SHADOW - SEPULUH
"Fokus Ian!" Tegur Nick via earphone di telinganya yang langsung tersambung baik pada Ian maupun Ethan. "Kami akan menceritakan semuanya setelah misi ini selesai."
Tidak ada jawaban dan Nick menganggap kalau itu adalah persetujuan dari Ian.
Tidak ada seorangpun yang menyangka kalau si penabrak mobil Ethan tempo hari adalah Ara tapi dibandingkan itu semua, melihat wajah kaget Ian ketika mengetahui kalau Ara adalah pacar Ethan membuatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia yang lebih dulu bertemu dengan gadis itu tapi bagaimana mungkin di pertemuan mereka selanjutnya, ia mendengar kalau Ara telah menjadi pacar Ethan?
Sementara itu, Ethan juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Biar bagaimanapun Ian merupakan sahabat baiknya dan menyukai gadis yang sama bukanlah masuk dalam daftar persahabatan mereka. Apa ia harus merelakan Ara untuk sahabatnya itu? Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri?
Setelah berpikir, Ethan menghembuskan napas panjangnya dan ikut berkata. "Ya. Yang dikatakan Nick benar. Kami, lebih tepatnya aku akan menceritakan semuanya."
"Jangan khawatir, aku salah satu pendengar yang baik." Ujar suara diseberang dan mau tidak mau Ethan saling melempar tatapan pada Nick yang berdiri tidak jauh darinya.
Tidak lama kemudian senator yang mereka kawal mulai muncul dan disaat yang bersamaan pula mereka mulai dikerubungi lebih dari sepuluh anak- anak. Masing- masing dari mereka membawa setangkai mawar putih untuk diberikan pada Senator itu.
Nick mengambil posisi tepat disamping Senator memperhatikan sekelilingnya ketika mendadak Nick berteriak, berusaha menghindarkan orang yang dikawalnya dari desingan peluru.
Syung...
Tes... tes...
Semua orang menjadi panik dan jeritan serta tangisan dari anak- anak mulai membahana di seluruh penjuru taman apalagi ketika melihat darah segar yang mulai menetes di sekitar lengan kiri Nick sementara tangannya yang lain mulai menghubungi ambulans.
Ethan dan Ian mulai sigap mengedarkan pandangannya sementara di kedua tangan mereka siap menembakkan sebuah timah panas jika melihat ada yang mencurigakan.
Di lain tempat, di suatu gedung yang tinggi dan terhalang dengan sebuah pohon tinggi hingga siapapun tidak akan mengira kalau pelakunya berada di tempat itu mulai merapikan kembali peralatan yang digunakannya untuk menembak targetnya. Ia baru saja merapikan topi hitam yang menyembunyikan wajahnya ketika ponselnya bergetar dan mendapati nomor yang disembunyikan di layar ponselnya.
"Kau gagal." Cetus suara diseberang penuh cemohan.
"Tak kusangka kau mengirim penembak lain untuk mengangguku." Ara mengatakannya dengan nada tajam yang tidak dibuat- buat.
"Apa itu membuatmu kesal, S?" terdengar suara tawa yang menggelegar di seberang. "Aku hanya ingin menguji kemampuanmu melawan A setelah lama kau tidak melakukannya lagi."
"Oh aku tersanjung sekali." Ara mulai menuruni tangga demi tangga dan sebisa mungkin menghindari kamera pengintai.
"Dan harus kuakui kau masih segesit dulu. Tidak akan ada yang mengira kalau kau berada di gedung hampir musnah itu."
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?"
"Tidak. Meskipun kau terlihat melakukannya dengan baik tapi tetap saja itu dikatakan sebagai... kegagalan, S. Kau gagal dalam misi pertamamu."
"Anak- anak tidak masuk dalam dafter yang harus ku eksekusi. Apa kau tahu itu?"
"Haha... organisasi tidak peduli akan hal itu, S. Yang organisasi hanya pedulikan adalah kau melakukan tugasmu dengan baik, adanya korban yang tidak masuk dalam daftar hanya dianggap sebagai persembahan."
"Kau iblis!" Desis Ara menahan amarah
"Dan siapapun tahu kalau kaulah malaikat kematiannya dan jangan coba- coba untuk melakukan kesalahan lagi, S, mungkin organisasi menganggap kalau kau tidak sengaja melakukannya karena kau sudah lama tidak melakukannya lagi tapi jangan harap untuk mendapatkan keringanan seperti ini lagi karena tidak ada kesempatan kedua."
"Aku tidak peduli."
"Oh, dan siapa yang kau pedulikan? Apakah dokter yang telah memalsukan kematianmu?"
Langkah Ara terhenti dari menuruni tangga dan mengepalkan sebelah tangannya dengan keras.
"Jika kau menyentuhnya sedikit saja maka akan kupastikan akan membunuhmu."
"Hahaha ancaman yang mengerikan tapi tidak cukup untuk menakutiku. Kau perlu sembilan nyawa untuk melakukannya, S sebelum bisa menyentuhku."
Brengsek!
"Sebaiknya kau segera pergi. Para agent itu sepertinya telah mencurigai tempatmu," ujarnya. "Dan ingat, tidak ada kesempatan kedua." Klik
Ara berusaha sangat keras untuk tidak membuang ponselnya hingga hancur berantakan. Para agent rahasia dan juga polisi pasti sedang mencari bukti meskipun penembakan terjadi di dua tempat.
A? Ara menggelengkan kepalanya, menghilangkan sosok itu dari dalam pikirannya. Sudah lama pula dia tidak pernah bertemu dengan rekannya itu dan tanpa sadar kakinya telah melangkah jauh melewati jalan raya, berusaha untuk tidak terlihat di kamera pengintai.
Di lain tempat, Alex berlari mencoba mencari tahu penembak lain seperti dirinya. Alex tahu kalau dari cara yang digunakan oleh penembak itu sama dengan cara yang biasa dilakukan oleh rekannya. S selalu menghindarkan pelurunya pada anak- anak, itulah sebabnya untuk permulaaan ia memposisikan pelurunya pada lengan target tapi justru mengenai salah satu pengawal terdekat dari targetnya membuatnya harus mengambil alih eksekusi dan menembak tepat ke bagian dada sang senator kemungkinan senator itu selamat hanya lima puluh persen dan sisanya akan mengalami koma tapi Alex tidak akan peduli, ia penasaran dengan penembak baru yang ditunjuk oleh organisasi. Sangat jarang organisasi memberikan satu misi pada dua orang pembunuh.
Alex menghentikan langkahnya. Semua orang mulai terlihat tenang, tidak sepanik yang tadi ketika mendengar ada orang yang tertembak tapi Alex juga tidak ingin terlalu menarik perhatian orang- orang disekitarnya terutama para pengawal yang ditunjuk. Biar bagaimanapun Alex tahu siapa saja para pengawal itu dan memilih menjauh ketika melihat layar ponselnya yang berkelap- kelip tanda telepon masuk.
"Siapa dia?"
Suara diseberang langsung tertawa mendengar nada suara salah satu anggota terbaiknya. "Alasan kau menjadi favorit organisasi adalah karena kau selalu langsung pada intinya sama dengan rekanmu dulu. Kau juga tidak pernah mengecawakan organisasi."
"Aku tidak suka basa- basi. Apa kau menyuruh orang lain untuk ikut serta dalam misi ini?"
"Ya."
"Siapa dia?"
"Hanya orang baru yang masih butuh bimbingan dan motivasi."
"Dengar, aku tidak ingin tahu alasan kenapa kau melakukannya tapi aku tidak akan menolerir orang yang ikut serta dalam tugas yang diberikan."
"Oh jangan terlalu kaku, A. Organisasi hanya ingin ia melihat kemampuanmu."
"Aku tidak peduli," serunya dingin. "Tapi sangat mengherankan organisasi memberikan satu misi pada dua orang anggota."
"Haha... seperti yang tadi dikatakan, A. Dia masih membutuhkan bimbingan dan motivasi."
"Terserah. Aku tidak mau lagi kau menugaskanku satu misi lagi dengan orang lain. Pastikan itu."
"Ya" klik
Alex memutuskan kembali ke tempat ia berada tadi dan langsung melihatnya dengan lega.
"Astaga! Dari mana saja kau tadi?" Serunya. Kenny adalah pria Afro- Amerika dan dia adalah teman sekaligus bos dari kafe tempatnya bekerja saat ini.
"Ada apa?" Tanya Alex tanpa menghentikan langkahnya dan terus berjalan menuju meja kasir dan mengambil kain lap, mengelap meja- meja.
"Apa kau tidak mendengarnya?"
"Mendengar apa?"
"Suara ribut- ribut itu. Semua orang berlarian dari taman."
"Oh." Alex tampak tidak tertarik. "Ya. Aku mendengarnya. Itulah sebabnya aku keluar dari toilet untuk mencari tahu."
"Jadi kau di toilet?"
"Ya. Sepertinya semalam aku salah makan. Kenapa?"
"Tidak. Kupikir kau bersama para fansmu itu." Goda Kenny.
Alex sengaja memutar matanya. "Jadi apa yang terjadi?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Ia bosan jika Kenny mengungkit hal itu lagi. Pasangan, cih! Hanya satu yang akan selalu menjadi pasangannya dan itu adalah...
"Dari orang- orang yang kutanyai, katanya ada orang yang tertembak. Orang itu tampak kritis."
Alex mencoba untuk tidak menyunggingkan senyumnya dan membalikkan badannya menghadap gelas- gelas.
"Ya. Aku juga melihatnya."
"Kau melihatnya? Wow. Coba ceritakan."
Sejenak Alex berbalik dan mendapati wajah penasaran Kenny dihadapannya, membuatnya seketika melempar lap yang dipegangnya ke wajah Kenny.
"Tidak akan! Sekarang aku mau istirahat. Perutku rasanya tidak enak."
Tanpa menunggu persetujuan Kenny, Alex melangkahkan kakinya menuju tangga yang akan membawanya ke lantai atas, tempat ia selama ini tidur.
"Ya. Ya. Ya tidur saja terus. Biarkan aku bangkrut."
Alex melambaikan sebelah tangannya dan tertawa hingga masuk ke dalam kamarnya.
Tidak mungkin dia, S. Gumam Alex menatap langit- langit kamarnya, pelan.
***
Comments
Post a Comment