SHADOW - TIGA BELAS
Tak terasa sudah sebulan sejak pertemuan tak terduga antara Ara dan orang yang menyebut namanya ketika berada di Amerika dulu.
Dan orang itu adalah rekannya dulu dengan code name A dalam organisasi dan sekarang kembali menjadi rekannya. Entah apa rencana dari organisasi itu sehingga kembali memasangkan dirinya dengan A tapi sejujurnya Ara juga membutuhkan bantuan A. Sejak dulu A selalu tahu apa yang harus mereka berdua lakukan jika sedang menjalani misi.
Flashback...
"S?"
"A?"
Seperti halnya dengan pria itu. Ara juga terbelalak mendapati kalau rekan sekaligus orang yang sangat disayanginya itu berada dalam jarak hanya beberapa langkah darinya dan semakin pendek seiring dengan langkah yang terus dilakukannya.
"Ini benar kau?" Jelas sekali kalau ja masih belum percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Gadis yang berdiri dihadapannya ini baik- baik saja dan terlebih lagi dia masih hidup. Belum mati.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku bukan hantu, tahu?!" Seru Ara jengkel tapi sedetik kemudian tubuhnya tertarik hingga menabrak si pemilik tubuh kokoh itu.
"Astaga! Ini benar kau. Aku tidak percaya kau masih hidup. Aku merindukanmu, S."
Ara tersenyum dalam dekapan A. "Aku juga merindukanmu, A. Bagaimana kabarmu?"
A melepaskan dekapannya dan memandang kedua mata Ara. "Tidak baik setelah mengira kau meninggal."
"A" ujar Ara lirih.
"Dan kau berutang penjelasan tentang itu," ucapnya cepat sebelum Ara mengalihkan topik. "Aku harap kau tidak berusaha kabur setelah ini."
Ara mendengus. "Baiklah tapi sebelumnya ada yang harus kau ketahui. Sekarang namaku Ara."
"Ara?" Kedua kening A bertaut.
"Ya. Sebenarnya Aurora tapi semua orang memanggilku dengan nama Ara." Kecuali satu orang yang sangat keras kepala yang tetap bersikukuh memanggilku Aurora. Tambah Ara dalam hati.
"Aku akan memanggilmu dengan Aurora kalau begitu."
"Jangan repot- repot, A. Kau bisa memanggilku dengan Ara."
"Ara terdengar begitu sederhana. Aurora terasa sangat pas berada di lidahku."
Ara tidak tahan untuk tidak memperlihatkan perasaan jijiknya. Membuat pria itu tertawa.
"Aku Alex."
"Eh?"
"Aku dipanggil Alex." A atau Alex mengulang.
"Wow. Apa itu berarti kau sudah meninggalkan organisasi dan mulai berbaur?" Ara bertanya takjub.
"Tidak secara spesifik tapi ya, aku berbaur dengan orang lain. Bagaimana denganmu? Apa itu berarti kau tinggal bersama orang lain."
Ara menyunggingkan senyum samar. "Tidak secara spesifik. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang." Balasnya mengikuti nada bicara Alex padanya tadi.
Flashback end...
"Ada apa?" Suara Ethan seketika membuyarkan lamunan Ara tentang pertemuan- pertemuan antara dirinya dengan Alex beserta dengan semua misi yang diberikan oleh organisasi.
Saat ini baik Ara, Ethan, Emma dan juga Ian sedang berada di kediaman Nick dan Ana, merayakan ulang tahun si kembar, Charlie dan Chloe. Ini pertama kalinya Ara datang ke rumah pasangan yang selalu terlihat mesra itu bahkan setelah memiliki Julie, anak ketika Nick dan Ana tapi terlihat jelas di kedua mata Nick kalau pria itu sangat mencintai Ana.
"Tidak. Tidak apa- apa." Jawabnya dan mengernyit bingung ketika Ethan justru mengenggam tangannya dan membawanya ke belakang rumah. "Eh, apa yang kau lakukan?"
Sesampainya mereka disana, sudah banyak orang yang berkerumun termasuk Ana dan juga si kecil Julie beserta si kembar yang berulang tahun.
"Ah, akhirnya kalian datang juga." Ucapan Emma seketika membuat beberapa pasang mata menoleh. "Kami sudah menunggu kalian, tahu?" Seru Emma jengkel.
"Oh maaf." Ucap Ara meminta maaf.
"Tidak masalah. Acaranya juga belum mulai." Timpal Nick menenangkan.
Ara mengernyit sementara dalam hatinya mulai bertanya- tanya. Mereka sudah memotong kue beserta dengan lagu ulang tahunnya. Apa ada sesuatu yang terlewatkan darinya?
"Kita akan bertaruh melemparkan panah- panah ini ke papan target dan yang kalah akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh yang berulang tahun." Ethan menjelaskan padanya dengan suara pelan, membuat Ara seketika menoleh takjub kemudian berpaling ketika pandangannya bersirobok dengan mata Chleo sambil sesekali Emma yang berdiri disampingnya membisikkan sesuatu ke telinga anak itu membuatnya menyeringai.
Mendadak saja Ara merasakan perasaan tidak nyaman pada tengkuknya. Ia masih ingat bagaimana ngerinya ekspresi Emma ketika Emma kalah taruhan dan harus menerima kekalahan dengan harus melompat dari ketinggian lima ratus kaki dari atas tanah sambil menyanyikan lagu ulang tahun dari berbagai macam versi dan semua itu di rekam oleh Charlie dengan bantuan Nick pastinya. Emma takut dengan ketinggian dan hal itu tidak disia- siakan oleh Chloe untuk mengerjai Emma.
"Jangan khawatir, aku akan menolongmu." Bisik Ethan di telinga tapi gagal karena Chloe seperti mengetahui pembicaraan mereka dan dengan tegas melarang Ethan untuk tidak mengambil alih hukuman yang menanti Ara nanti. "Jangan khawatir, Ara. Aku dan Charlie sudah membicarakan ini." Lanjut Chloe seraya terkikik.
Ara terperanggah. Tidak percaya kalau makhluk yang terlihat seperti malaikat ini bisa sekejam iblis jika menyangkut kekalahan. Berbeda dengan Ara yang terlihat tidak yakin, semua orang dewasa seperti melihat sisi lain dari salah satu dari kembar itu. Bagi mereka Chloe tampak biasa jika menyangkut dengan taruhan tapi Charlie? Anak Nick dan Ana itu cenderung tidak perduli jika menyangkut taruhan dan kekalahan. Charlie lebih sering membiarkan Chloe mengambil alih permainan dan bersikap tidak peduli tapi mendengar kalau Chloe sudah membicarakan tentang masalah hukuman dengan Charlie membuat wajah- wajah orang dewasa itu kebingungan. Apalagi ditambah Charlie memperlihatkan wajah penuh antusias padanya.
Ara mengambil giliran terakhir setelah Emma berhasil mengenai dua dari lima target yang menjadi sasarannya. Target yang harus dikenai juga tergolong tidak mudah, yaitu sebuah anggur. Kelihatannya si kembar itu benar- benar meniatkan taruhannya dengan hal mustahil yang tidak bisa dilalui dengan mudah. Ethan dan Ian tentu saja bisa melaluinya dengan mudah dan pada percobaan yang pertama tanpa sama sekali mengalami kesulitan tapi Chloe maupun Charlie tidak terlalu terkesan dengan hal ini. Mereka berdua sudah terlalu sering melihat kejadian seperti itu mengingat mereka juga memiliki kedua orang tua yang juga tidak bisa dipandang enteng.
Emma hampir saja bersorak kegirangan ketika melihat tidak satupun sasaran yang berhasil dikenai oleh Ara. Dia sudah sangat yakin kalau Ara akan mengalami kegagalan kali ini dan sudah tidak sabar melihat apa yang akan dilakukan oleh si kembar pada Ara.
"Ayo Ara!" Meskipun Emma senang tapi tak urung juga ia ingin menyemangati Ara. Biar bagaimanapun Ara adalah sahabat dan juga seperti saudara baginya. Ara menoleh hanya untuk tersenyum pada Emma ketika kedua matanya menangkap sebuah titik merah tepat disamping kepala Emma.
Tanpa pikir panjang, Ara berbalik dan mengarahkan panah dan busurnya tepat di wajah Nick yang kaget dengan perubahan situasi ini. Emma yang berada tepat di samping Nick juga ikut terkesiap apalagi saat ini Ara menunjukkan wajah tanpa ekspresinya sementara matanya menatap lurus ke depan.
"Ara, apa yang...?" Suara Nick terdengar penuh pertimbangan dan hati- hati. Salah sedikit saja maka panah yang diketahuinya sangat tajam itu bisa saja menancap tepat di wajahnya.
"Eh Sugar, apa yang kau lakukan?" Ethan mengambil alih setelah melihat kode yang diam- diam diberikan Nick padanya.
"Tetap di tempatmu dan usahakan untuk tidak bergerak."
Semuanya terdiam bahkan Nick memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh gadis dihadapannya saat ini. Ada nada berbahaya dan juga tidak biasa yang bisa ditangkapnya saat ini. Sekilas Nick melirik pada Ethan dan juga Ian yang sepertinya kebingungan dengan sikap Ara ketika akhirnya Ara melepaskan panahnya disusul dengan suara teriakan dari orang- orang di sekelilingnya.
***
Comments
Post a Comment