SHADOW - TIGA

"Shadow?" Ethan bertanya heran yang dibalas dengan anggukan kecil dari Ian.

"Oh aku pernah dengar tentang organisasi itu, "Sahut Nick. "Kudengar itu hanya sekumpulan orang- orang yang hanya ingin mencari perhatian."

"Benarkah?" Tanya Ethan lagi.

Ian menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mereka bukan sekumpulan orang yang mencari perhatian. Mereka juga bukan sekedar organisasi asal- asalan."

"Apa maksudmu?" Baik Ethan maupun Nick sontak bertanya.

Untuk sesaat, Ian terdiam seraya menghembuskan napasnya pelan. "Itu adalah organisasi yang hanya mengkhususkan dirinya dalam pembunuhan tak terdeteksi. Kode Internasionalnya adalah hidden killer."

"Hidden killer?"

"Ya."

"Jadi yang ingin kau katakan, sampai saat ini tidak ada seorangpun dari mereka yang berhasil di tangkap?" Ethan kembali menyuarakan pikirannya.

"Ya. Sekalipun salah satu dari mereka tertangkap maka dia akan langsung bunuh diri atau tanpa diduga mereka akan mati sebelum dia menyentuh markas." Jelas Ian pada kedua pria didepannya yang sedang menatapnya dengan penuh perhatian.

"Apa itu berarti jika salah satu dari mereka ada yang gagal maka, akan ada orang lain yang mengambil alih dan membunuh yang tertangkap ini?"

"Ya"

"Tapi apa itu tidak berlebihan?" Kali ini Nicklah yang menyuarakan pikirannya. "Maksudku kalau mereka saling membunuh, apa itu tidak berarti kalau pembunuh ini akan berkurang?"

"Sepertinya organisasi ini tidak mengenal kata gagal."

Ian mengangguk, menyetujui kalimat Ethan barusan. "Ya, Ethan benar, Nick. Bahkan ada dua orang yang terkenal dengan cara membunuhnya yang sangat rapi dan bersih. S dan A. Mereka disebut sebagai Gloria Mortis."

"Angel of Death." Guman Ethan pelan.

"Apa?" Nick memandangi Ethan tidak mengerti.

"Itu arti dari Gloria Mortis. Angel of death." Jawab Ethan.

"Oh aku pernah mendengar tentang itu tapi kudengar mereka sudah tidak ada." Nick melanjutkan.

"Tidak. Mereka masih ada. Setahun yang lalu ada peristiwa pembunuhan dan cara yang dilakukan mirip yang biasa di lakukan A. Penembakan tepat di tengah leher dan itu berpuluh- puluh kilometer jaraknya dari tempat kejadian." Jelas Ian lagi.

"Wow" Ucap Nick kagum yang diikuti dengan siulan Ethan. Jelas sekali mereka terkesima.

"Bagaimana dengan S ini?" Tanya Ethan kemudian.

"sama dengan A. S juga mampu menembak dari jarak yang sangat jauh. Menurut rumor, dia bahkan bisa membunuh hanya dengan sekali bertemu atau bertatapan mata dengannya."

Baik Ethan maupun Nick kompak tertawa.

"Jangan becanda Ian," ucap Ethan disela tawaya. "Mana mungkin orang bisa mati hanya karena bertatapan."

"Ya. Apa dia ini semacam Medusa? Bukannya mengubah orang menjadi batu melainkan membunuh orang hanya dengan bertemu. Mungkin saja dia menggunakan racun atau apa saja yang bisa di pakai untuk membunuh." Sahut Nick menebak.

"Tadinya aku juga berasumsi seperti itu tapi tidak ada sama sekali tanda- tanda racun dari dalam tubuh korban." Jelas Ian.

"Mungkin racun yang tidak terdeteksi." Nick masih meragukan cerita Ian.

"Menurut saksi yang berada di dekat korban. Korban didatangi oleh seseorang yang mengaku turis dan bertanya segala macam. Setelah saling mengucap kata dan berpelukan, 5 menit kemudian korban ambruk dan mengeluarkan darah dari kedua mata, telinga, hidung dan mulut padahal korban sama sekali tidak mengkomsumsi apa pun sebelumnya."

Nick dan Ethan kembali terdiam. Mereka masih memikirkan kemungkinan cara pelaku membunuh korbannya.

"Pasti ada cara yang dilakukannya. Manusia tidak mungkin mati semudah itu." Ucap Ethan kemudian.

"Ya," sahut Nick menyetujui. "Pasti dia menggunakan cara yang tidak diketahui sama sekali. Tunggu, tadi kau mengatakan kalau dia turis. Apa dia seorang wanita?"

Ian tersenyum. "Hampir benar. Dia pria dan wanita tapi saksi mengatakan kalau keduanya lebih mirip sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu bersama."

"Hm,"

"Berdasarkan saksi, kemungkinan umur mereka berkisar 18 atau 19 tahun. Semacam itulah."

Sontak Ethan dan Nick membelalak, tak percaya.

"Mereka sudah bisa membunuh di usia se muda itu? Kapan tepatnya mereka membunuh untuk pertama kali?" Tanya Ethan tidak percaya.

Ian mengangkat bahunya. "Tidak ada yang tahu. Kurasa mereka sudah dididik menjadi pembunuh sejak mereka baru belajar merangkak."

