SHADOW - SATU
London 2015.
Jangan menabrak... Jangan menabrak... Jangan menabrak...
Entah sudah berapa ratus kali kalimat itu dia ucapkan seperti layaknya mantra tapi hal ini perlu ia lakukan, bukan karena masalah ia tidak tahu mengendarai mobilnya atau baru belajar melainkan jalanan sedang berada pada situasi yang sangat licin akibat hujan semalam dan ia juga tidak sempat mengganti bannya dengan ban yang lebih bagus jika digunakan pada jalanan yang licin seperti ini. Itulah juga salah satu alasan kenapa ia membenci hujan. Ia membenci segala sesuatu yang basah dan... lengket.
Aurora Angela Hunt atau yang kerap disapa Ara adalah gadis sederhana dengan warna mata hijau yang sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna brunette.
Ara adalah seorang mahasiswi akhir tahun jurusan fashion designer. Meskipun beberapa professor yang mengajarnya mengatakan kalau dia adalah calon designer masa depan tapi Ara sama sekali tidak pernah merasa tersanjung atau sombong karena itu baginya sanjungan hanya berupa untaian kalimat agar semakin membuatnya terpacu untuk berusaha lebih baik lagi.
Alasan kenapa Ara rela keluar di cuaca yang tidak mendukung seperti ini adalah karena Carol- temannya yang berada di jurusan yang sama, mendadak menghubunginya dengan suara yang sedang menangis akibat baru saja diputuskan oleh pacarnya.
Sebenarnya bukan hal yang mengherankan jika gadis itu diputuskan. Carol entah bagaimana dalam kurun setengah tahun bisa dengan mudah mendapatkan pacar dan begitu mudah pula putus. Sebenarnya bukan dia yang diputuskan melainkan dia yang memutuskan tapi entahlah, justru dia yang lebih dulu menangis.
"Ara, kau sudah di mana?" Carol sudah sejak tadi menghubunginya dan terus saja menanyakan keberadaannya hingga Ara terpaksa harus terus memantau ponsel beserta GPSnya agar tidak terlalu jauh tersesat. Biar bagaimanapun jalanan basah disertai kabut bukanlah hal yang menjadi kesenangannya.
"Sebentar lagi aku sampai, Carol. Jalanan sangat licin diluar sana dan banyak kabut." Ucapnya seraya memicingkan kedua matanya agar bisa melihat lebih jelas kearah luar.
"Oh baiklah."
Ara menghembuskan napas panjang seraya melepas earphone bluetooth dari telinganya. Ia begitu terburu- buru keluar dari rumahnya tadi hingga lupa memakai jaket atau sweater dan hanya memakai kaos bergambar panda di bagian dadanya.
Belokan terakhir adalah jalanan rumah Carol, GPSnya juga sudah menunjukkan jarak tempuhnya ketika mendadak ia mendengar suara benturan yang cukup keras didepannya.
Brukkk....
Sial!
Ara merutuk dalam hati. Dia salah menekan rem mobilnya menjadi gas dan sebagai akibatnya ia menabrak sebuah mobil yang berada didepannya. Sesaat Ara terdiam, mencoba menetralisir debaran jantungnya akibat kaget dan keluar beberapa menit kemudian sebagai pertanggung jawaban yang menabrak.
Ara meraih topi yang biasa diletakkannya didalam dashboard dan memakainya. Biar bagaimanapun diluar masih hujan meskipun dalam bentuk gerimis tapi tetap saja itu hujan, tidak peduli mau gerimis atau tidak.
Bersamaan dengan keluarnya ia dari dalam mobil, seorang pria juga ikut keluar dan langsung berjalan menuju belakang mobilnya dan terlihat menepuk jidatnya.
"Oh maaf," Ara beberapa kali menundukkan kepalanya meminta maaf dan meringgis melihat kerusakan yang diperbuatnya. "Jalanan ini membuatku kesulitan. Aku nyaris tidak bisa melihat mobil didepanku. Maafkan aku."
Tidak ada jawaban dan Ara berpikir kalau si pemilik mobil pasti sangat marah padanya ketika mendongak dan langsung bertatapan mata dengannya.
Ara memperhatikan keseluruhan wajahnya dan merasa kagum. Dia tampan dalam artian tidak jelek. Tubuhnya atletis seperti sering berlatih dan warnanya coklat tembaga yang jika dilumuri dengan minyak, akan membuatnya seperti lelehan coklat. Ara menduga kalau pria didepannya baru saja pulang dari berlibur ke negara tropis hingga mendapatkan kulit seperti itu karena tadi Ara sempat melihat ada bagian tipis dari bagian tubuh pria itu dimana tertutupi baju kaos ketat yang digunakannya tidak terpapar matahari yang cukup.
"Sekali lagi, aku minta maaf." Ara kembali berujar merasa tidak enak.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria dihadapannya tapi Ara seperti sedang di scan oleh sesuatu tak kasat mata dan beralih memperhatikan dirinya. Kaosnya tidak ada yang terbuka, begitupun dengan celananya yang gespernya tidak terbuka.
Ara berhenti memperhatikan dirinya ketika mendengar suara kekeh pelan dan terpaksa mendongak, melihat wajah pria yang menertawainya dan saat itulah Ara yakin kalau dia sempat melihat pria itu tertegun melihatnya.
"Ah, kita memiliki masalah disini."gumam pria itu masih bisa terdengar. Sekali lagi Ara merasakan perasaan tidak enak.
"Maafkan aku,"
Pria itu kembali terkekeh. "Tidak masalah. Cederanya juga tidak parah kok."
"Eh?" Ara terlihat bingung.
"Mobilnya." Kata pria itu seakan tahu apa yang baru saja dipikirkan olehnya.
Ara menimpali malu. Tentu saja.
"Hei, aku Ian." Ucapnya lagi seraya mengulurkan sebelah tangannya, berjabat tangan.
Ara melonggo bingung. Tidak mengerti akan situasi yang dihadapinya saat ini.
Apa pria yang memperkenalkan dengan nama Ian ini baik- baik saja? Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum ramah seperti itu padanya? Pada orang yang baru saja menabrak mobilnya?
"Hm namamu?"
Ara tersentak dari lamunannya dan membalas uluran tangan Ian.
"Eh, aku Ara. Ara Hunt."
"Hm Ara." Gumam Ian kembali membuat Ara mengernyit bingung.
"Aku akan mengganti biaya perbaikan mobilmu." Ucap Ara kemudian merasa tidak enak dengan tatapan yang diberikan Ian padanya. "Jadi hm, bisakah kau memberitahuku alamat atau nomor telponmu supaya well, kau tahu, supaya aku bisa tahu mengganti biayanya. "Lanjutnya kembali tergagap.
Ian kembali terkekeh merasa terhibur dengan sikap gadis menarik yang baru ditemuinya ini. Ian tidak pernah mendapatkan lawan jenisnya segugup seperti yang dilakukan Ara padanya. Ian bahkan yakin kalau Ara bukan gugup karena penampilannya melainkan pada apa yang baru saja dia lakukan, yang tidak lain adalah si penabrak mobil.
"Oh jangan khawatir." Lagi- lagi Ara menunjukkan wajah penuh kebingungan. Apa maksud dari jangan khawatir yang baru saja Ian katakan?, "Benturannya tidak terlalu parah. Tidak akan memakan biaya yang mahal". Lanjut Ian tersenyum.
"Tapi..."
"Tapi aku akan tetap memberimu nomor telponku."
"Hah?"
"Atau lebih tepatnya kau yang memberikan nomor telponmu padaku."
"Apa?"
Tapi sebelum Ara bisa merespon, tiba- tiba ponselnya telah berpindah tangan ke tangan Ian dan mulai mengetikkan sesuatu disana.
"Itu nomorku dan pastikan kau menyimpannya." Katanya menyerahkan kembali ponsel yang tadi direbutnya kembali ke pemiliknya dan pergi meninggalkan Ara yang masih diam, terbengong.
"Apa- apaan tadi itu?" Batin Ara tidak mengerti.
***
Comments
Post a Comment