SHADOW - LIMA
"Katakan." Emma menatap lekat Ethan disampingnya setibanya ia di sekolah tempat Emma belajar.
"Apa yang harus kukatakan?" Ethan balik bertanya, bingung.
Ini adalah kali pertama Ethan mengantar dan berada di sekolah adiknya itu. Sebelumnya Emma selalu menggunakan transportasi umum atau diantar oleh kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal karena kecelakaan lagipula pekerjaannya sebagai secret agent juga tidak memungkinkan dirinya untuk bercakap- cakap lebih lama dengan adik semata wayangnya itu.
Ethan juga tidak memungkiri kalau Emma selalu melakukan perpindahan sekolah. Selama berada di Prancis saja, Emma sudah tiga kali melakukannya, entah apa yang menyebabkan Mr dan Mrs. Blackstones, orang tua mereka melakukan itu tapi satu hal yang dipercayai Ethan adalah adiknya itu tidak mungkin melakukan sesuatu yang aneh. Ethan percaya mungkin saja adiknya itu mengalami penindasan atau bisa saja adiknya tidak menyukai sekolah barunya itu sehingga membuatnya tidak betah.
Ketika orang tua mereka meninggal, waktu itu Ethan sedang menjalani tugas di kesatuannya yaitu mengawal seorang menteri di New Zealand dan baru mengetahuinya beberapa jam setelahnya. Menurut saksi yang melihat kejadian itu- mobil yang ditumpangi oleh Mr dan Mrs. Blackstones sempat oleng dan akhirnya menabrak pohon. Emma yang juga berada didalam mobil hanya mengalami luka sehingga bisa diselamatkan beberapa jam kemudian tapi tidak dengan kedua orang tuanya, mereka berdua meninggal di tempat dengan luka disekujur tubuh.
Sebulan setelah kejadian, Ethan memutuskan untuk membawa Emma bersamanya di London hingga bertemu dengan Nick dan Ian. Seringnya mereka bertemu dan menyelesaikan kasus bersama ditambah lagi masing- masing wajah mereka yang tidak bisa dikatakan sebagai lumayan membuat mereka selalu dilibatkan dalam penyelidikan diam- diam, belum lagi dengan wanita- wanita yang bekerja bersamanya tapi berbeda dengan Nick, para wanita- wanita itu jarang yang mau memperlihatkan ketertarikannya secara terang- terangan mengingat Nick sudah memiliki istri dan mereka juga tahu kalau Ana sangat mahir berkelahi dan terkenal ketika kuliah dulu. Dari Ana pulalah sehingga Ethan bisa mendapatkan sekolah yang bagus untuk Emma.
St. Raymond tidak bisa dianggap enteng. Memiliki akses perlindungan yang sangat tinggi dengan kamera CCTV yang melingkupi seluruh sekolah bahkan ketika masuk ke gerbang utama pun harus menunjukkan identitas dan dicocokkan dengan identitas di seluruh negara. Semuanya terhubung langsung pada satelit. St. Raymond ini terdiri dari seluruh tingkatan. Elementary, Junior hingga Senior High School. Khusus untuk bagian perkuliahan berada di negara lain yaitu Itali. Chloe dan Charlie- anak Ana dan Nick juga berada di sekolah ini dan kadang jika sempat Emma akan datang sekaligus menjemput mereka berdua dimana tingkatan Elementary berada dibagian timur bangunan.
"Katakan kalau kau tidak sedang menggoda Ara pagi tadi," cecarnya. "Dan apa- apaan aku lebih senang mengatakan Aurora dibandingkan Ara? Apa kau sedang mengikuti drama atau semacamnya?"
Serta merta Ethan tertawa. "Aku tidak menggodanya. Apa. Aku tampak seperti menggodanya?" Ethan balas bertanya seraya memperlihatkan senyumnya yang bahkan bisa membuat para wanita pingsan.
Kedua bola mata Emma memutar, jengah. "Ara tidak seperti gadis- gadis yang biasa kau kencani, Ethan." Tukasnya seraya memukul lengan Ethan keras- keras mengindahkan teriakan Ethan yang sebenarnya agak berlebihan.
"Hati- hati young lady, kau bisa dipidanakan karena memukul agent pemerintah." Jelas Ethan yang kembali membuat Emma memutar mata. "Lagipula kapan kau melihatku berkencan?" Tanyanya heran.
"Bulan lalu," jawab Emma langsung."Aku melihatmu berciuman di pinggir jalan di depan sebuah kafe yang menurutku aneh tapi dibandingkan itu semua, menurutku kaulah yang lebih. Apa kau tidak bisa mencari tempat yang lebih layak? Berciuman di tempat yang bahkan penerangan pun masih seadanya. Kau ingin membunuhnya setelah menciumnya atau apa?" Cecar Emma tidak tanggung- tanggung.
Sejenak Ethan mengernyitkan dahinya. Kafe? Pinggir jalan? Satu- satunya tempat dipinggir jalan dimana dia bersama wanita yang juga rekannya di tim adalah ketika ia mengintai kompotan mafia pemasok narkoba. Kala itu mereka hampir saja ketahuan sehingga tidak ada cara lain selain melakukan seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Ian memang ikut bersamanya tapi dengan sigap Ian beralih menjadi turis dadakan dengan kamera yang tergantung di lehernya dan tidak mengenal bahasa apapun selain bahasa prancis yang tidak terlalu fasih karena terlalu lama menetap di daerah pedesaan yang sangat terpencil yang juga di Prancis.
"Apa yang kau lakukan disana?" Kali ini Ethan bertanya tajam, takut jika salah satu dari mereka melihat Emma dan membuatnya menjadi saksi atau apalah itu. Bukan tidak mungkin jika salah satu dari mereka mencari saksi yang tidak akan memberatkan hukuman bos narkoba itu.
"Aku sedang mencari sebuah buku bersama Ara."
Aurora? Buku apa yang sedang dicarinya hingga harus berjalan jauh dari keramaian seperti itu?
"Lain kali jangan bepergian di tempat yang sama sekali tidak ramai apalagi hanya kalian berdua. Kau harus menghubungiku atau Nick atau Ian atau siapapun asal bukan teman wanita. Setidaknya orang itu bisa berkelahi atau menjaga kalian berdua."
Sejenak Emma menatap kakaknya hingga tidak lama kemudian dia mulai tertawa terbahak- bahak hingga memegangi perutnya. "Astaga Ethan, kau terlalu banyak menonton film kriminal ya? Oh maaf, lebih tepatnya apa kau tidak terlalu memaksakan diri bekerja? Aku tahu kalau kau agent di tempat yang besar sekelas FBI atau CIA tapi tidak semua orang itu penjahat Ethan." Kata Emma disela tawanya yang tidak mau berhenti.
"Dan tidak semua orang yang kau lihat itu baik, baik dalam artian sebenarnya. Selalu ada sisi jahat dari masing- masing orang jadi kuminta jangan pernah bepergian seorang diri." Balas Ethan tidak mau kalah.
Sehari setelah orang tua mereka meninggal, salah seorang dari pelayat mengaku sebagai pengacara kedua orang tuanya membeberkan kalau sebulan belakangan ini kedua orang tuanya merasa di buntuti, begitupun dengan Emma tapi ketika itu Emma masih terlalu kecil dan belum tahu dengan segala hal yang mencurigakan dan ketika Ethan berada di Prancis, Ethan sama sekali tidak menemukan hal- hal yang mencurigakan selain perkataan orang yang mengaku sebagai pengacara kedua orang tuanya dan ketika Ethan ingin menemui pengacara itu lagi, dia mendapat kabar kalau pengacara itu meninggal di pesawat akibat salah memasukkan obat tidur melainkan obat diabetes ke dalam mulutnya. Setelah melakukan pemeriksaan diketahui kalau obat diabetes itu adalah milik salah satu kliennya dan kemungkinan obat mereka tertukar ketika bertemu sebelum pesawat yang ditumpangi oleh pengacara itu berangkat.
"Jadi apa Aurora melihatnya juga?" Tanya Ethan kemudian.
"Oh seharusnya kau berterima kasih padaku karena ketika kau berciuman, aku baru saja memintanya memilihkan coklat untukku jadi jawabannya tidak. Dia tidak melihatmu."Jawab Emma menjawab bangga akan dirinya sendiri.
Ethan tersenyum penuh arti pada Emma disebelahnya. "Apa itu berarti kau sudah setuju aku mendekati Aurora?" Tanyanya.
Seketika mata Emma melotot tegas.
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Karena dia tidak..."
"Tidak seperti gadis yang biasa ku kencani?" Potong Ethan membuat Emma mengangguk. "Dengar Em, kau boleh percaya atau tidak percaya dengan perkataanku tapi 6 bulan yang lalu aku sudah melihat Aurora dan aku langsung menyukainya."
"Apa? Bagaimana bisa?"
Tanpa memperdulikan pertanyaan adiknya, Ethan lantas melanjutkan. "Jadi bisakah kau membantuku dengan Aurora?" Tanya Ethan.
Emma terlihat bimbang. Di sisi lain dia senang jika Ara kencan dengan Ethan tapi di sisi lain juga dia tidak mau melihat teman sekaligus orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara perempuannya itu akan terluka karena Ethan. Ara bukanlah Ana, istri Nick yang dulunya seorang petarung ketika kuliah dulu. Ara hanya seorang gadis polos dan baik hati. Itulah sebabnya Emma sangat menyukai Ara.
"Asal kau jangan menyakitinya Ethan. Aku tidak mau kehilangan Ara karena dirimu." Ujar Emma lirih.
"Aku juga tidak ingin kehilangannya, sister dan thanks karena sudah mau membantu." Kata Ethan yang dibalas dengan cibiran Emma membuatnya kembali tertawa.
***
Comments
Post a Comment