"Jadi yang mana diantara keduanya yang bernama A?" Tanya Nick.

Sekali lagi Ian mengangkat bahunya. "Tidak ada yang tahu."

"Apa kau percaya mereka bisa membunuh sesadis itu?" Bisik Nick pada Ethan setelah Ian menjauh dari mereka berdua.

"Aku tidak tahu," jawab Ethan seraya mengangkat bahunya. "Bisa saja mereka membunuh karena menyukai hal itu mengingat usia mereka yang masih tergolong muda dan hal itu dimanfaatkan oleh organisasi."

"Ya. Mungkin kau benar." Timpal Nick setuju.

***

"Dad?" Panggil Ara ketika mendapati rumahnya dalam keadaan gelap gulita. " Dad?" Sekali lagi Ara memanggil ayahnya sambil sesekali mencoba menyalakan saklar lampunya yang sama sekali tidak mau menyala. "Dad, kau di mana?"

Ara baru saja akan menuju ruang atas ketika ia melihat sebuah cahaya di dalam dapur. Dengan langkah yang sangat pelan, Ara mendekati sumber cahaya itu dan terpekik.

"Astaga Dad! Kau membuatku hampir mati ketakutan." Seru Ara marah mendekati ayahnya yang saat ini sedang mengutak- atik laci di dapur.

Sèjenak Roy Hunt, ayahnya mengangkat wajahnya dan terkekeh melihat raut wajah putrinya.

"Seharusnya dad menjawab panggilanku. Aku nyaris mati jantungan karena ulah dad. Tentunya dad yang seorang dokter ini tahukan apa fungsi jantung untuk tubuh manusia?" Sindirnya semakin marah karena ayahnya semakin terkekeh.

"Maaf sayang. Aku sama sekali tidak mendengarmu."

"Ugh! Memang apa yang sedang dad lakukan?"

"Oh aku sedang mencari lilin. Sepertinya pemadaman ini akan berlangsung sangat lama."

"Astaga Dad. Lilin di laci bagian atas bukan disitu."

"Oh benarkah?"

Ara langsung memutar matanya dan berjalan menuju laci yang terletak di pojok bagian atas dan mengeluarkan 3 batang lilin.

"Terima kasih sayang," Ujar ayahnya setelah menerima lilin dari tangan Ara ketika menyadari sesuatu. "Dan kenapa kau baru pulang jam segini?" Tanyanya setelah melirik jam ditangannya yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Setelah dari rumah Carol, aku lalu mengajaknya keluar dan membawanya untuk bersenang- senang". Jawab Ara seraya membantu ayahnya menyalakan lilinnya.

"Oh gadis malang. Apa dia baik- baik saja?"

"Dia terlihat lebih berantakan ketika aku datang tadi tapi selebihnya itu dia tidak kekurangan apa pun."

Ayahnya tertawa kalimat yang diucapkan Ara barusan. "Dan bagaimana denganmu?"

"Memang kenapa denganku?"

"Apa kau tidak punya pacar? Menurutku wajar di usiamu saat ini sudah punya pacar."

Ara memutar matanya. "Aku akan langsung membawanya ke hadapan dad jika aku sudah menemukannya."

"Pria seperti apa yang kau inginkan?"

"Entahlah Dad, mungkin orang yang seperti dad?"

"Hm," ayahnya sejenak tampak berpikir. "Kenapa kau tidak minta Emma untuk memperkenalkanmu pada kakaknya?"

Hah? "Sejak kapan Emma punya kakak?" Tanya Ara yang langsung dibalas dengan jitakan dari ayahnya.

"Sejak kau belum lahir," Sergah Mr. Hunt jengkel. Ara hanya bisa nyengir melihatnya. " kurasa usia mereka terpaut 15 tahun".

Wow. "Kenapa bisa sejauh itu?" Tanya Ara penasaran.

"Ibu Emma menikah dengan ayah Ethan. Itulah sebabnya usia mereka terpaut jauh."

"Oh tapi aku tidak pernah melihat kakak Emma sebelumnya."

Lagi- lagi ayahnya memukul kepala Ara, kali ini sedikit lebih keras. "Kau tidak mungkin bisa melihatnya jika kau selalu bangun kesiangan."

"Lho bukan keinginanku jika bangun terlambat. Aku selalu begadang, ingat kan Dad?"

"Karena itu jangan keseringan begadang. Apa design- design itu tidak bisa kau selesaikan di siang hari?"

"Kadang inspirasi datangnya di malam hari dad," Ara menjawab dengan gaya sok diplomatis hingga lagi- lagi ia mendapatkan sebuah jitakan lagi. "Oh Tuhan dad! Kalau kau selalu memukul kepalaku seperti itu, bisa- bisa aku menjadi bodoh." Omel Ara seraya mengusap kepalanya.

"Kepalamu sekeras batu dan manusia tidak semudah itu menjadi bodoh." Balas ayahnya sinis.

"Wow Dad, kau memang tipikal dokter sejati."

"Tentu saja. Aku ini memang dokter sungguhan di sebuah rumah sakit ternama disini."Puji ayahnya bangga pada dirinya sendiri.

Ara mendengus karena tidak percaya dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan yang menurutnya sangat melelahkan ini, meninggalkan ayahnya yang tertawa terbahak- bahak melihat kelakuan putri satu- satunya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS