SHADOW - EMPAT
Ara terbangun dengan perasaan seperti dihantam palu godam di kepalanya, terasa sakit dan berat. Bagaimana tidak dia baru saja bisa memejamkan matanya jam empat subuh tadi dan baru bisa tertidur ketika sebuah mimpi yang berusaha dilupakannya kembali muncul.
"Aurora Angela Hunt. Segera bangun dan turun ke bawah!" Teriak ayahnya dari sisi pintu depan kamarnya.
Sejenak Ara mengernyit, bertanya- tanya apa yang membuat ayahnya menjadi semarah ini hingga bersedia mendobrak pintu kamarnya hanya untuk membuatnya terjaga.
"Sebentar lagi Dad." Balas Ara berteriak mengayunkan kakinya dengan malas.
Sekilas Ara memperhatikan wajah bangun tidurnya. Rambut yang bertebaran ke segala penjuru hingga tampak seperti diterpa tsunami tak berkesudahan. Belum lagi matanya yang tampak memerah karena kurang tidur, untuk sesaat Ara menghela napasnya panjang kalau memang ayahnya ingin marah- marah dengannya, sebaiknya dia tidak menampakkan wajah yang fresh melainkan wajah sendu plus capek agar ayahnya kasian.
Sempurna, Ara mengikik dalam hati memperhatikan penampilannya tapi licik, kali ini dia menganggukkan kepalanya menyetujui pendapatnya barusan.
Ara memutuskan untuk menarik tudung piyama kuning bergambar pikachunya itu ke atas kepala dan tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu, ia beranjak turun dari kamarnya menuju ayahnya yang kemungkinan besar telah bersiap- siap untuk memuntahkan laharnya.
Sesampainya ia dibawah, serta merta keningnya berkerut bingung. Dia tidak mendapati ayahnya di segala penjuru ketika pada akhirnya memutuskan untuk memanggilnya saja.
"Dad?"
"Diluar." Balas suara dari arah pekarangan.
Tanpa menunggu lagi, Ara berjalan menuju kearah ayahnya dan berhenti ketika pandangannya terhenti mendapati ayahnya yang saat ini berdiri membelakanginya, sedang memperhatikan depan mobilnya yang rusak akibat tabrakan kemarin.
Oh crap! Aku lupa. Rutuknya baru saja menyadari kesalahannya.
"Jadi," seperti telah mengetahui keberadaan Ara dibelakangnya, dengan pelan ayahnya berpaling agar bisa menghadapi putri satu- satunya sementara kedua tangannya disilangkan didepan dada. "Apa kau bisa menjelaskan kenapa ini bisa terjadi?" Tanyanya dengan nada pelan mengancam.
Rasanya Ara ingin kabur saat ini juga. Dia menyayangi ayahnya tapi itu tidak berarti dia juga rela dimarahi seperti ini. Ini membuat kakinya terasa tidak menapak di lantai, dingin dan tidak nyaman.
"Aku menabrak." Cicit Ara tak kentara. Tidak berani menatap ayahnya.
"Lihat aku, Aurora!" Dengan pelan tapi pasti, terpaksa Ara melakukan apa yang diperintahkan padanya. "Apa yang kau tabrak?"
"Mobil." Dia menjawab lirih, kembali menatap kakinya.
"Dan?"
"Dan... dan tidak terjadi apa- apa." Ara mengangkat wajahnya, mengindahkan perasaan gugupnya ketika ayahnya justru memberinya pandangan curiga. "Maksudku mobil orang yang kutabrak tidak meminta pertanggungjawaban." Tambahnya cepat.
"Kenapa?"
"Hm, karena menurutnya...karena menurutnya tabrakannya tidak terlalu parah."
"Jadi karena mobilnya tidak terlalu parah jadi kau menolak untuk bertanggung jawab, begitu?"
"Tentu saja tidak." Ara membalas cepat, terlalu cepat hingga kembali menimbulkan kecurigaan. "Aku sudah mengatakan padanya akan bertanggung jawab tapi dia menolaknya."
"Apa dia pria?"
"Ya." Meskipun sedikit bingung dengan perubahan arah pembicaraan ini tapi tak urung juga dia menjawab. Apa hubungannya jenis kelamin dan mobilnya yang ditabrak?. Tambahnya dalam hati.
"Apa dia tampan?"
Eh? "Sepertinya begitu." Ara semakin dibuat bingung.
"Apa dia punya pacar?"
Sejenak Ara memikirkan pembicaraan dengan ayahnya ketika kesadaran menghampirinya dan mengerang. " Dad, bisakah kau menghentikan pikiran itu? Kejadiannya tidak seperti itu". Ara mulai merasa jengah dengan pertanyaan mengenai pacar yang selalu dilontarkan oleh ayahnya.
"Hanya sekedar bertanya kok" Balasnya tertawa.
"Oh tentu saja," imbuhnya seraya memutar matanya. "Tapi pertanyaan dad selalu tidak jauh dari hal itu."ujarnya tambah kesal.
"Karena kau selalu menolak jika kutanyakan mengenai pria."
"Karena tidak satu pun pria yang menurutku pas di hati." Balas Ara tidak mau kalah.
"Kalau begitu mulailah mencari dari sekarang."
Oh tentu saja!
Lagi- lagi Ara memutar kedua bola matanya.
"Bukankah kemarin kau bilang kalau kau ke rumah Carol?"
"Ya. Aku memang ke sana."
"Hujan?"
Oh, double crap!
Tanpa sadar Ara menggigit bibir bawahnya. Ara tahu kalau ayahnya tidak memperbolehkan Ara menyetir jika jalanan dalam keadaan basah dan licin dan semua ini dikarenakan Ara yang membenci hujan. Itu mengingatkannya pada sesuatu.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena Carol terlihat sangat membutuhkanku kemarin jadi aku mengambil resiko untuk menyetir. I am sorry dad."
"Oh sayang," mendadak ayahnya memeluknya. "Aku bersyukur kau baik- baik saja. Lain kali jangan melakukannya lagi."
Ara mengangguk pelan tapi ikut juga membalas pelukan hangat ayahnya. Oh, dia sangat menyayangi ayahnya.
"Ara!"
"Emma?" Ara mengernyit bingung mendapatkan kunjungan tetangganya di pagi hari.
"Hai Paman Roy," Emma menyapa ayah Ara seraya tersenyum ramah.
"Hai Em, baru mau berangkat ke sekolah?"
"Iya Paman tapi kali ini bersama dengan Ethan." Emma menjawab dengan senyum yang tercetak jelas di bibirnya.
"Oh jadi dia sudah pulang?"
"Iya dan Ethan akan berada di sini dalam beberapa minggu ke depan." Kali ini Emma tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah penuh kegembiraannya.
Ara baru saja akan mengeluarkan suara ketika tahu- tahu pria yang baru saja tiba dibelakang Emma ikut menyapa ayahnya.
"Pagi Paman Roy"
"Pagi Ethan. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Paman sendiri?"
"Baik juga, Paman".
"Masuklah dulu Ethan. Emma. Kita bisa sarapan bersama."
Ethan tersenyum dan Ara yang melihatnya seketika membelalakkan matanya merasakan jantungnya yang berdebar keras.
Apa ini?
"Tidak usah paman. Kami sudah sarapan. Aku mengantar Emma ke sini karena ingin memberikan sesuatu ke..."
Kalimat Ethan mengantung di udara ketika melihat gadis yang berdiri di samping pria paruh baya itu dan berusaha untuk tidak tertawa melihat penampilan Ara ketika ia menyadari sesuatu.
Bukankah dia gadis yang...
"Apa yang ingin kau berikan Emma?" Ara tidak begitu nyaman dipandangi secara lekat seperti yang dilakukan Ethan padanya, itu membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan.
