebih penting?"

"Ya."

Pelan tapi pasti, Ethan mulai melepaskan genggamannya.

"Aku akan menemuimu nanti."

Tidak ada tanggapan. Dan Ara menganggap kalau Ethan sudah mengerti jadi sambil memapah Alex disampingnya, Ara berlalu pergi.

"Ethan?" Ana yang pertama kali bersuara dan terdengar ragu ketika tiba- tiba saja Ethan berteriak marah kemudian pergi kearah lain. Meninggalkan Nick, Ana dan juga Ian yang tidak tahu harus berbuat apa.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS