SHADOW - ENAM
Moscow, Rusia...
"Selamatkan pak menteri lebih dahulu." Seru seseorang berusaha mengalahkan suara hiruk pikuk orang- orang yang panik disekitarnya.
"Dimana ambulansnya?" Seru suara yang lain, tidak kalah kerasnya.
"Kami sudah membawa keluarga pak menteri ke tempat yang aman, kapten." Lapor yang lainnya.
"Bagus. Apa kau sudah menemukan tempatnya?"
Tidak ada jawaban.
"Sial! Bagaimana bisa?" Ucap suara yang dipanggil kapten itu, marah. Disusul tidak lama kemudian suara sirene ambulans mulai berdatangan.
"Cih, terlalu berlebihan." Pria dengan jaket kulit serta memiliki tato bergambar kalajengking di belakang lengannya itu langsung melemparkan earphone dari telinganya ke tanah dan menghancurkannya. "Tidak ada lagi gunanya kita mendengarkan pembicaraan mereka." Kembali suara itu berkata seraya melihat rekannya- kaos hitam lengan panjang dan topi serta yang menutupi wajahnya itu menyimpan kembali senjata yang digunakan untuk menembak targetnya ke tempatnya.
Tidak ada balasan, membuatnya kembali melanjutkan.
"Tapi kau hebat sekali bisa mengenainya dalam jarak sejauh ini dan tak terlihat." Ucap pria kalajengking itu dengan senyum bangga di bibirnya. "Polisi dan para agen bodoh itu pasti sedang berusaha mencari keberadaan kita."
Tidak ada sahutan lagi, membuat si pria kalajengking itu kesal karena merasa tidak diperdulikan.
"Alex!"
Tanpa disangka sebuah pisau hampir saja mengiris tenggorokan si pria kalajengking itu karena tidak melihat pergerakan dari orang yang dipanggilnya.
"Tidakkah ada yang memberitahumu jika sedang beroperasi, nama tidak boleh disebutkan?" Sebut orang yang dipanggil Alex barusan, dingin sementara sebelah tangannya menekan pisau yang digunakannya ke leher pria kalajengking.
"Ma-maafkan aku, As. Aku ti- tidak sengaja." Ucap pria kalejengking itu terbata- bata. Dia sudah mendengar bagaimana pria dibelakangnya saat ini tidak peduli dengan apa yang dilakukannya. Jika ia menganggap rekannya itu menyusahkan maka, dia tidak akan segan- segan membunuhnya dan dalam organisasi mengijinkan hal itu.
"Bagus," balasnya sambil menurunkan pisaunya dari leher pria kalajengking, tidak memperdulikan ringgisan yang keluar dari bibir pria kalajengking itu. "Ayo kita pergi sebelum mereka menemukan kita, Scorps."
Scorps atau pria kalajengking itu memegang lehernya dan menemukan darah. "Sial! Benar apa yang dikatakan oleh orang- orang. Dia bahkan tidak berkedip ketika menaruh pisau itu dan untung saja aku masih bisa selamat." Scorps bersyukur dalam hati karena tidak menjadi korban kedua dalam jangka waktu lima belas menit ini.
.
.
London.
"Jadi apa kau mau pacaran dengan kakakku?"
Entah sudah berapa kali Emma mengulang kalimat yang sama pada Ara dan seperti biasa gadis itu sedikitpun tidak memperlihatkan tanda- tanda akan menyerah meskipun Ara sudah mengatakan jawabannya.
"Kenapa kau selalu ingin supaya aku berpacaran dengan Ethan?" Ara bertanya seraya berjalan mendekati Emma yang saat ini duduk diatas tempat tidurnya.
Satu jam yang lalu, entah bagaimana Emma secara mendadak muncul di depan pintu rumahnya hanya dengan mengenakan piyama berwarna pink beserta boneka piglet dalam pelukannya dan memberitahukan kalau Ethan mendadak harus pergi bekerja, meninggalkan dirinya yang seorang diri. Emma bisa saja tinggal di rumahnya, toh dia bisa memutar kaset film semalaman tapi kemudian ingat kalau dia pernah berjanji pada Ethan untuk mencari tahu perasaan Ara pada kakaknya.
"Tentu saja karena aku menyukaimu dan aku yakin kalau kau juga menyukainya." Kilah Emma yang langsung membuat Ara tertawa. "Aku serius. Kenapa kau tertawa?" Delik Emma marah.
Masih setengah tertawa, Ara berdalih. "Baiklah. Aku minta maaf tapi aku dan Ethan baru saja bertemu. Bagaimana mungkin kau bisa mengambil kesimpulan secepat itu?"
"Itu karena aku yakin saja." Emma menyunggingkan senyum penuh arti dan misterius miliknya, membuat Ara mengernyit curiga.
"Apa Ethan tidak punya pacar sehingga kau berusaha menjodohkannya dengan orang lain?"
"Tidak. Ethan tidak punya pacar dan oh kau akan terkejut jika mengetahuinya," balas Emma dengan senyum yang semakin lebar. "Lagipula tidak ada salahnya kau mengenal Ethan lebih dulu. Toh, aku tidak menyuruh kalian langsung menikah dan memberikanku keponakan meskipun aku tidak masalah dengan itu." Lanjutnya yang serta merta mendapatkan jitakan keras dari Ara.
"Berhenti memikirkan hal- hal yang tidak masuk akal. Tidurlah." Tegurnya disusul dengan ia yang menarik selimut agar bisa menutupi tubuh Emma, tidak memperdulikan decak kesal dari gadis itu.
"Ara?"
"Hm?" Ara membalas dengan mata yang sudah terpejam disamping Emma.
"Apa kau mau menjadi pacar Ethan?"
"Sudahlah Em. Tidurlah." Ujar Ara semakin merapatkan selimutnya.
"Aku serius," kata Emma lirih. "Aku menyukaimu dan aku ingin kau menjadi teman kencan Ethan kalau perlu aku ingin kau mendampingi Ethan seumur hidupnya."
Ara mendesah lalu membuka matanya agar bisa melihat Emma. "Aku bukan orang yang tepat, Em."
"Cobalah dulu Ara. Kumohon. Kalau memang kalian tidak cocok, aku tidak akan memaksamu lagi tapi please, jadilah pacar Ethan."
Ara tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia menghembuskan napasnya pelan kemudian berkata pelan. "Kenapa aku merasa kau lebih mengarah kepemaksaan di bandingkan memintaku?" Emma terkikik. "Dan lebih konyolnya lagi, aku mau saja menuruti permintaan anak umur 13... Oh hampir menginjak 14 tahun ini." Ucap Ara seraya mengacak rambut Emma gemas semakin membuat Emma tertawa.
"Apa itu artinya kau setuju untuk menjadi pacar Ethan?"
"Ini memalukan tapi akan kulihat nanti."
"Oh terima kasih. Terima kasih, Ara. Aku senang sekali." Emma langsung memeluk Ara didepannya yang dibalas hal yang sama oleh Ara.
"Tapi ingat, setelah ini kau dilarang untuk ikut campur lagi dalam masalah ini. Biarkan aku dan Ethan yang menyelsaikan ini, okey?" Pesan Ara bernada tajam.
"Yes mam."
Ara tertawa melihat kekonyolan gadis didepannya. "Kalau begitu tidurlah."
Emma sudah tertidur lima menit yang lalu dan Ara yang tadinya ingin tidur justru berbalik menjadi sulit untuk memejamkan matanya. Pikirannya berkelana ke pembicaraan antara dirinya dan Emma.
Sejujurnya jauh di dasar hatinya yang paling dalam, Ara juga merasakan ketertarikan yang begitu besar pada sosok pria seperti Ethan. Tinggi, memiliki wajah yang tampan, baik dan juga sangat peduli. Terbukti Ara sering mendapati Emma yang sedang berbicara dengan Ethan dan kebanyakan dari yang Ara dengar adalah soal makanan dan Ara menyakini kalau sudah banyak wanita yang singgah dalam kehidupan seorang Ethan Blackstones.
Harus Ara akui, sejak insiden piyama pikachu itu terjadi. Ethan sering datang ke rumahnya agar sekedar mengobrol dengan dirinya atau ayahnya. Dan benar apa kata ayahnya dulu, Ethan sangat sopan jika menyangkut ingin mengajaknya jalan. Ethan akan terlebih dahulu akan meminta izin dari ayahnya untuk bisa mengajaknya keluar dan juga tidak memaksakan kehendaknya jika mereka hanya berdua- meskipun Ara yakin dia tidak akan ingat apa yang telah terjadi padanya, mengingat tatapan mata Ethan saja padanya bisa membuat tubuhnya seperti marshmallow dan kakinya bisa saja berubah menjadi Jelly.
Ara seperti baru saja berhasil memejamkan matanya ketika pukul enam pagi, ia mendengar suara deringan dari ponselnya dan menerimanya tanpa melihat nama si penelpon.
"Halo." Ara menjawab malas disertai suara serak khas bangun tidurnya.
Untuk sesaat Ara mengira kalau itu adalah telpon iseng karena tidak adanya suara ketika baru akan mematikan telponnya suara itu muncul.
"Ini pertama kalinya aku mendengar suara bangun tidurmu. Terdengar seksi di telingaku".
Ara terlonjak bangun dari tidurnya ketika menyadari suara itu.
"E-Ethan?"
Suara diseberang seketika tertawa. "pagi Sugar." Ethan menyapa membuat Ara tanpa sadar meronah. "Apa kalian bersenang- senang semalam?"
Eh?
"Darimana kau..." Ara tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk pertanyaannya ketika Ethan kembali berkata.
"Semalam Emma mengirimkan pesan. Kau seharusnya tidak tidur selarut itu, sayang. Oh aku baru ingat kalau Emma menuliskan sesuatu di pesannya."
"Apa?" Ara bertanya ragu.
"Kau menyukaiku dan mau menjadi pacarku, benar begitu?"
Apa?!
Ara benar-benar syok dengan ucapan yang baru saja didengarnya kemudian melirik Emma yang masih tertidur nyenyak.
"Hm, Ethan." Ucap Ara setelah menghembuskan napasnya pelan.
"Ya sayang?"
Demi Tuhan!
"Akan kututup." Ara langsung memutuskan panggilan tanpa mendengar jawaban. Kembali melirik Emma dan menendangnya dengan sekuat tenaga hingga gadis itu terjatuh ke lantai dengan suara keras.
"What the... " kalimat Emma terhenti ketika melihat ekspresi yang diperlihatkan Ara padanya. "Apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Apa yang kau tuliskan di pesanmu pada Ethan?" Ara bertanya setengah berteriak. Sangat jengkel.
Sejenak Emma tampak sedang memikirkan sesuatu ketika sebuah senyuman lebar muncul dj bibirnya.
"Oh itu, aku hanya menuliskan kalau kau mau menjadi pacarnya."
Jawaban Emma yang santai seketika membuat kepala Ara seperti baru saja terkena nuklir dan baru saja berniat ingin menjadikan Emma sebagai makanan ikannya ketika disaat yang bersamaan muncul Roy Hunt yang mengetuk pintu kamar Ara, khawatir dengan suara berdebam jatuh yang tadi didengarnya. Seperti mengetahui kalau Ara sudah mencapai batas maksimal mendidih, cepat- cepat Emma menjadikan kedatangan Roy Hunt sebagai kartu untuk segera meloloskan diri.
***
Comments
Post a Comment