SHADOW - SEMBILAN

Seperti biasa taman yang terletak di pusat kota akan selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar, termasuk juga dengan Ara yang mengambil tempat duduk tidak jauh dari air mancur yang menjadi ikon kota. Satu hal yang membedakan dirinya dengan orang-orang disekelilingnya adalah karena ia akan kembali menjadi S, seorang yang ditugaskan untuk mengeksekusi orang yang menyenangkan.

Misi pertamanya adalah menyingkirkan seorang senator, keluarga dekat dari kerajaan. Dia tidak tahu siapa yang menginginkan kematian senator itu dan dia juga tidak mau tahu karena organisasi dengan jelas hanya menugaskan dirinya dan para pembunuh lainnya agar menargetkan misinya pada sasaran, tidak peduli cara apa yang akan dilakukannya.

Dan taman ini akan semakin ramai dengan adanya acara amal untuk anak- anak penderita kanker besok dimana senator yang menjadi targetnya akan membuka acara sekaligus menjadi penyemangat buat anak- anak itu.

Flashback...

"Tidak... Kumohon... Jangan Dad." Ara terus saja memanjatkan doa dalam hatinya seraya berlari melewati orang- orang yang memandangngnya bingung ketika pandangannya pada seorang suster yang dikenal.

"Carol," sengal Ara kehabisan napas.

"Ara? Apa yang terjadi? Apa kau terluka? Dimana?" Carol bertanya khawatir seraya membolak- balikkan tubuh gadis didepannya ini, mencari luka baru.

Ara menggeleng keras lalu beralih mengenggam kedua lengan Carol erat. "Aku baik-baik saja," jawabnya. "Dimana dia? Dimana ayahku?"

"Eh? Dokter Hunt?" Carol bertanya bingung.

Ara mengangguk tidak sabar. "Ya. Dimana dia? Apa dia terluka parah?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Please, dimana dia, Carol?!" Pekik Ara setengah berteriak.

"Ara, apa yang..." Jantung Ara rasanya seakan berhenti berdetak ketika melihat pria itu berdiri di depannya dengan pakaian dokter yang bersimbah darah sedang melihatnya dengan wajah heran.

"Dad!" Serta merta Ara berlari untuk memeluk Roy Hunt erat. Ara terisak- isak dalam pelukannya, membuat para perawat dan pengunjung yang melihatnya menjadi bingung termasuk Roy Hunt sendiri.

"Sayang, apa yang terjadi?" Roy Hunt bertanya lembut seraya membelai rambut putrinya yang saat ini sedang terisak dalam pelukannya.

"A- aku melihat k- kecelakan dan melihat m- mobil Dad berada disana." Isaknya terbata- bata.

"Oh sayang. Dad baik- baik saja. Maaf karena tidak memberitahumu. Dua jam yang lalu mobil Dad dicuri orang dan dad tidak sempat mengurus kehilangannya karena dad harus melakukan operasi dan kemudian ada laporan kalau ada kecelakan terjadi. Dad benar- benar minta maaf sayang. Kau pasti terkejut."

Ara mengangguk, dia memang sangat terkejut tapi bukan itu masalah utamanya. Dia tidak mau memikirkan apa yang akan dilakukannya jika orang yang selama ini disayangi dan merawatnya tiba- tiba pergi meninggalkannya.

"Oh sayang, berhentilah menangis," bujuk Roy Hunt pada Ara yang semakin terisak. "Dad baik- baik saja. Dad akan selalu ada untuk menjaga dan melindungimu jadi berhentilah menangis. Lagipula kau tidak mau kan, para perawat meledekmu sebagai gadis cengeng?"

"Aku tidak peduli."

"Oh jelas dadpeduli dan apa yang akan dikatakan oleh Ethan kalau gadis yang dicintainya ini adalah gadis kecil yang sangat cengeng?".

Ara mengangkat wajahnya dan menatap Roy Hunt. Roy Hunt nyaris tertawa melihat wajah anak gadisnya dengan mata yang merah berair dan hidung semerah leci. Penampilannya nyaris terlihat seperti bocah umur 5 tahun yang menangis karena tidak diberikan permen.

"Apa?" Tanya Ara ketika melihat Roy Hunt mengulum bibirnya menahan tawa.

"Dad pernah mendengar kalau seorang gadis menangis, dia akan terlihat semakin cantik tapi kurasa itu tidak berlaku untukmu. Kau sama sekali tidak terlihat cantik".

Oh, bagus.

Roy Hunt tertawa melihat wajah cemberut Ara kemudian wajahnya berubah serius. Ditatapnya wajah Ara lekat, "jangan pernah menangis lagi, okey? Dad berjanji akan melindungimu dari segala macam bahaya. Dad janji."

"Aku juga berjanji, Dad. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh dad."

Flashback end..

Ara menghembuskan napasnya yang terasa sesak ketika ponselnya bergetar dan menampilkan hidden number.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Ara langsung.

Alih- alih menjawab, si penelpon hanya tertawa, "tidakkah seharusnya kau menikmati cuaca sore yang indah ini?"

"Aku tidak tertarik dengan cuaca. Kau tahu itu. Apa yang kau inginkan?"

"Hahaha kau masih sedingin seperti code name yang kau sandang, Snow atau mungkin seperti yang dikira oleh orang, Shadow tapi kurasa Snow, panggilan yang cocok dalam situasi ini, apa kau setuju?"

"Tidak satupun yang benar. Oh, aku juga tidak peduli. Kalau tidak ada yang penting, akan kututup."

"Jangan pikir aku tidak melihat drama yang kemarin kau tampilkan di rumah sakit, S." Tiba- tiba suara itu terdengar dingin dan penuh ancaman.

Ara tersenyum menimpali, "ya. Jangan kira aku juga tidak tahu kalau kau menyuruh salah seorang anak buahmu untuk berpura- pura menjadi pengunjung disana." Balas Ara tidak kalah dinginnya.

"Hahaha sharp like a knife. Itukah sebabnya dia tidak muncul- muncul lagi setelah itu? Oh, semoga Tuhan mengampuni dosanya".

Dasar menjijikkan.

"Kau mungkin ketua tapi harus kau ingat, aku bukan lagi anggota dan jika kau menyentuh ayahku bahkan mendekatinya dalam jarak 10 meter sekalipun. Akan kupastikan, kita akan berangkat ke neraka bersama- sama."

"Hm,sebuah ajakan yang menggiurkan. Pasti kan tetanggamu yang bernama Emma dan pacarmu, Ethan itu tidak curiga kita akan mengadakan perjalanan."

Shit. Ara melupakan fakta baru tentang dua orang lagi dalam hidupnya.

"Aku tahu apa yang selama ini kau lakukan, S."

Dan sambungan diputuskan.

Sial.... Sial... Bagaimana dia bisa....?

"Sugar?"

Ara menoleh dan cukup terkejut mendapati Ethan yang berdiri tidak jauh darinya, sama terkejutnya dengan dirinya saat ini.

"Ethan?"

Seperti magnet Ara bangkit dari duduknya untuk menghampiri pria itu, begitupun yang dilakukan oleh Ethan.

"Breath Ara... Breath ... And focus." Ara bergumam dalam hatinya. Ethan sangat tampan hari ini dan semakin bertambah tampan setiap harinya.

Sebaliknya dengan Ethan, setiap kali ia bertemu pandang dengan Ara. Perasaan yang dimilikinya semakin besar dan sulit untuk dikendalikannya. Dia sadar sepenuhnya kalau gadis didepannya inilah yang diinginkan dan dibutuhkannya.

"Hm Ethan, aku bukannya mau menganggu kisah romantismu dengan Ara tapi kita sedang di tengah- tengah tugas kalau kau tidak lupa." Suara baru yang tak dikenal Ara menyadarkannya dari sentuhan Ethan pada pipinya dan melihat sosok tampan lainnya, yang berdiri hanya dua langkah dari Ethan. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk tidak tertawa lalu pandangan mereka bertemu. "Hai Ara, kita bertemu lagi." Katanya.

Kening Ara seketika berkerut bingung sementara dalam hatinya mulai bertanya kapan dan dimana dia pernah berkenalan dengan pria tampan selain Ethan.

Seakan mengetahui kebingungan Ara, Nick tertawa. "Namaku Nick, kita memang tidak sempat berkenalan tapi kau mengenal anak- anakku. Charlie dan Chloe."

Charlie dan Chloe. Si kembar itu?.

Mata Ara nyaris melotot. Dia memang mengenal si kembar Charlie dan Chloe. Charlie adalah anak yang tenang, sangat berbeda dengan kembarannya yang meledak- ledak.

Mereka bertemu ketika Ara melakukan kunjungan ke sekolah Emma dan sambil menunggu Emma menyelesaikan kelasnya, dia berjalan- jalan di lingkungan sekolah dan tanpa di sadarinya dia berjalan menuju bagian untuk anak- anak Elementary.

Di situlah dia bertemu dengan si kembar. Chloe sepertinya sangat marah dengan beberapa anak laki- laki yang setahun lebih tua di atasnya sementara Charlie berusaha melerai Chloe dan anak laki- laki itu.

"Kau yang lebih dulu menabrak kami jadi kau yang harus meminta maaf". Ucap Chloe.

"Minta maaf? Tidak akan. Lagipula itu salahmu yang tidak menghindar ketika akan kutabrak". Balas anak laki- laki itu.

" kau?!". Nyaris saja mereka saling jambak- menjabat ketika Ara datang dan berdehem pelan, membuat ketiganya berhenti dan menoleh.

"Jangan ikut campur wanita. Ini tidak ada hubungannya denganmu". Ucap anak laki- laki itu melihat Ara dengan sengit.

Wanita katanya? Ara terkikik mendengar ucapan anak laki- laki itu.

"Hm maaf, namamu?" Tanya Ara

"Leo"

"Okey Leo, maaf karena menganggu hmm 'percakapan' kalian". Ara sengaja mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda kutipan, " aku tersesat jadi apa kau tahu di mana aku bisa menemukan High School di sekitar sini?"

"Aku tahu". Sahut Chloe.

Ara tersenyum, "Bagus. Dan namamu adalah?"

"Aku Chloe dan ini kembaranku, Charlie". Jawab Chloe seraya menunjuk Charlie di sebelahnya.

"Hai Charlie, hai Chloe. Aku Ara".

"Hai Ara, senang berkenalan denganmu".

"Wah, manis sekali kalian berdua."

"Terserahlah," sahut Leo memotong pembicaraan antara Ara dan Chloe. "Kali ini aku melepaskanmu". Ucap Leo seraya menunjuk Chloe dan berjalan pergi.

"Jangan pikir aku takut". Balas Chloe berteriak sementara itu Charlie hanya meringgis.

"Kami akan mengantarmu kesana." Kata Charlie kemudian.

Ara tersenyum, memba"terima kasih Charlie tapi aku sudah tahu di mana tempatnya".

"Eh?" Charlie dan Chloe Sontak kaget bersamaan.

"Sampai nanti". Ucap Ara seraya berbalik akan pergi. " oh iya Chloe, aku merancang sebuah pakaian dan kupikir itu cocok untukmu tapi sebagai gantinya jangan berkelahi lagi, okey?"

"Okey". Jawab Chloe di sertai anggukan kepalanya.

"Bagus. Sampai jumpa lagi Chloe, Charlie." Katanya seraya kembali melambaikan tangannya yang hanya dibalas oleh Charlie.

"Charlie, apa kita baru saja terkena hipnotis? Kenapa aku bisa menyetujui permintaannya? Dia orang tidak kita kenal tapi..."

"Chloe," Charlie memperlihatkan wajah malas pada Chloe disampingnya. "Akan kuadukan sama mom kalau tadi hampir berkelahi."

"Oh tidak! Aku tidak mau uang sakuku di potong lagi."

Sementara itu, tidak jauh darinya Nick dan Ethan memandang tidak percaya dihadapannya terutama Nick.

"Kau ayah Chloe dan Charlie?" Tanya Ara tidak percaya.

"Ya. Dan terima kasih dengan pakaian yang kau berikan pada Chloe dan Charlie. Mereka sangat menyukainya. Apa kau seorang designer?"

"Bukan. Tapi aku mengambil jurusan itu."

"Pantas," Nick mengangukkan kepalanya kelewar dramatis kemudian melanjutkan. "Tapi aku agak terkejut mendapati kalau kaulah pacar Ethan, mengingat dia sama sekali tidak mengatakan hal itu." Katanya seraya menatap geli kearah Ethan yang dibalas Ethan dengan tajam.

"Ara?"

Mereka bertiga sama- sama menoleh ke sumber suara yang lain, ketika alih- alih terlihat bingung seperti yang Ara perlihatkan ketika Nick menyebut namanya. Ara justru menyunggingkan senyum hangat dan ramah pada si pendatang baru.

"Ian."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS