SHADOW - LIMA BELAS

"Apa yang terjadi?" Entah bagaimana Alex berhasil mendesaknya ke titik dimana Ara ingin sekali melemparkan piring yang berada di tangannya langsung ke kepala pria itu.

"Bisakah kau menjelaskan secara spesifik apa maksud dari pertanyaanmu itu?" Ara membalas jengkel. "Sejak tadi yang kau katakan hanya itu- itu saja membuatku ingin melemparkan sesuatu." Lanjutnya.

Alex menelengkan kepalanya sejenak, tidak memperdulikan amarah yang begitu jelas gadis dihadapannya saat ini.

"Kenapa kau bisa terluka?" Oh! Tanpa sadar Ara menahan napasnya. Dia lupa kalau Alex sama sekali tidak mengetahui insiden itu. "Apa diam- diam kau menjalankan misi yang lain dan tak memberitahuku?" Tanyanya penuh selidik.

"Tentu saja tidak." Serunya tersinggung. Dia tidak mungkin melakukan hal itu sendirian. Alex bisa dikatakan sebagai rekan yang bisa diandalkan. Mereka berdua adalah pembidik top jika bertugas.

"Jadi apa yang kau lakukan hingga mendapatkan luka di lengan? Dan kenapa aku tidak bisa menghubungimu beberapa hari ini?" Desaknya dan Ara harus mengerang jengkel atas sikap kelewat protective yang dimiliki Alex padanya. Sejak dulu pria itu selalu bersikap seperti orang yang harus menjaganya dan itu membuatnya tidak suka. Mereka berdua adalah pembunuh dan setiap saat bisa kehilangan nyawa. Akan sulit bagi Ara jika Alex terus saja melindunginya.

"Aku tidak apa- apa."

"Aku tidak melihatnya seperti itu."

Untuk sesaat gadis itu mengarahkan pandangannya pada Alex. Memberinya tatapan jengkel sementara sebelah tangannya berada di pinggang seperti menantang.

"Haruskah kita membicarakan hal ini disini? Di tempat seharusnya kita bersenang- senang dan menikmati semuanya? Serius?"

Alex mencoba meredakan emosinya dengan hanya terdiam seraya melihat Ara.

"Kau membuat kita menjadi bahan tontonan, A." Ara terpaksa harus menyebut code namenya saat ini untuk menarik perhatian Alex. Jika itu orang lain, sudah pasti dia tidak akan selamat jika Alex dipanggil dengan code namenya mengingat Alex tidak pernah segan- segan menghancurkan kepala orang dengan kedua tangannya. "Mereka berpikir kita sepasang kekasih yang sedang bertengkar." Ujarnya merasa tidak nyaman.

Seperti tombol yang dinyalakan, Alex memalingkan wajahnya dan benar saja, meskipun orang- orang tampak memenuhi jalan tapi tak urung dari tatapan mereka, memberi Alex senyum prihatin dan juga geli padanya.

"Kau malu?" Tanyanya setelah ia meredakan emosinya dan menghembuskan napas panjang.

"Kau yang mengenalku lebih baik, A. Apa aku malu?" Balas Ara jengkel.

Sekali lagi Alex menghembuskan napasnya. Mungkin saja sikapnya sudah kelewatan. Dibandingkan dengan rasa malu, ia tahu kalau Ara hanya tidak suka mendapatkan tatapan dari orang- orang. Dia hanya tidak mau jika dari sekian banyak orang yang berada di Festival Tahunan London ini ada yang dikenalnya sehingga kelak mengharuskannya untuk membunuh salah satunya. Ya. Pemikiran aneh yang tidak bisa ditangkap oleh Alex tentang Ara.

"Maaf." Ucapnya meminta maaf sembari menarik gadia itu di dekatnya dan mencium keningnya lembut. "Maafkan aku."

Seperti tidak ada yang terjadi, Ara menyunggingkan senyumnya. "Permintaan maaf di terima! Ayo kita mencari permainan yang seru disekitar sini."

"Mom, bukankah itu Ara?" Chloe yang pertama kali menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya sementara matanya tidak lepas memperhatikan sosok yang sedang tertawa itu tidak jauh darinya. "Ara bersama siapa? Dan kenapa orang itu mencium Ara? Apa paman Ethan tidak akan marah?"

Pertanyaan Chloe sentak membuat baik Nick maupun Ana saling berpandangan. Tentu saja mereka melihat seluruh adegan yang terjadi di depan matanya tadi. Bagaimana Ara terlihat kesal pada sesuatu hingga kemudian ditutup dengan ciuman manis dari pria itu. Mereka tampak sangat mesra, seperti layaknya sepasang kekasih ketika melakukannya.

"Jangan memberitahukan hal ini pada Ethan dulu. Mereka pasti akan bertengkar jika Ethan tahu Ara memiliki hubungan lain."

Nick menganggukkan kepalanya atas perkataan istrinya. Tentu saja dia tidak akan mengatakan apa yang baru saja dilihatnya pada sahabatnya itu. Nick tahu apa yang dirasakan Ethan pada gadis itu dan tidak tega menghancurkannya.

"Kau benar," Nick menimpali. "Ethan juga tidak akan langsung mempercayai jika kita memberitahukannya."

.
.

"Kau punya kafe sendiri?" Kedua bola mata Ara seperti ingin keluar dari rongganya dan dia memandang Alex takjub.

"Tidak juga dan kau melebih- lebihkan, Aurora. Aku hanya membantu seseorang yang kebetulan memberikan sedikit sahamnya padaku." Alex menjawab kalem.

"Tapi tetap saja wow. Kau selalu bermimpi memiliki kafe sendiri dan ini benar- benar hebat." Serunya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe saat seorang pria juga datang menghampirinya.

"Aurora, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." Kedua mata Ara seketika mengernyit. "Perkenalkan ini Kenny," seraya menunjuk Kenny disampingnya. "Dan Kenny, dia adalah Aurora."

"Ara. Panggil saja Ara." Kata Ara setelah sebelumnya memberikan pelototan pada Alex yang dibalas oleh pria itu dengan kekehan pelan.

"Dia selalu ingin dipanggil Ara." Alex menjelaskan.

"Aurora terlalu panjang menurutku." Balas Ara tidak mau kalah.

"Tapi tetap saja itu namamu."

"Aku masih ingat namaku, terima kasih telah memberitahukan." Ara berkata sinis, lagi- lagi membuat Alex tertawa diikuti. Sementara Kenny hanya mengamati pembicaraan keduanya. Sangat jarang melihat Alex tertawa sebebas ini.

"Apa kau lapar?"

"Tentu saja dan karena aku tahu ini adalah kafe milikmu maka aku akan makan lebih banyak dari yang biasanya."

Lagi- lagi Alex tertawa seraya mengacak- acak rambut Ara gemas.

"Aku akan segera kembali."

"Nikmati waktumu, Lex. Aku masih lama disini." Ujarnya bercanda. Kenny hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat interaksi keduanya. Dia senang setidaknya Alex masih normal terhadap lawan jenis.

"Aku yang akan menyiapkan makanan untuk Ara. Kau siapkan saja minumannya." Ucap Kenny.

"Oh tidak usah repot- repot, Kenny." Ara merasa sangat malu dengan sikapnya tadi.

"Tidak masalah, Ara. Aku pasti akan tersanjung jika malaikat seperti dirimu bersedia mencicipi makanan buatanku. Bisa saja aku akan langsung ke surga." Ujar Kenny membuat kening Ara seketika bertaut, membuat Alex kembali mengacak- acak rambutnya.

"Jangan khawatir. Pasta buatan Kenny terkenal disini." Ungkap Alex

"Kalau begitu aku tidak akan segan- segan." Kata Ara dan Kenny merasa dia mulai menyukai pembawaan Ara.

"Duduklah dulu. Aku akan segera kembali." Dan Alex berlalu meninggalkan Ara sebelum gadis itu menyelanya lagi.

Sementara Alex menyiapkan minuman Ara, Kenny datang menghampiri.

"Kau terlihat jauh lebih senang hari ini."

Alex mengangguk. "Ya."

"Karena Ara."

Lagi- lagi Alex mengangguk. "Ya. Dia gadis yang sangat istimewa untukku."

"Aku bisa melihat itu. Kau jauh lebih terlihat hidup jika bersamanya."

Alex tersenyum menimpali. Ara memang sangat istimewa untuknya. Terlalu istimewa dan Alex tidak akan membiarkan apapun terjadi pada gadis itu termasuk organisasi. Dan jika organisasi ingin ikut campur maka Alex tidak akan segan- segan menghancurkannya.

Alex baru saja akan mengambil tempat duduk dihadapan Ara ketika menyadari raut wajah yang diperlihatkan oleh gadis itu. Tidak perlu menanyakan apa yang menyebabkannya karena Ara langsung mengatakannya saat itu juga.

"Selanjutnya Republik China."

Di lain tempat. Ethan dan Ian sedang mendiskusikan mengenai organisasi tak terdeteksi itu ketika ketua tim mereka datang.

"Mana Nick?" Tanya Hans, ketua mereka.

"Bukankah dia cuti hingga besok siang?" Ian balik bertanya seraya memandang heran ketua timnya.

"Oh benar juga."

"Ada apa?" Kali ini Ethan yang bertanya.

"Kalian akan mengawal seseorang di China."

"Nick juga ikut?"

"Ya. Dan Agen Lau akan membawa kalian ke tempat pertemuan."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS