SHADOW - SEBELAS

"Kau seharusnya tidak selalu datang kemari, sayang." Kata Roy Hunt pada putrinya. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di taman tempo hari dan tanpa diketahui oleh Roy, Ara selalu diam- diam mengawasi kegiatan ayahnya itu- salah satunya dengan rajin mengunjunginya di rumah sakit tempat ia bekerja.

Ara menyipitkan matanya, pura- pura kesal. "Apa Dad menyembunyikan salah satu perawat di sini dan tidak ingin aku mengetahuinya?"

Roy Hunt tertawa, "tentu saja tidak."

"Kalau begitu kenapa aku merasa kalau Dad saat ini keberatan kalau aku kemari?" Balasnya semakin memperlihatkan wajah kesalnya.

Baik Ara maupun Roy Hunt sama- sama menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali berhenti setiap kali ada dokter atau perawat lain yang lewat hanya untuk sekedar menyapa.

"Jadi apa itu berarti anak perempuanku yang satu ini sedang cemburu?" Goda Roy Hunt padanya membuat Ara seketika mendengus.

"Tentu saja! Lagipula aku juga baru menyadari kalau selama ini aku tidak pernah kencan berdua dengan dad." Lalu Ara melingkarkan kedua tangannya pada lengan Roy Hunt dan tersenyum manis. "Jadi kapan dad punya waktu berdua untukku?"

"Oh jadi sekarang kau sedang belajar selingkuh rupanya." Ara dan Roy Hunt sama- sama berbalik, membuat kedua mata Ara membelalak kaget mengetahui Ethan sedang memberinya tatapan tajam sementara kedua lengannya disilangkan di depan dada. "Pantas saja aku kesulitan menemuimu ternyata kau selingkuh di belakangku."

Tidak seperti Roy Hunt yang seketika tertawa karena mendengar penuturan pria itu, Ara justru mendelik seraya semakin merapatkan dirinya pada Roy Hunt ketika menyadari kalau Ethan tidak sendiri. Ada wanita cantik yang berdiri di sampingnya- sedang menyunggingkan senyum padanya dan dua orang anak yang seingat Ara pernah dilihatnya.

"Ara!"

"Eh?" Ara tampak bingung dan tanpa sadar melepaskan tangannya dari Roy Hunt.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Chloe menanyainya dengan antusias.

"Ayahku bekerja sebagai dokter disini." Ara menjawab masih bingung dan si kembar, Charlie dan Chloe serempak menoleh untuk melihat pria paruh baya disamping Ara, tersenyum.

"Ayahmu dokter?" Tanya Chloe penuh kekaguman di matanya.

Ara mengangguk.

"Wah hebat!"

"Bagaimana dengan kalian?" Ara balas bertanya pada si kembar itu. "Apa kalian sakit?"

Keduanya sama- sama menggelengkan kepalanya dan Charlie lah yang lebih dulu menyahut, menjawab pertanyaan Ara.

"Daddy kami dirawat di sini."

"Oh! Aku lupa kalau Nick juga berada di sini." Ucap Ara dalam hatinya.

Entah berapa lama Ara terdiam memikirkan kejadian yang menimpa Nick kala itu. Dia lah yang menembak Nick waktu itu, dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Nick berusaha menyelamatkan senator itu dari pelurunya yang justru malah mengenai lengan kirinya sementara dia juga tidak mengira kalau organisasi mengirim pembunuh lain selain dirinya untuk melaksanakan misinya jikalau ia gagal. Mungkin Nick juga tidak akan selamat jika saja pria itu bergerak sedikit saja karena bukan tidak mungkin jika pelurunya bisa saja menembus tepat ke jantung pria itu.

"Aurora?"

Ara mengerjap hingga beberapa kali dan melihat tidak hanya Ethan yang melihatnya tapi seluruh orang di sekelilingnya termasuk ayahnya sendiri. "Kau tidak apa- apa?" Tanyanya seraya menyentuh jari- jemari Ara. Seketika perasaan nyaman dan tenang mengaliri seluruh tubuhnya seiring sentuhan yang diberikan Ethan padanya.

"Ya. Aku tidak apa- apa." Jawab Ara seraya menyembunyikan wajahnya yang malu- malu.

"Aku bisa saja menjemputmu kalau tahu kau akan kemari."

"Oh, tidak apa- apa, Ethan. Aku hanya sebentar disini."

"Ehem," suara Roy Hunt beserta wanita yang bersama Ethan tadi seketika menyadarkan Ara kalau mereka tidaklah berdua. Ada orang- orang yang menonton mereka.

"Apa kau melupakan kehadiran kami di sini, Ethan?" Ujar Roy Hunt terkekeh.

"Maaf, Paman," ujar Ethan seraya membawa Ara ke dekatnya tapi tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ara.

Sejenak Roy Hunt menatap tangan itu dan tersenyum penuh pengertian. "Tidak masalah, Son. Paman mengerti keadaan kalian." Balasnya semakin membuat Ara merasa malu dan hendak melepaskan tangannya dari tangan Ethan.

"Hai Ara," wanita lain yang Ara tidak kenal menyapanya tapi berbeda dengan Ara yang memandanginya heran, Ethan justru terlihat jengah dengan wanita yang bersamanya tadi. "Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu tapi sepertinya sudah banyak mendengar tentangmu." Lalu berpaling untuk memberi Ethan senyum penuh arti. "Aku Ana, Nick adalah suamiku dan juga ibu si kembar ini." Ia menunjuk Charlie dan Chloe yang saat ini sedang tersenyum sangat manis.

"Aku Ara," Ara semakin merasakan perasaan bersalah dalam hatinya karena kejadian yang menimpa Nick. "Aku turut prihatin atas apa yang menimpa Nick." Ucapnya sungguh- sungguh.

Ana tertawa. "Jangan khawatir. Hanya luka kecil di bagian lengan. Apa kau mau sekalian mengunjunginya?"

"Eh?"

"Pergilah Ara. Kau terlalu menganggu pekerjaan dad jika terlalu lama berada disekitar dad." Sahut Roy Hunt yang membuat Ara membuka mulutnya tidak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya. Ayahnya sendiri mengusirnya? Tidak dapat dipercaya! "Kupercayakan Ara padamu, Ethan."

"Yes sir." Sahut Ethan tersenyum.

Dan tanpa menunggu lagi, Chloe langsung meraih tangannya yang disusul dengan Charlie, memaksa Ethan untuk melepaskan tangan Ara darinya dan menariknya agar menjauh meninggalkan Roy Hunt beserta Ethan dan Ana dibelakangnya dan berhenti ketika mereka telah berada di depan sebuah kamar.

"Sulit di percaya. Bagaimana mereka bisa menghilang secepat itu?" Sayup- sayup Ara mendengar suara yang dikenali Ara sebagai suara Nick.

"Aku juga tidak tahu. CCTV di daerah itu bahkan tidak merekam apa pun. Sepertinya mereka sudah tahu dimana letak CCTV yang rusak." Suara lain yang tidak lain adalah milik Ian juga ikut terdengar.

"Bagaimana dengan jaraknya?"

"Itu dia yang aku tidak mengerti. Sepertinya mereka sudah terbiasa menembak dari jarak sejauh itu. Satu- satunya tempat yang pas untuk menembak berjarak 50 meter dari taman."

"Tapi bagaim..."

"Hai gentlemen," Ana yang lebih dulu memutuskan menyela pembicaraan itu dan langsung membuka pintu kamar tempat Nick dirawat. Sapa Ana bersamaan dia membuka pintu ruangan Nick.

Ara melihat kalau sebelah lengan Nick masih terbalut perban dan duduk diatas tempat tidurnya sementara Ian berdiri di samping Nick.

"Hai sayang," sekilas Ana menyapa sang suami dan menempelkan bibirnya di atas bibir Nick. "Kau seharusnya beristirahat dan tidak membicarakan masalah pekerjaanmu di sini." Tegur Ana.

"Sori Ann, hanya sedikit mendiskusikan sesuatu." Sahut Ian nyengir.

Charlie dan Chloe langsung menghampiri Nick dan duduk diatas tempat tidur. Kening Ara berkerut heran melihat pemandangan ini. Bukankah Nick hanya tertembak di bagian lengan, kenapa dia harus menginap?

"Ana memaksa Nick menginap. Menurutnya Nick kurang tidur selama ini dan rumah sakit adalah satu- satunya tempat yang tepat." Bisik Ethan disampingnya seakan bisa membaca pertanyaan tak terucap gadisnya.

Ara menolehkan kepalanya memandang Ethan takjub. "Kau hebat." Ujar Ara sungguh- sungguh membuat Ethan yang melihatnya gemas.

"Kalau begitu seharusnya aku mendapatkan sesuatu sebagai balasan." Balasnya menggoda.

"Balasan?" Kembali kening Ara mengernyit.

Ethan menjawab dengan menyodorkan sebelah pipinya kearah Ara yang langsung di sambut gelak tawa oleh gadis itu.

"Kau serius?" Tanya Ara di sela tawanya.

"Tidak pernah seserius ini." Jawab Ethan masih tetap dalam posisi semula. "Ayo cepat."

"Kau konyol." Balasnya tapi tetap meladeni permintaan Ethan yang tanpa disangka Ara, Ethan menoleh, membuat bibir mereka bersentuhan.

Seketika Ara menutup mulutnya kaget dan melotot sementara Ethan hanya terkekeh.

"Astaga! Apa kalian sama sekali tidak menyadari kehadiran kami di sini." Baik Ethan dan Ara sama- sama menoleh setelah mendengar suara Ana, membuat Ara terkejut karena tidak menyadari dimana dirinya saat ini. Berbeda dengan Ethan, Ethan justru menampilkan senyumnya yang membuat baik Nick maupun Ian hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Ian sudah bisa menerima hubungan antara Ethan dan Ara lagipula dia tidak terlalu memikirkan gadis itu dan mendengar penjelasan Ethan dan Nick di hari pertama Nick dirawat membuat Ian berpikir kalau Ethan benar- benar menyukai gadis dihadapannya saat ini.

"Maaf sobat. Sulit rasanya berkonsentrasi jika berada di dekatnya." Sahut Ethan mengelak yang justru membuat kedua pipi Ara terasa panas.

"Aku ingin ke kamar mandi." Dan tanpa menunggu persetujuan siapa pun, setengah berlari Ara kabur dari tempat itu, meninggalkan gelak tawa dan pertanyaan Chloe pada Ana dibelakangnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS