SHADOW - ENAM BELAS

"Apa kalian bertemu?"

Ethan mengernyit bingung sembari mengalihkan pandangannya dari perayaan Yuan Xiou atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Goh Meh kearah Nick.

"Siapa?" Ethan bertanya bingung.

"Ara."

Aurora? "Ya. Kami bertemu. Kenapa?"

Untuk sesaat Ethan memperhatikan ekspresi wajah Nick ketika kembali pria itu bersuara seraya mengendikkan bahunya.

"Tidak apa- apa. Hanya saja sepertinya aku jarang melihatnya." Nick tidak mungkin memberitahukan apa yang sudah dilihatnya di Festival Tahunan itu pada sahabatnya. Bisa saja kala itu Ara hanya kebetulan seorang kerabat dekat lalu bercakap- cakap. Mana ada orang yang bercakap- cakap dengan mencium kening wanita? Batin Nick ikut menyuarakannya.

"Kau tampak seperti orang bingung." Ucap Ethan seraya kembali menatap ke depan.

Ya. Dan ini semua karena apa yang kulihat kemarin. Nick merutuk dalam hati. Dia tidak suka mencampuri urusan orang lain tapi dia juga tidak bisa mengenyahkan pikiran- pikiran yang berkeliaran dalam kepalanya.

"Kau mau mendengar saranku?"

Ethan menoleh kemudian mengangkat sebelah alisnya keatas.

"Sebaiknya kau lebih sering menghabiskan waktu dengan Ara."

Ethan baru saja akan menanyakan maksud dari ucapan Nick ketika seorang wanita menyelanya.

"Ethan?"

"Sandra?"

"Oh astaga! Aku tidak menyangka akan melihatmu disini. Apa kau juga akan mengawal?"

Sandra juga adalah salah satu Agen top di kesatuan. Tidak ada yang meragukan kemampuan bertarungnya. Ia, Ethan dan Ian pernah menjadi satu tim dalam mengawal presiden di Paris tahun lalu dan satu- satunya wanita yang dengan terang- terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ethan.

"Tidak," Ethan menggeleng. "Kami hanya melakukan protokol biasa. Hanya sekedar mengamati." Jawab Ethan.

"Kami? Oh, jangan bilang kalau Ian juga berada disini." Sandra memalingkan wajahnya seakan berharap Ian mendadak muncul dari dalam tanah.

Ethan tertawa. "Dia sebentar lagi tiba. Oh iya Sandra, perkenalkan ini rekanku di London. Nick."

"Nick? Oh Tuhan! Aku selalu mendengar tentangmu." Seru Sandra antusias, membuat alis Nick terangkat.

"Kuharap bukan sesuatu yang buruk." Komentar Nick yang dibalas oleh kekehan Ethan di sebelahnya tapi tidak dengan Sandra, wanita itu seperti baru saja melihat ada bintang jatuh di siang hari ini.

"Apakah orang tampan bisa melakukan apa saja?" Mendadak Sandra bertanya kesal.

"Eh?" Ethan yang pertama kali lalu melirik Nick yang juga memperlihatkan wajah bingung.

"Kalian berdua pasti sering melakukan misi diam- diam yang melibatkan wanita cantik dan seksi." Keluh Sandra dan hal itulah yang seketika membuat Ethan tertawa.

"Ana akan membunuh Nick jika tahu Nick bermain dibelakangnya." Ujar Ethan

"Ana?"

"Ya. Ana adalah istri yang telah memberikan Nick tiga anak. Aku ragu setelah apa yang dilakukan oleh wanita itu, dia akan membiarkan Nick bebas meskipun itu urusan pekerjaan."

"Oh!" Mendadak kedua pipi Sandra memerah. "Dia beruntung sekali."

"Maksudmu Nick?"

"Tidak. Ana. Maksudku Ana. Dia beruntung sekali mendapatkan pria setampan dirimu, Nick."

"Menurutku, aku yang beruntung karena mendapatkan dirinya dan menjadikan dia sebagai milikku." Ujar Nick kemudian.

"Oh, manis sekali. Aku harap aku bisa mendapatkan pria seperti dirimu." Kata Sandra seraya melirik Ethan dibalik bulu matanya yang lentik.

"Kau pasti akan mendapatkannya jika berusaha dengan gigih." Nick mengangguk seraya ikut juga melirik Ethan yang saat ini memberinya tatapan tajam.

"Tunggu, apa kalian berada di tim yang sama. Kau," Sandra menunjuk Ethan pertama. "Nick dan juga Ian?"

Ethan mengangguk. "Ya."

"Dan tidak ada masalah dengan itu?"

"Kurasa begitu. Hans secara langsung menugaskan kami dalam tugas ini."

"Oh Tuhan! Aku sungguh berharap ditempatkan di London. Pasti sangat menyenangkan jika melihat kalian bertiga setiap hari. Di tempatku semuanya sudah tidak bisa diandalkan alias semuanya sudah menikah."

"Aku juga sudah menikah." Sahut Nick.

"Tapi kemungkinan besar masih banyak yang belum menikah di tempatmu. Ethan dan Ian juga masih tergolong avalaible."

Nick mencoba untuk tidak tertawa terbahak- bahak mendengar penuturan Sandra barusan dan berdehem setelah mendapatkan tatapan yang seperti laser kearahnya.

"Aku pikir tidak akan seburuk itu." Ujar Nick kalem.

"Lupakan soal itu. Sebenarnya aku kemari karena ditugaskan untuk mengamati keseluruhan tempat ini. Apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Sandra pada kedua pria itu.

"Selain anak- anak yang menangis ketakutan karena naga itu, sepertinya tidak ada yang mencurigakan." Jawab Ethan.

"Oh. Baguslah kalau begitu."

"Memang ada apa?" Kali ini Nick yang bertanya.

"Tidak." Sandra menggelengkan kepalanya. "Akan menjadi masalah besar jika pengawal yang ditugaskan tidak menetralisir lingkungan sekitarnya. Tempat ini begitu ramai dan bisa saja ada lawan politik yang mengambil kesempatan dalam situasi ini."

"Oh. Aku pikir tidak ada masalah dengan itu." Ucap Ethan

"Aku tahu. Hanya saja sekedar berjaga- jaga."

"Aku mengerti."

"Aku akan menghubungi Ian tempat kita akan berkumpul." Nick berkata seraya merogoh ponsel dari kantongnya.

Sementara itu di tempat yang sama. Ara dan Alex sedang menikmati pertunjungan barongsai diantara kerumunan orang. Mereka bertingkah selayaknya seperti turis untuk misi mereka. Kali ini targetnya adalah seorang pria China yang dikenal dengan sebutan Mr. Chan. Mr. Chan saat ini sedang mencalonkan diri dalam sebuah pemilihan umum dan salah satu lawannya menginginkan agar Mr. Chan di eksekusi karena dikabarkan Mr. Chan ini adalah orang yang paling keras melawan kebijakan dari lawan politik lain.

Ara memilih mengenakan kaos lengan panjang berwarna merah yang dipadu padankan dengan hotpants yang memamerkan kakinya yang jenjang. Dia memilih mengenakan sneakers agar lebih membuatnya trendi dan topi, untuk sementara maskernya ia tempatkan di sekitar lehernya agar tidak memberikan kecurigaan pada orang- orang di sekelilingnya. Alex berdiri disampingnya, sementara sebelah tangannya sengaja ditempatkan di sekeliling pinggang Ara. Mereka akan berpura- pura seperti selayaknya pasangan kekasih yang sedang menikmati liburan.

Mereka memilih untuk melakukan cara tradisional dibandingkan menggunakan pistol maupun pisau. Darah mungkin akan keluar setelah mereka melangkahkan kakinya meninggalkan tempat kejadian, setidaknya hal itu yang bisa mereka rencanakan.

"Sudah saatnya, S." Bisik Alex disampingnya.

Sekilas kesenangan karena pertunjukkan barongsai itu sirna, berganti wajah dingin. Mereka harus melakukan misi yang ditugaskan. Seraya menganggukkan kepalanya, Ara memakai maskernya untuk menutupi wajah ketika kedua pipinya mendadak di tangkup oleh Alex.

"Semua akan berakhir dengan cepat. Aku janji."

Kembali Ara menganggukkan kepalanya. Membunuh bukan lagi menjadi kesenangannya dan melakukan sesuatu disaat hatinya tidak menginginkan adalah neraka tersendiri buatnya.

"Ya. Semua akan berakhir dengan cepat dan bersih." Ucap Ara mengulangi kalimat Alex tadi.

Mereka memilih melakukannya ketika penjagaan di sekitar targetnya melemah, dalam artian tidak seketat pagi tadi. Ini adalah jam istirahat dan makan siang. Beberapa pengawal akan berpencar untuk berganti tempat.

"Oh maaf." Ara mengucapkan permintaan maafnya dalam bahasa mandarin yang sangat fasih setelah sebelumnya berpura- pura tidak sengaja menumpahkan minumannya ke baju orang itu.

"Tidak apa- apa." Orang itu yang tidak lain adalah Mr. Chan memberinya senyum lembut penuh kesabaran sementara sebelah tangannya berusaha menghilangkan noda jus pada bajunya.

Ara terdiam, tak bergeming di tempatnya. Seketika pembawaan ayahnya yang lemah lembut seperti berada pada diri Mr. Chan. Mr. Chan tidak memperlihatkan wajah kesal ataupun marah ketika jusnya meninggalkan noda yang cukup besar pada bajunya.

"Maafkan pacar saya, Tuan. Dia memang sering bersikap ceroboh." Sama halnya dengan Ara, Alex juga mampu berbahasa mandarin dengan fasih. Organisasi sangat menekankan bahasa dalam pembelajarannya selain membunuh. Hal itu diyakini jikalau organisasi mengutus utusannya, maka itu akan memudahkannya untuk berbaur dengan penduduk setempat sehingga memungkinkan kecurigaan berasal dari dalam dan bukan berasal dari luar.

"Oh maafkan saya, tuan. Saya akan menggantinya." Ucap Ara setelah Alex mengenggam tangannya, mengingatkan tentang tujuan mereka.

Tanpa diduga, Mr. Chan tertawa, membuat Ara maupun Alex kebingungan.

"Maaf, apa saya..."

"Oh maaf anak muda hanya saja kau begitu polos dan lucu. Tidak apa- apa. Dibandingkan dengan mengkhawatirkan diriku, ada baiknya kalau kau mengkhawatirkan dirimu sendiri." Ucap Mr. Chan disela tawanya.

Ara menunduk memperhatikan penampilannya dan terdiam. Jus yang secara acak di belinya dari konter minuman dan berwarna merah itu juga mengenai bajunya. Alih- alih tumpahannya yang tidak terlalu mencolok, jus itu justru seperti memberinya kesan kalau ada darah di bagian dadanya. Seperti luka yang merembes keluar.

"Oh!" Ara terkesiap seraya menolehkan kepalanya kearah Alex yang juga sedang menatap wajahnya dan juga bagian yang terkena noda itu.

"Sepertinya kalian tidak mengetahui jus itu." Komentar Mr. Chan lagi.

Ara mengangguk.

"Itu adalah..." kalimat Mr. Chan terhenti seiring dengan munculnya gadis kecil dan langsung memegang sebelah tangan Mr. Chan. "Oh, dia Lin. Dia putriku yang paling kecil." Ucapnya memperkenalkan.

Ara memperhatikan putri Mr. Chan yang ia perkirakan berusia lima tahun itu dan membeku ketika gadis kecil itu menyunggingkan senyum kearahnya.

"Cantik." Ucap Lin, pandangannya tertuju pada Ara.

Hati Ara berdesir melihat senyum polos itu ketika disaat yang bersamaan ia mendengar suara ponsel Alex yang berdering. Hanya satu arah dalam pembicaraan itu sementara Alex hanya diam dan kemudian ekspresinya berubah menjadi keras.

Ara sudah tahu kalau itu adalah perintah langsung dan tidak ada cara lain selain melakukan misinya ketika suara Alex mencegahnya.

"Misi salah." Alex terpaksa harus mengeluarkan bahasa lain yakni spanyol agar tidak diketahui. "Target bukan dia." Ara masih belum mengerti apa yang terjadi ketika melihat pandangan Alex pada Lin dan saat itulah pemahaman melintas dalam benaknya.

"Omong kosong!" Tanpa sadar Ara sudah berada dihadapan Mr. Chan dan Lin yang kebingungan.

Ara menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Mr. Chan dan Lin dari Alex yang bisa saja sudah siap melakukan perintah ketika matanya menangkap pergerakan lain ketika kemudian menyadari benda panjang dan dingin telah berada di samping kepalanya dan juga Alex.

Pistol.

Shit!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS