SHADOW - TUJUH
"Sial!" Ian merutuk dengan sangat keras sembari mengacak rambutnya yang semakin kusut.
Sementara itu di tempat yang sama Ethan dan Nick hanya bisa saling berpandangan melihat kemarahan yang disemburkan oleh Ian. Mereka berdua mengerti alasan dibalik marahnya Ian saat ini. Kejadian di Rusia kemarin benar- benar mengguncang pikirannya. Penembakan itu terjadi di depan hidungnya dan dalam pengawasannya bahkan CCTV didaerah itupun sama sekali tidak bisa menangkap si pelaku yang diketahui berjumlah dua orang.
Ethan dan Nick juga sebenarnya berada di Rusia tapi tempat mereka berdua berada sangat jauh dari Ian. Mereka berdua ditugaskan untuk mengawal dan melindungi istri dari menteri yang dikawal oleh Ian, Nicola Schovesnky.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ethan menujukan pertanyaannya barusan pada Nick disampingnya. Ian yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan napasnya, tampak lelah.
"Koma," jawab Nick. "Beruntung peluru itu tidak menembus tenggorokannya tapi bisa dipastikan menteri Nicola masih belum melewati masa kritisnya."
"Apa tidak ada sama sekali jejak dari penembak itu?" Kali ini Ethan menujukan pertanyaannya pada Ian yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Ian menggeleng, pelan. "Tidak ada. CCTV hanya merekam ketika mereka turun dari gedung itu tapi setelah itu tidak ada jejak lagi. Sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan ini dan demi Tuhan, apa kau tahu berapa jarak dari gedung itu ke tempat kejadian? Mereka harus menembakkan peluru itu dalam kurun waktu 115 km/ detik untuk sampai ke tenggorokan menteri Nicola. Orang gila mana yang bisa menembak dalam jarak sejauh itu?" Ian kembali mengerang frustrasi.
Baik Ethan maupun Nick hanya bisa mengangguk. Ya, itu adalah jarak terjauh dari tempat kejadian dan tentu saja memberi keuntungan pada si penembak karena ketika kepanikan terjadi di tempat itu maka dengan mudah pula mereka dapat berbaur pada masyarakat sekitar yang berlarian dengan panik ditambah lagi, Ethan melihat dalam rekaman CCTV begitu santainya pelaku ketika berjalan melewati tangga kemudian berbaur dengan banyak orang.
Ian dikenal sebagai orang yang terbiasa melakukan tugasnya dengan baik dan kejadian ini, untuk kali pertama dalam hidupnya membuatnya marah dan harus menghadapi kemarahan ketua Hans atas keteledoran yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya. Lagipula siapa yang akan mengira kalau orang bisa menembak dalam jarak yang begitu jauh, kecuali ia memang memiliki keahlian yang begitu tinggi sebagai seorang sniper. Memikirkannya kembali membuat mereka tidak habis pikir.
"Akan kupastikan kalau penembak sialan itu akan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya." Geram Ian seraya mengepalkan seluruh jari- jarinya.
Ya. Ian tidak pernah merasa dipermalukan seperti ini apalagi jika dia sedang menjalankan tugasnya. Ian sangat menjunjung tinggi harga dirinya dan kejadian ini tentunya sangat melukai harga dirinya.
.
.
Ara baru saja keluar dari gerbang kampusnya ketika matanya menangkap sosok yang dikenalnya berada tidak jauh darinya kemudian sosok itu menoleh dan langsung bertatapan langsung dengan matanya.
Untuk sesaat Ara seperti meneguk ludahnya. Ethan sedang bersandar disamping mobilnya dan tersenyum padanya, membuatnya seketika dihinggapi perasaan gugup seperti yang dirasakannya ketika pertama kali bertemu pandang dengannya.
"Breath, Sugar."
Entah bagaimana Ethan sudah berada dihadapannya dan mengelus pipi kirinya dengan lembut. Ara bahkan tidak tahu kapan Ethan berjalan kearahnya saking sulitnya ia memikirkan sesuatu jika berhadapan dengan Ethan.
Ya. Dia dan Ethan sudah resmi berkencan meskipun ini pertama kalinya dia bertemu dengan pria yang hampir setiap malam menghubunginya.
"Kau di sini?" Ara berkata lirih, mencoba menetralkan kembali jantungnya yang saat ini sedang berdetak sangat kencang karena kehadiran pria itu.
"Ya. Aku ingin mengajakmu makan. Kuharap kau belum memiliki rencana lainnya." Ara hanya bisa membalas dengan anggukan kecil, terhipnotis dengan tautan jari- jari yang diberikan Ethan pada jari- jarinya.
Ethan membukakan sebelah pintu mobilnya sementara dibelakangnya terdengar desahan kagum bercampur iri pada Ara yang dijemput pria tampan juga terlihat sangat perhatian didepannya. Bagaimana tidak, Ethan bahkan tidak segan- segan membawa jari- jari ke bibirnya dan menciumnya disana sebelum membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita mau makan di mana?" Sebenarnya Ara hanya sekedar bertanya. Ia perlu pengalih perhatian agar sikapnya yang tampak sangat gugup jika berhadapan dengan Ethan tidak terlalu kentara.
Ethan mengangkat bahu. "Entahlah. Apa kau punya tempat makan yang bagus?"
Tatapan Ara beralih menjadi tatapan tidak percaya hingga mengerjap beberapa kali sebelum mendengus. Oh, Ethan ternyata tahu kalau saat ini dia sedang gugup dan mencoba menggodanya.
"Lucu sekali Ethan," Ethan membalas dengan terkekeh tapi tetap mengenggam tangan Ara sementara matanya melihat ke jalan depannya. "Seingatku kaulah yang mengajakku makan tadi." Ucapnya menyindir.
"Baiklah," ucap Ethan setelah meredakan tawanya. "Aku tahu tempat steak yang enak disini. Apa kau mau itu?"
"Steak? Umm, kedengarannya enak. Oke deh. Let's hunt." Jawab Ara penuh semangat. Saat ini dia memang ingin makan sesuatu seperti daging.
"Let' go, my lion girl." Ethan menambahi membuat pipi Ara seketika meronah, menyadari kalau Ethan kembali menggodanya.
Disisi lain, Ethan memperhatikan semua perubahan itu dan fakta kalau dia menyukai gadis disampingnya jauh dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia bahkan berpikir jika ia akan melakukan apa saja demi gadis di sampingnya saat ini.
Mereka baru saja selesai memesan makanan dan menunggu pesanan mereka diantarkan. Emma memberitahunya kalau Ara sangat menyukai pemandangan laut, itulah sebabnya ia mengambil tempat duduk yang bisa langsung berhadapan dengan laut. Pandangannya begitu terkesima ketika matahari senja menerpa wajah Ara sehingga membuatnya tampak lebih bersinar. Untuk sesaat Ethan terkesima, Ara begitu cantik dihadapannya seperti salah satu dari dewi- dewi yunani yang bernama sama dengannya, Aurora- dewi senja.
Pesanan mereka akhirnya tiba. Ara yang memang belum sempat makan siang seketika terpesona dengan makanan yang berada dihadapannya terutama steak yang menjadi kesukaannya.
"Kau seperti sudah tidak sabar melahap semuanya." Ethan berkomentar menahan rasa gelinya melihat kepolosan gadisnya.
Seketika Ara mendelik. "Kau tidak akan bisa membayangkan seberapa besar aku menyukai daging karena aku... sangat mencintainya." Ara membalas dengan mata yang berbinar terang.
Ethan menyunggingkan senyumnya sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada, tidak melepaskan tatapannya dari gadisnya.
"Apa itu berarti kalau kau menyukai daging- daging itu di bandingkan diriku?"
"Ten- eh apa?"
Ethan memperlihatkan wajah sakit hati, membuat kening Ara terangkat. "Kau menyakiti hatiku, Miss Hunt."
"Tunggu, kau apa?"
"Aku... sakit hati."
Kedua mata Ara mengerjap lalu tidak lama kemudian disusul suara gelak tawa darinya.
"Apa kau baru saja membandingkan dirimu dengan makanan?" Tanya Ara disela tawanya.
Ethan begitu terperangah melihat tawa itu dan semakin ingin melihat tawa itu lagi.
"Kau tidak bisa membandingkan dirimu dengan makanan, Ethan." Ara melanjutkan sok diplomatis. "Karena kau berbeda."
"Berbeda?"
"Ya. Kau adalah pria selain ayahku yang aku..." kalimat Ara berhenti tiba- tiba. Hampir saja ia kehilangan kontrol dan mengatakan kalau dia mencintai pria di depannya saat ini. Ara tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum Ethan yang lebih dulu mengatakan hal itu padanya apalagi dia dulu pernah melihat Ethan berciuman dengan wanita cantik di depan kafe ketika dia dan Emma pergi mencari buku dulu.
Di sisi lain, Ethan menganggap diamnya Ara sebagai tanda kalau perasaannya terhadap dirinya hanya sekedar perasaan biasa meskipun dia tidak menampik sikap Ara padanya berbeda dari gadis biasa yang pernah dia temui.
"Terima kasih." Kata Ethan tulus.
Ara mengernyit heran. "Terima kasih untuk apa?"
"Karena telah menghiburku".
Lama Ara menatap Ethan sebelum berkata. "Apa kau sedang menghadapi masalah?"
Ara hanya tahu kalau Ethan hanya bekerja di sebuah perusahaan milik pemerintah yang mana Ethan selalu bepergian keluar negeri. Ara juga tidak mau mendesak Ethan untuk bercerita padanya. Biar bagaimana pun mereka baru saja memasuki tahap dalam hubungan mereka.
"Kuharap akan baik- baik saja." Ara melanjutkan kalimatnya tulus sementara tangannya mengenggam tangan Ethan.
"Tidak apa- apa. Semuanya akan segera beres." Balas Ethan membalas genggaman tangan gadisnya.
Sementara itu di sudut tempat yang lain. Seseorang sedang memperhatikan mereka berdua terutama pada Ara yang saat ini sedang tersenyum dengan Ethan. Kedua mata pria itu membelalak karena terkejut sekaligus tidak percaya.
"Tjdak mungkin." Ucapnya lirih.
"Ada apa, Lex?" Mendadak seorang wanita berdiri di sampingnya.
Alex menolehkan kepalanya sejenak kearah wanita itu dan menggeleng. "Tidak. Tidak apa- apa. Mungkin aku hanya salah lihat." Jawabnya, memutuskan keluar dari tempat itu dan mengandeng tangan si wanita.
***
Comments
Post a Comment