SHADOW - EMPAT BELAS
Untuk sesaat Ara seperti tidak mengenal dirinya. Dia hanya fokus pada satu tujuan dan itu adalah target dari panahnya. Ara memperhitungkan waktu antara panahnya dan targetnya.
Sedikit lagi. Ara menekankan hal itu dalam benaknya ketika melihat sedikit pergerakan dan saat itulah ia juga melepaskan panahnya disusul suara teriakan orang- orang di sekelilingnya kemudian hening.
Ara berlutut ke tanah disertai seruan napasnya yang cepat ketika mendengar suara erangan kesakitan tidak jauh darinya dan diam- diam tersenyum ketika mengetahui kalau panahnya tidak meleset.
Sementara itu, Nick dan Ethan yang mendengar suara yang bukan berasal dari sekelilingnya seketika berpaling dan berlari mencari asal suara itu.
"Sial!" Ethan mengerang jengkel karena tidak menemukan satupun orang yang sebelumnya berada di tempat ia berada dan sebagai gantinya hanya ada darah yang berceceran.
"Sepertinya mereka langsung pergi. " sahut Nick setelah ia menyusuri jejak darah itu dan menghilang di jalan beraspal.
"Ya. Kau benar." Balas Ethan menahan kepalan tangannya.
Mereka berdua sama- sama melangkah menuju tempat tadi ketika kedua kening Ethan saling bertaut ketika raut wajah Emma memperlihatkan kegusaran yang sangat nyata pada sosok yang terduduk di atas tanah. Belum lagi melihat Ian yang berjongkok dihadapan seseorang yang Ethan baru sadari sebagai Ara, tampak jelas kalau Ian menekan sebelah lengan Ara dengan tangannya.
"Apa yang..." belum sempat Ethan mengucapkan pertanyaannya ketika dia mulai mengetahui jawabannya.
Wajah Ara pucat pasi sementara wanita itu menutup matanya serta menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang teramat dan menyadari hal itu ketika mendadak didengarnya suara Nick yang kaget.
"Astaga, kau tertembak?"
Untuk satu ini, Nick tidak mengerti bagaimana bisa Ara kena tembak ketika matanya justru bersirobok dengan mata Ian. Ada sesuatu yang ganjil yang sedang terjadi di sini. Disisi lain, Ethan berusaha mengendalikan dirinya melihat wanitanya terluka. Dengan perlahan ia ikut berjongkok dan memanggil wanitanya dengan nada pelan.
"Sugar?"
Ara membuka matanya pelan dan berhadapan dengan si pemilik mata hijau itu.
"Apa terasa sakit?" Tanya Ethan seraya mengusap bulir keringat di kening Ara. Ian juga tidak melepaskan tangannya dari tempat peluru itu bersarang.
Ara mengangguk pelan. Ada air mata yang mengenang di pelupuk matanya.
"Kita akan mengeluarkannya. Kau akan baik- baik saja. Percaya padaku."
Ara mengangguk.
Tanpa di komando. Nick beserta Ana mulai mempersiapkan alat- alat untuk mengeluarkan peluru di lengan kiri Ara. Mereka terpaksa melakukannya di tempat ini agar tidak terlalu menarik perhatian lagipula letak rumah sakit berada sangat jauh dan rumah Nick memiliki fasilitas lengkap dalam hal medis.
Tidak butuh waktu lama ketika mengeluarkan peluru itu dan Ethan segera mengangkat wanitanya ke tempat tidur yang telah dipersiapkan oleh Ana sebelumnya.
"Istirahatlah, sayang." Ujar Ethan lembut.
Ara memang sudah terlalu lelah dan juga lemah jadi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti permintaan Ethan padanya.
Setelah Ethan merasa yakin kalau Ara telah tertidur lelap. Dengan langkah pelan ia keluar dari ruangan tempat Ara beristirahat setelah sebelumnya mengecup kening wanitanya dan mengucapkan janji untuk tidak lagi membuatnya terluka kelak.
Ethan tidak perlu bertanya apa maksud dari tatapan Nick dan Ian padanya jadi yang bisa ia lakukan adalah dengan menggeser kursi disamping Ian dan duduk diatasnya.
"Bagaimana dia?" Nick yang pertama kali bersuara setelah kejadian tadi.
Dengan adanya kejadian hari ini. Mereka terpaksa harus menginap hingga keesokan paginya agar Ara bisa beristirahat. Beruntung rumah Nick cukup besar hingga mampu menampung mereka semua.
"Dia sudah tidur," jawab Ethan kemudian mengarahkan pandangannya mencari sesuatu. "Mana Emma dan Ana?"
"Emma menemani si kembar dan Ana menemani Julie yang baru saja bangun."
Ethan mengangguk mengerti.
"Jadi apakah ada yang bisa memberitahuku apa yang terjadi?" Tanya Ian kemudian.
Ethan dan Nick serempak mengendikkan bahunya. "Kami juga tidak tahu, Ian. Yang aku tahu tiba- tiba Ara menyodorkan panahnya kearahku. Aku bahkan kaget ketika melihatnya." Jawab Nick sedikit bingung.
"Ethan?"
"Sama seperti yang dikatakan Nick. Aku juga tidak tahu".
"Tapi bukankah kalian yang berdua yang langsung berhadapan dengannya? Maksudku kau melihat raut wajah Ara kan?"
Dibandingkan dengan Nick dan Ethan yang biasa menyamar dan mendeteksi kebohongan dari lawannya, Ian lebih ahli dalam hal membaca raut wajah. Sejenak kening Nick dan Ethan berkerut.
"Kau benar." Lalu Nick berpaling untuk memandang Ethan, "Hei Ethan, apa kau lihat bagaimana ekpresi wajah Ara tadi? Dia terlihat berbeda kan?"
Kening Ethan semakin mengkerut ketika mengingat kejadian itu. Ya, Ara memang terlihat berbeda apalagi ketika memegang busur dan panahnya, Seakan dia tahu seperti apa targetnya tapi bagaimana mungkin? Dia bahkan gagal ketika membidik target yang dekat dengannya. Bagaimana dia bisa tahu dimana orang itu berada padahal jaraknya sangat jauh darinya?
"Kau benar." Ujar Ethan terus- terang. Dia tidak bisa menampik kalau ia juga heran melihat sikap Ara tadi sama dengan kedua pria di sampingnya.
"Dan kita sama sekali tidak mendengar suara desingan peluru yang ditembakkan." Ian menambahkan seakan menguatkan asumsinya.
Hal itu membuat baik Ethan dan Nick menyadari satu hal. Peredam. Peredam yang menyamarkan hal itu tapi dibandingkan itu semua. Satu hal yang paling membingungkan adalah bagaimana Ara bisa mengetahuinya? Apa hanya kebetulan?
Sementara itu dari balik pintu, Ara bisa mendengar semua percakapan dari ketiga pria itu. Dia tadi hanya berpura- pura tertidur lelap dan ketika menyadari kalau Ethan telah pergi, dia juga mengikuti- mencari tahu informasi tapi tidak satupun dari isi pembicaraan itu yang mengacu pada pertanyaannya hari ini.
Apa sebabnya hingga organisasi menyuruh untuk mengeksekusi Emma?
Oh, Ara bisa langsung mengenali kalau orang itu berasal dari organisasi. Ada sesuatu dari cara organisasi menjalankan misinya yang membuatnya berbeda. Dia tidak terlalu peduli jika orang- orang menargetkan dirinya tapi jelas sekali kalau sasarannya saat itu adalah meledakkan kepala Emma, tapi apa yang telah diperbuat gadis yang berusia tiga belas tahun itu pada organisasi? Apa ini hanya semacam target acak? Atau bisa saja organisasi hanya memberinya ancaman agar melakukan misinya dengan baik sebelum ada orang terdekatnya yang menjadi korban.
Ara merasakan kepalanya bergolak karena banyaknya pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera tapi semakin ia memikirkannya, semakin ia menemui jalan buntu. Ara memang sengaja menerima peluru itu karena ia membutuhkan waktu untuk menentukan letak secara pasti si penembak sebelum melepaskan panahnya. Pikirannya kala itu adalah ketika peluru dilepaskan maka panahnya juga harus dilepaskan agar bisa langsung mengenai si pembunuh. Ia sudah menghitung berapa waktu yang diperlukan panahnya sebelum mencapai targetnya dan itu harus sama dengan waktu yang diperlukan oleh peluru itu setelah ditembakkan.
Sejenak Ara memperhatikan perban yang menutupi lukanya dan menghela napas panjang. Dia tidak pernah mengira kalau rasanya akan sesakit ini ketika tertembak. Perih karena tertembus timah panas, belum lagi bau besi membuatnya ingin muntah seketika.
"You can not Run from us, S."
Dan kalimat itulah yang membuatnya bertahan hingga sekarang.
Dia tidak bisa pergi. Tidak jika ia belum mati dalam arti yang sesungguhnya.
***
Comments
Post a Comment