SHADOW - SEMBILAN BELAS
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam ketika Ara melihat sebuah pergerakan didalam keheningan malam dan perasaan sedang di buntuti. Tadinya Ara berpikir ingin mengambil jalan memutar untuk sampai ke tempat mobilnya yang di parkir tapi setelah di pikir lagi itu akan mengambil waktu yang lebih lama sementara Roy Hunt sejak tadi telah menghubungi dan menanyakan keberadaannya.
Ara terlalu asyik hingga lupa waktu mengerjakan designenya ketika menyadari kalau hari sudah sangat malam dan hanya dirinya yang berada di dalam ruang kelas di kampusnya. Setelah menyimpan kembali barang- barangnya di tempat duduk penumpang dalam mobilnya, telinganya menangkap suara langkah kaki yang semakin mendekat dan ketika orang itu memegang pundaknya, dengan cepat Ara melakukan manuver yaitu dengan membanting.
"Aurora?"
Sekejab tubuh Ara membeku, menyadari suara itu ketika akhirnya Ara melihat sosoknya. Ethan tampak sangat kaget ketika melihatnya.
"Ethan! Apa yang..." suara Ara terhenti ketika mendengar suara meringgis kesakitan di bawahnya dan membelalak ketika melihat Nick telah tersungkur ke tanah dengan wajah yang menatapnya kaget.
"Oh tidak! Maafkan aku Nick." Cepat- cepat Ara mengulurkan tangannya dan membantu Nick berdiri. Ethan juga ikut mengulurkan tangannya bersamaan dengan Ara.
"Aku pasti akan berpikir dua kali jika tahu kau bisa begitu mudah membanting orang." Keluh Nick seraya memperbaiki bajunya.
Ara terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kau bisa bela diri?"
Tatapan Ara tertuju pada Ethan yang juga melihatnya. "Eh, apa? Oh, sedikit. Aku pernah mengikuti kegiatan... kegiatan semacam ini di awal masa kuliah dulu. " Ara tersenyum berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan gugupnya.
"Oh."
"Ngomong- ngomong apa yang kalian lakukan disini?" Ara mencoba mengalihkan pembicaraan karena baik Nick maupun Ethan tidak ada yang bersuara.
"Oh kami hanya sekedar lewat." Nick yang menjawab.
"Sekedar lewat?" Tanya Ara sementara pandangannya tertuju untuk memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada hal menarik di sekitaran kampusnya yang bisa dilihat.
"Sebenarnya Roy meminta kami untuk melihatmu dan menjemputmu. Dia mengatakan kalau kau masih berada di kampus."
"Eh Dad? Oh sial!" Ara mengerang jengkel. "Aku baru saja akan pulang."
"Oh baiklah. Mungkin aku akan menghubunginya dan mengatakan kalau kau tidak apa- apa."
"Tidak. Tidak. Biarkan saja. Aku akan menjelaskan padanya setelah berada di rumah dan aku minta maaf soal yang tadi." Ara tersenyum kecut pada Nick yang terlihat masih meringgis di depannya.
"Tidak masalah. Tapi entah kenapa itu malah memunculkan ingatanku tentang kejadian dulu. Ana dulu pernah..." Kalimat Nick tergantung di udara seiring dengan ingatannya tentang masa lalu. "Apa kau mau ikut dengan kami bungee jumping besok?" Tanya Nick pada Ara.
"Eh?"
Ethan tahu bukan itu yang tadi ingin dikatakan oleh Nick. Bungee jumping yang tadi dikatakan oleh Nick akan mereka adakan bulan depan tapi Nick justru mengatakan di depan Ara kalau itu minggu depan. Jika bukan karena telah bersama Nick setelah sekian lama, sudah pasti Ethan akan mengoreksinya tapi Ethan tahu kalau ada sesuatu yang perlu diketahui oleh Nick dan sayangnya hal yang sama juga sempat terpikir dalam benaknya.
"Ya. Ikutlah, sugar. Kita bisa sekalian berkencan di sana." Ethan ikut menimpali.
"Kencan?"
"Ya."
"Di kegiatan bungee jumping kalian?"
"Ya. Kenapa?" Kali ini Ethan memperlihatkan wajah bingung ketika mendapati Ara sedang melihatnya dengan geli.
"Kupikir pria lebih suka mengajak gadisnya ke tempat- tempat romantis, alih- alih ke kegiatan ekstrem seperti itu." Kali ini Ara tidak bisa menahan senyum di bibirnya, membuat Ethan seketika mengulurkan sebelah tangannya dan menyentuh wajah di depannya.
"Jadi kau mengharapkanku membawa bunga?"
"Eh apa? Tidak. Bukan itu." Ara mendadak gugup
"Lalu?"
Tuhan! Ini tidak baik untuk jantungku. "Tapi aku tidak bisa, Ethan."
Kedua kening Ethan seketika saling bertaut. "Kenapa tidak bisa?"
"Aku harus mengerjakan sesuatu besok."
"Tugas kuliah?"
Tidak. "Ya."
"Aku akan membantumu."
Eh apa?
Ara mengerjap tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Please?"
Oh Ara benci mendengar orang memohon padanya terlebih lagi setelah melihat wajah Ethan dihadapannya.
"Baiklah." Ara mengerang dalam hati. "Pastikan saja kau menjemputku besok di rumah, Ethan."
Ethan tersenyum lalu mengarahkan bibirnya di kening gadis itu.
"Pasti. Apapun untukmu, princess."
"Baiklah. Sebaiknya aku pergi."
"Apa kau bisa sendiri?"
Ara mengerling jengkel. "Apa kau bermaksud untuk mengatakan kalau aku tidak tahu jalan ke rumahku sendiri, Ethan?" Tanya Ara merasa tersinggung.
Ethan terkekeh. "Aku tahu kau adalah gadis tangguh."
Eh?
"Kau tidak akan dikalahkan dengan mudah." Lanjutnya.
Ara tidak tahu harus membalas apa. Baginya, Ethan seperti sedang memberikan dua makna pada kalimatnya. Tapi apakah itu hanya sekedar perasaannya?
"Aku akan pergi." Ara memutuskan untuk tidak terlalu memperdulikannya.
"Hubungi aku sesampaimu di rumah." Pesan Ethan yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Ara.
"Jadi?" Tanpa mengalihkan pandangannya dari mobil yang dikendarai oleh Ara, Ethan bertanya pada Nick di sampingnya. "Apa yang kau rencanakan?"
"Tidak ada."
Ethan berbalik dan menatap Nick dengan kening yang terangkat satu.
"Kau tidak mungkin mempercepat kegiatan satu bulan menjadi satu hari, iya kan?"
Alih- alih menjawab, Nick justru tertawa. "Kau memang mengenalku dengan baik, sobat." Ungkap Nick seraya menepuk pundak Ethan.
"Jadi?"
"Kau melihatnya tadi."
Tanpa perlu menanyakan apa maksud dari kalimatnya tadi, Ethan sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Nick. Mereka berdua bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang ahli dan mana yang masih amatir. Dan dari cara Ara yang membanting Nick tadi, mereka bisa langsung tahu kalau manuver yang dilakukan oleh Ara tadi bukanlah bagian dari keamatiran itu sendiri. Jelas sekali Ara sudah mendapatkan pelatihan jauh sebelum ini dan menjatuhkan orang, apalagi Nick yang memiliki tubuh yang jauh lebih besar darinya bukanlah hal yang mudah.
"Apa pendapatmu?" Lagi- lagi Ethan mengajukan pertanyaan.
"Apa kau masih ingat dengan kisahku dengan Ana ketika masa kuliah dulu?"
Ethan mengangguk. Nick pernah menceritakan hal itu padanya dan juga Ian hingga akhirnya Nick memutuskan untuk menikahi Ana beberapa bulan sebelum mereka lulus kuliah.
"Dan?"
"Sekilas dia mengingatkanku dengan Ana tadi." Ujar Nick yang seketika membuat Ethan terdiam.
***
Comments
Post a Comment