SHADOW - TUJUH BELAS
"Ini gila! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukannya tapi kau memilih untuk tidak mengindahkanku. Demi Tuhan! aku akan melakukan apapun itu demi mengetahui apa yang sebenarnya kau pikirkan." Amarah Alex terdengar jelas hingga menyakitkan pendengarannya, membuat Ara heran dengan kaca- kaca di tempat persembunyiannya tidak langsung pecah setelah mendengar suara 'merdu' milik pria itu.
"Aku hanya membela diri." Ucap Ara kalem sambil sesekali meringgis ketika Alex menyentuh lengannya yang mulai kebiruan. Bagus! Sekarang dia harus mencari alasan yang masuk akal pada ayahnya kelak. Gerutu Ara dalam hatinya.
"Aku tidak menyalahkan apa yang kau lakukan tadi," Alex membalas tapi tidak lagi bersuara keras seperti tadi sementara tangannya sibuk mengolesi salep agar memar di lengan Ara tidak semakin berubah warna. "Tapi apa kau tidak berpikir? Kau menembaknya di depan banyak orang dan lebih parahnya di depan seorang anak? Apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?"
Ara mendesah, "Aku minta maaf, A. Kita tidak punya pilihan selain melakukannya."
Ya. Alex memang menyadari kalau mereka tidak memiliki pilihan lain selain melakukan perlawanan. Lagipula siapa yang akan menyangka kalau pengawal yang seharusnya mengawali Mr. Chan adalah pembunuh lain yang ditugaskan oleh organisasi.
"Tidak apa- apa," Alex terpaksa harus membiarkan masalah ini. Semuanya sudah terjadi. Penyesalan bukanlah sesuatu yang bisa ditarik kembali. "Setidaknya mereka berdua selamat." Ara mengangguk pelan. Bahkan jika Mr. Chan dan Lin selamat, tapi Alex tahu kalau itu semua tidak membuat perasaan Ara menjadi lebih baik tapi justru semakin memburuk.
Gadis didepannya ini sudah begitu muak dan lelah dengan segala yang mereka lakukan dan itulah yang menjadi alasan kenapa Ara berani memperdayai organisasi mengenai kematiannya tapi memang tidak ada yang bisa mereka lakukan, entah bagaimana organisasi bisa mengetahui mengenai keberadaan Ara yang sebenarnya, memaksa gadis itu untuk kembali menjalani misi.
"Pergilah membersihkan tubuhmu." Ucap Alex lembut.
Ara mengangguk, beranjak dari tempatnya ketika Alex kembali menyebut namanya, bukan dengan code name.
"Tadinya aku ingin menunggu nanti untuk menanyakan ini tapi semakin aku menyimpannya semakin aku dibuat penasaran." Jeda sesaat. Alex menunggu sambil memperhatikan sikap tubuh gadis itu tapi Ara hanya memberinya pandangan tidak mengerti sekaligus heran. Setelah menarik napas dan menghembuskannya, Alex memutuskan untuk meneruskan kalimatnya. "Kau terlihat tidak ingin melawan orang- orang itu ketika mereka datang. Apa kau mengenal mereka?" Tanyanya.
"Tidak." Ara menjawab langsung, tanpa sama sekali memperlihatkan ekspresi wajahnya.
"Kau yakin?"
"Ya."
Dalam hatinya, Ara mengucapkan permintaan maaf pada Alex karena telah berbohong. Tentu saja ia mengenal orang- orang itu bahkan salah satu diantaranya adalaj orang yang saat ini menjalin hubungan dengannya.
Ara tidak ingin Alex menjadi marah lagi kemudian salah paham. Dia tahu apa yang akan terjadi jika orang seperti mereka menjalin sebuah hubungan. Organisasi pasti akan menjadikan ikatan yang telah tercipta itu menjadi suatu hal yang menguntungkan dan salah satunya dengan mengancam agar tetap menjalankan apa yang diperintahkan.
"Aku tidak mengenal satupun dari mereka. " ulang Ara menatap Alex.
"Baiklah," Alex memberikan helaan napas lega."Bersihkan tubuhmu sementara aku akan mencari cara agar bisa keluar dari negara ini secepatnya."
Ara tidak ingin bertanya bagaimana Alex akan menanganinya. Dia mempercayai kemampuan Alex dalam hal meloloskan diri dan itulah yang menjadi alasan Ara menyukai menjadi rekan satu misi dengan pria itu. Alex lebih bisa diandalkan dibandingkan dirinya yang akan langsung mengambil keputusan tanpa berpikir dua kali.
Untuk sesaat Ara memperhatikan penampilannya di depan kaca. Sebagian dari bajunya bahkan di bagian atas dadanya terlihat percikan darah yang telah mengering. Darah itu bukan berasal darinya melainkan dari pengawal pura- pura Mr. Chan. Setelah Ara merebut pistol yang tadinya disodorkan di kepalanya dengan kecepatan yang luar biasa, tanpa berpikir lagi Ara langsung menarik pelatuk pistol itu dan mengarahkannya tepat di kepala si pengawal pura- pura itu.
Tentu saja seiring Ara yang menarik pelatuk dari pistolnya, seiring itu pula bunyi yang dihasilkan dari pistol itu terdengar apalagi ditambah dengan Lin yang menjerit kaget melihat ada orang yang mati di depan mata kepalanya.
Satu hal yang tidak disangkanya adalah ketika matanya menangkap sosok Ian kemudian diikuti oleh Nick, wanita yang tak diketahui Ara lalu terakhir Ethan. Jika saja Alex tidak menegurnya hingga membuyarkan lamunannya tentang Ethan. Sudah pasti Ara akan ketahuan, mengingat ia sempat melepas maskernya sebagian.
Ara tidak mengerti dengan cara pikir organisasi. Jika organisasi begitu ingin melenyapkan Mr. Chan, kenapa organisasi justru menyuruh dirinya dan juga Alex untuk melakukannya, mengingat menjadi pengawal lebih bisa memiliki akses kemudian Ara sadar kalau sebenarnya target utamanya bukanlah Mr. Chan melainkan putri dari Mr. Chan, Lin. Pengawalan Lin memang tidak seketat Mr. Chan tapi Lin selalu berlarian kesana kemari hingga menyulitkan pembunuh yang seharusnya mengeksekusi ataukah ada sebab lain? Apa organisasi mencoba untuk mengujinya lagi kali ini mengingat prinsip Ara yang tidak akan menyentuh anak- anak masih berlaku?
Keadaan Ara dan Alex saat itu sudah terkepung, belum lagi masih ada seorang anggota dari organisasi yang tadi sempat menodongkan pistolnya kearah Alex, yang juga pengawal gadungan- meneriakkan kalimat agar segera menangkap Ara dan juga Alex.
Alex yang ketika itu melihat celah, segera melayangkan tendangannya ke perut pengawal gadungan itu hingga pistol yang tadi dipegangnya meluncur ke tanah tapi sebelum Ara bisa meraihnya seorang wanita yang tadi dilihatnya berlari, menendang tubuhnya hingga terpental dan menabrak tiang di belakangnya.
Perkelahian tidak bisa dielakkan. Baik Ara maupun Alex sama- sama melawan dua orang dan sialnya Ara melawan wanita yang Ara tidak salah dengar bernama Sandra ketika Ethan membantunya berdiri.
Beruntung baginya, meskipun Ara sudah tidak pernah melakukan perkelahian lagi kecuali jika ada situasi mendadak yang memaksanya melakukan hal itu seperti saat ini. Tubuh Ara tidak kaku tapi juga tidak bisa dikatakan sangat luwes karena faktanya beberapa kali ia mendapatkan tendangan dan pukulan baik itu dari Ethan maupun Sandra. Untuk kasus melawan Ethan, Ara lebih sering melakukan pertahanan dibandingkan dengan melawan. Situasinya akan menjadi lebih panjang jika ia melawan karena bisa saja Ethan mendapatkan celah dan berhasil membuka maskernya. Itu pasti akan jauh lebih buruk baginya.
Setelah saling melemparkan tatapan penuh arti pada Alex, baik Ara maupun Alex memanfaatkan keramaian dan juga Lin sebagai upaya untuk meloloskan diri.
Ara baru saja keluar dari kamar mandi, tempat dimana mereka menyewa kamar di sudut gang. Tempat yang mereka tempati tergolong kumuh dan kotor. Ara bahkan menduga kalau tempat ini adalah sarang bagi penjahat- penjahat kelas teri yang kebetulan bermukim. Mereka bahkan mematok harga yang sangat mahal, jauh lebih mahal dibandingkan jika mereka menginap di hotel bintang lima sekalipun, ketika mendengar suara dingin milik Alex.
"Jika sekali lagi kau menyuruh orang lain untuk mengacaukan misi kami maka, akan kupastikan kalau kami tidak akan tinggal diam."
"...."
"Oh, benarkah? Dan sejak kapan organisasi peduli dengan kehidupan orang lain? Tidak. Pastikan saja kalian tidak mencampuri misi kami lagi dan mengenai kematiannya, kami tidak peduli." Klik.
Alex melepaskan kartu yang berada didalamnya dan berjalan melewati Ara menuju toilet kemudian menyalakan air dalam toilet, membiarkan kartu itu bercampur dengan kotoran manusia. Tidak akan ada seorangpun yang akan mau mengaduk- aduk tumpukan kotoran hanya untuk mencari kartu yang hanya berukuran dua senti.
"Jangan melihatku seperti itu, S. Aku tahu apa yang ku lakukan dan gunakan itu." Alex melemparkan sebuah kantongan hitam kearahnya. "Setengah jam lagi kita berangkat."
"Apa semuanya sudah aman?" Tanya Ara seraya tangannya mulai membuka kantongan itu dan mengeluarkan isinya.
"Ya. Kita akan menyamar."
"Menjadi orang tua?"
"Tepatnya sepasang manula."
Ara mengernyit.
"Tidak ada pilihan lain. Para polisi masih mencari kita dan satu- satunya cara adalah menjadi sepasang manula. Kita akan ikut dengan para rombongan manula dari biro perjalanan setempat." Jelas Alex.
Setelah berganti pakaian di sebuah toilet umum, Ara dan Alex mulai melakukan penyamaran mereka sebagai sepasang manula dan bergabung dengan rombongan lain yang khusus manula. Ara hampir saja tertawa keras ketika salah seorang yang menjadi tour guidenya dengan susah payah hingga nyaris berteriak ketika si 'kakek' Alex berpura- pura kehilangan tiketnya padahal tiketnya itu berada di tangannya sendiri.
Setiap anggota organisasi tidak pernah menetap hingga berjam- jam jika sedang menjalani misi. Hal itu akan membuat polisi dengan mudah melacak keberadaannya karena jika hal itu terjadi, maka tidak ada cara lain selain ikut melenyapkan orang tersebut sekalipun dia anggota dari organisasi itu sendiri.
Adapun biro perjalanan bagi manula itu akan melakukan tour ke filipina kemudian ke bangkok dan terakhir ke jepang. Tapi Ara dan Alex hanya akan berada hingga ke filipina, akan ada pesawat yang menunggu mereka yang akan membawa mereka kembali pulang.
Sepanjang yang Ara lihat, bandara tempatnya melakukan pemeriksaan penuh orang dan juga sesak. Bahkan Ara sempat melihat keberadaan Nick dan juga Ethan tapi fokus Ara hanya pada Ethan atau pada luka di bibir pria itu. Luka itu akibat Alex yang memukulnya ketika hendak menyelamatkan Ara sebelum Ethan melepaskan topi yang menutupi rambutnya tapi kala itu Ara sempat melihat kalau Ethan sempat terdiam hingga lima detik sebelum kemunculan Alex. Tatapan Ara seperti terkunci ketika tanpa sengaja Ethan berpaling dan kedua matanya bersirobok dengan mata Ethan, membuat jantungnya seketika berdebar dengan kencang.
"Ayo kita pergi." Alex membisikkan kalimatnya dengan sangat pelan tepat disaat pemandu dari biro itu mulai berteriak- teriak, menyuruh para manula itu memasuki pintu keberangkatan.
"Ayo." Ara yang pertama kali melepaskan tatapannya dari Ethan dan berjalan mengikuti rombongan di depannya.
***
Comments
Post a Comment