SHADOW - DUA TIGA
Semenjak perpisahannya dengan Alex semalam, Ara merasa dirinya mendadak kosong. Alex adalah sahabat sekaligus keluarga yang dia miliki dan pilihan yang ditawarkan oleh Alex sangat tidak masuk akal untuknya.
A dan S atau kepanjangan dari Angel dan Soul adalah codename yang telah mereka pilih. Mereka berdua tak terpisahkan dan hingga kemudian terpilih sebagai partner satu sama lain.
Alex lebih memilih dipanggil sebagai A dan Ara dipanggil S. Awalnya Ara tidak ingin dipanggil S, dia ingin menjadi A atau Angel karena dia perempuan tapi Alex menolak dan mengatakan kalau dirinya lebih cocok dipanggil sebagai malaikat karena dia akan menjadi malaikat bagi Ara dan untuk Ara, Alex menginginkan Ara menjadi jiwanya. Jika Ara mati maka jiwanya juga akan ikut mati. Seiring berjalannya waktu mereka mulai dikenal sebagai Angel's death- malaikat kematian dalam lingkaran organisasi dan juga orang- orang yang bersedia memakai jasanya. Tapi seperti yang diketahui, tidak mudah untuk mencari tahu identitas mereka karena jika ada yang mengetahui maka seketika orang itu akan dibunuh.
Adapun Shadow, selain dari nama organisasi. S juga bisa berarti Shadow karena Ara membunuh selayaknya bayangan. Tidak ada yang mengetahui teknik apa yang digunakan dalam melenyapkan korbannya tapi ketika ia melakukannya, secepat kilat itu pula korbannya akan meninggal dalam kondisi yang mengenaskan.
Tentu saja seluruh anggota dari organisasi tahu bagaimana cara menggunakan pisau, pistol dan benda tajam lainnya. Mereka juga pandai melakukan perkelahian karena sejak awal mereka masuk maka, tidak ada cara lain selain untuk melakukan perkelahian agar bisa bertahan hidup.
Yang mereka tahu adalah Ara memiliki kemampuan khusus atau bisa saja seperti Medusa- wanita yang memiliki rambut ular dan akan membekukan orang- orang yang melihat matanya. Tentu saja Ara bukan medusa dan sejujurnya itu mustahil di dunia nyata seperti saat ini tapi ya, Ara memang bisa melakukannya. Bukan dengan membekukan orang- orang melainkan...
"Kau sudah bangun?"
Ara terpaksa membalikkan tubuhnya ketika mendapati Ethan sedang memberinya tatapan penuh kekhawatiran. Semalam Ara merasa sangat rapuh juga sedih dan ketika Ethan menghampirinya di pinggir jalan, kehujanan. Semuanya terlihat dramatis selayaknya di film- film karena ketika ia keluar dan menangis, mendadak hujan turun sangat deras belum lagi ditambah dengan kehadiran Ethan membuatnya menumpahkan semua tangisannya di baju Ethan.
Ara tidak ingin pulang, tahu kalau ayahnya berada di rumah. Dia tidak ingin membuat ayahnya khawatir melihat keadaannya dan tidak ada pilihan lain bagi Ethan mengajak Ara ke rumahnya.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Sudah agak baikan. Terima kasih karena sudah mau menampungku."
Ethan tersenyum seraya membawa tubuh Ara kedalam pelukannya.
"Tidak masalah untukku." Ujarnya seraya mengelus rambut Ara lembut. "Mau menceritakannya?"
Ara menggeleng, masih dalam dekapan Ethan. "Kurasa tidak sekarang. Maafkan aku."
"Tidak apa- apa aku mengerti." Balasnya mengecup puncak kepala Ara. "Tapi jangan terlalu lama menyimpannya, sayang. Ada aku yang bisa kau percayai."
"Aku tahu," Ara semakin merekatkan pelukannya. "Untuk itulah aku memilihmu."
Ethan tidak mengerti apa maksud dari kalimat Ara barusan tapi memilih untuk tidak menanyakan pertanyaan lain lagi.
"Aku mencintaimu, Aurora." Bisiknya pelan tapi masih bisa terdengar.
"Aku juga... aku juga mencintaimu, Ethan Blackstone."
Dan tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Ethan selain mendengar Ara yang mengatakan kalau dia juga mencintainya. Dengan pelan Ethan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ara. Dia mencintai gadis didepannya sejak pertemuan pertama. Seperti ada sesuatu yang menarik dirinya agar bisa berdekatan dengan gadis yang bernama lengkap Aurora Angela Hunt.
"Kau tahu? Kupikir aku tidak akan menyukai sesuatu dalam dirimu tapi sekarang ada satu yang akhirnya tidak kusukai." Ucap Ethan sembari memperbaiki rambut Ara.
"Apa?" Ara bertanya lirih, masih dengan mata yang menatap Ethan.
"Aku tidak suka melihatmu menangis. Bisakah kau tidak melakukannya lagi?"
Ara terdiam lalu tidak lama menganggukkan kepalanya. "Ya. Akan kuusahakan."
Ethan tersenyum lalu mulai mengarahkan bibirnya ke bibir Ara.
Entah berapa lama mereka melakukannya ketika terpaksa berhenti seiring bunyi suara perut Ara.
"Kemari. Aku akan memberimu makan." Ethan berusaha menahan tawanya setelah sebelumnya menempelkan bibirnya ke hidung Ara, gemas.
"Perut ini betul- betul menganggu kegiatan kita." Rutuknya tapi justru semakin membuat Ethan tertawa.
"Seharusnya kau berterima kasih padanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak menyela." Candanya. Awalnya Ara tidak mengerti tapi ketika melihat tatapan yang diberikan oleh Ethan padanya, membuat sekelebat pemikiran mendatanginya.
"Oh!" Ara terdiam, mendadak salah tingkah. "Aku akan membersihkan tubuhku." Dan secepat ia berbicara, secepat itu pula Ara berlari ke kamar mandi, tidak memperdulikan tawa menggelegar di belakangnya.
.
.
Ara baru saja menggigit sarapan berupa roti bakar yang disiapkan oleh Ethan (Ara baru tahu kalau Ethan sama sekali tidak tahu memasak dan Roti bakar adalah satu- satunya yang bisa ia buat) ketika Emma muncul dan memberinya tatapan kaget sekaligus syok.
"Em, ada apa?" Ethan yang pertama mengutarakan pertanyaannya karena sepertinya Emma tidak sedang dalam kondisi baik untuk menceritakan apa yang terjadi.
"A- Ara?"
Baik Ara maupun Ethan sama- sama mengernyit.
"Ethan?" Kembali suara Emma memanggil nama kakaknya.
"Em, ada apa?" Ethan mulai khawatir.
"S-semalam terjadi sesuatu," Emma mulai mengambil napas. "Dan... oh Tuhan! Aku tidak percaya ini." Seketika Emma mulai menitikkan air matanya. "Aku ikut prihatin, Ara."
Ara terdiam. Waktu seakan berhenti berputar saat itu juga.
"Aku... aku tidak tahu bagaimana kejadiannya tapi... tapi... yang aku tahu dia sudah ditemukan dalam kondisi tidak sadar. Paman Roy..."
Dan hal berikutnya yang Ara tahu adalah dia mulai berlari, meninggalkan suara gelas yang jatuh dan roti yang baru saja sekali digigitnya. Meninggalkan Ethan yang meneriakkan namanya dan Emma yang suara tangisannya semakin kencang.
Aku akan selalu melindungimu, malaikat cantikku.
***
Comments
Post a Comment