"Oh. Aku hanya ingin mengembalikan komik yang dulu ku pinjam." Emma membalas pertanyaan Ara yang dilontarkan padanya, membuat si empunya barang tertawa dan itu semua tidak luput dari perhatian Ethan.
Entah kenapa sesuatu yang tidak pernah dilupakannya enam bulan yang lalu hingga Ethan beranggapan kalau dia tidak akan pernah lengkap lagi kembali muncul setelah melihat Ara. Ini seperti ia kepingan dari dirinya kembali utuh.
"Astaga Em!" Ara memekik disela tawanya. "Kau kan tidak perlu mengembalikannya sepagi ini." Ucapnya.
"Mumpung aku mengingatnya jadi kukembalikan saja sekalian." Balas Emma nyengir kemudian menyodorkan komik milik Ara. "Ini dan terima kasih."
Ara mengambil komik miliknya dari tangan Emma ketika pandangannya bertemu dengan mata Ethan, membuat pipinya seketika memerah.
"Jadi namamu Ara? Emma banyak cerita tentang dirimu." Ucap Ethan, menahan diri untuk tidak menyentuh pipi itu.
"Kuharap Emma tidak menceritakan hal yang tidak- tidak tentang diriku." Ara membalas, mengindahkan kegugupannya dihadapan pria yang menurutnya perpaduan antara dewa- dewa yunani itu tapi juga sedikit penuh intimidasi dan ini kali pertama Ara merasakan perasaan seperti yang dirasakannya saat ini.
Ethan tertawa sekaligus tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan yang tergambar jelas didepannya. "Oh, apakah kebiasaan memakai piyama pikachu termasuk?" Baik Emma maupun Roy Hunt serempak tertawa, baru menyadari kekonyolan Ara.
Mengesampingkan rasa malunya, Ara menyampirkan kedua tangannya di dada dan memasang wajah menantang. "Memang apa yang salah dengan pikachu? Menurutku bagus kok."
"Aku tidak mengatakan itu jelek, Aurora. Justru yang ingin ku katakan adalah kau semakin terlihat cantik dan menawan dengan pakaian yang kau gunakan."
Ara tertegun. Bukan karena pujiannya tentang piyamanya tapi karena Ethan baru saja memanggilnya dengan nama panjangnya.
"Kau memanggilku dengan Aurora?" Ara bertanya tidak yakin. Selama ini tidak sekalipun orang memanggilnya dengan nama panjangnya seperti itu. Ayahnya bahkan hanya memanggilnya dengan sebutan itu atau dengan nama lengkapnya jika ia melakukan kesalahan dan akan mendapatkan hukuman atau Professor di Universitasnya jika ia terlambat mengumpulkan tugas tapi pria didepannya, Ethan memanggilnya dengan...
"Itu yang kulakukan." Jawab Ethan masih dengan senyum di bibirnya, tidak menyadari kebingungan Ara.
"Ba-bagaimana?"
"Bagaimana apa?" Ethan mengalihkan tatapannya sejenak dari wajah Ara, berpaling melihat Roy Hunt dan Emma yang juga tampak bingung.
Ara menggelengkan kepalanya, mencoba untuk fokus. "Maksudku darimana kau tahu kalau namaku Aurora?"
"Bukankah namamu memang Aurora?" Ethan semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka.
Sekali lagi Ara menggelengkan kepalanya. "Sebelumnya kau menyebutku dengan nama Ara dan aku yakin Emma juga tidak pernah membicarakan sesuatu dibelakangku dengan mengatakan nama panjangku. Aurora."
Emma terlihat hendak protes ketika Ethan kembali menampilkan senyumnya. Ethan merasa sudah tidak sabar mengenal gadis didepannya ini lebih jauh lagi.
"Aku menyukai nama Aurora di bandingkan Ara." Ethan menjawab tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari gadis aneh sekaligus menarik dihadapannya. "Dan aku semakin ingin mengenalmu lebih banyak lagi, Aurora."
Eh?
***
Comments
Post a Comment